My Secret Love

My Secret Love
Bubur Kesukaan part 2


__ADS_3

Uni menjelaskan jika penjual bubur langganannya itu sangat baik. Saking baiknya dia tidak takut jika suatu hari nanti disaingi dengan orang yang mengetahui resepnya dalam membuat bubur, dia bilang jika rezeki


setiap orang itu sudah ada yang mengatur, jadi dia tidak perlu takut rezekinya diambil orang lain.


“Aku juga tidak ada keinginan untuk berjualan bubur ayam, Nek. Aku malah ingin bekerja di sebuah perkantoran.”


“Ya sudah kalau begitu kamu boleh membuatkan bubur untuk Aro, tapi bahannya kamu beli dulu di swalayan dekat rumah ini.”


“Iya. Ibu Nala, maaf tadi aku mendengar percakapan Ibu Nala dengan dokter cantik itu. Apa resep obat Aro sudah di belikan? Kalau belum aku saja yang membelikan di luar, di apotek dekat sini.”


“Oh Iya, kamu tolong belikan di apotek dekat sini ya Uni dan sekalian kamu belanja bahan untuk membuat bubur.” Uni mengangguk dan Nala memberikannya beberapa lembar uang pada Uni untuk berbelanja.


“Saya akan segera membelikannya Ibu Nala.” Uni izin dan keluar dari dalam rumah. Uni memilih jalan kaki saja dari pada naik ojek karena memang tempatnya juga tidak terlalu jauh dari rumah Nala.


Di dalam swalayan Uni mengingat-ingat bahan apa saja yang akan dia beli dan setelah membelinya Uni pergi ke apotek yang tidak jauh dari sana. Uni membeli obat yang sesuai dengan resep lalu dia pulang ke rumah Nala


dengan jalan kaki lagi. Di perjalanan Uni tidak sengaja melihat ada dua orang yang sedang bertengkar di balik mobil hitam yang terparkir di salah satu perumahan besar di sana. Uni mendengar isak tangis seorang gadis di sana, dan saat Uni mengintip sedikit ternyata gadis yang menangis itu adalah sepupunya Selli dengan pria paruh baya yang kapan hari terlihat bersama Selli.


“Om, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mencintai Om, aku mau tetap menjadi wanita simpanan untuk Om,” ucapnya dengan terisak.


Uni seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut mendengar apa yang barusan di katakan oleh Selli. Pria itu kemudian


memeluk kepala Selli dan mengajaknya masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam yang ada di belakang pria paruh baya itu.  Setelah itu Uni mendengar suara yang bisa membuat otak Uni yang polos itu terkontaminasi.


“Sebaiknya aku pergi saja dari sini.” Uni segera berlari kecil dari sana karena dia tau apa yang sedang dilakukan oleh Selli dan om itu


di dalam mobil.


Uni sampai di rumah dengan napas tersengal-sengal karena berlari tadi. Bibi Anjani yang melihatnya tampak heran. “Kamu kenapa, Uni?”

__ADS_1


“Nenek. A-aku tidak apa-apa, aku hanya lelah tadi berlari dari apotek ke sini.”


“Berlari? Kamu itu lucu sekali, kenapa malah memilih berlari? Bukannya kamu bisa naik ojek jadi tidak perlu capek-capek?”


“Tidak apa-apa, Nek. Lagian jaraknya juga dekat, sayang uangnya nanti. Nek, ini kembalian dari uang belanja yang tadi diberikan Ibu Nala dan di sana ada juga struk belanjaannya.” Uni memberikan sisa uangnya


semua serta struk belanjaannya pada nenek Anjani.


“Uni, kata Nala tadi kamu boleh membawa kembalian uang yang kamu bawa untuk belanja. Jadi ini semua bisa kamu simpan.” Nenek Anjani mengembalikan kembali uang kembalian pada tangan Uni.


“Tapi, Nek, ini banyak sekali. Aku tidak bisa menerimanya.”


“Uni, bawa saja, daripada nanti Nala marah sama kamu.”


Uni terdiam melihat uang di tangannya. “Terima kasih ya, Nek.” Tidak lama Nala yang barusan keluar dari kamar tidurnya juga dihampiri


Uni untuk mengucapkan banyak terima kasih.


masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya lalu dia suruh mamanya makan siang.


“Nek, sudah jadi buburnya. Apa aku berikan sama Aro sekarang?”


“Ya sudah kamu berikan saja sama Aro sekarang, tapi Nenek tidak yakin jika dia nanti mau memakannya,” ucapnya sedih.


“Uni coba saja, siapa tau kalau Uni yang memberikan si es itu mau memakan bubur buatan kamu,Uni,” celetuk Ara.


“Kalau Aro tidak mau memakannya, aku juga tidak bisa berbuat banyak, tapi Aro harus di paksa karena kata dokter cantik itu dia beberapa hari ini harus makan yang lembut dulu.”


“Anak itu memang susah, ya kamu coba saja berikan bubur buatan kamu, Uni, siapa tau dia mau mencicipinya.” Nala di sana sedang menemani putrinya makan siang.

__ADS_1


“Ya saya antarkan saja dulu kalau begitu.”


Uni berjalan menuju kamar Aro dengan nampan berisi semangkuk bubur ayam dan teh manis hangat. Uni berharap Aro mau memakan bubur buatannya itu.


Di meja makan Nenek, Ara dan Nala sedang berbicara bersama. “Ma, kalau Uni pacaran dengan Aro, apa mama setuju?”


Nala mengerutkan alisnya mendengar ucapan putrinya.  “Maksud kamu? Aro menyukai Uni? Kamu yakin?”


“Tidak yakin si, Ma. Apalagi Aro itu modelnya seperti itu, dingin dan mengesalkan saat diajak berbicara, tapi aku melihat dia sama Uni berbeda.”


“Mungkin sikap Aro sama Uni itu hanya sebatas kasihan saja mendengar kisah hidup Uni. Kamu ingat tidak jika sejak kecil Aro itu tidak menyukai Sita. Dia kesal sama Sita yang selalu mengejar-ngejarnya untuk memberikan


bekal makanannya.”


“Iya juga sih, Ma, tapi kan bisa saja jika perasaannya berubah sekarang. Eh, tapi aku melihat Uni sudah biasa saja sama Aro, dia tidak seperti waktu kecil dulu. Apa mungkin Uni sudah tidak menyukai Aro lagi?”


“Bisa jadi, Ara. Mereka dulu kan masih kecil, dan sudah bertahun-tahun tidak ketemu, bisa saja perasaan mereka berubah,” jelas nenek


Anjani.


“Iya juga sih, Nek. Ma, apa mama akan setuju jika mereka berdua memiliki hubungan?” Ara masih penasaran dengan jawaban mamanya. Seketika Nala dan bibi Anjani saling memandang. Nala jadi ingat dengan kisah cintanya dulu dengan Akira saat dia bekerja di rumah Akira.


Uni meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kecil yang ada di kamar Aro. Uni melihat Aro yang sedang membaca bukunya sambil duduk bersandar pada tepi ranjang. “Aro, aku membawakan kamu makanan, sebaiknya kamu


makan dulu lalu minum obat.”


“Apa itu?” Aro bertanya saat melihat mangkuk bubur yang ada di atas meja.


“I-ini bubur untuk kamu.”

__ADS_1


“Bubur? Aku tidak mau makan bubur, aku tidak suka bubur.” Aro kembali melanjutkan membaca bukunya seolah-olah tidak mau memperdulikan Uni yang masih terdiam di sana.


ini cowok memang ya ngeselin.


__ADS_2