
Valera menyeringai penuh arti dan menatap Aldebaran dengan tatapan remeh, Aldebaran justru menatap tajam kepada sang lady, ia muak, marah, dan murka kepada wanita yang bergelar lady
Dave bahkan ikut menyunggingkan senyuman nya dengan samar sedangkan Thomas hanya menatapnya datar, Aldebaran justru melirik kedua lelaki yang sedang menatapnya di ambang pintu
" apa kau ingin tau hadiah ku ? " tanya polos Valera dan Aldebaran malah mendesis sebal " aku yakin kau tak akan menyesalinya " lanjut Valera lagi dan aldebaran malah membuang panduannya ke arah lain, sorot kebencian jelas tercetak disana ingin berontak tapi tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya hanya berteriak tak karuan setiap harinya
" pergi kau ! aku tak Sudi melihat wajah iblis mu " pekik Aldebaran tajam dan Valera hanya tertawa pelan bahkan tawaan nya seperti pengantar kematian Dave yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala saja dan Thomas ? tentu saja adik dari Macky itu hanya bisa diam dan menikmati permainan sang ratu tapi seutas senyum sinis terukir di sudut bibir nya
Valera memberikan kode kepada Dave untuk membawa kan hadiah yang dimaksud dengan senang hati Dave melakukan perintah sang ratu dengan suka rela
Valera duduk dan menarik kursi di ruangan itu dengan gaya angkuhnya yang terkesan menantang ! menatap tajam Aldebaran lalu mengingat permasalahan serta kekacauan yang di buat oleh Aldebaran beberapa tahun silam. Dimana ia melakukan penghianatan kepada king melalui jajaran nya termasuk Peter ! tapi beruntunglah Valera tidak membunuh mereka dengan keji bahkan Valera hanya mengurungnya saja sekilas ingatannya terlintas mengenai Macky dimana orang yang melakukannya sudah berada dalam genggamannya
" nona " ucap dave yang menyodorkan kotak hitam disana yang bersuhu dingin karena kotak itu diambil Dave dari sebuah ruangan pendingin khusus di markas, Valera menyeringai dan Aldebaran menatap penuh minat kepada kotak itu bahkan ia terlihat seperti penasaran
" kau ingin tau ! '' ucap polos Valera lagi lalu ia menyodorkan dan menaruhnya di meja di samping Aldebaran
Aldebaran melirik kota hitam berukuran sedang itu dalam fikirannya ia menerka-nerka apa isinya, lalu ia melirik lagi ke arah Valera dan melirik lagi kearah Dave dan Thomas membuat Valera tersenyum mematikan dengan ragu aldebaran menyentuhnya ia takut ini adalah sebuah jebakan atau semacamnya
Aldebaran membukanya secara perlahan sampai kotak penutup itu terbuka dengan sempurna dan alangkah terkejutnya saat ia mendapati sebuah kepala manusia yang di awetkan serta wajah yang sangat ia kenali hatinya bergemuruh kumudian dan nafasnya menderu hebat lalu ia membanting kotak itu sampai isinya keluar seketika Thomas sontak terkejut tapi dengan cepat ia menetralkan kembali keterkejutannya dan Dave tentu saja ia hanya menatap tanpa ekspresi
" sial ! apa yang kau lakukan kepadanya ! '' teriak Aldebaran marah lalu ia mendekat ke arah Valera tapi dengan sigap Dave menahannya " lepaskan aku sialan ! kalian semuanya adalah iblis, dan kau wanita sialan seharusnya kau sudah mati saat kecelakaan itu terjadi, tapi kenapa kau masih saja hidup dan menyusahkan ku begitu saja ! " pekik Aldebaran sangat marah tapi Valera hanya tertawa sarkas
Valera menyuruh Dave untuk melepaskan celakanya dan membiarkan Aldebaran melakukan apapun
" hahaha rencana mu itu untuk melenyapkan ku sungguh buruk ! kau sendiri tidak mampu melawanku justru kau meminta bantuan pada kakak tiri mu ! kau itu lemah Aldebaran. Bahkan kau tidak mampu untuk menyentuh ku seujung kuku pun dan lihat orang yang telah membantumu telah tewas dan tak bernyawa kau masih ingin mengelak ? atau tetap menghayal ingin melenyapkan ku ! tapi sayang Aldebaran aku masih hidup bahkan malaikat maut pun serasa enggan untuk mencabut nyawaku " geram Valera kepada Aldebaran dan itu sukses membuat kemarahan Aldebaran memuncak, ia ingin berjalan tapi tidak bisa karena rantai yang menghalanginya
" ahhh sialan kau Valera, aku mengutukmu saat ini juga " teriak Aldebaran lagi
PLAKKK
Valera menampar pipi Aldebaran dengan sangat keras, lalu menatap Aldebaran dengan tatapan membunuhnya
" berhenti menyebutku wanita sialan jika kau tidak ingin lidahmu aku potong Aldebaran ! kau tidak pantas untuk menyebut namaku, mulutmu terlalu kotor untuk ku sentuh ! " desis Valera sinis dan mengancam dengan nada biasa tanpa berteriak
Dave dan Thomas lagi-lagi harus menyaksikan apa yang ladynya lakukan hari ini
" ayah dan anak sama saja ! kedua putra kembar mu dan putri manja mu membuat ku susah saja ! ohh Bianca, wanita arogan itu aku ingin sekali menghabisi nya " smirk Valera
" jangan kau sentuh putriku sialan ! '' pekik Aldebaran murka dengan suara nya yang menggelegar dia sangat marah jika ada orang yang berani mengusik putrinya atau membuat Bianca terluka
__ADS_1
Valera tertawa keras melihat kemurkaan Aldebaran yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan, semuanya tergantung !
" aku tidak bisa janji Aldebaran. Aku akan menyingkirkan siapa saja yang mengusik serta menganggu keluarga dan juga lelaki ku " desis Valera tajam dan sinis bahkan sorot matanya pun sangat menusuk, Aldebaran diam saja dan ia mulai teringat akan tingkah putrinya yang terlalu bar-bar bahkan ia tidak bisa mengambil sikap dengan tenang, sikap Bianca akan menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri dimasa depan
" jangan ! jangan kau sentuh putriku " ucap Aldebaran dengan nada pelan yang mulai melunak tapi Valera tersenyum sinis " dia bukan wanita tangguh seperti mu dan bukan wanita yang pandai bertarung seperti mu bahkan dia bukan tandingan mu ! " ucap Aldebaran lagi dan Valera semakin tertawa samar
" wow apa kau sedang memohon kepadaku saat ini ? tapi sayangnya aku tidak akan pernah memandang dan memberi toleransi kepada siapapun yang ingin mengusik kehidupan ku " ucap tajam Valera lalu ia beranjak dari duduknya dan mulai melangkah menjauh " nikmati waktu mu sampai waktu yang ditentukan Aldebaran " ucap datar Valera dan mulai menjauh disertai Dave dan Thomas yang kemudian ruangan milik Aldebaran segera dikunci oleh anak buah king
Valera berjalan dan pandangan nya menyapu setiap para tawanan nya bahkan mereka ada yang sudah lama menjadi penghuni tempat memberikan itu
*****
pesawat komersial yang ditumpangi oleh Diandra dan Malvin sudah mendarat sempurna di bandara internasional Prancis. Diandra tampak ragu menginjakkan kakinya kembali di tempat yang penuh kenangan dan Malvin hanya menatap ibunya dengan bingung
tanpa Diandra sadari Joni sudah mengirim salah satu anak buahnya untuk selalu mengawasi dan menjaga keselamatan mereka semua tanpa mau melepas Diandra dan malvin begitu saja karena Joni sangat menyayangi mereka berdua
Diandra membenarkan syal dan topi bundar serta kacamata hitamnya dan tersenyum manis kepada Malvin lalu ia segera melangkahkan kakinya dan mencari taksi untuk pergi ke alamat yang sudah diberikan oleh Joni sebelumnya
" mom apakah rumah yang disediakan uncle Joni masih jauh " tanya Malvin
" tidak terlalu jauh sayang, memangnya ada apa '' tanya Diandra lagi menatap anak lelakinya
sepanjang perjalan Malvin hanya diam dan memperhatikan jalanan yang begitu asing untuk dirinya begitupun Diandra ia hanya menatap nanar ke arah kaca jendela ia seperti merasakan devaju
satu jam berlalu taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di sebuah perumahan yang cukup besar Diandra mengerutkan keningnya seketika, sampai pada akhirnya taksi itu berhenti di sebuah rumah berwana putih bertingkat dua dengan halaman yang cukup luas. Diandra semakin tak percaya jika Joni menyiapkan rumah yang terbilang besar untuk dirinya serta Malvin
Diandra dan Malvin turun dari taksi serta membawa barang-barang nya, seorang penjaga berlari dan membukakan gerbang untuk mereka
" nona Diandra ? " tanya penjaga itu dan Diandra hanya mengangguk " silahkan masuk nona " ucap sopan dan ramah pria itu
" mom, " ucap Malvin tapi Diandra hanya mengangguk pasti, Diandra paham akan kekhawatiran sang putra dimana mereka akan masuk kedalam bangunan yang asing
seorang pelayan menunduk hormat pada Diandra dan Malvin membuat kedua nya terkejut.
" apakah ini rumah kak Joni " ucap Diandra polos
" benar nona ini milik tuan Joni, " ucap seorang pelayan dan Diandra ia segera menjelaskan maksud kedatangannya kemari dan pelayan wanita itu hanya tersenyum karena sebelumya ia sudah diberi tau oleh sang tuannya
pelayan wanita itu mengantar Diandra untuk istirahat kedalam kamarnya beserta dengan Malvin
__ADS_1
Diandra segera mengenakan pakaian miliknya dan ia melihat Malvin uang sedang berbaring di ranjang lalu Diandra tersenyum ia tahu jika Malvin sangat kelelahan
****
sedangkan untuk pasangan Diego dan lavanya kini mereka sedang berbahagia karena lavanya sedang mengandung bahkan Diego sudah membeli rumah yang cukup megah dari hasil bisinis-bisnis nya sedangkan mansion yang lama ditinggalkan dan tetap di rawat oleh ibu dari Lavanya
" sayang, " panggil Diego lembut
" ada apa hmm " tanya Lavanya lagi
" tidak hanya memanggil saja " ucap Diego membuat lavanya kesal seketika
Diego hanya tersenyum ringan kala melihat wajah yang menurutnya sangat menggemaskan itu, Lavanya beranjak dari tempatnya namun tangannya dicekal oleh Diego
'' kau mau kemana ? '' tanya Diego
" dapur " ketus Lavanya
" tunggulah disini, kau ingin apa hmm " tanya Diego lagi
" aku ingin memakan buah-buahan '' ucap Lavanya cepat dan Diego hanya tersenyum lalu mengecup singkat pipi Lavanya
Diego semakin hari semakin romantis memperlakukan Lavanya apalagi kini istrinya itu sedang mengandung buah hatinya, wanita yang selalu memperhatikannya disaat Diego belum memiliki perasaan apapun kepada lavanya dimana wanita itu selalu tersenyum saat Diego berbuat kasar terhadap dirinya kala itu
Diego memotong beberapa buah pilihan untuk cemilan sang istri dimana Diego selalu siap siaga untuk meladeni keinginan sang istri di masa kehamilan nya
sedangkan Lavanya sedang menunggu sang suami sembari menonton televisi dengan berita terkini
" sayang " ucap Diego yang membawa semangkuk besar di kedua tangannya dengan aneka buah-buahan yang sudah dipotong dengan sempurna, Lavanya tersenyum senang lalu dengan sigap mengambil mangkuk itu dan langsung melahapnya Diego hanya tersenyum bahagia karena perlakuan kecilnya selalu disambut antusias oleh sang istri
Diego terus memandang lekat-lekat wajah Lavanya lalu pandangnya berlatih ke perut datar lavanya dimana didalamnya terdapat Beijing yang sedang tumbuh disana
hatinya menghangat kala mengingat sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
" sayang aku ingin sekali berkunjung dan bertemu dengan Valera " ucap lavanya langsung dan Diego langsung tertegun dibuatnya, lalu detik kemudian ia hanya diam dan memalingkan wajah nya ke arah lain " sayang ! " ulang Lavanya lagi
" ia nanti kita bertemu dengannya " ucap Diego lalu tersenyum manis dan lavanya pun ikut membalas senyuman itu
hati Diego seketika berkecamuk kala mengingat kematian sang ayah apakah ia harus bahagia atau bersedih akan kejadian beberapa tahun silam,namun dibalik itu semua banyak fakta yang sedikit demi sedikit terbongkar tentang keluarganya terutama kematian sang ibu.
__ADS_1