
Nala di dalam kamarnya sedang berbicara dengan suaminya lewat telepon.
"Pria itu tidak ke sana lagi, Kan? Kalau dia ke sana aku akan menjemput kamu sekarang juga."
"Namanya Radir, Akira. Dia tidak ke sini lagi, lagian aku sedang di dalam kamar untuk beristirahat."
"Aku tidak peduli siapa namanya. Aku tidak mau dia menemui kamu lagi, aku lihat dia seperti terobsesi sama kamu."
"Dia hanya menyukaiku karena menurutnya aku gadis yang baik dan sederhana. Coba saja aku tidak jatuh cinta sama kamu, pasti aku mau menerimanya," celetuk Nala menggoda suaminya.
"Apa?" suara Akira terdengar keras di seberang telepon.
"Aku serius, dia pria yang baik, lembut, dan sangat sayang, aku juga yakin dia pria setia."
"Aku masih lebih baik segalanya dari dia," jawab Akira sombong. "Kenapa kita jadi membicarakan dia? Sudahlah! Aku mau istirahat dulu. Kamu cepat tidur."
"Kamu marah?"
"Tentu saja aku marah, kenapa istriku malah memuji pria lain?"
"Ya sudah, tidur sana. Bye, Akira." Nala mematikan ponselnya.
"Nala, kamu--."
Terdengar suara nada ditutup. Akira hanya menghela napasnya pelan. Padahal tadi Akira niatnya mau cerita masalah Silvia. Eh, tapi tidak jadi.
Keesokan harinya Nala yang sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja, tiba-tiba ada Radit di depan rumah Seno.
"Nala."
"Mas Radit, ada apa ke sini?"
"Nala, aku mau minta maaf soal kejadian semalam."
"Tidak apa-apa, Mas Radit. Mas Radit tidak perlu meminta maaf."
"Jujur, aku hanya ingin melindungi kamu dari pria itu. Dia sudah pernah menyakiti kamu, Nala. Aku heran kenapa kamu bisa memaafkan semua kesalahannya?"
__ADS_1
"Mas Radit, Akira itu suamiku, dan dia ingin berubah, dia sudah mengakui semua kesalahannya yang dulu."
"Dan kamu percaya begitu saja sama dia? Nala, dia bisa saja berbuat seperti itu lagi sama kamu karena merasa kamu lemah dan memaafkan dia terus menerus."
"Mas Radit aku percaya dengan hatiku, aku percaya jika suamiku sudah berubah dan dia tidak akan menyakitiku lagi."
"Nala, aku bukannya ingin mempengaruhi kamu agar berpisah dengannya dan karena aku ingin mendapatkan kamu, tapi aku tidak mau kalau sampai kamu di sakiti dia lagi. Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau menerimaku, tapi aku tidak ingin kamu kembali dengannya."
"Mas Radit aku ucapkan terima kasih atas perhatian Mas Radit selama ini sama aku, tapi aku sudah memberi Akira kesempatan, aku percaya padanya kali ini. Kita juga akan segera memiliki anak, aku juga ingin memiliki sebuah keluarga dengan pria yang aku cintai."
"Aku bisa membuat kamu bahagia, aku mau menjadi ayah dari bayi kamu, aku akan menyayangi dia seperti anakku sendiri." Radit memegang tangan Nala.
"Mas Radit, jangan begini." Nala mencoba menarik tangannya.
Radit malah memegang erat tangan Nala. "Percayalah padaku Nala, kamu jangan mau di sakiti lagi sama dia."
"Lepaskan tangan istriku!" seketika terdengar suara mengitimidasi dari belakang Radit.
"Akira." Nala menarik tangannya.
"Jangan coba-coba mendekati istriku lagi, dan kamu tidak akan bisa mempengaruhi Nala. Dia tidak butuh pria lain selain aku suaminya."
Bibi Anjani, Bibi Sekar serta Seno yang mendengar keributan di luar segera keluar.
"Aku hanya ingin Nala tidak tertipu lagi oleh pria seperti kamu!" Radit bangkit dan hendak memukul Akira, tapi dengan cepat Akira berhasil menangkisnya.
"Sudah cukup!" Nala berteriak. Nala langsung memeluk suaminya. "Akira aku mohon jangan bertengkar lagi."
"Sudah, jangan membuat keributan," ucap bibi Anjani
Seno memegangi Radit sedagkan Nala masih memeluk suamina, beberapa orang yang melihat tampak terkejut.
"Maaf, ya, ini hanya salah paham, tidak ada apa-apa, Kok." Bibi Sekar mencoba memberitahu beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu.
Mereka membawa Radit dan Akira masuk ke dalam rumah dan ingin mendamaikan mereka berdua. "Kalian ini sudah sama-sama dewasa kenapa malah bertengkar seperti ini?"
"Aku tidak akan memulainya jika dia tidak menggangu istriku, Bi. Aku tidak suka istriku di sentuh oleh orang lain." Kedua mata Akira menatap tajam pada Radit.
__ADS_1
"Aku hanya ingin membuat sadar agar tidak terpengaruh lagi oleh pria seperti kamu! Kamu ingat yang kamu lakukan pada Nala?"
"Aku sudah bilang itu urusan aku dengan Nala, dan kamu oranf asing sebaiknya jangan ikut campur."
"Aku bisa menjaga Nala lebih baik, dia akan aku bahagiakan, tidak seperti kamu yang hanya bisa menyakiti dia."
"Kasihan sekali kamu. Nala hanya mencintaiku, dan dia akan lebih bahagia denganku. Camkan itu!"
"Nala, sebaiknya kamu bawa Akira pergi, kalian mau berangkat kerja, Kan?" tanya Bibi Anjani, dan Nala mengangguk.
"Akira, ayo kita pergi." Nala menggandengan tangan suaminya dan pergi dari sana.
Radit coba di tenangkan oleh bibi Anjani. Bibi Anjani meminta tolong pada Radit agar jangan ikut campur lagi dengan masalah Nala dan Akira. Mereka berdua sedang dalam tahap untuk saling memaafkan dan baikkan. Nala sangat mencintai Akira. Begitupun dengan Akira.
"Tapi apa Bibi tidak takut jika dia akan menyakiti Nala lagi?"
"Ada perasaan itu, tapi Bibi yakin Nala akan bisa mengatasinya, dan bib percaya kali ini Akira tidak akan lagi menyakiti Nala."
Radit pergi dari rumah dengan marah dan kesal. Di dalam mobilnya, Radit menggenggam erat setir kemudinya, dia juga menatap ke arah mobil Akira dan Nala yang barusan melanju pergi dari sana.
"Lihat saja, Nala akan menjadi milikku, bahkan bayi kamu juga tidak akan pernah dilahirkan oleh Nala. Aku sama sekali tidak sudi menjadi ayah dari bayi pria brengsek seperti kamu."
"Seno, kamu coba ajak bicara Radit baik-baik, jelaskan sama dia tentang Nala dan Akira. Mereka itu masih suami istri, dan mereka akan memiliki anak."
"Iya, Bu. Nanti aku akan coba menjelaskan pada Radit. Dia itu terlalu mencintai Nala, dia sebenarnya baik tidak ingin Nala di sakiti oleh Akira untuk kesekian kalinya."
"Iya, Ibu dan Bibi tau, tapi Nala sudah memberi kesempatan lagi pada suaminya itu. Nala juga tampak bahagia dengan Akira."
"Iya, Bu. Nanti aku akan bicara sama Radit. Kalau begitu Seno permisi dulu mau ke pabrik."
Seno mengecup punggung tangan ibunya dan bibi Anjani lalu berangkat ke pabrik naik motornya.
Mobil Akira sudah sampai di tempat biasa Akira menurunkan Nala. Akira masih tampak kesal. "Nala, sebaiknya ikut saja denganku ke kota, kita tinggal bersama seperti dulu." Akira menatap ke arah Nala.
"Kamu jangan emosi seperti itu. Jujur saja aku takut melihat kamu seperti tadi Akira."
"Aku benar-benar kesal dengan dia, aku tidak mau kamu dekat-dekat sama dia."
__ADS_1