Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
*301


__ADS_3

Grey ditangani oleh dokter Ornaf setelah Syina mengabarkan perihal ini kepada Zizi, dan tentu saja Zizi terkejut bukan main karena salah satu anggota Black Road itu terkena sebuah racun yang entah racun apa namanya.


Ornaf mengecek dan memeriksa tubuh Grey yang membiru itu, tapi anehnya Grey masih bisa bernafas. Orang asing yang dibawa oleh Syina segera dimasukkan ke dalam sel sementara.


" Racun ? racun apa itu ? " ucap Zizi yang berada di ruang perawatan di salah atau markas utama.


" racun ini tidak begitu mematikan, Aku bisa mengobatinya. '' ucap Ornaf dan Zizi bernafas dengan lega begitupun dengan yang lainnya.


luka sayatan di tubuh grey segera diobati dan dijahit dengan rapi oleh Ornaf bahkan luka tusuk di tengkuk lehernya segera diberi racikan penetral racun dan langsung diperban agar lebih baik.


semua orang meninggalkan Ornaf yang menangani Grey diruang perawatan, kini mereka segera bergegas menuju ruang diskusi untuk membicarakan perihal ini lebih lanjut.


Syina dan Green pun berada disana termasuk dengan Dave dan Thomas. Zizi menghela nafasnya sesaat sebelum ia memulai pembicaraan ini.


" Jadi pergerakan kalian diketahui ? " Picing Zizi dan Green mengangguk saja " bagaimana bisa ? apakah benda-benda yang kalian bawa tak mendeteksi kedatangan musuh ? " ucap Zizi bingung.


" semuanya tiba-tiba. Bahkan aku tak melihat pergerakan mereka yang menyerang Grey kala itu " saut Syina kesal.


" hmmm kemungkinan besar tempat itu memiliki hal lainnya hmm.. semacam tempat yang tak kalian ketahui " ucap Thomas menimpali. Syina memikirkan ucapan Thomas begitupun dengan Green tapi mereka yakin jika tempat itu sudah disusuri sebelumnya dan Syina tak menemukan tempat-tempat atau benda yang mencurigakan disana.


Green hanya diam saja, tempat yang begitu terpencil ia yakin jika terdapat sebuah jebakan atau lainnya disana, ia jadi mengingat saat mendapatkan misi dari mendiang Marcell Harson kala itu..


" Aku yakin ada, kita akan menyusuri nya satu kali lagi. " tegas Green dan Syina mengerutkan dahinya seketika " jangan remehkan kemampuan ku nona, aku cukup yakin jika mereka pun sama-sama mengintai keadaan kita waktu itu " ucap Green day Syina mendengus sebal tapi kepalanya mengangguk kecil.


Argentina, kota mati.


sudah dua jam perjalanan tapi mereka belum kunjung tiba, Valera bingung sekaligus heran entah kemana tujuan mereka saat ini. Remigio masih mengenggam tangan Valera dengan lembut.


" sweatheart, apa kau lelah ? " ucap Remigio dan Valera hanya mengangguk tanpa bersuara atau bertanya lebih lanjut. " bersadarlah di pundak ku. " ucap Remigio dan Valera hanya mengangguk menurut.


Leo yang berada di kursi terdepan dengan sang supir hanya menjadi pendengar saja bagi kedua majikannya itu, mereka seakan tutup telinga saat mendengar perkataan Remigio yang begitu lembut dan mendayu.


" Leo pastikan semuanya aman, kita akan bermalam hanya satu hari saja, setelah itu kita akan menuju Paris untuk pulang. Aku merindukan putriku " ucap Remigio tegas.


" Baik tuan " ucap Leo paham, seketika Valera pun memikirkan tentang putrinya sudah hampir tiga hari ia berada di Argentina, untung saja stok asi nya banyak dan tersedia untuk si kecil jika tidak, entahlah apa yang terjadi.


" aku ingin pulang Remi, " keluh Valera dan Remigio mengangguk seraya tersenyum lembut dan mengelus pucuk kepala Valera dengan mesra.


hingga tiga puluh menit berlalu, mereka semua telah tiba disebuah rumah pondok yang cukup besar dan terawat, Valera bisa melihat jika ada yang mengurus pondok tersebut.


Remigio segera menuntun sang istri dan lainnya untuk masuk, mereka terlihat lelah apalagi para tetua terdahulu king yang isinya sudah tak muda lagi.


" beristirahatlah, kita akan pergi besok pagi " ucap Remigio dan semuanya mengangguk saja, kali ini Remigio harus membawa mereka ikut serta menuju Paris karena di Argentina keadaan tak memungkinkan, buktinya mereka terus bertemu dengan musuh yang entah siapa tuannya.


valera segera merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang sederhana tetapi nyaman, otak pintarnya seketika tumpul dan Valera membiarkan sang suami yang mengambil alih semua ini.

__ADS_1


" Remi bagaimana bisa Leo berada di sini ? " ucap Valera heran dengan memicingkan matanya menatap kearah Remigio yang sedang duduk di tepi ranjang.


" tidak perlu memikirkan hal lainnya sweatheart, biarkan suami mu ini yang membantu, kau beristirahat lah, aku akan menemui Leo terlebih dahulu. " ucap Remigio dan Valera diam saja lalu merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan kedua matanya, Remigio tersenyum dan mengecup lembut dahi sang istri.


Disebuah ruangan kecil dan hangat, Remigio dan Leo sedang terlibat pembicaraan yang serius, sorot mata Remigio tajam dan wibawanya sebagai seorang mafia tiba-tiba terasa begitu saja, Leo hanya diam memperhatikan sang tuan.


" Tuan, ada informasi mengenai organisasi anda tuan, " ucap Leo akhirnya membuka suara.


" Katakan ! " tegas Remigio lagi.


" Ada pemberontakan pada beberapa orang tertentu tuan, setelah terakhir kali tuan mengunjugi Amerika, ternyata secara diam-diam sebagian dari mereka membelot dan bekerja sama untuk mengusik nyonya Valera dengan alasan mereka tidak menerima setiap perkataan yang tuan Lontarkan pada waktu itu " ucap Leo lugas dan Remigio hanya tersenyum miring.


" cihh...para sampah itu ternyata tak takut dengan resikonya, biarkan saja Leo kau pun tau bagaimana jika istriku sudah bertindak bukan ? " ucap Remigio.


" Tapi apakah ini tak akan menjadi boomerang untuk anda dikemudian hari Tuan ? " ucap Leo lagi, sepertinya tuannya ini banyak sekali perhitungan sehingga membiarkan para dedemit itu bergerak sesuka hati.


sudut bibir Remigio melengkung setelah mendengar perkataan Leo salah satu asistennya, Benar ini akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri, akan banyak cacian dan kata-kata hina yang mungkin nanti akan dilontarkan pada sang panguasa ORTAXS, tapi Remigio justru senang dan bisa melihat topeng cantik dari para anggotanya yang membelot dan berkhianat.


Remigio memaklumi mengapa mereka bertindak seperti ini, semuanya diawali dengan masalah Esme dan hal-hal lainnya.


" Akulah pemimpinnya Leo, Jadi aku bisa menghukum mereka sesuka hati nanti " ucap Remigio santai dan Leo hanya menelan ludahnya kasar, terakhir kali ia melihat kekejaman sang tuan jauh sebelum Remigio menikah, dan sekarang apa ia akan melihat lagi kekejaman itu ?.


" Baiklah saya mengerti tuan, sebaiknya segera beristirahat, kita akan berangkat pada pagi buta, aku sudah membicarakan hal ini pada yang lainnya, dan mereka hanya mengangguk dengan setuju. " lapor Leo dan Remigio mengangguk paham. Lalu Remigio beranjak dan melenggang pergi dari sana.


satu hari tangan Remigio bergerak membelai wajah itu dengan gerakan hati-hati, mata yang tajam saat menatap lawannya, hidung yang mancung dan tegas serta bibir yang begitu sensual dan menggoda sungguh menjadi pesona seorang Valera.


" Kau selalu membuatku candu " lirih Remigio lalu mengecup bibir itu penuh kelembutan dan perlahan, seakan takut untuk membangunkan si mpunya. Remigio segera bergegas untuk membersihkan diri sebelum ia menyusul sang istri mengarungi alam mimpi yang indah.


******


Green saat ini sedang menatap tajam lelaki yang duduk dengan lemas di kursi dihadapannya itu, ditemani oleh Syina, Zizi dan Dave tentunya.


lelaki itu menatap satu persatu orang asing yang berada di hadapannya ini, mata satunya seakan menelisik orang-orang tersebut.


" katakan siapa tuan mu ? " ucap Dave membuka suara dan lelaki itu hanya diam saja.


" Katakan ! " pekik Syina kesal dan lelaki itu masih saja bungkam " ohh sepertinya kau lebih suka cara kekerasan " sinis Syina hingga lelaki itu mulai bereaksi dengan apa yang Syina genggam, sebuah cambuk ? yang benar saja. " tenyata kau menginginkan hal semacam ini rupanya. " ucap Syina tanpa basa basi mulai mencambuk tubuh itu dengan keras.


CETARRR


AGHHH


CETARRR


" Mrs X " teriak lelaki itu dengan lantang dengan mata terpejam. Syina menatap pada Dave dan lainnya sesaat. Mrs X ? teka teki lagi Syina berubah menjadi kesal bukan main.

__ADS_1


" ohh tuhan kenapa harus teka-teki lagi " gerutu Syina dengan memijat pelipisnya pelan, Dave dan Zizi diam saja seperti tak terjadi apa-apa. Sedangkan Green justru menelisik raut wajah lelaki itu. " Lalu dimana Mrs X berada ? " tanya Syina.


" sungguh aku tak tau dimana tempatnya, Mrs X hanya akan datang saat pemasukan barang berlangsung tapi hal itu tak akan berlangsung lama. " ucap lelaki itu dengan sedikit tersengal dan mata yang mulai terpejam perlahan.


" Lalu lelaki itu siapa ? lelaki yang sedang kami incar tapi tiba-tiba kalian datang mengacaukan nya " ucap Syina marah. Lelaki itu menggeleng lemah seakan enggan untuk berbicara. Green hanya menatap tajam seolah ia tau jika tawanannya sedang berbohong.


CETARRR


" aghhh hen..hentikan .. ini sakit " ucap lelaki itu lemah dan tergugu.


" katakan atau cambuk ini yang akan bermain indah ditubuhmu " kesal Syina lagi dan lelaki itu akhirnya menggeleng pelan, tanpa menatap siapapun. Sedangkan Dave dan Zizi hanya menjadi penonton saja.


" dia salah satu kaki tangan Mrs X " ucap nya dengan lirih dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri karena tak sanggup merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.


Syina melemparkan alat siksanya sembarang arah, ia menatap sinis pada lelaki yang tak berdaya lagi, Dave dan Zizi memilih untuk keluar begitupun dengan Syina dan Green. Mrs X menjadi target mereka kini.


Zizi akan ikut membantu tapi tidak dengan terjun langsung ke lapangan, ia akan bekerja sama dibalik layar saja, semua orang mengangguk paham akan kondisi Zizi yang sedang berbadan dua, apalagi mereka tak ingin Tuan muda Harson itu mengamuk jika terjadi sesuatu pada istri dan anak nya.


Dave memilih untuk segera pulang dan bertemu dengan Gloria, karena ia tau jika kekasih hatinya telah pulang beberapa jam yang lalu, mobil Dave melaju dan mulai menjauh dari kawasan area markas king.


mobil mewah itu sangat mencolok diantara pengemudi lainnya, hijau muda ya mobil sport milik Dave kali ini berwarna hijau muda, terlihat lebih fresh dan indah pandang.


tak lama ponsel milik Dave berdering dan tertera nama kekasihnya disana, tanpa basa-basi Dave langsung mengangkatnya tanpa berlama-lama.


" Hallo Dave kau sedang berada di mana ? tadi salah atau petugas keamanan menghubungi unit apartemen kita, jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan ku, tapi aku tidak mau. Aku takut mereka anak buah ayahku atau hal lainnya " jelas Gloria sedikit cemas.


" Aku sedang berada di jalan menuju apartemen. Kau tenang saja, jangan keluar dan kunci apartemen mu rapat-rapat. Aku akan segera tiba " ucap Dave lagi.


" baiklah, hati-hati. " ucap Gloria memutuskan sambungan itu dengan cepat.


Dave semakin memacu kecepatan mobilnya hingga diatas rata-rata hanya untuk segera tiba di apartemen nya, hingga lima belas menit berlalu Dave berhasil tiba di sana, Dave mengedarkan pandangannya kedepan, ternyata ada beberapa orang asing yang berada di sana di beberapa titik tertentu.


" sial siapa lagi mereka ? " geram dave dengan kesal, Dave memutuskan menggunakan topi dan jaket lain untuk menutupi dirinya, bahkan Dave memakai sebuah tahi lalat palsu yang lebih mirip disebut tompel, Dave memeriksa keadaanya dan terlihat lain di cermin, senyum misterius nya terbit begitu saja.


Dave keluar tanpa rasa takut ataupun gugup walaupun beberapa dari mereka mulai memperhatikan kearah Dave, dan Dave tak perduli seakan acuh dengan keadaan.


Entah siapa kali ini yang ingin bermain-main dan tentunya Dave tak akan mudah melepaskan orang itu begitu saja, terlebih jika ini perbuatan ayah kekasihnya itu.


******


Mohon maaf jika telat up yah reader-reader, owe sibuk dan sedikit kurang enak badan, jadi harus bersabar menunggu up kelanjutan dari novel owee 🙏🙏


Silahkan tinggalkan jejak dan komentar yang menarik untuk menambah semangat owe dalam menuliskan cerita yang baik dan lebih menarik lagi.


Terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2