
kini Valera sedang berada di sebuah hunian yang tidak terlalu mewah maupun besar tapi tempat itu cukup untuk dirinya beristirahat dengan beberapa orang yang ia bawa.
Gracelina di kurung di sebuah ruangan yang tertutup dan terkunci rapat. Hari ini entah mengapa Valera merasa sangat senang dan selalu tersenyum.
" nyonya waktunya Anda memakan buah " ucap Frank mengingatkan dengan sopan dan Valera mengangguk lalu berterimakasih. Valera segera menyantap buah-buahan yang sudah terpotong diatas piring kristal nan unik itu.
Melon, mangga, dan buah apel super menjadi menu santapan nya kali ini, Frank juga membawakan segera susu hangat khusus untuk wanita hamil.
" Ohh terimakasih Frank. kau sungguh perhatian " ucap Valera dengan nada santai.
" jangan berlebihan nyonya. Ini adalah tanggung jawab saya dan juga Bruce yang sudah tuan Remigio tugaskan kepada kami. " ucap Frank sopan dan Valera mengangguk mengerti.
" Frank tolong kau awasi tempat ini, aku takut jika ada seseorang yang mengikuti kita dari tempat markas ORTAXS tadi. " ucap tegas Valera dan Frank mengangguk patuh, lalu ia pamit dan undur diri dari hadapan sang lady.
Valera memanfaatkan waktunya untuk bersantai dan mengonsumsi makanan sehat untuk bayi yang sedang ia kandung, terkadang Valera terlihat berbicara sendiri dan mengelus perutnya dengan lembut.
Lalu Valera melangkah menuju ruangan dimana Gracelina di kurung, Ohh tampak menyedihkan sekali saat manik Valera menatap sosok wanita paruh baya yang sedang berbaring dengan perban yang melingkar pada salah atau anggota tubuhnya.
" hehehe " tawa Valera dengan kecil saat melihat sosok itu sedang memejamkan matanya yang terlihat damai. " Ohh menyedihkan sekali. " cibir Valera hingga mata Gracelina terbuka dan mulai menatap sekelilingnya.
ia dengan bingung menatap sekelilingnya dengan tatapan heran dan penuh selidik. Lalu detik kemudian ia melihat sosok wanita muda yang sedang duduk di kursi besi yang sedang menatap dirinya tajam.
" Kau !! " pekik Gracelina dengan mata melotot dan jari telunjuk yang mengarah ke Valera.
" apa ? " polos Valera berwajah lugu " jangan berteriak Gracelina ! lihatlah dan ingat usia mu. Kau sudah tua jadi jangan buang-buang energi mu itu " ketus Valera dan Gracelina menatap nyalang pada Valera.
" Cihh.. dasar wanita licik dan penuh kepalsuan " ucap Gracelina lagi dan Valera seketika bingung dengan ucapan yang baru saja ia dengar.
licik ? tentu saja Valera harus licik bahkan lebih licik, tapi kepalsuan ? kata-kata apa yang dimaksud oleh Gracelina.
" seharusnya kau tak harus hadir diantara kami !! harusnya Esme yang menjadi istri dari Remigio bukannya kau. " pekik tajam Gracelina dan Valera diam menyimak. " tapi kau apa ? datang-datang mengacaukan semuanya dan bahkan membunuh Esme " sinis nya lagi " apa kau ingin menjadi seorang pahlawan ? " cibir Gracelina dengan tatapan mengejeknya.
valera menatap Gracelina dengan tatapan tajam bahkan kini dadanya sudah naik turun menahan amarah yang sedang memuncak. Apa katanya tadi ? tiba-tiba hadir dan mengacaukan semuanya.
" itu artinya Takdir ! " singkat Valera mencoba menahan amarahnya saat ini dan berusaha untuk lebih tenang.
" takdir ? hahaha tidak ini bukan takdir asal kau tau. Kehadiran mu adalah sebuah kesalahan untuk hidup Remigio. Karena mu ia lebih memilih king dan mengabaikan kami anggotanya sendiri " teriak Gracelina lantang dan Valera berjalan dengan cepat ke arah Gracelina.
PLAKKK
PLAKKK
" ahhh... " Raung Gracelina saat rambutnya di Jambak kuat oleh Valera hingga wajahnya mengangkat dan menatap lekat-lekat wajah wanita yang bergelar lady itu.
" apa kau bilang ! aku sebuah kesalahan untuk suamiku sendiri begitu maksud mu. " tekan Valera dengan menarik kuat secara terus menerus rambut Gracelina hingga beberapa helai rambutnya rontok dan tercabut. Gracelina memejamkan matanya saat rasa sakit serta panas itu melanda kulit kepalanya. " dasar tua Bangka. " marah Valera lagi.
DUAKKK
AGHHH
valera membenturkan kepala Gracelina ke dinding hingga pelipisnya serta lubang hidung Gracelina mengeluarkan darah segar dan kental.
wajah Gracelina memerah serta menahan tangisnya yang sebentar lagi akan runtuh. Valera tersenyum iblis saat melihat darah itu keluar sedikit demi sedikit dan pada akhirnya mengucur sedikit deras dari lubang hidungnya.
__ADS_1
tawa Valera begitu menggema di ruangan itu, Gracelina tak menyangka jika Valera akan melakukan hal mengerikan seperti ini. Gracelina berfikir jika Valera tak akan berani untuk menyentuh wanita paruh baya seperti dirinya.
" kau gila ! kau iblis ! " ucap Gracelina lagi akan tetapi Valera hanya menatap datar Gracelina dan memberikannya senyum singkat.
" seperti itulah aku memperlakukan para sampah seperti dirimu, tapi ini belum seberapa aku bahkan melakukan lebih dari ini dan tak akan pernah kau bayangkan jika itu terjadi pada dirimu yang sudah tua itu " cibir Valera dengan senyum tipisnya.
Gracelina terlihat marah dan seperti seorang yang tertekan, mata nya menatap Valera dengan tatapan berbeda. Valera hanya bisa diam saat melihat korbannya yang menatap penuh permohonan itu.
" Jangan pasang topeng lain di hadapan ku Gracelina. wajah damai serta sikap bijak dan berwibawa dirimu hanyalah topeng belaka " marah Valera dengan berteriak lantang hingga kedua bodyguard nya masuk secara tiba-tiba.
Frank dan Bruce menatap heran sang nyonya yang marah dengan mata melotot lebar serta Gracelina yang berdarah dengan duduk menyandar ke dinding dan rambutnya terlihat sangat berantakan.
" nyonya kendalikan emosi mu. " ucap Bruce mengingatkan akan tetapi Valera menatap nyalang pada dua lelaki bertubuh tegap itu.
" jangan menghalangiku. Tikus tua itu harus diberi pelajaran yang tak akan pernah hilang dan akan ia ingat seumur hidupnya. " pekik Valera lagi. Gracelina menggeleng pelan dan kedua bodyguard Valera hanya bisa menatap dalam diam.
" kau benar-benar iblis " teriak Gracelina seperti seseorang yang terlihat frustasi dan Valera tertawa terbahak-bahak, lalu duduk di kursinya kembali dengan tenang.
" Apa kau baru tau jika aku seorang iblis ? jika kau tau aku seperti itu maka untuk apa kau dengan begitu berani mengusik hidup ku. Kau bekerja sama dengan beberapa orang termasuk para anggota ku. Kalian semua benar-benar kumpulan sampah yang harus dibasmi. " kejam Valera dan Gracelina diam saja. " aku sudah cukup diam saat kau ingin sekali mencoba untuk mengusikku bahkan aku sudah memberi peringatan tak langsung pada kalian semua, dengan baiknya aku menawarkan kerja sama yang sangat menguntungkan kedua belah pihak, antara king dan ORTAXS. " ucap Valera dengan penuh penekanan. " sekarang welcome untuk mu Gracelina " seringai Valera lalu dirinya beranjak dan berlalu pergi dari ruangan itu diikuti oleh kedua bodyguard nya.
*****
sedangkan disisi lain tampak terjadi kerusuhan dan keriuhan tak terhingga, setelah kepergian Valera yang membawa Gracelina sang penasihat ORTAXS, para penghianat mulai menunjukkan taringnya.
DORR !!
Remigio melepaskan senjatanya ke atas hingga mengenai sebuah lampu kristal dan membuatnya hancur seketika.
PRANGGG
" DIAM !! APA KALIAN TIDAK BISA DIAM. " teriak Remigio lantang dengan suara yang menggelegar dan sorot mata yang tajam menatap sekelilingnya.
" Kau yang seharusnya diam Remigio. Kau membiarkan Gracelina dibawa oleh istrimu " pekik salah satu lelaki muda disana.
" apa kau takut ? apa kau takut jika kedok mu ikut terbongkar. Kau bekerja sama bukan ? sudah lama aku ingin menyingkirkan kalian para penjilat. Dan ini saatnya. " ucap Remigio berwajah tengil.
" apa maksud mu Remigio ? " ucap seorang lelaki paruh baya berpakaian formal dan terlihat sangat berwibawa, Sorot matanya sangat teduh.
" jangan membual ! " ucap lelaki muda dengan marah.
DORR !!
AGHHH
" Remigio !! " teriak lantang beberapa orang saat melihat Remigio mulai tak terkendali dan terlihat seperti bukan dirinya. Remigio menyeringai dan tak lama beberapa orang masuk dan membawa antek-anteknya para penghianat.
semua orang semakin bingung dan heran bahkan para sahabat Remigio dibuat bungkam dan terkejut, Kejutan ? apakah ini sebuah kejutan.
" tuan " ucap seorang wanita menunduk hormat kepada Remigio dan Remigio hanya mengangguk kecil.
" Tinggalkan " dingin Remigio dan wanita itu serta yang lainnya mengangguk patuh.
semua orang kini menunggu penjelasan dari sang penguasa, Remigio terlihat santai dan menatap semua orang dengan tatapan biasa dan senyum mengejek.
__ADS_1
" siapa mereka ? " tanya seorang wanita dengan rasa penasaran.
" mungkin dari beberapa orang yang hadir di sini sudah tau siapa mereka ! " dingin Remigio terlihat ambigu. Dan semua orang kini merasa bingung. " katakan apa yang sudah kalian lakukan ! berbohong maka peluru ini bersarang dengan cantik di kepala mu " ucap Remigio bengis.
Lelaki yang kini di tatap tajam Remigio menjadi gugup dan tubuhnya ikut bergetar, matanya melihat sekeliling dengan sorot mata yang takut, lalu ia menundukkan kepalanya dengan ragu.
orang-orang kini menatap nya dengan penuh curiga, apakah benar pernyataan Remigio ? semuanya berperang dengan pikirannya
DORRR !!
AGHHH
" Kau mempunyai mulut untuk berbicara ! dan aku tidak menyuruhmu untuk diam. " bentak Remigio marah dengan wajah memerah dan mata melotot yang hampir keluar dari tempatnya.
" Am..ampun tua...an.. ini s..sakit " rintih lelaki itu dengan raut wajah yang sangat kesakitan akibat peluru yang bersarang di lengannya.Semua orang menatap lelaki itu dengan tatapan datar nya. " Kami.. kami..hanya orang suruhan saja tuan. " ucapnya gugup karena beberapa orang menatapnya dengan tajam.
" siapa ? " ucap para tetua ORTAXS dan lelaki itu menatapnya dengan takut. " katakan, dan jangan buat kami menunggu. " ucapnya lagi dengan tenang.
" orang.. orang yang menyuruh kami.. hadir disini " ucapnya lagi pasrah karena tak mau peluru lain bersarang di tubuhnya kembali. Remigio menyeringai tapi jawaban lelaki itu tak membuatnya puas " itu " tunjuk lelaki itu pada salah satu anggota ORTAXS lalu tangannya menunjuk lagi kearah lainnya dan seterusnya, membuat semua orang terbelalak kaget dan serius.
para penghianat yang baru saja kedok nya terbongkar menelan kasar salivanya, gugup dan khawatir mereka rasakan saat ini.
DODODODOR !!
DODODODOR !!
" Remigio " pekik semua orang karena Remigio menembak habis orang- orang yang baru saja terbongkar kedoknya, Remigio memberikan senyuman manis nya tanpa rasa bersalah.
Kini semua kacau ! Remigio telah menembak mati anggota ORTAXS yang berkhianat tanpa harus diinterogasi terlebih dahulu atau sebagainya.
akayama, Dion, Deniz dan Kenov saling pandang satu sama lain, Romeo ? ia sudah kembali ke Indonesia tanpa mengikuti pertemuan kali ini. Keempat sahabat Remigio akhirnya mengangguk samar karena mereka sangat mengenali sosok Remigio yang memperhitungkan segalanya, tapi kali ini ?
" welcome back prince " tengil Dion menatap Remigio dengan tatapan hangat seperti sedang menyambut orang yang tak pernah ia temui dengan waktu lama.
Remigio ya jiwanya memiliki kepribadian ganda dimana sosok prince lebih kejam dan lebih sadis, semua orang sontak menatap Remigio tanpa berkedip.
Benarkah jiwa lainnya telah Kembali ? prince sosok yang sudah lama tak pernah muncul kini Kembali lagi di waktu yang tak terduga.
" ohh hahahaha kau rupanya mengenali ku Dion " tawa Remigio dengan renyah dan disambut kekehan kecil Dion dan para sahabatnya.
" Wow..wow. Aku hampir tak mengenali mu. Tapi aku merasa yakin jika kau prince " saut Kenov dengan tawa kecilnya dan seketika semua orang menatap dengan heran dan bingung.
Hanya sedikit para anggota ORTAXS yang mengetahui sisi lain dari Remigio dimana sisi itu lebih kejam dan lebih dominan. Remigio kini mengedipkan sebelah matanya kepada para sahabatnya, dan mereka terkekeh geli.
Kini sorot mata Remigio menatap dingin orang-orang yang sudah tergelatak akibat sebuah peluru milik sang penguasa. Remigio menatap datar pada wajah-wajah yang tampak terkejut itu.
" Dengar ! aku tak akan segan untuk mencabut nyawa seseorang yang telah berani berkhianat dengan organisasi. Mereka mempunyai topeng yang menutupi wajah aslinya. Dan apa kalian tau jika hal ini sudah melanggar kode etik yang sudah tercantum beberapa tahun lamanya. Hanya karena aku menikah dengan wanita yang ku cintai, semuanya menjadi kacau dan sulit terkendali. Kalian adalah Boomerang untuk kehidupan ku. Jadi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku tak akan melakukan interogasi pada orang yang bersalah. Justru aku akan mempercepat kematian nya agar lebih mudah. " seringai Remigio dengan sorot mata bak dewa iblis yang bersemayam di tubuhnya saat ini.
'' lalu bagaimana dengan Gracelina ? " tanya seorang wanita dengan gugup.
" itu akan menjadi urusan ku. Istri cantik ku yang membawa sampah itu jadi tak masalah " ucap santai Remigio dengan meminum wine miliknya.
" pertemukan kami dengan istrimu Remigio. Bagaimana pun Gracelina adalah penasihat ORTAXS. kita harus membahas ini dengan Lady dari king " tegas seseorang dan Remigio hanya diam saja.
__ADS_1
Remigio tersenyum miring kala mendengar permintaan salah atau anggotanya. Mungkin mereka ingin bernegoisasi dan membuat kesepakatan. Sosok prince lebih mirip dengan Valera. Kejam, bengis dan tanpa perasaan. Sedangkan Remigio masih mempunyai sisi toleransi terhadap para anggotanya, Remigio penuh perhitungan sebelum bertindak tidak seperti prince yang terbilang cepat tanpa mau bersusah payah dan mengulur waktu.