My Secret Love

My Secret Love
Siapa Wanita itu?


__ADS_3

Saat Nala dan Mommy Kei sedang berbincang di ruang tamu dengan Bibi Anjani dan Orlaf di sana juga. Orlaf meminta ingin memegang perut Nala karena tadi di melihat ada gerakan di dalam perutnya Nala.


“Kakak ipar Nala, apa aku boleh memegang perut kamu?”


“Kakak ipar? Kenapa sekarang panggilannya berubah?” tanya Nala heran.


“Kan sekarang kamu memang sudah menjadi kakak ipar aku.” Orlaf tersenyum. “Kakak Ipar Nala, itu perut kamu dari tadi bergerak-gerak, apa tidak sakit perut kamu?” Orlaf sekali lagi melihat heran.


Nala melihat ke arah perutnya dan dia tersenyum. “Tidak sakit, mereka berdua kan semakin besar di dalam, jadi mulai banyak sekali gerakannya. Kalau kamu mau memegangnya kamu bisa menempelkan tangan kamu di sini.” Nala menaruh tangan Orlaf di atas perut Nala. Seketika wajah Orlaf


tampak bahagia karena dia merasakan sebuah gerakan pada tangannya.


“Mom, bayinya bergerak, dia sepertinya tau jika pamannya ini sedang ingin berkomunikasi dengannya.”


“Kamu juga begitu waktu di perutnya mommy, Orlaf. Nala, kata dokter kapan perkiraan kamu akan melahirkan?”


“Masih dua bulan lagi, Mom, Akira sudah meminta jadwal juga agar aku bisa melakukan operasi nanti, Akira tidak mau mengambil resiko untuk aku melahirkan normal.”


“Ya sudah, kamu menurut saja apa yang dikatakan oleh suami kamu, Akira tau yang terbaik buat kamu.” Tangan wanita cantik itu mengusap kepala Nala.


Tidak lama ponsel Nala berdering dan Nala melihat nomor disembunyikan yang menghubungi dia. “Siapa ini? Kenapa tidak mau menunjukkan nomornya?” tanya Nala heran.


“Siapa, Nala?” tanya bibi Anjani.


Nala menggedikkan bahunya. “Aku tidak tau, Bi, nomornya saja tidak diketahui.”


“Apa itu dari orang yang meneror kamu?” tanya bibi.


“Aku jawab saja, aku tidak takut sama dia, aku penasaran siapa yang menerorku?”


“Nala, sebaiknya kamu berikan saja pada pengawal Akira, jujur saja mommy kok takut.” Wajah mommy Kei tampak cemas.


“Tidak akan ada apa-apa, Mom. Diakan menghubungi aku lewat telepon, jadi tidak akan bisa menyakitiku.” Nala coba menyakinkan ibu


mertuanya.

__ADS_1


“Nala--.”


“Bi, tidak apa-apa. Halo, ini siapa?”


“Dasar wanita tidak tau diri! Kenapa kamu membuat kehidupanku hancur? Lihat saja, aku akan menghancurkan kamu seperti apa yang


sudah kamu lakukan kepadaku.”


“Kamu ini siapa? Aku sama sekali tidak mengenal kamu, dan aku tidak pernah memiliki keinginan untuk menyakiti orang lain.”


“Jangan berlagak sok polos kamu, Nala! Kamu sudah menyakitiku dan itu sangat menyakitkan, aku benar-benar mmebenci kamu, Nala. Kenapa kamu harus ada dan hadir di antara hubunganku? Apa tidak cukup kamu memiliki Akira?” bentaknya marah.


“Dasar wanita sakit jiwa, kamu itu siapa? Kalau berani tunjukkan saja siapa kamu, Nala tidak pernah menyakiti orang lain,” ucap Bibi Anjani emosi karena mendengar semua perkataan wanita itu yang sama Nala teleponnya di loadspeaker.


“Lihat saja kamu, Nala.” Wanita itu langsung mematikanbpanggilannya.


“Nala, apa kamu pernah merasa punya masalah dengan seseorang?”


“Aku tidak pernah menyakiti siap pun, Mom. Hanya Anabella yang punya masalah denganku karena aku mencintai Akira, tapi tadi dia bilang


kenapa aku harus hadir di kehidupan dia padahal aku sudah memiliki Akira. Aku tidak pernah mencintai orang lain selain Akira.”


“Rhien tidak pernah serius dengan seorang wanita, bahkan sampai sekarang dia sering mengabari aku tentang dirinya di sana.”


“Lalu siapa?” Bibi Anjani tampak bingung. Kalau di pikir-pikir, Nala tidak pernah mengganggu hubungan orang lain, malah hubungan dirinya dan Akira yang kerap mendapat cobaan.


Mereka berempat masih berpikir siapa yang meneror Nala. Malam itu mommy Kei dan Orlaf makan malam di rumah bersama dengan Akira.


“Mommy apa tidak makan malam bersama dengan daddy?” tanya Akira yang mengetahui mommy dan adiknya masih di sana.


“Mommy tidak mau meninggalkan Nala, Akira, Mommy khawatir dengan apa yang terjadi dengan Nala.”


“Lalu, kalau daddy tau kalian berada di sini apa tidak apa-apa, Mom? Aku tidak mau Mommy dan Orlaf mendapat masalah.”


“Daddy kamu sudah tau jika mommy dan Orlaf berada di sini, tapi mommy tidak peduli, daddy kamu tidak bisa melarang mommy untuk menemui menantu dan cucu mommy.”

__ADS_1


“Mommy yakin?”


“Kamu tenang saja karena sekarang mommy sangat khawatir dengan peneror Nala itu. Tadi dia malah berani menghubungi ponsel Nala dan


mengancam akan menyakiti Nala karena dia menganggap Nala sudah menghancurkan


kehidupannya.”


“Maksudnya?”


“Tadi ada seorang wanita menghubungi Nala dan mengatakan gara-gara Nala hadir di kehidupan dia dan orang yang dicintai mungkin, jadi kehidupan dia hancur dan semua itu gara-gara Nala,” terang Kei lagi.


“Apa kamu memiliki hubungan dengan pria lain dan istri atau kekasih pria itu dendam sama kamu?” celetuk Akira melihat ke arah Nala.


Nala mukanya tidak percaya dengan apa yang di tanyakan oleh suaminya itu. “Kenapa kamu malah bertanya seperti itu? Memangnya kapan aku pernah selingkuh dari kamu? Bukannya kamu yang malah sering selingkuh?” Nala melirik malas pada Akira.


Akira tersenyum. “Itukan dulu, Nala, dan hanya Anabella. Lalu maksud wanita itu apa? Aku percaya jika kamu tidak akan memiliki pria lain, mau mati dia?”


“Mulai sekarang sebaiknya kamu benar-benar perketat penjagaan Nala, Akira. Jangan sampai lengah dena terjadi apa-apa dengan istri kamu anak kamu.”


“Iya, Mom. Nala, ponsel kamu berikan padaku dan biar aku yang membawa ponsel kamu, kamu pakai saja ponsel baru dan nomor baru, nanti aku akan belikan kamu ponsel yang baru.”


“Terserah kamu sayang.”


Makan malam kembali berlangsung dan akhirnya Kei izin pulang ke rumah karena sudah malam. Sampai di rumahnya Kei dan Orlaf berjalan santai melewati ruang tengah.


“Aku kira kamu tidak akan pulang dan memilih menemani menantu kamu di sana,” ucap Addrian dengan tangan memegang koran.


“Orlaf sudah malam, kamu naiklah ke kamar kamu, mommy dan daddy mau berbicara berdua.”


“Iya, Mom. Dad, aku ke kamar dulu.” Setelah melihat Orlaf pergi dari sana Kei berjalan menghampiri suaminya dan duduk di depan suaminya.


“Kamu sudah pulang? Aku sudah mengatakan sama kamu jika aku akan makan malam dengan Akira dan Nala. Addrian, jujur saja aku rindu berkumpul seperti itu dengan keluarga kita. Beberapa bulan ini di rumah sebesar ini aku hanya berdua sama Orlaf, kamu sering pergi dan kalaupun kita berkumpul tidak


ada kehangatan yang aku rasakan lagi, Addrian.”

__ADS_1


“Itu semua bukan salahku, melainkan salah kedua putra kamu yang tidak tau berterima kasih. Mereka malah memilih menghancurkan kehormatan keluarga dengan memilih gadis miskin dan statusnya jauh dengan kita.”


“Nala wanita yang baik, Addrian, hanya nasibnya saja yang memang tidak baik.”


__ADS_2