
satu Minggu berlalu suasana serta situasi masih aman terkendali Dave dan yang lainnya telah kembali ke Prancis dengan selamat, Valera menyibukkan dirinya dengan sang Kaka diperusahaan Harson Crop's
selama itu juga valera mengabaikan panggilan dari beberapa orang termasuk Remigio untung saja vyan sudah memberi kabar kepada Remigio jika Valera sedang sibuk membantu mengurusi perusahaan bersama nya
" vale apa kau ingin makan siang bersama ? " tanya vyan dan Valera hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah sang kaka
" baiklah kita akan makan siang bersama di restoran X " ucap vyan lagi dan Valera hanya mengangguk saja sembari mempelajari sebuah dokumen yang berada di tangannya
Leonel datang dengan dua gelas yang berisi minuman kesukaan majikannya, Valera hanya diam dan terlihat datar begitupun dengan vyan dan Leonel segera meninggalkan tempat itu
waktu sudah menunjukan jam makan siang Valera dan vyan jalan secara berdampingan, mereka akan menuju restoran yang sudah disepakati bersama
selama seminggu itu Valera sudah menyiapkan mental akan badai besar yang akan menerjangnya tak jauh lagi, mengingat ia mendapat kabar jika para ORTAXS sudah mulai mengetahui kematian Esme
mobil mewah berwarna putih itu sudah sampai di parkiran restoran yang sangat mewah Valera berjalan dengan langkah anggun sedangkan vyan berjalan dengan langkah tegas dan gagah
mereka segera memasuki sebuah ruangan VIP Valera duduk di kursi yang sudah tersedia begitupun dengan vyan, ia segera memesan beberapa menu hidangan terbaik disana Valera sibuk memainkan ponsel nya
" maaf aku terlambat " ucap suara bariton pria yang sangat dikenali itu
" tidak apa-apa " ucap vyan lagi lalu Remigio duduk berhadapan dengan Valera entah mengapa Valera merasakan hal yang lain dari diri seorang Remigio, Valera hanya tersenyum singkat dan Remigio tentu saja ia menatap hangat wanita yang sangat dicintainya
perkataan terakhir masih terngiang di kepala Remigio dimana Valera meminta bukti untuk sebuah cintanya, bukan hal yang sulit untuk Remigio dapatkan tapi untuk mendapatkan kepercayaan Valera kembali itu adalah hal yang paling sulit tapi Remigio bertekad akan memperbaiki semuanya perihal Esme itu adalah ketakutan tak menuju yang Remigio alami
mereka mulai makan dengan tenang, bahkan Valera sama sekali tidak menatap ke arah vyan dan Remigio seolah Valera sedang membatasi diri Remigio yang melihat itu hanya diam dan menatap sendu pujaan hatinya sosok valera yang selalu hangat, dan mudah tersenyum pada dirinya seketika hilang saat itu juga.
setelah beberapa saat mereka sudah menghabiskan makan siangnya dan Valera hanya diam serta menunggu pembicaraan selanjutnya vyan dan Remigio saling menatap satu sama lain
" apakah ada pembahasan selanjutnya ? " tanya Valera datar
" bisakah kita bicara ? " tanya Remigio lagi dan Valera hanya mengangguk dan menurut vyan yang melihat itu segera pamit undur diri karena ia merasa jika pembicaraan mereka terlalu pribadi, dan Valera yang melihat kepergian kakaknya hanya mendengus kesal dan Remigio yang melihat Valera kesal hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan,
" sweatheart, apa selama seminggu ini aku melakukan kesalahan ? jika ia bisakah kau beri tau apa kesalahanku ? " ucap remigio dengan wajah tertunduk dan Valera ia hanya menatap lurus tanpa ingin menoleh entahlah ia pun merasa aneh kenapa selama seminggu ini jarak diantara keduanya menjadi renggang
" tidak ada " ucap singkat Valera membuat Remigio mengkerutkan dahinya seketika
" lalu jika tidak ada mengapa kau tidak mengangkat ponsel mu ketika aku menghubungimu " ucap remigio lagi
" aku terlalu sibuk akhir-akhir ini di perusahaan. Waktuku pun terbatas,tanggung jawabku semakin besar bukan saja untuk King tapi untuk Harson Crop's pun aku ikut andil, setelah itu aku harus selalu bersiaga ketika para musuh menyerang ku tiba-tiba nanti " ucap Valera panjang lebar dan Remigio hanya diam saja
" jangan pernah meragukan apapun dari ku sweatheart ! kau adalah prioritas dalam hidupku apapun yang kau inginkan aku selalu berusaha menurutinya " ucap sendu Remigio entah mengapa ia merasa Valera meragukan dirinya semenjak kejadian itu " aku akan selalu mendukung setiap keputusan mu, oke aku minta maaf padamu jika sikap ku waktu itu sudah membuat mu ragu tapi jangan pernah kau meragukan cinta yang ada di hatiku " ucap panjang lebar Remigio dan valera hanya diam tertunduk entah ia harus bagaimana dalam bersikap masih ada sebuah pertanyaan dalam benaknya tentang perkataan terakhir Esme yang menyebutkan dirinya sebagai penghalang
" maafkan aku " ucap Valera lagi dengan suara sendu dan Remigio hanya diam sembari menatap lekat-lekat wajah kekasih hatinya seakan Remigio tau apa yang sedang difikirkan oleh Valera
*****
Asnee sedang bersama George di sebuah danau tempat tuan kecilnya membuat janji dengan teman barunya, sudah satu jam mereka menunggu tapi Malvin tak kunjung datang dan George hanya diam sembari melihat sekelilingnya berharap teman barunya tak melupakan janji yang sudah di sepakati
" George kemungkinan teman mu itu lupa " ucap Asnee lalu ia ikut duduk disebuah George dan empat pengawal lainnya masih setia menunggu sang tuan muda kecil
" kita tunggu saja dulu paman kemungkinan ia sedang berada dalam perjalanan " ucap George yang sangat yakin dan Asnee hanya menurut saja dengan mengangguk-anggukkan kepalanya
__ADS_1
George melirik jam yang melingkar dalam tangan kecilnya itu sesekali gayanya terlihat seperti orang dewasa membuat Asnee terkekeh seketika
DORRR !!
suara senjata yang berasal dari revolver itu tiba-tiba membuat mereka terkejut bahkan keempat pengawal dengan sigap melindungi tuannya dan Asnee ia segera mengkondisikan senjatanya serta George
" sial " umpat Asnee saat melihat sekelompok orang asing mulai ingin menembak ke arah nya dengan cepat Asnee mendekap tubuh George dan berlari menghindar
DORRRR DORRRRR
tembakan itu semakin ingin melukai Asnee dan George tapi dengan lihai Asnee melompat sembari menggendong tubuh kecil George anak buah king tak ingin kalah mereka memberikan rentetan pelurunya
DORRRR ! DODODORDODODOR
AGHHH !
satu lelaki asing tewas seketika karena terkena peluru dari anak buah king, Asnee yang melihat itu segera ikut membantu yang lainnya
DORRRR DORRRRR
kali ini terjadi baku tembak hingga membuat suasana disana ricuh seketika bahkan pengunjung lainnya ikut berhamburan lari tak tentu arah, George masih setia mendekap tubuh Asnee begitupun sebaliknya keempat anak buah king masih setia memberikan rentetan pulurunya hingga suara teriakan kesakitan terdengar disana, jantung Asnee berdegup kencang saat salah satu pengawalnya tewas tertembak dan pihak musuh semakin gencar
" paman " lirih George dan Asnee segera membawa George lari tapi lagi-lagi mereka mengetahui nya dan
DORR ! DORRR !
Asnee berlari lincah sembari menggendong George, hampir saja satu peluru mengenai tubuh Asnee jika ia tidak bergerak cepat
DORRR
AGHHH !
satu peluru mengenai kaki kiri Asnee, hingga ia terjatuh tersungkur begitupun dengan George Asnee merintih kesakitan kala darah mengucur di sela-sela kakinya George panik seketika saat beberapa orang bertubuh tegap semakin mendekat ke arahnya, Asnee mencoba untuk berdiri tapi lagi-lagi peluru musuh mengenai tubuhnya
DORR
" paman " jerit George kala melihat serta mendengar Asnee ditembak tepat berada di hadapannya jantung George berdegup tak karuan sorot matanya tajam seketika kepada lelaki asing yang sedang tersenyum mengejek
" pergi kalian " teriak George lantang dan
GREPPP
AGHHH
" lepaskan, lepaskan aku !! paman " teriak George berontak hingga membuat Asnee terkejut dan lagi-lagi salah satu kaki seorang pria menginjak luka tembak di kaki kiri nya
" AGHHH ... sialan kau " erang Asnee frustasi karena ia menginjak tepat di luka tembak nya
" hahaha sangat mudah untuk melumpuhkannya tak seperti rumor yang beredar " ucap salah satu orang pria bertubuh tegap, Asnee menatap George yang terus berontak dalam dekapan pria asing
" lepaskan dia, " teriak Asnee lantang tapi orang itu acuh dan meninggalkan Asnee begitu saja lalu mereka pergi dengan membawa George
__ADS_1
Asnee panik seketika luka tembak ditubuhnya tak ia pedulikan, darah semakin mengucur di kaki serta perutnya kali ini ia merasakan sakit luar biasa di antara luka itu
Asnee melihat keadaan sekitar dimana tempat itu sudah sepi serta keempat anak buah king yang tergelatak tak bernyawa disana, Asnee segera meraba saku celana nya dan untung saja ponsel nya masih tersimpan rapi disana
" paman " seru seorang pria kecil dan berlari ke arah Asnee Malvin dan Diandra terkejut dengan kondisi Asnee, Diandra sampai diam mematung di tempatnya " paman, apa yang terjadi dan dimana George ? " ucap polos Malvin tapi Asnee yang wajahnya sudah mulai memucat hanya tersenyum lirih " mommy kenapa kau diam saja ayo kita bantu paman ini " ucap Malvin dan seketika Diandra tersadar dan langsung berjongkok tempat dihadapan Asnee
" mana ponsel mu ? " ucap Diandra panik dan Asnee hanya melirik saku celananya karena ia belum sempat mengambil, sepertinya Asnee dalam keadaan tidak baik terlihat wajahnya yang sudah memucat dan tubuhnya bergetar
" siapa yang harus ku hubungi ? " panik Diandra lagi
" lady " ucap Asnee dan seketika ia pun ambruk tak sadarkan diri Malvin dan Diandra terkejut sekarang mereka merasa ketakutan dengan cepat Diandra mencari kontak yang bernama lady dan tak butuh lama Diandra langsung menekan tombol itu
" mommy cepatlah kita harus membawa paman ini kerumah sakit " panik Malvin dan Diandra semakin gugup
" Hallo " ucap Diandra dengan gugup, terdengar suara seorang wanita disana dan Diandra ia mencoba untuk menceritakan kejadian sesungguhnya dengan suara bergetar sembari menatap sekelilingnya lalu menatap Asnee kemudian,
*****
nafas Valera menderu tak karuan, amarah nya yang siap memuncak dan siap meledak kala mendengar kabar buruk itu, dengan cepat ia menyambungkan laptopnya dengan pusat yang terhubung keseluruh anak buah termasuk Dave dan yang lainnya
layar laptop itu mendadak memecah menjadi delapan bagian dan muncullah orang-orang anak buah king serta jajarannya termasuk Greta disana, nafas Valera menderu seketika
" lacak keberadaan George melalui jam tangannya " ucap Valera tegas dan sontak semua orang bingung dan Greta langsung melacak keberadaan George atas instruksi serta kode yang di perintah kan oleh Valera
" ohh, ia menuju bandara Vale " ucap Greta dan detik kemudian jantung Valera berdegup kencang " lacak dan cari informasi pesawat yang membawa putraku " ucap Valera lantang lalu ia memutuskan sambungan itu dan segera beranjak dari kursinya dan pergi menuju bandara dengan persenjataan seadanya yang terdapat didalam mobil mewahnya
semua orang di markas sibuk memantau serta melihat pergerakan George dari GPS yang tertera di jam tangan miliknya sedangkan dave dan beberapa orang lainnya sudah menyiapkan keperluan yang lainnya insting mereka tak pernah salah ini akan menjadi sebuah pertempuran selanjutnya bahkan Dave menjadi gugup seketika
Valera pun sudah menyuruh beberapa anak buah lainnya untuk membawa Asnee ke rumah sakit dan mengamankan wilayah itu , Valera mengemudikan mobilnya seperti seseorang yang kesetanan ia tak menghiraukan rambu-rambu lalu lintas disana pikiran nya melayang dan jauh entah kemana
sedangkan disisi lain Malvin dan Diandra sudah berada di rumah sakit dan mereka pun sudah dijemput oleh para anak buah king sebenarnya Diandra merasa gugup dikelilingi orang-orang bertubuh tegap dan kekar tapi tidak dengan Malvin ia terlihat santai tanpa ada rasa takut sedikitpun
" mommy apakah George baik-baik saja ia seperti ini karena menunggu kita yang terlambat " ucap Malvin merasa bersalah dan Diandra pun merasa serba salah tatapan tajam anak buah king dilayangkan kepada Diandra dan Malvin membuat Diandra menelan ludahnya kasar
" heii paman jangan menatap mommy ku seperti itu, tidak kah paman malu karena berani menatap tajam kepada seorang wanita dan anak kecil " ucap Malvin membuat Diandra gelagapan dan ia segera mendekap Malvin agar tak menjauh dari dirinya
" maaf.. maafkan kan putraku " gugup Diandra lagi tapi anak buah king hanya acuh saja dan mereka menatap menyelidik kepada Malvin yang wajah nya tak asing dengan wajah salah satu petingginya yang sudah tiada itu.
*****
" lepaskan aku, " berontak George saat dirinya hendak memasuki sebuah pesawat pribadi yang sangat besar dengan di kawal oleh beberapa orang lelaki
jantung George berdegup kencang ia menatap sendu kearah sekelilingnya berharap ada yang mau menolongnya bahkan dalam pikirannya hanya ada Valera seorang
mamih aku takut . batin George dengan mata yang memerah
beberapa dari mereka sedang berbincang sesuatu, suara mesin pesawat cukup memekikkan telinga George hanya menatap satu persatu-satu lelaki yang berada disekelilingnya, George diseret dengan paksa agar ia mau memasuki pesawat yang hendak lepas landas itu
George berontak dan menangis kencang membuat para lelaki itu marah seketika sampai matanya melihat siluet seseorang yang dikenalnya
" mamih " lirih George hingga kesadarannya hilang karena seseorang membekap hidungnya dengan erat
__ADS_1