My Secret Love

My Secret Love
144


__ADS_3

"Dasar bodoh!"


Ratna mengatakan itu dengan gerakan tidak sengaja nya hingga memukul dada Abrar pelan.


Seketika Ratna tersadar dan dia terdiam menunduk malu. Sementara Abrar sendiri justru tersenyum dan segera menahan tangan Ratna yang hendak dia tarik.


"Seperti itu saja, aku tidak keberatan kok." tahan Abrar dengan senyum di pipi nya.


Ratna yang mendengar ucapan Abrar itu pun segera menarik tangan nya dengan kasar dan memberengut kesal hingga kembali menimbulkan senyum di pipi Abrar.


"Ra, serius. Aku ingin bicara serius. Kau ingin lamaran yang seperti apa agar aku bisa menyiapkan nya." ujar Abrar menatap Ratna serius.


Ratna yang mendengar itu pun kembali menatap kesal ke arah Abrar, "Mana ada lamaran yang di minta seperti itu? Jika begitu maka bukan kejutan nama nya. Menyebalkan. Kemarin saja mencoba menggurui tuan Jalal tapi ternyata sama saja." ucap Ratna yang segera berbalik dan meninggalkan Abrar.


Abrar yang mendengar itu seketika tersenyum. Dia bukan nya tidak tahu dan tidak memiliki rencana tapi dia ingin mempertimbangkan keinginan Ratna yang mungkin saja memiliki impian lamaran yang seperti apa.

__ADS_1


Dia sudah merencanakan lamaran lain dan dia sendiri pun menyadari bahwa lamaran yang dia lakukan hari ini sangat jauh dari romantis. Justru terkesan tanpa rencana dan main-main saja. Tapi dia berjanji akan memberikan lamaran terbaik untuk Ratna. Mengingat gadis itu juga bukan berasal dari keluarga biasa. Seperti nya dia harus segera menemui keluarga Ratna agar semua nya bisa berjalan dengan baik. Restu itu sangat penting dalam membina sebuah rumah tangga.


Abrar segera menyusul Ratna dan menggenggam tangan gadis itu, "Aku akan menemui keluargamu sebelum nanti melamarmu." ucap Abrar hingga Ratna kembali menatap ke arah nya. Tapi Abrar mengabaikan nya dan justru semakin menggenggam erat tangan Ratna.


***


Sementara di sisi lain, kini selepas mengambil foto bersama. Semua orang di sana pergi dengan pasangan mereka masing-masing.


Kini Zahra dan Gentala sedang berada di mobil yang sama.


"Terserah!" jawab Zahra.


Jawaban khas gadis perawan. Seperti nya Gentala harus pintar-pintar memahami kamus seorang wanita.


Gentala memilih menjalankan mobil nya menuju arah lain setelah mendapatkan jawaban dari Zahra. Bukan kah ini adalah kesempatan langka nya. Dia sudah di izinkan oleh Azzam. Selain itu juga mengingat dia yang hari ini baru ujian. Seperti nya jalan berdua bersama Zahra akan menjasi hadiah yang spesial.

__ADS_1


Zahra sendiri tidak protes saat menyadari bahwa mobil bukan menuju jalan pulang.


***


Sementara di sisi Azzam dan Husna, kini pasangan suami istri itu sudah tiba di kediaman utama. Mereka segera makan siang berdua. Lalu segera naik ke kamar mereka dan menyiapkan untuk ujian Husna esok hari.


"Mas!" Panggil Husna.


Azzam pun menoleh dan meletakkan ponsel nya yang baru memeriksa pesan yang di kirimkan Gentala yang mengatakan mengajak Zahra jalan-jalan lebih dulu. Azzam tersenyum karena Gentala memanfaatkan waktu yang dia berikan dengan sebaik-baik nya.


Azzam bukan orang bodoh yang tidak menyadari bahwa adik nya itu tidak memiliki masalah.


"Mas, kenapa tersenyum begitu?" tanya Husna saat melihat suami nya tersenyum melihat ponsel nya.


Azzam segera mengambil ponsel nya dan memberikan nya kepada sang istri, "Itu pesan dari Gentala." jawab Azzam.

__ADS_1


"Kenapa pesan nya? Apa lucu?"


__ADS_2