
kini Valera sedang berada di ruang yang terbilang mewah bercat putih bersama dengan Dave Thomas, serta beberapa bodyguard lainnya bahkan George dan Asnee pun turut ikut serta
salah satu satpam yang berjaga dibuat tertegun akan tamunya kali ini, Dave maju dan membicarakan maksud kedatangannya satpam itu terlihat paham lalu ia mengijinkan para tamunya masuk kebetulan Diandra dan Malvin sedang berada dirumah
salah satu pelayan langsung berlari menghampiri Diandra untuk memberi tahu kedatangan tamu barunya itu
Valera dan lainnya menunggu di depan pintu yang cukup besar itu sedangkan George hanya diam saja sambil melirik jam yang melingkar di tangan mungilnya
" maaf, kalian siapa ? " ucap suara bariton seorang wanita semuanya menoleh seketika seorang wanita cantik berkulit putih masuk dalam kategori body goals nya wanita Valera tersenyum ramah
" aunty " panggil George kepada Diandra tentu saja ia terkejut akan kehadiran George dirumahnya
" George " ucap Diandra pelan bahkan suaranya yang pelan itu masih bisa terdengar oleh Valera
" bolehkan kami masuk ? " tanya Valera sopan dan Diandra menjadi gugup seketika lalu ia mengangguk akhirnya, Valera masuk disertai Dave Thomas dan George dan Asnee sedangkan sisanya menunggu diluar sesuai perintah
kini mereka duduk di sofa berwarna abu Diandra duduk di sofa singel sebagai tuan rumah nya
" maaf ada apa yah ? " ucap Diandra gugup
" kamu hanya ingin berterimakasih '' ucap Valera ramah dan Diandra bingung seketika berterimakasih ? untuk apa ? " jika kau waktu itu tak menghubungiku mungkin George dan Asnee tak akan ditemukan " jelas Valera dan seketika Diandra mengerti ia juga merasa bersalah karena janji diantara anaknya dan George membuat hal seperti itu terjadi
" ohh tidak apa-apa aku pun merasa bersalah dalam hal ini, jika saja Malvin dan George tak membuat janji mungkin kejadian itu tak akan terjadi " jelas Diandra sopan dan Valera hanya tersenyum
" GEORGE " pekik lantang suara anak kecil disana seketika George langsung menoleh ke samping karena sofa yang mereka duduki berdampingan dengan tangga yang akan menuju lantai dua
'' Malvin " girang George dan seketika Malvin berjalan dan mendekat kearah George Valera yang melihat itu hanya tersenyum tapi detik kemudian senyumannya itu menghilang seakan sirna ditelan bumi Valera menatap lekat-lekat wajah seorang pria kecil yang seumuran dengan George bahkan Dave dan Thomas ikut tertegun kala melihat wajah Malvin
" Macky " lirih Valera bahkan Diandra yang mendengar itu langsung terkejut pasalnya nama itu sangat familiar bahkan ia simpan selalu dalam hatinya
" ehh Malvin kemari sayang " ucap Diandra lembut dan Malvin segera menuju ibunya itu " ajaklah George main dikamar mu " lanjut Diandra dan Malvin mengangguk setuju lalu ia mengajak George berkunjung ke kamar pribadinya dan George tampak senang lalu ia meminta izin kepada Valera tentu saja Valera mengijinkannya walaupun tatapan nya tak lepas dari wajah Malvin
Valera terus memandang ke arah Malvin sampai ia dan George sudah tak terlihat lagi, Dave dan Thomas seakan merasa kan devaju seakan merasakan kehadiran Macky dalam diri Malvin. Diandra yang melihat itu tentu saja bingung seketika
" maaf, kalian kenapa ? " tanya polos Diandra dan seketika Valera tersentak dari lamunan nya lalu ia menatap nanar kepada Diandra
__ADS_1
" maaf, hanya saja wajah putramu mirip sekali orang yang kukenal " ucap Valera jujur dan Diandra hanya mengangguk saja tapi fikirannya sangat jelas karena ia mengingat betul bagaimana wajah yang selalu ia rindukan selama ini hingga ia mengandung benih dari seorang lelaki yang mencintainya tanpa syarat
" dia memang mirip seperti ayahnya, sangat mirip " lirih Diandra dan seketika Valera tersentak ia seperti tertarik akan cerita wanita yang berada di sampingnya kini sedangkan Asnee ia terkuat bingung akan situasi ini
" lalu dimana ayahnya sekarang " tanya Valera memancing Diandra untuk berbicara bahkan Valera tak bisa mengelak jika Malvin sangat mirip dengan Macky lalu kepingan-kepingan masa lalu baik perkataan terakhir Macky maupun perkataan Chaiden yang berbicara tentang macky merebut kekasihnya itu tiba-tiba saja terlintas dan terngiang di fikirannya bahkan Thomas adiknya hanya diam mematung merasakan hal yang sama, Diandra hanya tersenyum lembut
" kami sedang mencarinya " ucap Diandra sontak perkataan lagi-lagi membuat ketiga orang itu terkejut mencari ? memangnya ia pergi ? entahlah Valera tiba-tiba merasakan kepalanya berdenyut nyeri sampai ia memijit-mijit pelipisnya pelan
" nona apa kau tidak apa-apa ? " tanya Dave cemas dan Valera hanya menggeleng lemah menandakan jika ia baik-baik saja
" bolehkan aku tau siapa nama ayahnya, kemungkinan besar aku bisa membantu mu untuk menemukan ayah dari Malvin " tanya Valera dengan nada dingin tapi sorot matanya terlihat sayu, Diandra yang merasakan perubahan dari sikap Valera mendadak gugup seketika
" Macky namanya Macky " ucap Diandra lagi
DEG__
termenung ? terpaku ? ya Valera mendadak bungkam seketika entah itu suatu kebetulan apa ini adalah takdir tuhan yang harus mempertemukan mereka
Valera benar-benar merasakan devaju yang hebat dengan nama itu ! wajah itu ! adalah sosok yang ia rindukan sosok pertama yang selalu setia dalam keadaan apapun ! bahkan Valera sudah menganggap Macky seperti keluarganya sendiri tapi takdir tuhan berkata lain Macky telah tiada karena sebuah racun didalam tubuhnya
hati Valera bergetar hebat kala mengingat kejadian beberapa tahun lalu dimana ia melihat dengan begitu jelas tubuh Macky yang terbujur kaku tak ada kehidupan disana tubuh dinginnya seakan menjadi tanda jika macky telah tiada
'' baiklah aku akan membantu mu untuk mencarinya sebagai ucapan terimakasih ku atas kejadian tempo lalu " ucap Valera lagi dan Diandra tentu saja mengangguk cepat tapi semuanya tidak dengan Dave dan Thomas ia merasa bingung dengan respon ladynya itu, mereka berfikir jika Diandra adalah wanita yang disembunyikan oleh macky selama ini terbukti dengan wajah Malvin yang sama persis dengan Macky terlebih pria yang tak lain ayah biologis Malvin bernama Macky apakah itu bukan suatu pertanda atau hanya kebetulan saja tapi entahlah Thomas bahkan merasa yakin jika Malvin adalah anak dari kakak nya
*****
Vyan kini sedang berada di sebuah markas untuk para anak buahnya bisa dibilang juga dengan mansion karena markas itu dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, sudah hampir beberapa bulan ini vyan tidak mengunjungi markas nya itu tapi sekarang ia berkunjung dengan Leonel tentu nya
" infomasi apa yang kau dapat ? " tanya vyan tenang yang kini ia duduk dikelilingi oleh orang-orang nya bahkan mereka terlihat sungkan duduk bersama dengan tuan mudanya
" maaf tuan vyan mengenai hasil penyelidikan ku tentang nona Valera yang pergi menuju California berkaitan dengan Jill Edellyn " ucap salah satu dari mereka dan vyan hanya diam saja sambil menunggu orang nya menjelaskan hasil penyelidikan nya sampai tuntas " salah satu mantan penguasa dari Amerika " ucapnya lagi
" lalu ? " lanjut Vyan
" itu juga ada kaitannya dengan ORTAXS, hanya itu yang aku dapatkan selebihnya tidak ada tuan jajaran nona valera sangat pandai dan pintar untuk menghalau siapa saja yang ingin mencari informasinya " jelas orang itu bagi dan vyan mengangguk membenarkan ia tidak bisa meremehkan kemampuan Dave dan yang lainnya bahkan adiknya sendiripun sangat sulit
__ADS_1
Leonel yang melihat itu hanya tersenyum tipis betapa ia bangga pada adik dari tuannya itu sudah cantik pintar serta berkualitas, bahkan kemampuannya nya pun diatasi rata-rata
detik kemudian Leonel tersadar dari fikirannya ia segara menghilangkan perasaan itu, Leonel cukup tau diri ia tak sebanding jika harus disandingkan dengan seorang Valera Harson walaupun keluarga harson tidak pernah membedakan setatus sosialnya.
" baiklah bagaimana dengan bisnis emas-emas kita, apakah ada sesuatu yang mencurigakan ? " tanya vyan dengan nada tenang tapi sangat terlihat jika terselip kesan tegas didalam nya
" semuanya berjalan lancar tuan, tidak ada yang mencurigakan bahkan para pengawas pun sangat ketat disana " jawabnya lagi
" aku percayakan semuanya padamu Corner Jangan kecewakan aku, " tegas vyan dan Corner seketika menunduk hormat
****
Hongkong, waktu setempat
bangunan megah dan kokoh dengan nuansa Tionghoa sangat kental disana wajah para pria-pria disana seakan menjadi ciri khas mereka kulit putih bermata sipit sungguh menjadi daya tarik tersendiri
terdapat banyak sekali koleksi patung-patung di setiap sudut ruangan maupun koleksi yang tergantung indah di setiap dinding berwarna putih itu
" sudah beberapa bulan ini tuan Ben tak dapat ditemukan, bahkan yang menjadi titik terangnya itu pun nihil, terakhir kali infomasi yang kita dapat tuan Ben pergi ke negara Prancis dan anak buah kita yang menyelidikinya memberi kabar jika Ben berurusan dengan mafia elit di Prancis " jelas Li lagi
" ya aku tau, tuan Ben berurusan dengan king " jelas Jiu lagi " bahkan aku mendapat kabar jika anak buah tuan Ben yang berada di beberapa negara sedang sibuk mencarinya bahkan anak buah nya yang disini pun sudah ada yang terbang ke Prancis dan sekarang mereka tinggal disuatu tempat " jelas Jui dan Li mengangguk
Jiu dan Li adalah salah satu anak buah Ben yang jarang dilibatkan mereka berdua hanya mengurus masalah yang berada di Hongkong saja terkadang Jiu dan Li merasa aneh kenapa mereka tidak pernah dilibatkan dalam hal apapun yang mengenai dunia mafia nya Ben padahal Jiu dan Li cukup pandai bela diri dan menggunakan senjata api
tapi selama ini mereka hanya diam dan bungkam selama mereka diberi tempat tinggal yang nyaman fasilitas yang cukup bahkan uang saku yang pas membuat mereka tak mau ambil pusing
tidak ada yang tau bagaimana dari sepak terjangnya seorang Ben tanaphon bagi anak buahnya Ben sosok yang cukup menyenangkan walaupun terkadang Ben menyebalkan didalam hal tertentu.
" apakah kau berencana pergi ke Prancis ? " tanya Li kepada Jiu dan Jiu hanya menatap Li dengan mata yang mendelik
" aku harus mencarinya kemana Li, bukankah kita sudah tau jika Ben menjadi tawanan king itu sama saja kita mengantarkan nyawa kepada mereka jika sampai kita berbuat ulah, biarkan saja ini menjadi urusan yang lainnya " ucap Jiu dan Li mengangguk setuju
kedua orang itu hanya duduk dan saling menatap satu sama lain tapi di dalam fikirannya mereka sedang menerka-nerka apa yang menjadi penyebab Ben ditawan oleh king entahlah Jiu dan Li dibuat penasaran oleh ulah tuannya itu
Jiu dan Li hanya mengurus bisnis ilegal Ben yang merupakan perkebunan teh yang hasilnya sudah mulai di kirim kan ke beberapa negara lainnya seperti Taiwan.
__ADS_1
mereka tak tahu kenapa Ben menempatkan mereka di bidang itu padahal awalnya mereka akan ditempatkan di bidang yang lain yang sedikit lebih cocok dengan pekerjaan mafia nya tapi Ben justru menempatkan mereka di sana
Jiu dan Li bahkan hampir setiap hari mengontrol tempat itu hanya sekedar untuk memantaunya saja dan selebihnya Jiu dan Li masih suka menghabiskan waktunya di rumah