
satu Minggu telah berlalu, Valera memilih menghabiskan waktunya terlebih dahulu bersama putri kecilnya itu dan menghabiskan waktu nya bersama dengan suami dan keluarga nya bahkan Zizi dan vyan ikut bergabung.
Kabar kehamilan Valera yang kedua disambut suka cita oleh semua orang termasuk kedua orang tuanya serta mertuanya yang berada di Amerika, mereka sangat senang dan antusias dibuat nya.
" huhh.. bahkan aku masih terbayang-bayang bagaimana rasanya melahirkan Gabriel pada saat itu '' ucap Zizi seraya meletakkan bayi lelaki nya di box berwarna biru di samping box milik Athena.
" hmm.. Kau benar Zizi. Aku pun demikian tapi mau bagaimana lagi ? aku tak bisa berbuat apa-apa, tapi aku sungguh bahagia '' ucap Valera dan Zizi tersenyum saja.
" semoga anak kedua mu laki-laki '' ucap Zizi lagi dan Valera terkekeh kecil sembari mengelus perutnya yang masih datar.
" besok aku akan pergi ke markas. Apa kau akan ikut '' tanya Valera dan Zizi mengangguk cepat. " jika begitu kita bisa pergi bersama '' ucap Valera lagi dan Zizi lagi-lagi mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Markas utama.
kedatangan sang Lady ke tempat miliknya sangat di tunggu-tunggu oleh para penghuni markas utama king, Valera datang dengan mobil mewah nya bersama dengan Zizi.
Valera berjalan terlebih dahulu lalu Zizi menyusul dibelakangnya, bagaimana pun mereka harus bersikap profesional jika menyangkut masalah pekerjaan.
Valera langsung menuju sebuah ruangan rahasia yang berada di ruangan pribadinya, dan Valera mengkonfirmasikan jika dirinya menunggu diruang rapat tertutup.
sebuah ruangan yang sangat tersembunyi dan jarang digunakan bahkan para jajaran king bisa dihitung jari mengunjungi tempat rahasia sang Lady.
sekitar lima belas menit akhirnya beberapa jajaran king berkumpul di ruangan yang luas serta tertutup dan tak tersentuh.
orang-orang mulai duduk dengan tenang di kursi dengan sebuah meja bundar berukuran besar layaknya mereka akan mengadakan sebuah rapat yang besar.
terlihat Valera duduk di kursi single dengan mengetuk-ngetukkan jarinya secara perlahan, semua orang mulai serius memperhatikan wajah pemimpin dari king.
Valera seketika menekan sebuah tombol yang berada di kursi nya itu dan seketika sebuah dinding terbuka dengan menampilkan alat-alat canggih lainnya dan juga layar monitor yang berukuran lebar.
TETTT
Suara itu menandakan jika komputer tersebut menyala dan siap untuk digunakan, Valera mencoba menghubungi satelit yang berada di Lamora hanya untuk memastikan sesuatu.
" Apa kabar lady ? " ucap A salah satu anggota black woman yang berada dan ditempatkan di Lamora.
" baik, A. Bagaimana keadaan disana apa ada sesuatu hal yang terjadi " ucap Valera menyipitkan matanya perlahan.
" seperti yang kau ucapkan Lady, Lamora disusupi seorang mata-mata tapi pasukan Phoenix berhasil menangkapnya dan pada saat ia akan diintrogasi ia lebih memilih bunuh diri " jelas A dan Valera diam saja bahkan semua orang terlihat menyimak mendebarkan.
" kemungkinan ucapan Ellara ada benarnya, jika Lorenza sebenarnya berada di dekat kita " gumam Valera dan Ornaf serta Ellara yang berada di sana terlihat memandangi wajah sang lady dalam diam.
" tapi kau tenang saja, semuanya sudah baik tak perlu khawatir. Ohh ya selamat bersenang-senang untuk kalian karena akan berpesta darah " celetuk A dan semua orang menyipitkan matanya. " Ohh ya jangan lupa undangannya lady ketika semua nya sudah usai dan berakhir. " lanjut A lagi dan Valera terkekeh.
__ADS_1
" Baiklah jika begitu sampaikan salam ku untuk yang lainnya A, sampai jumpa " ucap Valera dan memastikan sambungan tersebut, A terlihat mengangguk dan tak lama layar itu menampilkan tampilan yang lain.
Valera terlihat serius dalam mengoperasikan alat-alat canggih yang hanya dikendalikan dari kursinya itu, semua orang mendadak diam membisu.
" jadi yang mana dulu yang harus aku interogasi ? " Picing Valera menatap kepada para jajarannya terlebih dahulu. " Aku dengar wanita yang mirip dengan Zizi berada di sini ? apa itu benar ? '' tanya Valera lagi.
" ya lady ia berada di sini '' ucap Thomas membenarkan dan Valera terlihat mengangguk saja.
" bawa mereka semua dan bawa ke ruangan pengintrogasian '' ucap Valera tegas dan Thomas mengangguk lalu segera beranjak dari tempat itu.
sedangkan Valera berbicara panjang lebar dengan para jajarannya untuk apa yang harus mereka lakukan di kemudian hari, tentang pembersihan, tentang penyelesaian bahkan tentang para mafia yang berada di bawah naungan king, Valera begitu mendiskusikan banyak hal bersama yang lain dengan penuh pertimbangan.
tiga puluh menit berlalu akhirnya pembicaraan serius itu usai,mereka berbondong-bondong untuk menuju sebuah ruang interogasi dimana alat-alat penyiksaan canggih yang hanya dikendalikan oleh sebuah remote kontrol.
CEKLEK.
beberapa anak buah king yang berada disana menunduk penuh hormat pada sang lady begitupun dengan yang lainnya.
Valera menatap datar pada wajah-wajah asing dihadapannya. Allarik, Wilson, Anetha, Josephine, Mehmet, dan satu wanita muda yang mana wajahnya hampir mirip dengan Zizi. Sejenak Valera menatap lekat-lekat wanita muda lalu melirik kembali pada Zizi dan Zizi hanya mengangguk samar.
" what's its your name ? " ucap Valera memandang wanita yang mirip dengan Zizi secara intens, wanita yang bernama ilara itu diam serta memalingkan wajahnya dengan angkuh, Valera terkekeh sesaat. " siapa dia !! " tegas Valera menatap Zizi dari tempatnya.
" ilara " ucap balik Zizi dengan tegas dan Valera mengangguk saja, tapi ilara justru menatap Zizi dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Kau tau kesalahan mu ? " Picing Valera berjalan secara perlahan menuju dimana ilara berada, " kau terlibat dengan Damian dan sekutunya memasuki wilayah ku lalu membuat kekacauan didalam nya " jelas Valera lagi dan ilara mendengus kesal " kalian juga hampir membuat salah satu orang ku sekarat " lanjut Valera lagi.
PLAKKK
Zizi maju dengan nafas memburu nya dan langsung menampar ilara dengan keras hingga korbannya sampai memalingkan wajah kearah samping.
" bersikap lah sopan dan jaga setiap perkataan mu, sudah tertangkap masih saja angkuh " ucap Zizi dengan datar dan penuh penekanan.
Mendadak ruangan itu menjadi hening dan bisu bahkan para tawanan yang lain dibuat terperangah apa yang mereka lihat, sungguh sebuah drama.
" berani sekali kau menamparku sialan.. " jerit ilara lagi dan Valera mengeryitkan dahinya sesaat
KREKKK
kursi yang ilara duduki tiba-tiba menekan dan lebih merapatkan tubuh ilara hingga wanita itu tak bisa bergerak lebih hanya saja kepalanya masih dibiarkan bebas.
AGHHH
jeritan ilara sontak mengejutkan semua orang, tubuhnya bergetar dan mengejang terlihat ilara begitu kesakitan dengan urat-urat wajah yang menonjol dan matanya yang terpejam rapat.
__ADS_1
semua orang menelan ludahnya kasar, Valera tersenyum manis menatap ilara yang sedang merasakan kursi penyiksaan itu.
" hah.. hah.. hah.. Apa.. apa yang kau lakukan " erang ilara saat kursi itu sudah menyelesaikan tugasnya, ilara menatap Valera dengan sorot mata yang tajam bibirnya seperti hendak mengumpat tapi tak bisa.
" hanya mencoba saja apakah kursi itu masih berfungsi atau tidak " santai valera sembari tertawa " ohh aku rasa hukuman untuk dirimu akan dilakukan oleh Zizi atau lainnya " celetuk Valera dan Zizi menoleh kearah lady nya itu lalu detik kemudian Zizi tersenyum miring.
" Dengan senang hati aku melakukannya " ucap Zizi antusias menerimanya dan Valera hanya diam tapi seulas senyum tipis tersemat di wajahnya, ilara semakin menatap tajam pada Zizi dan juga Valera nafasnya memburu menahan amarah dihatinya.
Tak lama salah seorang anak buah king datang dengan membawa paman Jiro sontak mata semua orang melebar dengan sempurna termasuk Mehmet.
paman Jiro berjalan dengan dijaga ketat oleh anak buah king, pandagannya tertunduk tak berani menatap ke depan bahkan untuk memandang wajah putranya serta Valera pun tak berani.
" ohh paman Jiro kau sudah datang rupanya '' ucap Valera seperti tak terjadi apa-apa dan paman Jiro diam saja tak mau menjawab.
" lepaskan ayahku sialan '' teriak Mehmet dengan lantang.
BUGHHHHHH
Thomas memukul wajah Mehmet dengan kasar hingga sudut bibirnya pecah dan berdarah paman Jiro yang melihat itu hanya diam saja tak bisa berkutik.
" kenapa kau lakukan itu paman ? '' ucap Valera dengan santai dan tenang tapi setiap kata-kata nya penuh dengan penekanan " berikan aku jawaban yang pasti '' tegas Valera lagi.
paman Jiro diam saja dan menatap Valera yang kini menatapnya dengan tajam.
" maaf.. hanya itu yang akan ku katakan '' ucap paman Jiro lagi.
" maaf mu tak akan berguna '' sarkas Valera lagi.
" aku tau dan aku hanya akan meminta maaf. '' ujar Paman Jiro lagi tapi Valera hanya menggeleng tegas menandakan ia tak akan terima dengan perminta maafan dari paman Jiro.
" Jiro lama tak berjumpa. Tapi aku tak menyangka kau pun ikut terlibat di balik semua ini '' seringai Josephine ikut berbicara '' aku kira kau orang baik tapi aku salah rupanya kau pun tergiur dengan apa yang ada didepan mata mu '' ucap Josephine lagi.
" Diam lah Josephine '' pekik Mehmet merasa tak terima.
" paman kau tak ingin menjelaskannya ? kenapa ? Apa kau salah satu para penghianat itu. '' Picing Valera dan paman Jiro menggeleng cepat.
" maafkan atas kesalahanku, sungguh aku baru mengetahui jika putraku terlibat '' sendu paman Jiro " aku pun tak tau mengapa, sebagai seorang ayah aku hanya ingin melindungi anak ku sendiri '' lirih paman Jiro.
" begitukah ? '' datar Valera terlihat tak begitu serius menanggapi perkataan paman Jiro, entah Valera kecewa atau bagaimana tapi saat ini ia harus menyelesaikan semuanya. " Aku paling tidak suka orang penjilat, merampas milik orang lain, bahagia diatas penderitaan orang lain dan tentu saja aku pun benci dengan orang yang serakah dan haus akan kekuasaan " ucap berjalan dengan anggun melewati para tawanan nya dengan tatapan mematikan. " Kalian " tunjuk Valera " adalah orang yang tak tau malu dan tak tau di untung '' pekik Valera tajam hingga semua orang terkejut akan suara Valera yang terdengar bengis ditelinga.
" Apa maksud ucapan mu ? '' tanya Anetha dengan sorot mata yang dingin menatap Valera. " hmm dilihat dari cara mu berbicara aku pastikan kau salah satu keturunan Marcell, apa benar ? '' ucap Anetha lagi dan Valera justru tersenyum miring.
Allarik dan dan lainnya terkejut dengan perkataan Anetha, apa benar wanita yang menawan mereka adalah keturunan dari Marcell ? mereka menatap lekat-lekat wajah Valera hanya satu yang mereka percayai mata hazel itu menyorot dengan tajam membaut mereka mengingatkan akan sosok seseorang dikenalnya.
__ADS_1
" Kau pintar wanita tua '' cibir Valera hingga Anetha memekik tak terima disebut tua oleh Valera. " mari kita berkenalan dengan formal. Dengarkan baik-baik perkataan ku namaku Valera. Valera Harson cucu perempuan dari mendiang Marcell Harson. Aku seorang pemimpin dan aku seorang penguasa, apa kalian tau mengapa aku menawan kalian ? hmm tentu saja untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kalian lakukan dimasa lalu '' tegas dan datar Valera aura kesombongannya kini terlihat jelas hingga para tawanan itu tertegun dengan sendirinya. Benarkah itu ? ahli waris dari pemilik seorang penguasa di masa lalu, seorang lelaki yang sangat dikenal di dunia hitam dan seorang lelaki yang sangat disegani oleh semua orang, kini king telah berganti kepemimpinan.
Valera diam menampilkan wajah datar tanpa ekspresi, senyum tipis yang lebih mirip sebuah seringai menakutkan tercetak begitu saja di wajah wanita yang bergelar lady itu, inilah saatnya untuk menuntaskan semuanya tanpa sisa.