My Secret Love

My Secret Love
196


__ADS_3

“Kak, apa kau baik-baik saja?” tanya Zahra heran karena Andita hanya tersenyum menanggapi ucapan nya yang panjang.


Andita mengangguk, “Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja.” jawab Andita.


“Kau aneh kak. Kenapa coba menungguku dan hanya tersenyum menatapku seperti menyimpan sesuatu saja.” ucap Zahra.


“Memang. Aku mengetahui sesuatu tentangmu.” Ucap Andita lalu berdiri dari duduk nya dan berlalu meninggalkan Zahra menuju kamar nya.


Zahra yang sempat bengong dengan jawaban yang di berikan Andita akhirnya tersadar saat Andita sudah hampir mencapai kamar nya.


“Kau tahu sesuatu tentangku? Tentang apa kak?” tanya Zahra segera mendekati Andita.


“Itu rahasia. Aku tidak akan mengatakan nya padamu. Tapi yang pasti itu adalah hal baik. Bukan yang buruk. Sudah ah aku mau istirahat besok aku harus pergi berlibur.” Ucap Andita hendak membuka pintu kamar nya.


“Ck, katakan apa itu kak? Jangan main rahasiaan denganku. Aku tidak menyukai sesuatu yang bersifat rahasia. Kau sudah membuatku penasaran. Jangan menggantungku seperti ini.” ucap Zahra.


“Lain kali saja ya adik kecil yang sudah dewasa. Sekarang aku harus segera istirahat. Itu sudah larut malam.” Ucap Andita yang segera masuk ke kamar nya.


“Ck, kak Dita kau menyebalkan. Kenapa mengatakan hal seperti itu hingga membuatku penasaran. Tidak perlu mengatakan nya jika memang kau tidak berniat untuk menjelaskan nya.” ucap Zahra sedikit keras. Dia yakin Andita mendengar nya di dalam.


Dan benar saja Andita mendengar kalimat nya itu dan hanya bisa tertawa kecil, “Maaf Zahra. Ini memang rahasia. Kau pasti akan mengetahui nya nanti.” Ucap Andita lalu segera menuju ranjang nya dan membuka ponsel nya di mana di sana ada pesan masuk dari Gilang yang mengatakan bahwa dia sudah tiba di kediaman nya.


Sementara di luar, Zahra meninggalkan kabar Andita dengan bingung, “Apa aku pernah mengatakan sesuatu kepada kak Dita mengenai hal yang bersifat rahasia?” tanya Zahra pada diri nya sendiri.


Dia berusaha mengingat nya tapi tak kunjung dia ingat, “Ah tidak. Aku tidak pernah mengatakan hal rahasia kepada kak Dita. Jika itu kakak ipar maka baru. Kakak ipar tahu semua rahasiaku. Tapi kenapa kak Dita mengatakan hal seperti itu. Rahasia tentangku?” gumam Zahra sambil mengingat tapi tak juga di ingat.


“Ck, kak Dita menyebalkan. Dia sudah membuat penasaran setengah mati. Seperti nya dia memiliki bakat baru sekarang. Bakat membuat orang penasaran. Aku tidak bisa tidur jika begini. Huh, rasa penasaran ini menyiksaku. Maka nya jika jadi orang itu Zahra jangan jadi orang kepo. Aku jadi seperti terlihat sebelas dua belas mirip kak Betty.” Ujar Zahra terkekeh dengan jalan pikiran nya sendiri.


Setelah pusing memikirkan apa yang di katakan Andita dan tidak juga menemukan apa yang di maksud. Zahra pun memilih membersihkan tubuh nya sebelum nanti beristirahat. Walaupun belum pasti dia bisa tidur atau tidak karena sudah terlanjur penasaran akan sesuatu.


***


Pagi menyapa, semua orang di kediaman Husna sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Jika Husna dan Azzam memilih berolahraga pagi bersama dengan berlari kecil mengelilingi kediaman.


Maka berbeda dengan Andita dan ibu Diyah yang sibuk bersiap untuk pergi berlibur. Lain juga dengan Zahra yang selepas subuh gadis itu kembali tidur karena mengantuk. Dia baru tertidur jam dua dini hari maka nya dia mengantuk. Untung saja jam kuliah nya nanti siang hari jadi masih bisa bersantai.


Umi Balqis sendiri hari ini dia memilih menemani abi Syarif memberi makan ikan di kolam. Dia menyerahkan urusan sarapan kepada para pelayan.


Umi Balqis dan abi Syarif tersenyum melihat putri dan menantu mereka yang sedang memutari kediaman, “Hal ini lah yang membuatku tidak rela tinggal jauh dengan putri kita, mi.” ucap abi Syarif.


Senyum Husna di pagi hari adalah hal yang membuat nya bertenaga. Yah, putri nya itu bagaikan obat untuk nya. Begitu juga untuk umi Balqis.


Husna itu adalah segala nya untuk mereka. Jika nanti mereka di minta memilih antara Husna dan kekayaan mereka dengan yakin tanpa ragu mereka akan memilih Husna, putri mereka. Untuk itu lah hal berat bagi mereka jika Husna memilih tinggal terpisah.


“Tapi kita juga tidak harus mengekang nya lagi, bi. Sudah cukup selama ini dia hidup dalam semua larangan kita tanpa protes.” Ucap umi Balqis.


“Dia pernah protes mi.” ucap abi Syarif.


Umi Balqis pun tertawa mendengar ucapan suami nya. Dia sangat paham bentuk protes seperti apa yang di maksud suami nya itu, “Tapi itu adalah hal wajar di lakukan oleh nya, bi. Siapa juga coba yang mau menikah di usia muda. Bukan kah dulu aku juga pernah menolak lamaran darimu.” Ucap umi Balqis tertawa.


Abi Syarif pun ikut tertawa, “Dia hanya satu-satu nya yang membuat kita terlalu menjaga nya hingga mengekang nya dengan semua larangan yang ada. Tapi mau bagaimana lagi kita tidak ingin kehilangan nya hingga parenting yang kita lakukan itu sudah mendarah daging hingga kini. Hingga dia memiliki pasangan.” Ucap abi Syarif.


“Itu adalah salah umi karena tidak bisa memberikan abi anak lain selain dia.” Ujar umi Balqis merasa bersalah. Kondisi jantung nya yang lemah membuat nya tidak bisa punya anak lagi. Husna saja adalah berkah untuk nya setelah banyak nya usaha yang mereka lakukan.


“Stop menyalahkan dirimu, mi. Rezeki kita memang hanya dia saja. Aku tidak menyesal hanya memiliki dia saja dalam hidup kita. Dia adalah anak yang berbakti dan penyayang. Jadi jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Abi tidak menyukai nya.” ucap abi Syarif yang memang tidak suka jika umi Balqis mulai menyalahkan diri nya.


“Lihat mereka saling menyayangi. Aku tidak salah memilih Azzam sebagai suami nya.” lanjut Abi Syarif menunjuk sang putri dan Azzam.


“Hum, untuk itu lah kita harus percaya pada putri kita bahwa dia bisa menjaga diri nya. Azzam juga pasti akan melakukan yang terbaik untuk menjaga Husna.


“Tetap saja abi belum rela, umi. Setidak nya untuk beberapa waktu ke depan.” Ujar abi Syarif. Umi Balqis pun hanya diam saja tidak menanggapi lagi ucapan suami nya karena dia tahu percuma mau menggapi jika abi Syraif sudah dengan keputusan nya. Bagaimana pun Husna adalah putri kesayangan nya. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat jika dia sudah mengambil keputusan terkait putri nya itu.


“Aw!” ucap Husna saat tidak sengaja dia tersangkut batu. Tapi untung saja tidak jatuh karena Azzam dengan sigap menahan istri nya itu dan menarik Husna ke pelukan nya.


“Kau baik-baik saja sayang?” tanya Azzam khawatir.


Husna yang tadi nya sempat takut kini tersenyum dalam pelukan suami nya itu, “Aku baik-baik saja suamiku.” jawab Husna mengeratkan pelukan nya.


“Sayang, kau membuatku khawatir saja. Kita berhenti saja.” ucap Azzam segera menuntun Husna untuk duduk di banggu yang memang ada di sekeliling kediaman orang tua Husna itu.


Abi Syarif dan Umi Balqis sendiri yang sempat melihat itu khawatir hingga mereka berdiri dari tempat mereka duduk mengamati Husna dan Azzam. Tapi kemudian mereka menghela napas lega saat melihat menantu mereka yang sigap menjaga Husna. Apalagi melihat Husna yang memeluk menantu mereka itu dengan erat dan memberikan dua jempol nya ke arah mereka seolah tahu bahwa mereka khawatir dengan keadaan nya.


Azzam segera melepaskan sepatu Husna dan memijat kaki istri nya itu, “Mas, kau tidak perlu melakukan itu. Ayo duduk di sampingku. Aku ingin menghirup bau tubuhmu.” Pinta Husna manja.


“Jangan sayang. Bau keringat.” Tolak Azzam.


“Tidak masalah mas. Aku justru menyukai hal itu.” ujar Husna dengan mata puppy eyes nya menandakan dia membujuk suami nya.


Azzam mana mungkin bisa menolak jika Husna sudah mengeluarkan jurus seperti itu. Dia pun segera duduk di samping Husna dan membiarkan saja Husna yang bergelayut manja pada nya.


Cup


“Mas, seperti nya aku akan mempertimbangkan untuk tinggal di sini saja. Kasihan abi dan umi yang sudah tua jika harus tinggal berjauhan denganku. Tapi terkait memasak untukmu aku akan membicarakan nya dengan umi.” Ucap Husna.


“Aku setuju apapun keputusanmu sayang.” balas Azzam.


“Mas, apa aku terlihat lebih dominan darimu? Kau tidak merasa tertindas denganku? Seperti nya aku selalu mengambil keputusan dalam rumah tangga kita dan kau hanya menyetujui saja.” ucap Husna.


“Sayang, mana ada hal seperti itu. Bukan kah mas jika tidak setuju juga mas katakan.” Ucap Azzam.


“Tapi jarang.” Ucap Husna.


“Huh, baiklah. Mulai sekarang suamimu ini akan menolak semua keputusanmu.” Ucap Azzam.


Husna yang mendengar ucapan suami nya segera menjauh dari Azzam, “Ih, bukan begitu maksudku mas.” Ucap Husna.


Azzam pun tertawa lalu kembali membawa Husna ke dalam pelukan nya, “Maka nya dari itu jangan berkata seperti itu. Bukan kah kita selalu membicarakan apapun keputusan yang akan kita ambil.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum dalam pelukan suami nya, “Jujur saja ini yang aku inginkan. Mas, memelukku. Drama tadi hanya ku ciptakan saja agar mas kesal.” Ucap Husna tertawa.


“Azarine! Kenapa tidak mengatakan secara langsung saja jika memang ingin di peluk. Kenapa coba harus menciptakan drama seperti itu.” ucap Azzam tidak habis pikir dengan istri nya itu.

__ADS_1


“Tidak asyik mas jika begitu. Terus pelukan nya akan terasa berbeda. Pelukan dengan di minta maupun pelukan yang di berikan suami kita sendiri atas inisiatif nya.” ucap Husna mencari alasan.


Azzam pun hanya bisa tertawa mendengar alasan yang di berikan istri nya itu.


“Putri kita seperti nya lebih dominan dari suami nya.” ucap umi Balqis.


“Tidak masalah selama Azzam tidak keberatan. Dia sangat menyayangi putri kita.” Ucap abi Syarif.


“Bukan kah kau aku juga sama kepadamu.” Lanjut abi Syarif yang di balas umi Balqis dengan senyum.


***


Suasana sarapan kali ini terasa berbeda karena di sana ada Gilang dan kedua orang tua nya yang ikut bergabung sarapan. Sebenar nya mereka datang untuk menjemput Andita dan ibu Diyah hanya saja kedatangan mereka bertepatan dengan acara sarapan di kediaman itu. Jadi mau tak mau mereka ikut sarapan karena tidak mungkin menolak rezeki.


Semua orang sudah berada di meja makan dan memulai sarapan mereka. Selama sarapan itu Zahra merasa bahwa mami Ajeng menatap nya.


“Kenapa ibu nya kak Gilang itu menatapku seperti itu sejak tadi ya? Apa ada yang salah di wajahku?” batin Zahra menyentuh wajah nya memastikan apa mungkin ada air liur di pipi nya itu. Tapi itu tidak mungkin karena Zahra sudah mencuci wajah nya saat bangun tidur dan turun sebelum menuju meja makan.


Zahra mencoba mengabaikan nya dan fokus dengan sarapan nya hingga kuarng lebih 20 menit berlalu akhirnya sesi sarapan itu berakhir.


“Aku pamit, Na!” ucap Andita saat berpamitan pada Husna.


“Hum, jaga dirimu.” Balas Husna.


“Kau juga.” Ucap Andita yang di balas anggukan oleh Husna.


Sesi pamitan itu berlangsung kurang lebih lima menit dan tiba lah mobil Gilang dan keluarga nya melaju meninggalkan kediaman orang tua Husna.


“Zahra!” panggil Husna saat adik ipar nya itu bengong di luar sambil menatap ke arah pintu gerbang.


“Eh iya kak.” Jawab Zahra saat tersadar dari lamunan nya.


“Ayo masuk!” ajak Husna.


Zahra pun segera mengangguk dan menggandeng Husna.


“Ada apa?” tanya Husna.


Zahra pun menoleh menatap Husna dengan bingung tidak paham dengan pertanyaan Husna, “Kenapa bengong? Apa ada masalah? Ohiya bagaimana dengan kencanmu semalam?” tanya Husna.


“Ck, itu bukan kencan kak.” Protes Zahra.


“Hm, jika bukan kencan lalu apa?” tanya Husna.


“Jalan.” Jawab Zahra singkat.


“Ah baiklah bukan kencan. Itu jalan-jalan.” Ucap Husna tertawa.


“Kakak ipar kau menggodaku.” Ucap Zahra.


“Eh siapa yang menggodamu dek.” ujar Husna.


“Itu kakak tertawa. Itu berarti kakak menggodaku. Kakak tidak percaya dengan apa yang aku katakan.” Ucap Zahra pura-pura kesal.


“Ck, sudah lah lebih baik kakak tertawa saja dari pada menahan nya seperti itu. Hal itu justru terlihat lebih meledek dari pada tertawa.” Ucap Zahra.


“Hahhaahh, dasar plin plan kau dek. Sudah, ayo katakan apa yang membuatmu bengong begitu tadi? Apa yang kau pikirkan?” tanya Husna serius.


“Itu aku memikirkan. Itu kak, ibu nya kak Gilang itu seolah menatapku sepanjang sarapan tadi dan sebelum pamit juga dia menatapku. Apa itu hanya perasaanku saja. Tapi tidak dia sungguh menatapku seolah sedang menilaiku kak. Jadi karena itu lah aku bengong memikirkan alasan nya.” jelas Zahra.


Husna yang mendengar ucapan adik nya itu pun terdiam lalu memikirkan sesuatu. Kemungkinan yang terjadi hingga ibu nya Gilang itu menatap Zahra. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya dia menemukan jawaban nya.


“Kakak tahu apa alasan nya jika benar ibu nya Gilang itu menatapmu.” Ucap Husna.


“Apa kak?” tanya Zahra antusias.


“Ini pasti ada hubungan nya dengan Gen. Gilang dan Gentala itu adalah saudara sepupu. Ibu nya Gilang adalah saudari dari ibu nya Gentala. Jadi seperti nya ibu nya Gilang sedang menilaimu untuk di sampaikan kepada ibu nya Gentala.” Jawab Husna.


Zahra pun diam sambil mengolah apa yang kakak ipar nya katakan.


“Seperti nya memang benar itu hubungan nya. Kini aku paham kenapa kak Dita semalam bersikap aneh padaku.” Ucap Zahra lirih.


“Dita? Ada apa dengan nya?” tanya Husna.


Zahra menggeleng, “Gak, bukan apa-apa. Hanya saja kak Dita mengatakan bahwa dia tahu sesuatu tentangku dan itu bersifat rahasia. Setelah Zahra pikir semalam suntuk Zahra tidak menemukan dan mengingat pernah mengatakan sesuatu yang sifat nya rahasia kepada kak Dita. Satu-satu nya orang yang tahu rahasia Zahra adalah kakak. Dan kini Zahra paham kenapa kak Dita berkata begitu.” Jawab Zahra.


Husna pun mengangguk, “Kemungkinan besar Dita sudah ketemu dengan orang tua nya Gen. Lalu dia dan Gilang mengatakan tentang hubunganmu dengan Gen. Apalagi mengingat Gilang itu sangat dekat dengan bibi nya.” ucap Husna.


“Wah, jika itu yang terjadi. Parah nih kak Dita.” Ucap Zahra.


Husna pun tertawa, “Sudah lah jangan pikirkan itu. Lebih baik sekarang kau siap-siap ke kampus.” Ucap Husna.


“Kuliahku nanti siang kak. Aku mau tidur dulu. Mengantuk. Aku baru tertidur jam dua karena penasaran dengan rahasia yang di katakan kak Dita.” Ucap Zahra dengan wajah memelas nya hingga Husna pun tidak tega meminta adik ipar nya itu untuk segera beraktivitas dengan perkuliahan.


“Ya sudah lanjutkan tidurmu.” Ucap Husna.


Zahra yang mendengar ucapan kakak ipar nya itu pun tersenyum lalu mengangguk dengan yakin, “Terima kasih kak.” Ucap Zahra lalu melabuhkan kecupan singkat di pipi Husna.


Dia sengaja melakukan nya karena melihat abang nya yang turun dari lantai dua dengan pakaian rapi nya siap untuk menuju kampus nya seperti nya. Menggoda abang nya adalah hal yang mengasyikkan untuk nya sekarang.


“Jangan sampai terlambat.” Ucap Husna kepada adik ipar nya itu yang sudah berlari menuju lantai dua dan berpapasan dengan Azzam yang menatap nya tajam. Tapi dia mana peduli dengan hal itu. Dia melewati Azzam begitu saja hingga Husna yang melihat itu pun tersenyum kecil karena yakin bahwa adik ipar nya itu sengaja menggoda suami nya.


“Jangan main cium istri abang dek.” protes Azzam karena di abaikan oleh adik nya itu begitu saja. Di lewati tanpa rasa bersalah hingga membuat nya harus mengajukan protes nya. Rasa tidak terima tentu saja harus dia lakukan.


“Mas, ayo sini!” panggil Husna. Azzam pun segera mendekati sang istri dan melabuhkan kecupan singkat di bibir istri nya itu.


“Mas, nanti di lihat orang.” Ucap Husna malu melihat sekeliling.


“Tidak masalah sayang. Mereka pasti akan mengerti. Kita itu adalah pasangan suami istri yang saling mencintai satu sama lain. Abi dan umi pasti paham jika mereka melihat karena mereka juga pernah muda. Lalu para pelayan dan bodyguard juga tidak akan berani protes.” Ucap Azzam lalu segera mengambil tempat di sisi istri nya itu.


“Tetap saja tidak boleh melakukan itu di tempat umum. Ohiya kenapa mas justru duduk. Ayo sana berangkat. Nanti terlambat.” Ucap Husna heran dengan tingkah suami nya itu yang justru duduk di samping nya padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.44.

__ADS_1


Memang masih sangat pagi tapi tentu saja bagi Husna yang terbiasa melihat sang suami berangkat paling lambat setidak nya pukul setengah delapan heran dan merasa aneh jika suami nya itu pada jam seperti ini masih berada di rumah.


“Mas malas ke kampus sayang. Mas ingin di rumah saja bersamamu. Di sana mas tidak bisa melihatmu.” Jawab Azzam menatap penuh cinta ke arah istri nya itu.


“Ck, mas kau menggombal. Ingat itu masih pagi pak dosen. Ingat juga tidak boleh menggombal mahasiswimu seperti itu.” ucap Husna.


Azzam pun terkekeh mendengar ucapan istri nya itu, “Kamu itu mahasiswiku sekaligus istriku sayang dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anak kita.” Ucap Azzam lalu mengelus perut istri nya itu penuh kasih.


“Jika memang begitu kau harus bekerja suamiku demi anak-anak kita. Mereka akan di beri makan apa nanti jika ayah mereka tidak bekerja.” Ucap Husna.


“Walaupun aku kaya tapi ini sosok yang kikir. Aku tidak akan membantumu dalam hal mencukupi kebutuhan anak kita karena mereka adalah tanggung jawabmu.” Lanjut Husna. Tentu saja semua ucapan nya itu hanya lah lelucon saja. Mana mungkin dia tidak akan membantu suami nya jika suami nya itu kesusahan.


“Hm, baiklah. Ayah akan pergi bekerja. Ayah titip bunda kalian ya. Jangan nakal. Tunggu ayah pulang.” Ucap Azzam bicara dengan perut Husna seolah mengajak bicara kedua buah hati nya yang masih berbentuk gumpalan darah itu.


“Kami sayang ayah.” balas Husna menirukan suara anak kecil.


Azzam pun tertawa mendengar suara istri nya itu, “Kau sangat lucu sayang. Menggemaskan. Seperti nya aku akan sulit membedakan dirimu dengan anak kita nanti. Kalian pasti akan sama-sama menggemaskan di mataku.” Ucap Azzam menatap penuh cinta istri nya itu.


Cup


“Sudah sana pergi lah dan cepat lah pulang. Kau harus menyelesaikan semua nya sebelum berhenti.” Ucap Husna mengecup kening suami nya itu lembut.


Azzam pun mengangguk dan kembali bersemangat untuk ke kampus menyelesaikan kewajiban nya sebelum nanti akan mengundurkan diri setelah memastikan sang istri wisuda seperti yang sudah mereka janjikan saat hubungan kedua nya di ragukan oleh pihak prodi. Hubungan pernikahan yang sakral itu tidak percaya. Hati siapa coba yang bisa menerima di ragukan seperti itu.


“Aku mencintaimu sayang. I love you more.” Ucap Azzam mencium tangan istri nya itu lama.


“Aku juga mencintaimu mas.” Balas Husna.


Setelah itu Husna pun berjalan ke depan mengantar suami nya itu berangkat.


“Aku pamit sayang. Jaga dirimu baik-baik di rumah. Aku akan segera pulang setelah urusanku selesai.” Ucap Azzam.


Husna mengangguk, “Hati-hati di jalan.” Balas Husna yang mendapatkan kecupan di kening. Husna sendiri mencium punggung tangan suami nya sebelum Azzam melajukan mobil nya meninggalkan kediaman.


Setelah memastikan mobil suami nya menghilang dari pandangan nya baru lah Husna masuk ke dalam dan menuju lantai dua.


“Seperti nya aku harus memindahkan kamarku ke bawah jika umi dan abi masih menginginkanku untuk tinggal. Aku akan bicarakan dengan umi masalah ini nanti. Umi lebih bisa di ajak bicara dan diskusi ketimbang abi. Abi terlalu menyayangiku hingga logika nya tidak berfungsi dengan baik. Justru umi yang kini terlihat menggunakan logika nya.” gumam Husna saat dia duduk di ranjang nya.


Husna pun duduk di balkon sendiri dan menatap langit cerah pagi itu, “Langit! Aku suka.” Gumam Husna masih menatap langit hingga tiba-tiba terbersit ide di kepala nya.


“Aku akan membuat cerita versi diriku dan mas Azzam. Ketika langit jatuh cinta. Yah, itu judul yang pas.” Gumam Husna mengambil kertas dan bolpoin dan mulai menuliskan garis-garis besar cerita nya yang sebagian di ambil dari kehidupan nyata nya tapi yang lain nya tentu saja di tambah dengan hal fiksi agar lebih menarik lagi.


“Tapi sebelum aku menulis lagi aku harus menyelesaikan semua berkas skripsiku dulu. Aku ingin segera wisuda agar mas Azzam segera fokus ke perusahaan nya. Kasihan dia harus mengurus dua profesi sekaligus nya. Sebagai dosen dan juga sebagai pemilik perusahaan. Aku ingin membantu nya hanya saja aku juga ingat dan sadar bahwa ASH Industries saja belum pasti aku tangani karena keadaanku sekarang ini. Abi dan mas Azzam pasti tidak akan mengizinkanku bekerja. Huh, kenapa juga aku harus hidup dengan dua laki-laki yang sama posesif nya.” ucap Husna.


“Aku harus menghubungi kak Gauri dulu. Semoga saja aku tidak mengganggu nya.” ucap Husna meraih ponsel nya.


Tak perlu menunggu lama panggilan nya itu segera di jawab.


“Assalamu’alaikum nyonya muda. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Gauri dalam mode asisten.


“Waalaikumsalam kak. Aku hanya ingin bertanya sesuatu saja.” ucap Husna.


“Apa yang bisa saya bantu nyonya?” tanya Gauri lagi.


“Kak, jangan memanggilku begitu. Aku ingin membicarakan terkait novelku.” Ucap Husna.


“Ouh novel anda. Semua nya laku keras dek. Bahkan penerbit berencana akan kembali mencetak nya karena bukumu yang terakhir kali kau rilis itu laku keras melebihi pendapatan sebelum nya. Mereka ingin kembali mencetak nya karena mereka tahu bahwa kemungkinan kau akan lama untuk merilis buku barumu lagi. Jadi mereka akan kembali mencetak nya untuk meraup keuntungan dengan memanfaatkan permintaan konsumen yang banyak. Kemungkinan besar mereka saat ini sedang membuat surat kontrak pencetakkan ulang dan akan menghubungi kita.” Jelas Gauri mengurangi mode asisten nya tapi tentu saja tetap sopan karena dia berada di lingkungan kerja dan saat jam kerja berlangsung.


“Minta mereka untuk tidak mencetak nya lagi kak. Aku tidak ingin ada pencetakkan ulang. Itu adalah ciri khas dariku. Perilisan buku cukup sekali saja dengan jumlah yang sudah di tentukan. Mau laku atau pun tidak itu adalah kesepakatan nya. Aku tidak akan merasa rugi dengan hal. Hanya saja aku tidak ingin menghilangkan ciri khasku. Rilis bahwa aku akan segera membuat cerita baru.” Ucap Husna.


“Dek, kau yakin sedang membuat proyek cerita barumu? Apa suamimu mengizinkanmu menulis lagi?” tanya Gauri terkejut. Dia bahkan sampai berdiri dari tempat duduk nya mendengar ucapan Husna itu.


“Hum, aku baru saja mendapatkan inspirasi nya. Aku akan meminta izin pada nya nanti. Aku pastikan cerita ini akan rilis sebelum aku melahirkan nanti. Ini akan menjadi hadiah untuk kelahiran kedua buah hatiku.” Ucap Husna.


“Jadi apa yakin mau di rilis berita nya? Kakak akan segera mengumumkan nya.” ujar Gauri.


“Hum, rilis saja kak. Aku akan segera memulai membuat nya. Saat ini aku sedang membuat kerangka cerita nya.” ucap Husna.


“Baiklah sesuai keinginanmu.” Jawab Gauri.


Setelah itu sambungan mereka pun segera terputus. Gauri segera melaksanakan perintah yang di katakan oleh Husna dan mengumumkan bahwa penulis Langit Senja akan segera merilis cerita baru nya. Baru beberapa detik saja artikel itu di rilis langsung di banjiri komen positif yang tidak sabar menunggu karya baru dari penulis favorit mereka Langit Senja. Penulis misterius tapi cerita nya hampir semua kalangan tahu dan menyukai nya.


Husna yang melihat artikel yang di rilis Gauri itu di sambut positif oleh penggemar nya pun semakin bersemangat merangkai kerangka cerita nya.


“Aku akan membuat karya yang lain dari karyaku yang pernah ada.” Gumam Husna.


“Semoga saja mas Azzam tidak keberatan dengan hal ini dan mengizinkanku menulis. Aku akan bosan nanti jika hanya di rumah saja tanpa ada kesibukkan.” Lanjut nya.


Sementara Azzam di kampus setelah mengajar di kelas kaget melihat artikel yang di rilis tentang penulis Langit Senja. Penulis yang tidak lain adalah istri nya sendiri serta penulis favorit adik nya itu.


“Kapan dia merencanakan ini? Kenapa tidak mengatakan apapun padaku sebelum nya dan justru memberitahuku lewat postingan seperti ini? Sayang, kenapa kau melakukan ini tanpa bicara padaku dulu.” Gumam Azzam sedikit kecewa.


Azzam segera menuju ruangan nya dan membuka pesan dari sang istri yang mengirimkan beberapa gambar pada nya. Azzam pun membuka nya dan membaca nya. Itu adalah kerangka cerita yang akan di buat istri nya itu. Di sana juga Husna menuliskan baru saja mendapatkan ide saat menatap langit setelah dia pergi. Istri nya itu juga meminta izin lewat pesan untuk menulis dan merilis artikel.


“Sayang, aku mana bisa marah jika sudah seperti ini. Dia selalu saja punya trik agar aku tidak akan marah. Mana judul nya sangat cantik lagi. Ketika langit jatuh cinta.” Ucap Azzam tersenyum.


Dia yang tadi nya sempat kecewa dengan keputusan istri nya itu kini tersenyum senang karena ternyata istri nya itu tidak melupakan nya dan justru akan membuat cerita mereka. Bukan kah hal itu adalah cara mengabadikan cinta mereka dalam versi yang cantik.


“Aku harus segera pulang untuk menemui penulis favoriku itu. Bukan kah aku adalah penggemar nya. Penggemar yang beruntung karena bisa memiliki penulis nya. Penulis yang misterius.”gumam Azzam tersenyum.


Sementara di sisi lain, Zahra yang sedang berada di lautan mimpi nya terbangun karena bunyi notifikasi ponsel nya yang beruntun.


Zahra pun dengan malas nya meraih ponsel nya itu dan seketika mata nya yang tadi nya mengantuk segera hilang rasa kantuk nya. Dia bahkan sampai bangun dari tidur nya dan memahami artikel yang di kirimkan oleh teman nya.


“Apa ini? Tidak mungkin.” Gumam Zahra segera membuka satu-satu pesan yang di kirimkan oleh teman-teman nya itu yang juga sama-sama penggemar Langit Senja. Rata-rata pesan yang mereka kirimkan adalah bukti screenshoot dari artikel yang baru saja di rilis. Saking tidak percaya diri nya dia segera membuka grup dan di sana sudah banyak ribuan pesan.


“Kakak ipar, aku harus bertanya padamu terkait kebenaran artikel ini.” ucap Zahra segera turun dari ranjang nya dan berlari mencari Husna.


“Mbak melihat kakak ipar tidak?” tanya Zahra pada pelayan yang lewat.


“Nyonya muda seperti nya sedang beristirahat di kamar nya nona.” Jawab pelayan itu.

__ADS_1


“Ck, kakak ipar pasti sedang istirahat. Nanti saja aku menanyakan nya. Tapi aku sudah penasaran. Tidak bisa menahan nya lagi.” Gumam Zahra.


“Mau bicara apa?”


__ADS_2