My Secret Love

My Secret Love
176


__ADS_3

"Apartement? Apa apartement Gilang? Tunggu di sana, mami akan segera kesana."


Andita yang mendengar ucapan mami Ajeng itu pun kaget karena sudah bisa memahami ke arah mana makna ucapan mami Ajeng.


"Mih, kami tidak melakukan apapun di sini. Tidak perlu ke sini. Aku masih memiliki iman yang kuat." Ucap Gilang yang mendekati sang kekasih yang terdiam saja.


Gilang memang mendengar ucapan sang mami karena berhubung Andita menyalakan speaker ponsel nya.


Gilang segera mengambil ponsel nya dari tangan sang kekasih dan segera mengubah panggilan ke mode video.


"Lihat aku benar sedang memasak, mih. Aku ini anak baik yang tidak akan mungkin melakukan hal buruk apalagi pada kekasih cantikku ini." Ucap Gilang tersenyum dengan memperlihatkan wajah Andita di layar ponsel nya.


Andita yang mendengar pujian dari sang kekasih pun tersipu tapi hanya sesaat saja karena semua nya berganti dengan tatapan tajam begitu mendengar lanjutan ucapan Gilang.


"Kecuali jika kami sudah menikah maka aku pasti akan berbuat macam-macam. Bukan kah tidak baik membuat istri kita merasa di anggurkan saja." Lanjut nya mengedipkan mata ke arah Andita bermaksud menggoda kekasih nya itu.

__ADS_1


"Jangan menggoda Dita, boy. Jika kau sudah tidak bisa menahan keinginan seksmu itu. Menikah saja. Mami dan papi akan menikahkan kalian. Lalu bawa Dita ke rumah kita karena mami hanya punya kau saja boy." Ucap mami Ajeng tegas.


"Hum, untuk ini akan kami bicarakan mih. Sudah dulu ya mih aku mau melanjutkan aktivitas masakku dulu. Calon istriku itu sudah kelaparan." Ucap Gilang kembali mengedipkan mata nya ke arah Andita.


"Mami dan papi akan ke sana. Kau ini kenapa tidak membawa nya ke rumah justru ke apartement." Ucap mami Ajeng lalu segera memutuskan panggilan hingga Gilang pun hanya bisa tersenyum kecut melihat ponsel nya sudah mati.


Gilang segera memberikan kembali ponsel nya itu kepada Andita, "Jangan cemberut seperti itu sayang. Aku hanya bercanda saja. Tapi keinginan menikah denganmu itu bukan candaan." Ucap Gilang mengacak hijab Andita sebelum dia berlalu ke dapur.


Andita pun hanya bisa menarik nafas panjang melihat apa yang di lakukan oleh Gilang. Dia segera memperbaiki hijab nya.


Di sela-sela aktivitas memperbaiki hijab nya tiba-tiba kini ponsel nya yang berdering dengan nama kontak ibu.


"Halo, Assalamu'alaikum bu." Salam Andita.


"Wa'alaikumsalam. Kau ada di mana, nak?" Tanya ibu Diyah.

__ADS_1


"Dita ada di apartement Gilang, bu. Maaf tidak izin padamu." Jawab Andita.


"Apartement? Ke--"


"Tidak perlu khawatir ibu. Aku tahu batasanku. Aku tidak mungkin melewati batas yang sudah ada. Kami tidak melakukan hal buruk, bu." Potong Andita.


"Maaf nak. Ibu hanya parno saja. Ibu percaya kau anak baik. Gilang juga anak baik yang pasti nya tidak akan berbuat hal buruk. Hanya saja tetap hindari berada di tempat yang sama saat hanya berdua saja, nak." Nasihat ibu Diyah.


"Iya bu. Dita akan mengingat nya. Apa ibu sudah makan?" Tanya Andita.


"Sudah nak. Kau tidak perlu khawatir. Bukan kah kau tahu bagaimana orang tua nya Husna itu yang pasti nya akan selalu meminta ibu makan." Ucap ibu Diyah.


"Mereka memang sebaik itu." Balas Andita.


"Ohiya, Husna sakit apa nak?" Tanya Ibu Diyah.

__ADS_1


"Hanya kelelahan saja kok bu." Jawab Andita karena memang hanya itu informasi yang dia ketahui.


Setelah nya sambungan telepon itu pun terputus.


__ADS_2