
Tuan Gil berdiri di hadapan keponakannya. Valera, semua orang menatap sikap lancang tuan Gil yang menurutnya tak sopan Valera menyipitkan matanya seketika.
" ckckck. paman mu berada di sini, tapi kau tak mengundangku ? dan kau Gloria, aku ini masih ayahmu " ucap tuan Gil dengan sinis hingga Gloria yang duduk disamping Dave diam tak ingin menjawabnya.
" untuk apa paman kemari ? tidak lihat kah jika aku sedang mengadakan jamuan penting, dan paman tidak termasuk di dalam nya " tajam Valera dengan sorot mata yang tajam menatap laki-laki paruh baya yang menatapnya dengan sorot mata yang angkuh.
" ayah sebaiknya, jangan membuat onar !! " tegas Gloria
" aku ? tidak " ucap tuan Gil dengan wajah polos dan bingungnya.
tuan Ramius memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam, Valera memberi kode pada anak buahnya yang berada di luar ruangan dan seketika mereka masuk dan menunduk hormat pada sang lady
" bawa dia keluar jangan biarkan dia masuk. " tegas Valera terlihat berlaku kejam pada pamannya sendiri, Gloria tampak diam tak bisa berbuat apa-apa karena dirinya pun merasa kesal dengan sikap sang ayah.
" apa-apaan ini, " teriak tuan Gil merasa tak terima dengan perlakuan seperti ini " kak, apa seperti ini sikap putri mu terhadap ku ? '' ucap tuan Gil menatap tuan Ramius yang terlihat diam saja di kursinya.
" bawa dia " tegas Valera lagi, sontak tuan Gil berontak tak karuan dan terlihat marah dengan perlakuan yang ada, hingga.
PLUKKK
sesuatu benda terjatuh dari saku jas milik tuan Gil, sontak Valera menatap alat tersebut dengan tajam dan tak lama nafas sang lady terlihat menderu menatap sang paman, tuan Gil sontak terkejut bukan main dan menatap sekitanya yang kini menatap dengan tajam yang siap membunuhnya.
PLAKKK
" ayah !! '' pekik Gloria saat Valera menampar tuan Gil dengan keras dan kasar, Gloria dan lainnya terkejut bukan main karena sikap Valera yang terbilang berani menampar sang paman.
" Kau sedang mematai-matai siapa paman ? " pekik Valera dengan suara lantang hingga Gloria terkejut saat mendengar perkataan kakak sepupunya itu, apakah benar ayahnya sedang menjadi mata-mata.
tuan Gil memegang pipinya yang memerah dengan nafas yang begitu menderu karena marah, dalam hatinya ia mengutuk Valera karena bersikap seperti ini dihadapan semua orang, ini sama saja merendahkan harga dirinya.
" jangan pernah bermain-main dengan ku, kau sangat tau siapa aku dan apa yang akan aku lakukan untuk orang yang berani mengusik ku ! " pekik Valera lagi yang kini berdiri dengan tegas dihadapan tuan Gil. " alat penyadap !! siapa yang sedang kau mata-matai saat ini ? apa paman sedang merencanakan sesuatu dengan seseorang ? " ucap Valera dengan marah.
valera mengambil alat tersebut dan menelitinya dengan cermat, nafas nya lagi-lagi terlihat menderu, dadanya seraya naik turun dibuatnya.
" hancurkan alat ini " perintah Valera tegas kepada anak buahnya. " dan kau paman, lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk mu dan aku tak peduli kau siapa saat ini " tegas Valera lagi hingga wajahnya memerah dan terlihat dekat dengan wajah tuan Gil saat ini.
__ADS_1
" kau, kurang ajar !! " ucap tuan Gil yang hendak menampar Valera tapi tangan itu seketika terhenti karena cengkraman kuat seseorang. Terlihat Vyan berada dibelakang sang paman
dengan wajah tanpa ekspresinya.
" berani sekali kau ingin menampar adikku paman, bahkan kau membuat keributan disini " dingin Vyan menatap tuan Gil tanpa berkedip.
" seret dia " teriak Valera kepada anak buahnya dengan lantang, " awasi pergerakan nya, jangan sampai lengah " ucap Valera lagi dengan tegas dan kedua anak buah king itu mengangguk dengan mantap.
akhirnya tuan Gil digiring keluar, walaupun tak ada perkataan yang terlontar dari mulut tuan Gil tapi dari raut wajahnya mengatakan jika ia sedang murka kepada Valera.
valera duduk kembali di kursi kebesarannya dan mulai mengatur nafasnya agar terlihat lebih tenang, lalu ia meneguk habis wine yang tersedia di gelas kristalnya dengan cepat hingga tandas, semua orang terlihat diam memperhatikan sang lady diam-diam, kemarahannya lagi-lagi bisa membuat semua orang bungkam seketika.
hingga berselang lima menit saja, Valera berdehem untuk mencairkan suasana yang terlihat canggung dan hening tanpa ada suara sepatah katapun.
semua orang terlihat duduk dengan tegap dan menatap sang Lady secara bersamaan, bahkan sang ayah langsung meminum teh hangat yang hanya tersedia untuk dirinya saja.
" kita lanjutkan acara kita ini, maaf karena ada sedikit keributan " ucap Valera dengan nada santai. Semua orang hanya mengangguk kecil " Pertama-tama aku ucapkan terimakasih kepada semua yang hadir dalam acara jamuan sederhana ini, terimakasih juga untuk semua jajaran ku yang telah setia menemani ku hingga titik ini, kalian semua adalah keluarga ku tak ada yang aku beda-beda kan diantara kalian semua " ucap Valera dengan lantang dan semua orang menyimak dengan seksama. " terkadang kita juga ingin hidup dengan damai, apakah benar ? " lirik Valera kepada semua orang yang hadir. " pilihan ? apa kalian semua punya pilihan untuk hidup ? " ucap Valera dengan kekehan kecilnya seperti sedang mengenang sesuatu, '' satu persatu musuh telah tumbang tapi itu semua tak akan pernah berakhir sama sekali. Kita mafia, jalan kita hitam tapi kita mempunyai kode etik tersendiri " ucap Valera berwajah serius dan orang-orang diam seakan mencerna ucapan sang Lady. "
" Ya kau benar adikku. " celetuk Vyan menimpali ucapan sang adik, dan Valera hanya tersenyum miring.
" Maaf lady, mungkin belum tapi kita mempunyai sedikit petunjuk dari anak kecil yang bernama Silla " ucap Thomas berbicara dan Valera terlihat menyimak " dia mengatakan Damian, aku baru teringat jika pada waktu itu bukankah Dave sedang menangani kasus ini bahkan orang yang bernama Damian belum juga rampung diarsip kerja milik Dave '' ucap Thomas dan Dave seketika termenung memikirkan ucapan Thomas, detik kemudian ia teringat jika dulu pernah mencari orang yang bernama Damian tapi belum juga terlaksana " kemungkinan Mrs X ada kaitannya dengan Damian " ucap Thomas lagi dan Valera diam saja.
" cari dia sampai dapat, aku tak ingin wilayah ku di cemari oleh para sampah tak berguna. " ucap Valera tegas dan Thomas mengangguk sopan. " hmm untuk Utera, dia sudah mati. " ucap Valera sontak para anggota B woman, Alland dan juga Brandon terperangah, Utera ? mati ?
" apa benar ? " Picing K dan Valera mengangguk mantap. " ohh syukurlah, jika dia sudah tewas. Walaupun aku merasa dendam pada wanita itu karena kematian L, hmm tapi mengapa kau tak mengajakku untuk bermain dengannya " dengus K dan Valera hanya terkekeh kecil.
" sudahlah, jangan difikirkan. Dia sudah tewas " ucap Valera tegas " aku akan melakukan misi selanjutnya, setelah pernikahan Dave dan juga Gloria usai. " ucap Valera tiba-tiba hingga Dave dan Gloria saling pandang satu sama lain begitupun dengan yang lainnya. Misi ? misi apa.
" kak... lalu bagaimana dengan ayahku ? " cicit Gloria.
" Kau jangan khawatir Gloria. Itu sebabnya aku mengundang ayahku kemari '' ucap Valera memandang sang ayah dan tuan Ramius dibuat bingung seketika " dia yang akan menemanimu di altar pernikahan " ucap Valera hingga Gloria terkejut bukan main.
" paman ? " Picing Gloria dan Valera hanya mengangguk sekilas. " lalu ibuku ? '' ucap Gloria lagi seakan tak percaya.
" apa kau meragukan ku Gloria ? " ucap Valera dengan sorot mata yang penuh intimidasi membuat Gloria menelan ludahnya kasar, aku sudah menyiapkan semuanya jika kau bersedia silahkan, tapi jika kau tak bersedia ya sudah " ucap acuh Valera hingga Dave menunduk dengan lemas.
__ADS_1
Gloria termenung dan menatap kekasihnya lalu detik kemudian Gloria bersedia jika tuan Ramius yang akan mendampinginya di altar pernikahan, tuan Ramius pun bersedia dan tersenyum lembut menatap Gloria.
valera terkekeh ia sangat tau tingkah adik sepupunya itu, mana mungkin Gloria menolak semuanya.
" Lalu apa misi selanjutnya ? " ucap Zizi lagi dengan suara datar khas miliknya, Valera tersenyum miring saat mendengar perkataan Zizi yang penasaran itu, bukan hanya Zizi bahkan semuanya pun ikut penasaran.
valera menuangkan wine kedalam gelas kristalnya, lalu menyesapnya secara perlahan dengan gerakan sensual yang membius setiap orang melihatnya, Tuan Ramius memijat pelipisnya pelan, rupanya sang putri akan pergi lagi dan kini entah mengapa jantungnya berdegup lebih kencang.
" mengambil aset-aset milik mendiang kakek ku yang berada di pihak lain " ucap Valera tegas hingga sang ayah terkejut bukan main, aset ? aset apa yang dimaksud nya.
" aset ? maksud mu ? " ucap tuan Ramius bingung.
" aset-aset tersembunyi milik kakek ayah, bahkan akupun baru tau " ucap polos Valera dan tuan Ramius terdiam dibuatnya. " aku akan menuntaskan semuanya ayah, kau tau kenapa ? karena itu menjadi tanggung jawabku. " tegas Valera.
" tapi apakah itu semua tak akan menimbulkan masalah lainnya ? " cemas tuan Ramius menatap sang putri dengan sorot mata yang penuh ketakutan, Valera tersenyum lembut dirinya mengerti akan kecemasan sang ayah.
bagi dunia mafia, mengambil, merampas, mencuri aset-aset milik lawannya adalah hal yang biasa, karena selain ingin menunjukkan kekuasaan nya mereka pun ingin memperluas kekuasaan dengan aset-aset tersebut, tapi tidak dengan Valera, ia akan membalikkan keadaan dengan merampas kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarganya.
" jangan khawatir ayah, aku hanya butuh doa mu. Doakan agar putrimu ini berhasil dan baik-baik saja " ucap valera tersenyum tulus, seketika tuan Ramius menghembuskan nafasnya secara perlahan.
" Apa kau peluru bantuan ku ? " ucap Vyan menatap sang adik dengan penuh harapan, Valera hanya diam dan tersenyum.
" jika aku membutuhkan mu, maka aku akan segera menghubungimu " ucap Valera lagi.
" Jika begitu libatkan kami dalam misi selanjutnya Lady " ucap para jajaran Valera dan Valera diam saja memperhatikan satu persatu wajah dari orang-orangnya itu.
Mereka tak akan membiarkan sang Lady menjalankan misi berat itu sendirian, setidaknya ada yang menemani dan membantu dalam menjalankan misi tersebut.
rasa kepedulian dan solidaritas diantara mereka sangat lah tinggi, sesaat Valera tersenyum hangat menatap para orang-orang yang setia selama ini.
tuan Ramius terharu melihat itu semua, putrinya dikelilingi oleh orang-orang yang hebat serta bertanggung jawab, walaupun terbesit rasa cemas dan khawatir dalam dirinya.
" Aku akan melibatkan kalian, tapi tidak untuk semua. " ucap Valera dan semua orang hanya mengangguk saja, mana mungkin Valera melibatkan keseluruhannya lalu bagaimana dengan yang lainnya, terbengkalai begitu saja ? ohh tidak bisa.
malam itu pembicaraan cukup serius, hingga beberapa saran dan masukkan Valera terima dengan baik, sedangkan disisi lain tuan Gil sedang di kurung di sebuah ruangan atas perintah sang Lady.
__ADS_1
dirinya mengumpat memaki dan berteriak agar meminta untuk dibebaskan, tapi para penjaga seakan tak mendengar suara teriakan tuan Gil dan menganggapnya hanya angin lalu saja.