
DODODODOR !!
" George !! " pekik Valera dan Remigio serempak saat melihat George menembak lelaki disampingnya dengan sangat brutal, bahkan Malvin hanya diam saja.
nafas George begitu memburu saat melihat lelaki itu tewas dengan mudah, Valera memegang dadanya yang terasa sesak dengan sigap Remigio menopang tubuh Valera agar tak roboh.
" maaf mamih, tapi dia berbohong ! dan dia bukan anak buah king seperti yang mamih fikirkan " tegas George dan lagi-lagi Valera maupun Remigio terperangah.
Bruce dan Frank masuk tat kala mendengar suara tembakan itu, George dan Malvin menatap dua lelaki berwajah sangar dengan intens.
George berlalu pergi dan menuju pintu darurat yang sudah usang dengan wajah dingin tanpa ekspresi, saat Valera akan mengejarnya Malvin dengan sigap mencekal tangan Valera.
" percaya kan pada George. " ucap Malvin dengan tersenyum polos, Valera tiba-tiba bingung dengan tingkah dua lelaki kecil ini.
sudah beberapa menit tapi George tidak kunjung keluar membuat Valera gusar dan pada akhirnya Remigio ikut menyusul.
Dan alangkah terkejutnya saat remigio melihat George yang duduk santai sembari menatap tajam dua orang asing yang kini sedang tergeletak tak sadarkan diri.
" George " lirih Remigio.
'' aku tidak melakukan apapun papih, mereka sudah seperti ini sejak aku masuk " ucap polos George dan tak lama Valera serta lainnya pergi menyusul.
valera mengenali salah satu sosok wanita disana, Caya ? apa yang terjadi dengan mereka. Bruce dan Frank segera melihat dan memeriksa keadaan mereka.
'' luka tembak ? " ucap Valera lagi.
' maaf nona, wanita ini tewas hanya lelaki ini yang masih bernafas. " ucap Frank memberi informasi.
George dan Malvin diam saja wajah polosnya sudah mereka tampilkan dengan mata sayu nan lugu khas seorang anak kecil, Valera menatap George dan Malvin sekilas.
" urus lelaki itu dan hubungi Hans Maxwell agar ia menemui ku besok " ucap Valera tegas. Bruce dan Frank mengangguk mantap sedangkan Asnee dengan cepat membawa dua lelaki kecil itu menjauh dari tempat kejadian.
sekolah itu dibuat geger dengan ditemukan nya dua orang asing yang tergeletak begitu saja di lingkungan sekolah, bahkan Valera sudah mewanti-wanti agar pihak polisi tidak ikut campur. Remigio sudah melakukan hal yang semestinya.
bahkan kini Valera marah karena sekolah itu dimasuki oleh orang-orang asing, para satpam hanya bisa menunduk karena mereka merasa Lalai dengan apa yang telah terjadi.
hari itu anak-anak dipulangkan lebih cepat dari jam seharusnya, George dan Malvin pun berada satu mobil karena Valera akan mengintrogasi keduanya setelah sampai di Gold mansion.
******
Gold Mansion.
George dan Malvin kini hanya bisa tertunduk layaknya tersangka yang sedang menunggu keputusan hakim.
valera terus bungkam dan menatap dua anak lelaki yang berada di hadapannya kini, Remigio mengelus punggung istrinya lembut lalu mengecup singkat kepala Valera.
" Jangan terlalu keras mereka hanya anak kecil sweatheart. " bisik Remigio lembut dan Valera hanya mengangguk samar.
Remigio hanya tersenyum menatap George dan Malvin bergantian, lalu mengelus kepala keduanya lembut. Valera diam saja saat melihat Remigio melakukan hal itu.
" tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja " ucap remigio dengan lembut dan kedua anak itu hanya bisa mengangguk kecil lalu tersenyum Remigio membalas senyuman itu dan berlalu pergi untuk memberikan ruang kepada sang istri.
setelah kepergian sang suami Valera menghembuskan nafasnya secara perlahan, George merasa bersalah karena membuat Valera mencemaskan keadaanya.
" Dari mana kalian belajar menembak ? " ucap Valera dengan nada pelannya.
__ADS_1
" Game " saut keduanya dengan serempak dan polos, Valera mengkerutkan dahinya seketika.
" hanya itu ? " Picing Valera dan kedua nya mengangguk benar. Valera tau jika mereka sedang berbohong menekan pun tak ada gunanya, yang ada mereka akan semakin berbohong lebih jauh lagi, hanya saja Valera sangat penasaran akan itu semua.
bakat alami ? entahlah apalagi mereka adalah anak-anak yang bukan dari kalangan biasa maupun warga sipil yang tidak tau apa-apa. Valera hanya tersenyum samar timbul rasa bangga dalam dirinya dimana George dan Malvin yang mampu mengasah bakat itu walaupun sangat berbahaya.
" baiklah jika begitu, sebaiknya kalian makan sudah banyak hidangan yang tersedia, dan Malvin nanti paman Asnee yang akan mengantarkan mu pulang " ucap Valera dan kedua anak kecil itu mengangguk patuh.
Markas utama King.
kini Patricia menjadi tawanan dan penghuni baru dari ruangan bawah tanah yang luas nan lebar. Ornaf sudah mengobati luka tembak yang bersarang di tubuh keduanya.
Mrs OTO sangat terkejut akan hal itu ia tak menyangka jika istrinya pun ikut menjadi tawanan, dan Patricia ia hanya diam saja.
" nikmatilah waktu dan masa-masa kalian sebelum lady yang akan mengeksekusi kalian berdua " ucap Zizi bengis dan Patricia hanya bisa bingung dengan ucapan Zizi.
Mrs OTO yang berada satu ruangan dengan istrinya langsung mendekat kearah nyonya Leah. sedangkan Patricia berada di sebelah ruangan yang di huni Mrs OTO.
Zizi berlalu dengan cepat pergi meninggalkan tempat yang menurutnya sangat menjijikan itu, Patricia hanya bisa menatap punggung Zizi hingga wanita itu tak terlihat lagi.
keesokan harinya Valera sudah berada di markas utama untuk melakukan pembalasan atas apa yang telah Patricia dan nyonya Leah lakukan terhadap kedua orang tuanya.
" nona " sapa jajaran king serta anak buah king lainnya yang bertemu dengan sang Lady.
" bawa Patricia kemari ! " tegas Valera dengan datar dan dingin. Sepuluh menit berlalu akhirnya wanita yang ditunggu-tunggu datang juga.
Patricia di dudukan paksa di kursi dan Valera menatap marah pada Patricia. Lalu Valera mulai mengambil cambuk yang terjejer dan tersimpan rapi di sudut ruangan.
" mau apa kau ! " teriak Patricia lantang dan Valera hanya tersenyum sinis.
" melakukan apa yang telah kau lakukan terhadap ayahku " dingin Valera dan tubuh Patricia menegang sempurna saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Valera begitu sangat mengerikan.
CTARRRR
AGHHH
CTARRRR
AGHHH
CTARRRR
" AGHHH.. hikss...hikss. hentikan.. sa..kit " runtih Patricia saat menerima beberapa cambukan di bagian tubuhnya, dan Valera hanya bisa tertawa puas saat melihat wajah Patricia yang begitu sangat menyedihkan.
" bagaimana Patricia ? apa aku sudah benar melakukan nya ? hmm tapi aku fikir..tadi aku kurang baik melakukannya " polos Valera hingga membuat mata Patricia melebar seketika.
" Dasar wanita gila !! kau gila " teriak Patricia lantang dengan derai air mata karena menahan rasa sakit di tubuhnya " Kau iblis, kau psikopat " pekiknya lagi tapi Valera hanya tersenyum manis dan bersiap santai.
" gila ? iblis ? psikopat ? hmm julukan yang sangat bagus " sinis Valera.
" Lepaskan aku.. " teriak Patricia lagi dengan muka memerah menahan amarah.
CTARRRR
" hiks..hikss sa...kit " lirih Patricia lagi.
__ADS_1
" sakit ? lalu bagaimana saat kau melakukan hal yang sama terhadap ayahku " bentak Valera dengan amarahnya.
" Itu semua karena mu ! kau merebut segalanya dari ku " pekik nya lagi dan Valera lagi-lagi dibuat tertawa pelan perkataan Patricia.
" Merebut ? maksud mu suamiku ? heh.. kau benar-benar tuli dan buta Patricia. " geram Valera dengan penuh penekanan. Lalu dengan amarah yang meluap-luap Valera terus mencambuk tubuh Patricia hingga mengeluarkan darah di beberapa area bekas cambukan nya.
Patricia meringis dan menjerit tak henti-hentinya saat cambuk demi cambukan mengenai tubuhnya alhasil tubuh Patricia bergetar hebat dan tak lama ia terkulai lemah tak sadarkan diri.
Anak buah king langsung memeriksa kondisi Patricia dan mengatakan jika Patricia pingsan, Valera menyuruhnya untuk membawa Patricia di sebuah ruangan tertutup dimana penyiksaan selanjutnya menunggu disaat kondisi Patricia sudah pulih kembali.
Valera tak akan membunuhnya dengan cepat ia ingin melihat Patricia menderita dan sadar dengan apa yang telah ia lakukan. Kesempatan ? tentu saja Valera sudah memberikan nya akan tetapi Patricia mengabaikan nya begitu saja hingga kematian yang akan menunggunya di masa depan.
valera segera berlalu keluar dari ruangan itu, baru beberapa langkah saja seseorang memanggilnya dirinya mau tak mau langsung menghentikkan langkahnya.
" Maaf Lady. Tawanan yang bernama Ellara ingin bertemu dengan anda " sopan anak buah king dan Valera mengangguk kecil.
" Bawa dia keruangan ku " tegas Valera dengan aura dinginnya dan anak buah king mengangguk patuh lalu berlalu pergi.
valera segera menuju ruangan kerja miliknya, dan duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap potret mendiang kakeknya Marcell Harson. Matanya terlihat berkaca-kaca mengingat semua kenangan saat kakeknya makan hidup.
apa kabarmu disana, opa ? apa kau tau aku sangat merindukan mu. Huhhh rasanya aku ingin sekali marah padamu karena melimpahkan semua tanggung jawab mu terhadapku. Tapi aku senang karena kau percayakan semuanya padaku, dan aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah kau berikan kepadaku opa. Batin Valera
tak lama suara ketukan terdengar dengan cepat Valera mengusap airmatanya dengan tisu lalu membuangnya.
" masuk " tegas Valera.
seorang wanita yang terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya dan kini ia sedang menatap dalam Valera, lalu Valera mempersilahkan Ellara untuk duduk, dan Ellara mengangguk kecil.
" Ada apa ? " tangan Valera dengan datar.
" Hmm.. aku sudah membuat keputusan. Aku harap kau mau mempertimbangkan nya " jelas Ellara tak kalah datar dan Valera menyimak nya " pertama aku ingin meminta maaf padamu atas apa yang telah aku lakukan dan aku perbuat selama ini, aku tau kesalahan ku. Ini semua terjadi karena kesalahpahaman belaka " ucap Ellara dengan tulus.
" Lalu ? " datar Valera.
" Frazzes willyam ! ia adalah otak seluruh permasalahan yang terjadi, entah apa maksud nya menciptakan kekacauan ini semua dan menjadikan aku sebagai alat nya saja. Kau tau sedari kecil aku hidup dengan dia tak sedikitpun ia memperlakukan Ku dengan buruk sehingga aku telah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Tapi suatu ketika ia mengatakan tentang ayah kandungku, disana aku mulai tertarik akan ceritanya. " ucap Ellara dengan terkekeh kecil " tapi siapa sangka jika ucapan nya adalah sebuah kebohongan belaka, tentang Marcell Harson tentang dirimu ia mengatakan semuanya, hingga menimbulkan kebencian dalam diriku. Tapi lagi-lagi dia mempermainkan aku dimana ialah ayah kandung ku yang sebenarnya, miris bukan ? " ucap Ellara dengan sendu.
Valera bisa melihat jika Ellara sedang tidak baik-baik saja, hatinya terluka karena keegoisan ayahnya yang gila akan harta dan kekuasaan. Ellara menghapus air mata nya dengan kasar lalu tersenyum menyedihkan.
" Aku ingin bertemu dengan ibuku, jika kau memperbolehkan aku untuk menemuinya. " ucap Ellara lagi dan Valera menatap wanita dihadapannya ini dengan datar.
" jangan bertele-tele Ellara, katakan saja apa yang ingin kau katakan " ucap Valera tanpa basa-basi dan Ellara hanya tersenyum saja.
" Aku sungguh-sungguh meminta maaf padamu, tapi berikan aku kesempatan untuk hidup bersama dengan ibuku. Aku tak akan mengusik mu lagi, dan aku akan mencoba melupakan dendam yang seharusnya tidak terjadi terhadapmu. Hanya itu keinginan ku. Aku ingin hidup seperti orang-orang contohnya dirimu. Mempunyai suami, orang tua, dan jajaran mu yang sangat perduli dengan mu Valera. " ucap Ellara dan kini runtuh sudah pertahanan Ellara ia menangis dengan wajah yang menyamping dan menatap keluar jendela.
" Hanya itu ? " Picing Valera dan Ellara mengangguk mantap dengan airmatanya yang mengalir deras. " Kau menentukan pilihan yang tepat Ellara, aku akan mempertemukan mu dengan ibumu. " ucap Valera lagi.
" terimakasih, sungguh aku sangat senang mendengarnya. " ucap Ellara dengan mengusap air matanya lalu tersenyum, Valera bisa melihat jika sinar yang dipancarkan Ellara tidak seperti dulu yang penuh kebencian. Kini wajahnya jauh lebih tenang dan Valera hanya tersenyum tipis menatapnya. " hmmm.. Valera maaf. Aku pun telah melakukan kesalahan yang sungguh besar terhadapmu sehingga kau kehilangan calon buah hatimu " ucap Ellara lagi dan Valera hanya tersenyum tipis.
" sudahlah, ini semua sudah takdir lagipula tuhan sudah menggantikan nya lagi " kekeh Valera dan Ellara memicingkan matanya seketika lalu pandangannya beralih pada perut Valera yang kini membuncit.
" kau hamil ? " ucap Ellara dan Valera mengangguk kecil. " ohh selamat Valera, tuhan sungguh baik padamu. Semoga aku pun akan segera sepertimu Valera. Menikah dan mempunyai seorang anak betapa itu sangat menyenangkan. " ucap Ellara dengan tersenyum.
" Kau akan mendapatkan nya Ellara. bukankah Ornaf selalu memperhatikan mu ? " tanya Valera dan Ellara terkejut seketika.
" Ornaf " gumam Ellara, Ya lelaki berparas tampan yang berprofesi menjadi dokter untuk King, berkulit putih mempunyai hidung yang mancung itu diam-diam selalu memperhatikan kesehatan Ellara sampai ia benar-benar melakukannya dengan baik, sudut bibirnya melengkung naik keatas kala Ellara mengingat lelaki itu.
__ADS_1
" sudahlah, jangan terlalu di fikirkan Besok orang-orang ku akan menjemput ibumu. " ucap Valera dan Ellara mengangguk dengan tersenyum.
" baiklah terimakasih atas semuanya Valera, aku tak akan melupakan kebaikan mu " ucap Ellara lagi dan Valera hanya mengangguk kecil lalu ia pamit undur diri dan Valera mempersilahkannya. Setelah kepergian Ellara Valera menyadarkan kepalanya kesebuah sandaran kursi dengan mata terpejam, satu persatu masalahnya mulai berkurang dan Valera senang jika Ellara memilih jalan yang tepat tanpa harus terjadi pertumpahan darah yang tak berkesudahan itu dan berakhir dengan membunuh tawanan nya itu.