Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
*Mengetahui.


__ADS_3

Remigio menyuruh anak buahnya mencari villa atau rumah sewa yang besar untuk peristirahatan mereka, sesaat Valera bingung dengan sikap suaminya yang benar-benar dingin dan tegas. Bahkan luka pada bagian perutnya ia abaikan begitu saja tanpa menunjukkan jika ia sedang kesakitan.


Remigio berjalan dengan memegang pinggul valera setelah mereka mendarat di sebuah landasan helipad pribadi seseorang, rasanya Valera ingin bertanya tapi ia urungkan niatnya saat melihat sorot mata suaminya yang tajam bak belati.


aneh, apakah ini benar suamiku ?. Batin Valera.


setelah menunggu beberapa menit, akhirnya datang beberapa mobil yang berjejer rapi seperti mengadakan konvoi tertentu, Remigio menarik pinggul Valera kembali untuk memasuki salah satu mobil tersebut Valera menurut, dan keluarga paman Yu serta lainnya sudah masuk dengan selamat kedalam mobil, wajah mereka semua tampak kacau dan kusut Valera menatap sendu.


" Ayo masuk sweatheart. " ucap Remigio berbisik lembut tepat ditelinga Valera. Valera mengangguk patuh.


mobil-mobil itu melesat dan memacu kecepatan nya dengan sedang, Valera menoleh kearah belakang untuk memperhatikan tempat sekitar, landasan helipad ini bukan untuk umum melainkan milik pribadi tapi bagaimana bisa suaminya mempunyai ijin untuk itu ? valera menatap Remigio yang memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya begitu saja, terdengar suara helaan nafas pelan dari sana.


valera menatap lagi kearah luka suaminya yang belum diobati sama sekali, membuat Valera sedikit meremang akan hal itu, Valera menyentuh dan mencoba untuk membuka kancing kemeja milik remigio tapi tiba-tiba gerakan Remigio membuat ia terkejut dengan dada yang berdebar kencang tak karuan.


" jangan menggodaku ? " seringai Remigio hingga membuat Valera membelalakkan matanya seketika.


" siapa yang ingin menggoda mu ? aku hanya ingin membuka kancing kemejaku saja karena aku ingin melihat luka mu itu " ucap Valera ketus dan Remigio terkekeh dan gemas dengan ekspresi yang ditujukkan oleh sang istri.


" sudah tidak apa-apa nanti akan ada yang mengobatinya. " saut Remigio santai dan Valera diam saja hingga ia tak sadar sudah berada di suatu tempat yang sangat hening.


valera mengedarkan pandangannya sesaat, lalu menatap lelaki yang berada di depan, siapa sebenarnya lelaki ini ? apa Remigio mempunyai relasi di Argentina ? sepanjang perjalanan hanya ada sebuah taman bunga yang bermekaran indah di sisi kanan dan kiri jalanan, Valera tampak menikmatinya sesaat sebelum ia melihat sebuah rumah yang berdiri indah di tengah-tengah danau.


mobil-mobil itu terhenti tapi Remigio memilih memejamkan matanya membuat lelaki yang betugas mengemudi berdehem dengan pelan.


" tuan kita sudah sampai " ucapnya sopan dan Valera segera membangunkan suaminya itu, dan Remigio hanya tersenyum lalu menggenggam tangan valera untuk turun dan Valera menerima uluran tersebut. Tak lama beberapa orang berlari dan langsung menunduk hormat kepada Remigio.


" selamat datang tuan " ucap mereka serempak dan Remigio hanya mengangguk lalu menyuruh mereka untuk membantu yang lainnya masuk, dan para lelaki itu mengangguk patuh.


" Remi bisa kau jelaskan ? " tegas Valera dan Remigio tersenyum tipis lalu mengecup punggung tangan Valera dengan lembut. " Remi ? " ucap Valera penuh penekanan.


" sebaiknya kita bersihkan diri terlebih dahulu, " ucap remigio dengan tegas dan tersenyum asing pada sang istri, sesaat Valera menyadari jika sikap Remigio yang berubah tak seperti biasanya walaupun ia berbicara lembut tapi tatapannya sungguh lebih mendominasi.


Dia bukan Remigio, ada sosok lain dalam dirinya ? apa yang sedang kau sembunyikan dariku Remi. Batin Remigio


Remigio pergi kesebuah ruangan bersama seseorang yang berpenampilan medis, Valera memilih diam dan tak bertanya lebih, sebelum itu Valera melihat keadaan paman Jiro dan lainnya.


Bie wanita itu tampak berwajah pucat, saat sedang di obati oleh seorang lelaki yang sedang memegang peralatan medis layaknya seorang dokter profesional. Bie menatap Valera dengan senyum tipisnya.


" nyonya terimakasih karena kau sudah menyelamatkan nyawaku " ucapnya lirih dan Valera hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis, wajah Bie tampak meringis saat sesuatu mengoyak luka tembaknya, Valera melihat jika lelaki itu sedang berusaha untuk mengeluarkan peluru-peluru yang bersarang di tubuh Bie.

__ADS_1


valera pergi dari tempat itu dan menuju kamar lainnya, terlihat keluarga paman Yu yang terdiri dua anak gadis dan satu orang lelaki dewasa tampak duduk dan memeluk satu sama lain, wajahnya sendu bahkan yang wanita tak henti-hentinya nya menangis, Valera duduk dan berhadapan langsung dengan mereka.


lelaki yang mempunyai wajah mirip paman Yu langsung menatap wajah Valera dengan sendu, Valera tersenyum tipis dan menghela nafasnya kasar.


" siapa namamu ? " ucap Valera.


" Sean " ucapnya lirih dan Valera mengangguk paham.


" ibumu ? " tanya Valera bingung karena keluarga paman Yu hanya anak-anak nya saja. Sean menggeleng lemah dengan pandangan tertunduk membuat Valera bingung dan penasaran. Mati ? atau bagaimana.


" ibuku telah tewas karena ulah musuh ayahku " ucap Sean pelan hingga Valera terkejut bukan main, ternyata kehidupan para tetua terdahulu tak main-main, sulit dan sudah ditebak bahkan menyimpan banyak teka-teki. Valera seketika memijat pelipisnya pelan." ini adik-adik ku, walaupun kami berbeda ibu " ucapnya lagi dan seketika Valera tersentak, berbeda ibu ? berapa kali paman Yu menikah dasar serakah batin Valera menggerutu.


" siapa nama mereka, Hmm bisa aku tebak usia mereka masih sangat muda " ucap Valera dan Sean mengangguk pelan.


" Talitha dan Inea " lirih Sean dan Valera mengangguk saja walaupun dirinya terlihat bingung, setelah kepergian paman Yu bahkan mansion yang hancur jujur Valera bingung untuk mengambil langkah kedepannya, haruskah ia menampung kembali mereka yang membutuhkan? sepertinya Valera perlu berdiskusi dengan sang suami.


'' beristirahatlah, aku tau kalian lelah, dan itu hmm lebam diwajah mu, kompres terlebih dahulu " ucap Valera dan Sean mengangguk samar bahkan sang dik masih menangis dipelukkan sang kakak, sungguh pemandangan yang amat memilukan.


valera memilih menuju ruang yang akan ditempatinya untuk beristirahat, terlihat Remigio tidak menggunakan pakaian, bahkan lukanya sudah dijait dan diperban dengan rapi, Remigio tersenyum dan merenggangkan tangannya untuk meminta dipeluk, Valera memeluk ringan tubuh kekar suaminya itu dan melabuhkan kecupan ringan di pipi Remigio.


" bersihkan badan mu, di lemari itu ada pakaian ganti " ucap Remigio lagi dan Valera mengangguk patuh,


" selesaikan semuanya, dan pastikan mereka tak mendekat ke rumah ini! aku tak menerima penolakan, kalian paham ! " tegas Remigio dan orang-orang diseberang sana mengiyakan ucapan tuannya itu.


Remigio termenung sesaat ternyata kisah masa lalu mendiang Marcell Harson cukup sulit untuk dikulik, semuanya muncul dan meninggalkan teka-teki tersendiri, dan akhirnya sang istri yang harus turun tangan menyelesaikan sisanya dengan sempurna, Remigio akan membantu sang istri dengan baik karena Remigio merasa permasalahan ini terus berlangsung dan tak akan pernah usai, jika induk permasalahan tak segera musnahkan.


Remigio duduk di kursi dan menatap kearah balkon sembari kaki yang tumpang tindih, sorot matanya tajam mengikis apapun yang berada di hadapannya. Nafasnya terlihat menderu walaupun sangat ringan, belum masalah Utera terselesaikan istrinya harus terseret dengan masalah lain.


" Remi " lirih Valera yang duduk disamping sang suami dan menatap dalam wajahnya Remigio mencoba untuk tersenyum walaupun saat ini hatinya sedang panas dan ingin melampiaskannya.


" Kau sangat wangi " ucap remigio dan Valera terkekeh kecil tapi ia masih penasaran siapa yang sedang berbicara dengannya, Valera buka wanita bodoh yang mampu diperdayai oleh apapun,


Altar ego ! kau memilikinya Remi. Batin Valera.


Remigio beranjak dan kini ia setengah berjongkok di hadapan Valera, Valera menatap mata hitam Remigio yang terlihat asing dengan tersenyum manis, Remigio mengecup punggung tangan Valera bahkan memainkan jari-jarinya Valera dengan lembut.


valera diam saja saat tubuhnya dibopong dan diletakkan di atas ranjang, hembusan nafas hangat Remigio menyapu area wajah dan lehernya, Remigio mengecup dan mengendusnya disana, Valera meremang seketika.


" Kau tau aku sangat mencintaimu " ucap Remigio dan Valera berdehem karena menikmati sensasi lain saat tangan suaminya bermain nakal diarea aset kembar miliknya. " Aku tak ingin kau terluka, " ucap Remigio lagi dan Valera masih setia memejamkan matanya itu " tubuh kekar itu kini sudah berada tepat dihadapan Valera mengungkung tubuh seksi sang istri dan menangkup kedua pipinya lalu mencium lembut bibir Valera yang menjadi candu untuknya.

__ADS_1


sesapan lembut terjadi di kegiatan itu, mata keduanya sama-sama terpejam, belitan dan gigitan kecil membuat kegiatan itu semakin panas dan lebih, Valera mengalungkan lengannya di leher sang suami, ciuman Remigio kali ini sungguh beringas dan buas lagi-lagi Valera tersentak tapi ia sangat menyukainya.


" siapa kau sebenarnya ? " ucap Valera tiba-tiba mengunci leher Remigio dan menatap manik hitam itu dengan intens, jantung Remigio berdegup kencang saat mendengar perkataan seperti itu " jangan berbohong, terbukalah kepadaku. Aku istrimu. Dan aku akan menerima semuanya dengan lapang dada karena kau tetap orang yang aku cintai " tegas Valera dan Remigio justru menyunggingkan senyumannya menjadi sebuah seringai.


" wanita ku memang menakjubkan " ucap Remigio membelai lembut pipi Valera dengan gerakan sensual, Valera diam saja sembari menunggu jawaban sang suami.


Remigio melepaskan kain atasan ditubuh Valera hingga aset kembar itu terpampang indah seakan meminta untuk disentuh, Valera menikmati hal ini dengan membusungkan badannya kedepan. Remigio gencar dengan gerakannya.


" prince, namaku prince. Panggil namaku pada kegiatan kita saat ini sayang " serak Remigio dan Valera terdiam dan mematung seketika. prince Valera akan mengingat nya, Valera mengangguk dan mulai menikmati setiap sentuhan Remigio yang terasa kasar ditubuhnya.


manik hitam itu menatap penuh lapar pada Valera, tangan Valera ia genggam erat-erat sebelum suara pekikan kecil keluar dari mulut sang istri.


" ahhhh sakit...pelan-pelan. " rintih Valera saat benda pusaka itu melesak masuk pada lembah terhangat milik nya, Remigio mengecup dahi sang istri lembut seraya membisikkan kata-kata cinta dengan suara seraknya,


Remigio melakukan kegiatannya dari hentakkan pelan hingga hentakan keras dan kasar membuat Valera merintih dan mengerang bersamaan.


Remigio meracau tak karuan dengan memegang pinggul Valera erat, Valera pun demikian suara mereka seakan berlomba-lomba dan saling bersautan.


" kau.. memang nikmat.. " erang Remigio tertahan dan Valera hanya merintih sembari menyebut nama prince sesuai keinginannya pada saat puncak itu datang dan meledak keluar dari tempatnya.


Remigio mengecup Valera bertubi-tubi hingga tubuh itu ambruk ke sisi ranjang dan Valera terkekeh akan hal itu, manik mereka sekali lagi bertemu dan menatap satu sama lain.


" prince, nama yang indah " seru Valera dengan mengelus dada Remigio " altar ego ? " Picing Valera dan Remigio mengangguk mantap " baiklah aku mengerti. " ucap Valera dan Remigio menatap manik hazel itu dalam-dalam.


" kau tak marah ? " tanya Remigio dan Valera menggeleng pelan. " benarkah ? " ucap Remigio lagi dan Valera hanya mengangguk walaupun tatapan itu masih terasa asing bagi dirinya tapi lelaki yang berada di hadapannya ini adalah suaminya Remigio Adomson, Valera tak peduli dengan altar ego itu.


" Remi.. hmm maaf.. aku " gugup Valera saat manik hitam itu serasa menembus relung hatinya. " bagaimana jika aku panggil sayang ? " Picing Valera dan Remigio terkekeh akan hal itu, rasanya ia ingin sekali tertawa saat ini melihat ekspresi wajah sang istri.


'' Kau boleh memanggilku apa saja, Remi pun aku tak masalah " ucapnya santai dan Valera mengangguk mengerti.


" baiklah, ini mengenai anak-anak paman Yu. Aku bingung pada mereka, kedua orang tuanya sudah tak ada, yang paling mengejutkan ibu dan ayahnya sama-sama tewas terbunuh. Mansion peninggalan paman Yu hancur dan luluh lantah, jujur aku belum mengetahui Selak beluk dan aset kepemilikan paman Yu " ucap Valera dan Remigio diam mendengarkan


" kau bingung dengan tempat tinggal mereka ? " tebak Remigio dan Valera mengangguk membenarkan. " kita akan berunding dengan mereka lagi, jangan terlalu terburu-buru " ucap remigio dan Valera mengangguk mengerti.


valera akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali jujur saat ini ia sangat lelah, Remigio melirik sekilas istrinya yang mulai terpejam, sebelum ia memikirkan cara bagaia


mana menemukan jalan keluarnya lebih cepat agar tak melibatkan Valera terlalu dalam.


tapi rasanya itu tak mungkin, terbukti semuanya sangat membutuhkan sosok istrinya. Remigio menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mengusap wajahnya pelan, ia harus segera bertindak cepat termasuk menemukan keberadaan Utera, Remigio tau jika para jajaran king sedang sibuk mencari sosok tersebut dan hal lainnya.

__ADS_1


__ADS_2