
suasana dirumah Maya selalu saja hangat walaupun tanpa kehadiran sang ayah di tengah-tengah keluarganya. Adiknya masih duduk di kelas tiga SMA sedangkan ibunya memiliki toko kue untuk mengisi kegiatan sehari-harinya. Saat ini mereka sedang sarapan untuk mengawali aktifitas nya masing-masing
" Maya apa kau sudah punya kekasih nak? " tanya ibu ana tiba tiba
" Uhukk..Uhukk " Maya tersedak makanan nya karena terkejut dengan pertanyaan konyol ibunya " mengapa mamah bertanya seperti itu " gerutu Maya melirik ibunya.
" mamah hanya bertanya saja padamu apa salahnya " saut ibu ana dengan tenang.
" kalau sudah waktunya nanti pun aku akan punya " dengan kesal nya Maya menjawab asal.
" kau akan jadi perawan tua kak, umurmu sudah tua tapi kau juga belum memiliki pendamping " ejek Aldo yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Maya.
" sudah sudah ada baiknya segera menikah Maya. Isia mu sudah pantas untuk menikah " saut ibu ana dengan Aldo yang terkekeh Maya pun hanya mendengus kesal tidak habis pikir dengan ibunya membicarakan hal ini ketika sedang di meja makan setelah sarapan maya pun pergi ke kantor.
Sepanjang jalan Maya menggerutu tidak jelas dia sangat kesal dengan situasi seperti ini. maya pun akhirnya sampai di gedung bertingkat itu. Ketika maya sedang berjalan dirinya tidak sengaja menyenggol seorang lelaki.
Alangkah terkejutnya saat Maya melihat siapa orang yang tidak sengaja ia senggol dan ternyata atasan ditempat nya bekerja.
" maaf kan saya tuan irfan saya tidak sengaja " ucapnya sambil membungkuk hormat.
" oh tidak apa apa nona Maya lain kali hati hati " ucapnya datar dan Maya pun hanya mengangguk dan tertunduk malu ia pun segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke ruangannya. Irfan hanya menatap punggung wanita itu sampai Maya tak terlihat lagi dimatanya.
" ya ampun bagaimana bisa aku menyenggol dia " gerutu Maya sambil memegang dadanya karena terkejut
" kamu kenapa Maya " tanya rekan disampingnya
" ahh aku tidak apa apa " jawab Maya
" hmm baiklah tolong kau antar berkas ini ke ruangan Presdir yah aku mau mengcopy dulu berkas ini, " suruh rekannya itu dan Maya hanya melotot kan mata nya lebar. belum saja tadi kejadian itu hilang di pikiran nya sekarang ia sudah harus mengantar berkas ini keruangan Presdir.
" kenapa tidak yang lain saja kenapa harus aku ?" tanya Maya
" yang lain masih ada pekerjaan Maya, dan aku melihat kamu sudah bersantai dan pekerjaan mu hampir selesai," membuat Maya mendengus kesal. Akhirnya ia pun mau tak mau harus mengantar berkas ini sampai tempat tujuan.
ia pun melangkahkan kaki nya menuju lift serta menekan tombol lantai teratas setelah beberapa saat menunggu lift itu pun terbuka dengan sendirinya. Saat melangkahkan kakinya keluar seorang wanita melihat nya dengan sinis
" maaf. Saya mau mengantarkan berkas ini keruangan Presdir " sapa Maya dengan sopan dan wanita itu hanya mendelik dengan tatapan tak suka kepada maya membuat Maya mengambil nafas nya dalam.
" kenapa harus kamu? kemana Anita " tanya nya dengan nada ketus.
" justru Anita lah yang menyuruh saya untuk mengantar kan berkas ini karena dia sedang melakukan pekerjaannya " jawab Maya dengan tidak takutnya.
" yasudah kau antar saja " masih dengan nada bicara yang tidak bersahabat.
__ADS_1
tok tok tok
terdengar suara bariton lelaki dari dalam yang mempersilahkan nya untuk masuk. Maya pun akhirnya membuka pintu secara perlahan dan membuat pria itu bingung melihat Maya.
" maaf pak, Anita menyuruh saya untuk mengantarkan berkas ini " jawab Maya sopan
" taruh saja berkas nya dimeja " jawab Presdir
dan Maya pun segera menaruhnya.
" kalau begitu saya permisi Presdir " dengan sopan baru saja beberapa kaki nya melangkah lelaki itu menghentikan nya.
" Tunggu!" tekan sang Presdir
apa aku membuat kesalahan, aku rasa tidak tapi kenapa dia memanggil ku. batin Maya
"ii...iiya pak,ada apa" tanya Maya dengan hati hati sungguh detak jantung nya berdetak tidak karuan karena takut melakukan kesalahan.
" siapa namamu? " suara itu memecahkan keheningan sontak membuat Maya menghembuskan nafas nya kasar.
" Maya pak " jawabnya tegas.
" Hmm sudah lama kamu bekerja di perusahaan ini ?" kini pertanyaan lain terlontar dari mulut sang Presdir
" sudah dua tahun pak " saut maya lagi daan Presdir pun hanya menganggukkan kepalanya setelah itu sang Presdir mengijinkan Maya untuk kembali ke ruangannya.
apa dia tidak pernah melihat ku bekerja di perusahaan nya, kenapa dia bertanya seperti itu. batin Maya
waktu pun berjalan semakin cepat kini tepat pukul lima sore semua karyawan sudah bersiap untuk pulang begitupun dengan Maya.
Maya melangkahkan kakinya ke arah parkiran hingga lagi dan lagi m Maya berpapasan dengan sang Presdir mau tidak mau Maya pun menyapa terlebih dahulu sembari tersenyum dan Presdir pun balas tersenyum ke arahnya.
Akhirnya mobil berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area perkantoran, sepanjang perjalanan Maya memutar musik clasic untuk mendengarkannya agar suasana tidak terlalu hening.
Maya pun mampir ke toko kue sang ibu untuk melihat apakah ibunya sudah pulang apa belum, saat Maya keluar dari mobil satpam pun sudah mengenal siapa pemilik mobil berwarna putih itu.
" selamat sore menjelang malam nona Maya " sapa sang satpam ramah kepada maya
dan Maya pun hanya membalas dengan senyuman lebar nya, ketika sudah berada didalam Maya langsung mencari keberadaan sang ibu tapi tidak terlihat ia pun bertanya kepada kawanan yang ada di toko milik ibunya
" hmm maaf apakah ibu saya sudah pulang " tanya Maya
" nyonya Ana sedang berada di bagian dapur nona, sedang mengecek bahan bahan disana" jawab karyawan itu dan Maya pun langsung melangkahkan kakinya kearah dapur seperti yang karyawan ibunya katakan.
__ADS_1
" mamah " teriak Maya yang sontak membuat orang-orang di dapur itu terkejut karena mendengar suara lengkingan dari Maya
" kenapa kamu berteriak Maya? " gerutu sang ibu Maya pun hanya cekikikan
" maaf mah aku kira mamah hilang " jawabnya asal
" apa kau tidak lihat mamah mu ini berada tepat dihadapan mu! '' seraya melihat beberapa bahan yang tersaji di meja berukuran besar itu dan Maya pun hanya cengengesan mendengar perkataan sang ibu.
begitulah Maya dengan ibunya sehari hari sungguh sangat hangat. Setelah pekerjaan sang ibu selesai mereka pun akhirnya pulang kerumahnya bersama sama..
******
tak terasa hari sudah malam Valera pun bersiap untuk menuju cafe nya karena dirinya sudah membuat janji untuk bertemu dengan Kenov Petra di cafe milik nya.
Valera memakai rok berwarna pink di atas lututnya serta memakai baju Sabrina panjang berwarna putih dan sepatu sporty nya, tampilannya sangat manis bak anak remaja Valera pun segera bergegas untuk pergi.
setelah sampai di tempat tujuan dari kejauhan terdapat sosok seorang pria tampan memakai setelan formal berwana hitam di atas meja nya sudah ada beberapa minuman mahal tersaji. Kenov Petra dialah orangnya
pandangan mata mereka pun bertemu satu sama lain senyum Valera yang tak pernah luntur membuat Kenov semakin jatuh cinta terhadap nya. Sungguh Kenov tak berkedip melihat wanita yang ia rindukan dua tahun terakhir ini.
" sudah lama menunggu? " jawab Valera tiba tiba membuat lamunan kenov buyar.
" tidak Vale aku baru saja sampai dan langsung memesan beberapa minuman " jawab Kenov dengan lembut dan valera hanya tersenyum tipis
mata Kenov terus menatap Valera lekat mencari celah apa yang tidak sempurna dalam diri seorang Valera. Tapi tidak ia temukan Valera cukup sempurna semua yang melekat di dalam diri Valera sangat luar biasa
Valera merasa tidak nyaman karena Kenov terus menatap nya seakan akan ia seperti hidangan yang siap untuk di santap.
" kenov ada apa kau menatap ku terus menerus? " tanya Valera dengan mata yang memicing.
" kau sangat cantik " hanya kata itu yang keluar dari mulut kenov.
Valera hanya tersenyum menanggapi nya " masa iya aku tampan " sontak jawaban Valera membuat Kenov tertawa renyah.
" baiklah Valera kau sangat menggemaskan. Lalu kapan kau akan kembali ke Perancis " saut kenov dan Valera langsung menghentikan minumnya dan menurunkan gelas nya lagi
" memang nya ada apa kenov " tanya Valera dengan raut wajah tak terbaca.
" tidak ada, hanya bertanya saja. Apa kau tidak merindukan keluargamu terlebih ibumu " ujar kenov dengan lembut seketika Valera mengehembus kan nafasnya kasar.
'' aku akan pulang ketika sudah waktunya Kenov tapi tidak dengan sekarang " jawab Valera tegas dan kenov pun tak lagi bertanya terlalu dalam itu adalah bagian privasinya tidak pantas dirinya menanyakan lebih lanjut lagi.
Akhinya Kenov bertanya dengan topik lain hingga Valera terpancing dan terlalu asyik bahkan sesekali terdengar gelak tawa Valera dan kenov yang mirip seperti seorang kekasih yang sedang di mabuk asmara.
__ADS_1