Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
*306


__ADS_3

valera saat ini sedang berhadap-hadapan dengan Dave setelah pertemuan dengan Gloria beberapa waktu lalu, Valera memutuskan untuk menyuruh Dave memata-matai Johan dan tuan Gil selaku ayah dari Gloria, entah mengapa Valera merasa jika keduanya akan merencakan sesuatu hal yang buruk.


" Apa mereka masih berada di Paris ? " tanya Valera menatap Dave secara lekat-lekat.


" Mereka masih berada di sini nyonya. Hanya saja mereka belum bergerak atau melakukan sesuatu hal yang mencurigakan, dan anak buah ku melihat jika mereka bertemu dengan seorang lelaki di sebuah hotel. " jelas Dave dan Valera mengangguk samar.


" pantau dan ikuti terus mereka, jangan sampai lengah paman Gil bukan tipe lelaki yang mudah menyerah begitu saja. Aku mengkhawatirkan dirimu dan juga Gloria " seru Valera dan Dave mengangguk patuh.


" baik nyonya, terimakasih atas kepedulian anda " ucap Dave merasa sungkan.


'' Dave, hmm aku telah menyiapkan seseorang yang akan mengurus keperluan kalian menikah, kau bilang saja pada ku ingin pernikahan seperti apa, sebisa mungkin aku akan mengabulkannya " ucap Valera dan Dave tentu saja ia terkejut akan perkataan Valera yang satu ini.


" per...pernikahan nyonya ? " gugup Dave dan Valera mengangguk saja '' tak perlu repot-repot nyonya, aku bisa mengurusnya sendiri. " ucap Dave merasa tak enak dan sungkan kepada sang Lady.


" Tak perlu bertingkah seperti itu Dave, kau sudah ku anggap sebagai kakak ku sendiri, kita berteman cukup lama bukan ? dan kau pun akan menjadi suami dari adik sepupuku, dan tentu saja kita akan menjadi keluarga. " ucap Valera dengan nada santai nya menatap Dave yang hanya menundukkan kepala dengan tatapan sendu.


" terimakasih nyonya. Kau sangat berjasa akan hidupku selama ini, Aku akan selalu mengabdi padamu dan king. " ucap Dave dengan suara lirih dan hampir tercekat karena merasakan suatu perasaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Valera tersenyum dan terkekeh kecil melihat sikap tak biasa dari seorang Dave yang dingin dan datar pada musuh-musuh nya. Dave hanya bisa diam saat ini.


" sudahlah tak perlu merasa seperti itu. Semoga tuhan selalu melancarkan setiap urusan kita semua." ucap Valera penuh harap dan Dave lagi-lagi hanya mengangguk.


CEKLEK


valera dan Dave langsung menoleh kearah pintu yang terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu, Ornaf lelaki yang memakai kacamata itu tampak gugup dan salah tingkah seketika.


" maaf atas kelancangan ku, hanya saja aku ingin mengabarkan Jika Grey sudah sadar '' ucap Ornaf tampak kikuk.


" baiklah. Aku akan segera kesana " ucap Valera beranjak diikuti oleh Dave dibelakangnya, sepanjang ruangan markas utama para maid dan anak buah king yang berlalu lalang langsung menunduk penuh hormat saat Valera datang.


Valera diam saja dan berjalan dengan langkah tegas, aura kepemimpinannya begitu kuat dan pekat pada dirinya tak jarang jika aura Valera terlihat begitu menyeramkan bagi orang yang belum bertemu dengan dirinya.


valera langsung masuk kedalam ruangan dimana Grey dirawat, tampak lelaki yang sedang terbaring di ranjang pasien itu sedang memakan buah-buahan segar yang tersedia diatas meja nakas, dahi Valera mengeryitkan seketika bukankah tadi Ornaf melaporkan jika Grey baru saja sadar, tapi apa ini ? lelaki itu seperti sudah sadar beberapa hari yang lalu.


" bagaimana keadaan mu Grey ? " ucap Valera tiba-tiba hingga lelaki itu hampir tersedak dengan potongan buah apel hijau di mulutnya.


" ahh Lady " ucap Grey merasa malu dan Valera hanya tersenyum tipis " maaf aku tak tau kedatangan mu lady " ucapnya sedikit canggung.

__ADS_1


" tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat keadaan mu saja,bagaimana ? apa jauh lebih baik " ucap Valera dan Grey mengangguk sopan " syukurlah tidak terjadi sesuatu hal yang buruk padamu. Jika begitu kau lanjutkan saja makan buahnya. Aku akan keluar terlebih dahulu " ucap Valera lagi.


" terimakasih Lady. " ucap Grey sopan dan Valera mengangguk tipis, lalu berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan sejuta kecanggungan yang Grey rasakan. Kini Ornaf menatap pada Grey yang sedang tersenyum kikuk lalu menghela nafasnya perlahan dan mulai mengecek keseluruhan tubuh Grey.


Grey tampak biasa saja di tangani oleh dokter itu, tangan kanan nya sibuk mencomot buah-buah segar yang berada tak jauh dari jangkauannya.


" Apa yang kau rasakan ? kau baru sadar, tapi kau justru sudah tampak sehat " ucap Ornaf dan Grey hanya diam saja seraya menghabiskan terlebih dahulu makanan yang berada dalam mulutnya.


" Aku baik-baik saja, dan jauh lebih baik. Tak perlu khawatir " ucap Grey santai dan Ornaf mengangguk saja.


" baiklah, jika cairan infus ini sudah habis aku akan mencabutnya. " terang Ornaf lagi.


'' ya bagaimana baiknya saja " saut Grey lagi.


Disebuah pulau pribadi,


pasangan pengantin baru kini sedang menikmati masa bulan madunya selama beberapa hari setelah mereka mendapatkan ijin dari sang lady.


Elena tampak bahagia melewati hari-hari indah bersama dengan Ed suaminya. Sebuah pulau pribadi milik sang Lady menjadi salah satu pilihan mereka, selain tempatnya yang sepi bahkan terdapat beberapa penjaga disana,membuat Elena dan Ed seperti merasakan dunia milik mereka berdua.


gaun tidur berwarna putih itu melambai-lambai karena tertiup angin dimalam hari, sungguh pemandangan yang sangat indah bukan, terlebih suasana nya sangat begitu romantis.


Ed datang dengan membawa dua cangkir wine untuk menghangatkan tubuh keduanya, Elena tersenyum melihat kedatangan sang suami, lalu ia menerima gelas minuman itu yang diberikan oleh Ed dengan gerakan elegan dan menggoda.


Ed menatap Elena dengan intens, wanita itu pandai sekali menggoda melakukan gerakan-gerakan yang membuat Ed geleng-geleng kepalanya saja, cukup ia pun pria normal, bukan pria yang tidak normal.


" sayang " ucap Ed kini berada di hadapan Elena menatap wajah dan seluruh tubuh Elena dengan intens, tangan nya menyentuh lembut pipi Elena hingga mata indah itu terpejam dengan sendirinya. " kau sangat cantik. " puji Ed lalu mengecup seluruh wajah Elena dengan lembut.


" aku memang selalu cantik " ucap Elena lagi yang kini menurunkan gaun tidur miliknya tanpa sungkan, Ed menelan ludahnya kasar jakunnya naik turun bahkan dadanya berdebar dengan kencang, sesaat ia terdiam memperhatikan pemandangan luar biasa dihadapannya. " Ayo kita berlayar melewati malam penuh cinta ini " ucap Elena yang berdiri dihadapan Ed dan langsung mencium bibir suaminya dengan cepat, Ed membalas nya tak kalah lembut dan bergairah.


Angin malam berhembus begitu seirama, dua insan yang sedang di mabuk cinta itu terlihat begitu bersemangat, Suara Elena yang memabukkan menusuk gendang telinga Ed,


" Kau begitu sangat menggoda " ucap Ed seraya memasukkan benda pusaka miliknya di gua gelap nan hangat itu, Elena mencengkram bahu kekar Ed dengan tekanan yang penuh, Ed menggeram seraya memejamkan kedua matanya, rintihan dan racauan keluar begitu saja di mulut keduanya.


pergulatan keduanya sangat-sangat dramatis dimana keduanya tak mau mengalah dan ingin lebih mendominasi serta memimpin permainan yang hangat ini.

__ADS_1


Ed memacu tubuhnya dengan cepat sedangkan Elena mendorong tubuhnya tak kalah cepat, suara seirama dengan suara ******* manja begitu sangat menggelora di halaman belakang villa pribadi milik sang Lady.


" Faster Ed " ucap Elena sedikit tercekat-cekat dengan mata terpejam dan wajah memerah menahan rasa yang begitu sangat nikmat. Ed tak menjawab tapi ia melakukan sesuai perintah sang istri, suara decitan ranjang seakan hendak roboh dan runtuh oleh kegiatan keduanya.


para pelayan yang berada di sana seakan menutup telinganya dan tak berani mendekat atau menganggu kegiatan suami istri itu, tubuh Elena begitu terguncang saat ia merasakan hal yang begitu menyenangkan sebanyak dua kali, Ed tersenyum samar saat melihat Elena yang mengatur nafasnya agar lebih baik.


" Ed aku lelah " rintih Elena saat Ed menghentakkan benda pusakanya dengan penuh penakanan.


" Kau kalah sayang " ucap Ed terkekeh tanpa menghentikkan kegiatan menyenangkan itu.


" ahhh kau curang Ed, kau mengerjai ku berkali-kali tanpa henti. Tentu saja aku lelah " gerutu Elena dan Ed langsung mempercepat kegiatan nya hingga Elena lagi-lagi harus menahan suara indahnya dengan tersiksa.


sepuluh menit berlalu akhirnya tubuh Ed menegang karena merasakan gelombang yang tiada tara itu, tubuh keduanya sama-sama ambruk dengan lelah dan peluh yang bercucuran.


Ed mengecup dahi Elena dengan penuh kasih sayang, Elena memejamkan kedua matanya seraya menikmati rasa lelah nya saat ini, tanpa kedua sadari jika mereka sama-sama terlelap begitu saja.


******


disisi lain Utera tengah mengamuk dan menghancurkan barang-barang yang berada di ruangan miliknya, tadi pagi dirinya mendapatkan kabar jika ada yang mencari keberadaanya, bahkan beberapa tempat tersembunyi miliknya hancur karena ledakan entah ulah siapa.


Nafas Utera begitu menderu sorot matanya tajam menatap lurus kearah balkon, siapa yang ingin bermain-main dengan nya di wilayah kekuasaan miliknya sendiri.


" apa yang kau lakukan kak ? kau gila !! menghancurkan barang-barang mahal ini " ucap Lokanne yang tiba-tiba membuka pintu setelah ia mendapat kabar dari salah atau anak buahnya jika Utera mengamuk.


" Diam lah jangan banyak bicara. Bagaimana hasil kerja dari anak buah mu Lokanne ? apa mereka berhasil membuat keonaran di wilayah wanita itu ? " ucap Utera membalikkan badannya menatap sang adik dengan tatapan tajam nya.


" Tidak ada hasil apapun. Kau tau setelah kejadian orang-orang ku hilang tanpa jejak, wanita itu kini semakin memperketat seluruh keamanan di wilayah kekuasaannya. Bahkan untuk menyentuh keluarganya maupun jajarannya pun sungguh sulit. Ini tak seperti yang ku bayangkan, wanita itu mempunyai kekuasaan yang begitu besar bahkan dunia mafia di seluruh dunia berada di dalam genggamnya " ucap Lokanne datar dan Utera wajahnya sudah memerah lagi-lagi ia lebih unggul dari rivalnya itu.


" ini tak bisa dibiarkan, jika begitu biar aku sendiri yang turun tangan " ucap Utera marah.


" kau jangan gegabah kak.. " pekik Lokanne menentang keinginan sang kakak dan Utera seakan tak perduli lagi, dendam nya akan kekuasaan begitu mendarah daging sampai saat ini.


" jika kau tak bisa memberi ku kabar baik, sebaiknya kau berhenti dan tak perlu membantu ku " ucap Utera dengan tegas dan tajam, Lokanne hanya diam tak menjawab perkataan sang kakak, Utara berlalu pergi menuju ruang bar untuk meminum sesuatu disana.


Lokanne hanya menatap barang-barang yang hancur di ruangan milik sang kakak, lalu ia menyuruh para pelayan untuk membersihkan pecahan dan barang-barang yang berserakan begitu saja di lantai.

__ADS_1


Lokanne pun mendapatkan kabar jika keberadaan sang Kakak sedang diincar oleh pihak lain yang entah siapa, Lokanne menyuruh para anak buahnya untuk selalu bersiaga dalam keadaan apapun, kali ini ia tak tau siapa yang hendak berurusan dengan sang kakak. Valera ? atau mungkin para jajarannya ? bahkan Utera tak menggunakan benda apapun yang membuat keberadaan dirinya diketahui oleh pihak manapun.


__ADS_2