
Suasan di kantor berlangsung seperti biasa. Pada saat jam makan siang, Nala memilih makan siang di kantin bersama dengan teman-temannya saja untuk menghindari kecurigaan jika Nala tidak pernah makan siang di kantin.
"Pak, ini berkas-berkas yang Pak Akira minta sama saya." Silvia memberikan berkas dokumen di tangannya.
"Apa luka kamu baik-baik saja, Silvia? Sebenarnya kamu boleh izin tidak masuk jika kamu masih tidak enak badan akibat semalam."
"Saya tidak apa-apa, Pak. Saya malah tidak suka jika bolos bekerja apalagi saya baru masuk kerja."
"Tidak apa-apa, aku tidak akan memecat kamu. Beberapa hari kamu bekerja di sini kinerja kamu sangat baik dan aku menyukainya." Akira memandang Silvia dengan lekat.
Silvia yang merasa mendapat pandangan seperti itu merasa jika Akira mulai tertarik dengannya. "Pak, apa Pak Akira tidak ingin makan siang? Inikan sudah jam makan siang?" Tangan Silvia mulai perlahan terangkat mengusap pundak Akira.
Akira melirik tangan Silvia yang mengusap pada pundaknya. "Aku mau makan siang dia kantin dengan para karyawan aku. Apa kamu juga mau ikut?"
"Makan siang di kantin? Apa Pak Akira tidak bercanda?"
"Untuk apa aku bercanda? Aku senang bisa berkumpul dan mengenal para karyawanku. Apa kamu mau ikut?"
"Pak, kalau saya mau mentraktir Pak Akira makan di luar apa Pak Akira mau?"
Akira terdiam sejenak. "Baiklah! Saya mau. Mau makan di mana?"
Silvia tersenyum mendengar Akira menerima ajakannya. Mereka berdua berjalan pergi dari sana. Akira mengajak Silvia naik ke dalam mobilnya dan pergi dari sana.
Di kantin Nala melihat ke sana ke mari mencari di mana keberadaan suaminya dan Silvia. Mereka berdua tidak ada.
"Nala, Pak Akira apa makan siang di luar?" tanya Mba Sari.
Nala menggedikkan bahunya tidak tau. "Mungkin Pak Akira makan di ruangannya."
"Eh, tapi Silvia juga gak ada di sini. Apa mereka makan bersama?"
Nala terdiam sejenak. "Mungkin Silvia masih ada pekerjaan yang belum selesai." Nala tersenyum kecil dia juga mikir di mana mereka berdua.
Tidak lama terdengar suara pesan dari ponsel Nala. Nala melihat ke dalam ponselnya pesan dari suaminya Akira.
Akira memberitahu dia sedang keluar makan siang dengan Silvia. Akira akan menjalankan rencannyanya mendekati Silvia, dan akan mencari tau apa Silvia yang memang ingin menjebaknya atau ada orang lain.
Nala antara rela dan tidak, tapi suaminya terbuka dengannya atas semua yang dia lakukan. "Hanya berpura-pura, jangan berlebihan Akira"
Akira tersenyum samar membaca pesan dari Nala. Kemudian dia menakhiri saling berkirim pesannya.
__ADS_1
Silvia berjalan menuju ke meja di mana Akira menunggu. Mereka ternyata makan di tempat makan yang tidak jauh dari kantor Akira karena hanya ada itu di dekat sana. Restoran hanya ada di hotel di mana Akira menginap.
"Maaf, ya lama menunggu, tadi masih antri."
"Tidak apa-apa, ini aku sudah pesankan beberapa makanan."
Silvia tersenyum dan duduk di depan Akira. Mereka makan siang bersama. "Silvia, apa kamu tidak memiliki keluarga lainnya di sini?"
"Tidak ada, Akira. Em ... maaf, apa aku boleh memanggil Akira saat kit berdua seperti ini?"
"Tentu saja boleh."
"Akira, kita makan berdua begini apa nanti tidak terjadi masalah?"
"Masalah? Masalah tentang apa?"
"Istri kamu. Bukannya kamu sudah menikah dan memiliki seorang istri."
"Oh soal itu. Tidak akan menjadi masalah. Istriku sudah kembali ke rumahnya dan aku pria bebas di sini."
Wakakka! Ini kedengaran Nala bisa-bisa ngambek dan tidak mau tidur sama Akira.
Sekarang tangan wanita itu mulai berami memegang tangan Akira yang ada di atas meja. "Aku harus bersikap dingin agar istriku tidak mencurigai diriku."
"Iya, aku tau. Aku sekarang baru sadar jika kamu ternyata begitu lembut, tapi aku sangat menyukai sikap dingin kamu itu juga."
Akira menarik tangannya. "Ya sudah, kita cepat makan dan kembali ke kantor karena tidak enak jika orang lain tau."
"Iya, baiklah!" Wajah Silvia tampak sangat senang.
Sore itu, Silvia masuk ke dalam ruangan Akira dengan alasana akan memberikan dokumen yang akan di tanda tangani oleh Akira. Silvia duduk dengan menumpuk kedua pahanya memperlihatkan jenjang kakinya yang panjang semampai.
"Akira, apa nanti aku boleh pulang bersama dengan kamu?"
Akira yang membaca kertas di depannya terlihat agak terkejut dan melihat ke arah Silvia.
'Ini wanita sudah mulai melunjak, huft! Aku kesal lama-lama, apa aku tanya langsung saja maksudnya apa? Tapi aku yakin dia tidak akan mengaku.'
"Akira, kamu melamun apa?" panggil Silvia lagi.
"Oh iya, nanti kamu boleh ikut pulang bersamaku. Ini sudah aku periksa, kamu bersiap-siaplah." Akira berdiri di depan Silvia.
__ADS_1
"Terima kasih, Akira. Aku malam ini tidak ada acara apa-apa, kalau kamu ingin aku menemani kamu mengobrol di kamar kamu, aku akan datang dengan senang hati." Sekali lagi tangan Silvia mengusap pelan pundak Akira.
"Aku nanti malam mau menyelesaikan pekerjaan aku, jadi mungkin aku tidak bisa di ganggu."
"Ya sudah kalau begitu."
Tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang, yaitu, Nala. Nala agak terkejut melihat Akira dengan Silvia. Sama halnya dengan Silvia agak terkejut tiba-tiba Nala menyelonong masuk.
"Maaf, saya kira sudah tidak ada orang."
"Nala! Kamu harusnya mengetuk pintu dulu sebelum masuk." Ini Silvia malah yang marah.
"Ada apa, Nala?"
"Maaf, saya mau membersihkan ruangan Pak Akira dan membawa cangkir kotor di sini."
"Lakukan tugas kamu. Silvia, kamu tunggu aku di depan parkiran dulu, aku mau membereskan beberapa dokumen yang akan aku bawa pulang."
"Apa mau aku bantu, Akira?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, kamu tunggu saja di sana."
"Baiklah."
Tangan Silvia mengusap perlahan lengan tangan Akira dan dia berjalan keluar dengan gerakan sensualnya.
"Huft! Wanita itu, kenapa aku malah melihatnya sama sekali tidak tertarik," gerutu Akira.
Akira tidak tau jika dari tadi Nala memperhatikan dia. Nala sudah memasang muka kesalnya.
"Akira? Dia hanya memanggil nama kamu?"
"Sayang, dia mudah sekali tergoda. Kamu kenapa mukanya seperti itu?" Akira memeluk Nala dan mencium pipi Nala.
"Kalian makan siang ngapain aja?" Salah satu alis Nala naik ke atas.
"Kami tidak berbuat apa-apa? Hanya makan, dan dia mengatakan menyukaiku saat pertama kali bertemu dan aku menolongnya. Lalu ...." Akira melirik pada Nala.
"Lalu apa?" tanya Nala cepat.
Wkakakak mulai
__ADS_1