
Nala khawatir jika Akira tetap berurusan dengan Albert, maka Anabella akan terus mengganggu hidup Akira dan Nala lagi. Namun, Akira meyakinkan jika Anabella tidak akan mengganggu kehidupan keluarga mereka karena jika hal itu Anabella lakukan, makan Anabella pun tidak akan dibiarkan begitu
saja, Akira tidak akan segan-segan membuat Anabella menyesal berurusan dengannya lagi walaupuan dia akan melihat dan bertemu dengan Anabella karena Akira sudah tidak memiliki perasaan apa dengannya.
“Kamu jangan cemburu lagi dengan Anabella, dia sudah tidak ada artinya dalam hidupku. Hidupku hanya ada kamu dan anak-anak kita.” Akira mencium kening istrinya.
“Iya, aku percaya sama kamu.”
Malam ini di meja makan tampak berkumpul keluarga Akira sedang menikmati makan malam mereka dengan hangat, setelah selesai makan Bibi Anjani mulai membersihkan piring dan alat makan lainnya. “Nenek Anjani jangan
capek-capek, biarkan aku saja nanti yang membersihkan meja-meja ini. Aku kan
sudah besar dan aku harus bisa melakukan pekerjaan rumah,” ucap gadis cantik
Nala yang sekarang sudah tumbuh dewasa.
Nara atau biasa dipanggil Ara sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan rambut panjang sebahunya, dengan poni berjejer rapi di depan, kulitnya putih dan tingginya sekitar 160 cm. Dia imut seperti
mamanya.
“Tidak terasa ya Nala. Waktu begitu cepat berlalu, sekarang kedua anak kamu sudah tumbuh dengan cepat dan mereka menjadi anak-anak yang sangat bisa di banggakan.
“Kalau kita kecil terus kapan kita bisa menjadi seperti ayah dan mama? Aku juga ingin bekerja di perusahaan seperti ayah nantinya,” jelas
Aro yang sekarang juga tumbuh menjadi pemuda tampan dengan kulit putih dan
tingginya hampir menyamai tinggi ayahnya. Aro memiliki tubuh atheltis karena memang dia suka sekali berolahraga.
“Nanti kalau kuliah kamu sudah lulus, kamu akan bisa mengurus perusahaan ayah , Aro. Ayah senang kamu mau belajar mendalami dunia bisnis seperti ayah.”
“Kalau lulus nanti aku mau membuka sebuah cafe dengan masakan dan kue buatan aku sendiri, Yah. Apa itu boleh?” tanya Ara.
“Tentu saja boleh, Sayang. Ayah akan merasa sangat senang kamu mau menjalani usaha bisnis kamu sendiri. Jadi kamu bisa membuka lowongan pekerjaan untuk orang lain.”
“Ya sudah sekarang kita bereskan meja makan dulu. Ara bantu mama ya? Biarkan nenek Anjani istirahat saja.”
“Siap, Ma.”
__ADS_1
“Kalau begitu aku mau ke ruang kerja ayah untuk membaca buku tentang bisnis yang kemarin ayah mau tunjukkan padaku.”
“Kamu ikut ayah ke ruang kerja ayah.” Akira dan Aro pergi ke ruang kerja sementara Nala dan putrinya membersihkan meja makan.
“Terus bibi harus apa ini, Nala?” tanya bibi Anjani yang malah di suruh duduk diam di ruang makan.
Ara tersenyum kecil melihat muka lucu neneknya itu. “Nenek diam saja di sana, atau kalau tidak nenek menonton televisi saja, biarkan aku dan mama yang melakukannya karena aku sudah dewasa dan tidak mau menjadi anak yang manja.”
“Kamu memang bukan anak manja, Ara. Nenek tau akan hal itu. Ya sudah! Nenek akan pergi ke kamar sebentar, nenek mau mengoleskan minyak pada pinggang nenek yang agak sakit.”
“Bi, apa Bibi mau aku bawa ke dokter untuk memeriksakan pinggang Bibi itu?” tanya Nala cemas.
“Tidak apa-apa, Nala. Mungkin karena usiaku yang sudah tua, jadi ya begini ini.”
“Bibi masih muda, siapa yang bilang tua?” Nala tersenyum menggoda.
“Muda dari mana? Rambut saja sudah keluar uban begini.Ya sudah! Bibi mau ke kamar bibi dulu.” Bibi Anjani beranjak dari tempatnya dan
masuk ke dalam kamar.
Ara dan Nala berada di dapur tepatnya di depan wastafel untuk mencuci alat-alat makan yang kotor. “Ma, besok aku boleh izin pulang
“Kamu mau ke mana?” tanya Nala menatap putrinya serius.
“Aku mau menonton sama teman-teman kuliah aku, Ma. Setelah itu kita langsung pulang, Kok.”
“Nanti bilang juga sama ayah kamu, Ya? Mama boleh saja, tapi tetap kamu harus izin sama ayah kamu.”
Ara terdiam sejenak. “Ma, apa nanti ayah akan memperbolehkan aku untuk pergi nonton? Aku ingin sekali melihat film disney yang aku ingin
lihat.”
“Kamu bicara saja sama ayah, pasti kamu akan diperbolehkan, asal jangan pulang larut malam.”
“Tidak sampai malam kok, Ma. Hanya makan, nonton terus pulang. Aku pergi dengan Martha, Tania dan Sifa. Mama kan tau mereka teman-teman baikku.”
“Iya, mama boleh saja, tapi tetap keputusan ada di tangan ayah kamu.”
__ADS_1
“Tapi Mama bantu aku bicara sama ayah, supaya ayah memperbolehkan aku untuk pergi nonton.”
“Iya.” Ara memeluk mamanya dengan erat dari samping.
“Ehem ...! Ada apa ini? Kenapa berpelukan seperti itu?” Tiba-tiba suara Akira tepat berada di belakang mereka berdua.
“Ayah? Bikin kaget saja Ayah ini.” Ara langsung melepaskan pelukannya pada mamanya.
“Kalian ini sedang mencuci piring kenapa ada adegan peluk-pelukan seperti itu?”
Nala membersihkan tangannya dengan lap dan kemudian dia mendekat memeluk pinggang Akira mesra. “Putri kamu memelukku karena ingin agar aku merayu ayahnya untuk membantu dia bicara sama kamu.”
Akira melihat ke arah putrinya bingung. “Memangnya kamu mau berbicara apa, Sayang?” tanya Akira pada putrinya.
Wajah Ara tampak cemas melihat ke arah ayahnya, dia sangat takut jika harus berbicara dengan ayahnya, meskipun Akira tidak pernah
berbicara kasar ataupun memarahinya. Namun, tetap saja Ara merasa takut. Wajah
Akira kan tegas dan dingin begitu.
“Yah, apa boleh besok aku pulang kuliah pergi nonton bioskop sama teman-temanku?”
Akira terdiam sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya. Dia seperti memikirkan sesuatu. Akira dan Nala sebenarnya bukan orang tua yang diktaktor dengan anak-anaknya, tapi mereka memang sangat memantau apa
pun yang kedua anaknya lakukan, terutama si Ara.
“Sayang, mereka hanya makan dan nonton lalu pulang dan Ara berjanji tidak akan pulang larut malam.”
“Iya, Yah. Aku dan ketiga sahabatku saja yang akan pergi menonton,” ucapnya agak takut, padahal muka ayahnya biasa saja, hanya memang kalau dilihat membuat Ara agak takut kalau serius begitu.
“Ya sudah, kamu besok boleh pergi dengan teman-teman kamu, tapi jangan pulang malam-malam dan nanti ayah akan video call sama kamu.”
“Benar aku boleh ikut, Yah?” Sekarang wajah si cantik Ara tampak terlihat sangat bahagia.”
“Iya, kamu boleh pergi dengan teman-teman kamu.”
Ara memeluk ayahnya dengan erat. “Terima kasih ya, Yah. Aku senang sekali ayah percaya padaku.” Nala dan Akira saling melihat dan
__ADS_1
tersenyum. Akira sangat senang kedua anaknya memiliki sifat yang hampir mirip dengan istrinya.