
“Terserah!”
“Ck, apa guna nya aku menelponmu jika jawabanmu hanya terserah. Tidak kah kau punya saran untukku. Menyebalkan kau.” Ucap Abrar kesal.
“Aku yakin kau pasti sudah punya keputusanmu sendiri dan sudah punya pilihanmu sendiri. Jadi untuk apa aku memberikan saran jika pada akhirnya kau tidak akan memilih apa yang ku sarankan. Aku tidak ingin memberikan saran yang nanti nya hanya akan sia-sia saja. Lagi pula aku yakin kau tidak mungkin datang ke sana tanpa memakai pakaian.” Balas Jalal tanpa merasa bersalah.
“Kau! Ahh menyebalkan!” sambungan telepon segera terputus dengan Abrar yang memutuskan sambungan telepon. Sementara Jalal yang memang sudah memprediksi hal itu hanya biasa saja bahkan mengangkat bahu nya tidak peduli saat sambungan telepon itu sudah terputus. Dia sudah sangat hapal dengan apa yang di lakukan oleh Abrar itu jadi untuk apa juga tersinggung.
“Aku harus menyelesaikan ini sebelum pergi makan siang. Jangan sampai terlambat. Bisa-bisa aku kena hukuman dari nona muda.” Gumam Jalal melihat jam di tangan nya dan sambil membatin menghitung masih berapa lama lagi waktu nya sebelum makan siang nanti.
Di sisi Abrar setelah dia memutuskan sambungan telepon dia pun kembali melihat pakaian nya lalu segera mengambil satu pakaian milik nya, “Pakai ini saja.” ujar Abrar lalu kembali memandangi pakaian nya itu.
“Benar juga apa yang di katakan oleh Jalal bahwa aku pasti hanya akan menjadikan saran nya itu sebagai referensi dan pada akhir nya aku tetap memilih sendiri pakaian yang akan aku gunakan tanpa campur tangan saran nya. Selain itu juga aku tidak mungkin tidak memakai pakaian ke sana apalagi jika tidak menukar pakaianku ini dengan pakaian lain. Tapi tetap saja Jalal itu menyebalkan.” Gumam Abrar lalu dia pun segera mandi setelah memastikan pakaian yang akan dia pakai.
***
Sementara di sisi lain, Andita dan Betty kini sedang menghubungi Ratna untuk segera bergabung mempersiapkan makan siang nanti.
“Usul siapa ini?” tanya Ratna yang baru saja keluar dari ruangan pembimbing nya itu.
“Hum .. ini permintaan suami nya Husna.” Jawab Andita.
“Apa memang murni dia yang mengatakan untuk makan siang bersama atau ada campur tangan dari kalian?” tanya Ratna.
“Hey, apa kau meragukan kami Ra?” tanya Betty balik.
__ADS_1
“Bukan seperti itu hanya saja aku--”
“Yah, aku mengerti. Tapi ini memang pak Azzam sendiri yang mengatakan nya. Lalu di serahkan kepada kita untuk mencari tempat nya. Ayo kita harus segera membooking tempat nya. Jangan sampai kita telat dan nanti nya tidak dapat tempat duduk. Kita harus cepat karena harus mengirimkan alamat tempat nya kepada kedua asisten pak Azzam.” Ucap Betty segera mengandeng Ratna dan Andita keluar gedung fakultas menuju mobil nya.
“Tunggu? Asisten pak Azzam? Maksud nya siapa?” tanya Ratna.
“Tentu saja tuan Jalal dan tuan Abrar. Emang siapa lagi.” Balas Betty.
“Apa mereka akan datang? Bukan kah seharus nya mereka sibuk. Asisten perusahaan itu punya tugas yang hampir sama besar nya dengan CEO atau pun direktur. Apalagi di tambah oleh Pak Azzam yang saat ini masih tetap berstatus dosen dan belum turun secara langsung ke perusahaan nya. Mereka pasti sangat sibuk. Tapi kok bisa datang ikut makan siang?” tanya Ratna pusing.
“Hum, untuk hal itu kami juga gak tahu. Tapi yang pasti mereka akan datang.” jawab Betty.
Ratna menatap ke arah Andita seolah bertanya untuk memastikan bahwa Betty tidak berbohong dan Andita yang mengerti arti tatapan itu pun tersenyum dan mengangguk.
“Yah maaf. Aku kan hanya ingin memastikan nya.” balas Ratna lalu dia segera masuk mobil. Begitu juga dengan Andita.
“Dita, kau hubungi kekasihmu itu.” ucap Betty saat mobil perlahan meninggalkan area kampus.
“Kekasihku? Siapa?” tanya Andita bingung.
Ratna dan Betty yang mendengar jawaban Andita itu pun segera menoleh menatap Andita. Betty hanya sekilas saja dan kembali fokus menyetir sementara Ratna memandangi Andita lekat, “Tentu saja Gilang. Kenapa masih bertanya. Jangan katakan di antara kalian ada masalah?” ucap Ratna.
Andita pun tersenyum lalu menggeleng karena menyadari bahwa kedua teman nya itu salah menangkap maksud nya.
“Ck, kami tidak memiliki masalah tapi aku bingung karena kalian menyebut nya sebagai kekasihku padahal tidak ada hubungan seperti itu di antara kami.” jawab Andita.
__ADS_1
“Ouh jadi begitu. GIlang belum mengungkapkan perasaan nya. Aku mengerti.” Ucap Ratna.
“Tapi bukan kah sikap nya itu menjelaskan semua nya dengan jelas. Dia itu menyukaimu girl. Setelah patah hati dari Husna dia berbalik menyukaimu karena perhatian yang kau berikan.” Sambung Betty di angguki oleh Ratna juga.
“Aku tidak menganggap hal itu seperti itu. Kami hanya berteman saja kok. Sama seperti kita yang juga berteman.” Ucap Andita.
“Yah, aku tahu kenapa kau mengatakan hal itu. Setiap perempuan memang suka semua nya harus jelas. Mereka tidak ingin menganggap suatu hal tanpa ada sebuah ungkapan. Tapi aku mendukung keputusanmu itu.” ucap Betty.
“Apa yang Betty katakan benar. Aku setuju dengan hal itu. Lagi pula jika memang berjodoh pasti akan bertemu lagi. Lihat lah Husna dan pak Azzam. Mereka bukti nyata bahwa jodoh itu tidak akan tertukar dan tetap akan saling mencari dan di pertemukan di saat yang tepat.” Sambung Ratna.
Andita yang mendengar ucapan kedua teman nya itu pun tersenyum, “Kenapa kalian mendadak jadi bijak seperti itu sih. Aku jadi geli mendengar nya tahu. Mana bijak nya dalam hubungan percintaan seperti ini.” ucap Andita di akhiri dengan tawa.
“Ck, menyebalkan kau. Kami ini sedang menghiburmu tapi kau justru menertawakan kami.” ucap Ratna.
“Hahahah, lagi pula kalian lucu. Aku tidak terbiasa mendengar dan melihat kalian seperti itu. Jujur saja aku ingin merekam ekspresi kalian itu dan melihat nya saat aku sedang sedih untuk memulihkan moodku.” Ucap Andita masih tertawa.
“Apa kau pikir kami ini mood booster?” timpal Betty.
“Seperti nya begitu. Tapi aku tidak sempat merekam nya tadi. Apa bisa kalian mengulangi nya lagi. Aku akan mengambil ponsel untuk merekam nya.” ucap Andita.
“Gak ada.” Ucap Betty dan Ratna bersamaan.
Andita pun semakin tertawa melihat itu, “Terima kasih sudah membuatku tertawa hari ini.” ucap Andita.
Betty dan Ratna pun pada akhirnya ikut tertawa karena kerandoman yang tercipta di antara mereka. Ketiga orang itu pun saling tertawa dan membuat lelucon mereka masing-masing.
__ADS_1