Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
kepolosan hanyalah topeng belaka.


__ADS_3

Asnee terkejut saat George menggenggam sebuah senjata di tangan mungilnya, pergerakannya sangat cepat bahkan Asnee tak menyadarinya.


" Tuan muda, apa yang kau lakukan ? kau akan menembak mereka ? " ucap Asnee tak habis fikir dan George hanya diam saja.


" ini peluru bius kedap suara paman, jika aku tak menggunakan ini lalu bagaimana kita bisa masuk ke lantai dua ? ohh come on paman aku tak akan membuat nyawa kita terancam " celoteh George sedikit pelan karena mereka saat ini sedang bersembunyi di balik dinding dengan lorong pendek yang cukup aman.


" oh.. hmm baiklah. Tapi tetap saja paman merasa khawatir, " ucap Asnee dan George hanya tersenyum polos.


George kembali mengamati sekitar dimana salah atau pria berbaju hitam tak jauh di dekat mereka. George memberikan aba-aba kepada Asnee dan Asnee hanya menurut saja dengan mengangguk kecil.


SHOTTT


JLEBBB


JLEBBB


bidikkan George tepat sasaran dan mengenai target, kedua pria itu awalanya terkejut dan pada akhirnya mulai hilang kesadaran dan tak lama kemudian ambruk ke lantai.


" Paman sekarang " pekik George dan Asnee dengan cepat menyerat kedua pria itu ke balik pintu kamar mandi yang tersedia disana, George tersenyum tengil karena ia tak akan menyangka jika Asnee akan memasukan dua orang pria itu ke dalam kamar mandi.


" ayo " ucap Asnee dan George mengangguk kecil. Mereka mulai menaiki tangga dengan kewaspadaan yang begitu tinggi, bahkan George merasa aneh karena tidak banyak orang yang berlalu lalang di gudang ini, tidak seperti Gold mansion yang terdapat pengawal bersenjata yang berjaga bahkan alat-alat canggih otomatis pun tersedia di sana.


setelah sampai di lantai dua, Asnee dan George saling pandang karena tak mendapati seseorang pun disana, hanya ada semua lorong panjang kira-kira lima belas meter.


" Tuan muda, apa benar lokasi Malvin berada di sekitar sini " ragu Asnee dan George mengangguk mantap lalu manik biru nya menatap jam yang melingkar pada tangannya nya tapi seketika dahinya mengkerut karena sinyal yang diberikan Malvin seketika hilang begitu saja.


" kenapa hilang ? apa jangan-jangan jam tangan nya rusak atau lemah daya ? " ucap George lagi dan Asnee hanya diam saja mendengar gerutuan tuan mudanya.


Asnee kembali menatap lorong tersebut yang diterangi oleh cahaya yang terang disana, lalu detik kemudian ia baru menyadari jika tidak ada pintu apapun disini, membuatnya bingung bukan main.


" Ada apa paman ? " tanya George hati-hati.


" tuan muda sepertinya tidak ada pintu apapun disini, lihatlah ini hanya sebuah lorong buntu " ucap Asnee dan George ikut menelisik kearah lorong itu.


" pasti ada sesuatu yang tersembunyi disana paman, aku yakin jika Malvin berada di sekitar sini. Ayo kita jalan ke arah sana " ucap George akan tetapi Asnee bingung dan pada akhirnya George berjalan terlebih dahulu.


tangan mungil nya meraba arsitektur dinding yang menurutnya unik dan langka, bahkan arsitektur itu terlihat menonjol layaknya sebuah ukiran.


Asnee menyiagakan senjata miliknya dan George tak peduli hal itu, manik birunya menatap lekat-lekat keadaan sekitar. Semakin mereka masuk lebih dalam lampu yang menerangi disana semakin terang layaknya sebuah hunian.


" ohh sudah ku duga disini pasti menyimpan sesuatu, mungkin pintu rahasia " celetuk George dan Asnee mengangguk membenarkan karena ia pun merasakan hal demikian. Lorong ini persis seperti lorong yang berada di markas king tempat menawan para penghianat.


saat keduanya asyik dengan kegiatan nya, tiba-tiba suara derap langkah beberapa orang terdengar dari arah kejauhan, George dan Asnee panik bukan main.


" tuan muda apa yang harus kita lakukan ? menembak mereka ? atau bagaimana " panik Asnee dan George pun ikut panik bukan main, jantung keduanya berdebar tak karuan.


KREKKK


suara itu mengalihkan pandangan keduanya, tiba-tiba di balik dinding yang tidak terdapat ukiran ternyata menyimpan sebuah pintu rahasia didalamnya. Derap langkah kaki itu semakin dekat dan tanpa pikir panjang George menarik tangan Asnee untuk masuk ke dalamnya.


pintu itu tertutup kembali dengan sendirinya, Asnee semakin gugup tak karuan, ruangan itu gelap dan pengap serta lembab bahkan hawa dingin pun terasa di area itu.


George segera menyalakan senter LED dari jam tangannya dan seketika lampu itu cukup untuk menerangi keadaan sekitar.


" paman ayo kita lihat di dalam sana " ucap George penasaran dan Asnee hanya menurut saja.


terdapat banyak sekali barang-barang kuno dan antik yang sudah berdebu bahkan tak terurus, beberapa lukisan seram berada di sana, bahkan mata George terbelalak lebar saat melihat patung-patung binatang buas disana.


" tuan muda, apa itu hewan sungguhan ? " ucap Asnee ragu karena patung itu terlihat seperti nyata. George tak menjawab justru ia terus melangkah kakinya untuk mendekat kearah sana.


George menyentuhnya perlahan-lahan, ini memang hewan nyata yang tubuhnya di awetkan layaknya patung hiasan. Harimau, cheetah, singa jantan yang mempunyai bulu yang begitu bagus dan terlihat garang pun berada di sana semuanya benar-benar binatang buas.

__ADS_1


" tubuh mereka diawetkan " gumam George lagi menatap sendu beberapa hewan yang sudah mati dan hanya tertinggal tubuhnya saja yang masih mulus.


" ohh tuan muda itu..itu nyonya Diandra " saut Asnee saat melihat seorang wanita tak sadarkan diri dengan kondisi terikat di tangan dan kakinya, bahkan Malvin pun berada tak jauh di sana dengan kondisi yang sama.


dengan cepat George dan Asnee melepaskan ikatan yang membelenggu anggota tubuh mereka, entah apa yang dilakukan oleh orang-orang asing tersebut pada Diandra dan Malvin.


PLAKKK


PLAKKK


George menampar pipi Malvin dua kali hingga ia tersadar dari tidurnya, Malvin mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan dan. memandang ke arah sekitar.


" kau sudah sadar ? tanya George basa-basi.


" ohh George akhirnya kau datang, aku sempat mengirim sinyal darurat padamu sebelum akhirnya aku mengantuk dan tertidur dengan pulas " ucap Malvin dan George hanya diam saja.


ikatan Malvin terlepas dengan mudah, dan kini hanya tinggal Diandra yang perlu disadarkan tapi belum juga George melakukan hal itu, tiba-tiba suara pintu terbuka, ketiga orang itu saling pandang satu sama lain.


mereka gugup saat melihat beberapa orang masuk ke dalam sana, tak bisa pergi lagi mereka kini sudah diketahui oleh pihak lain, George hanya tersenyum tipis dan menampilkan ekspresi datarnya.


" Siapa kalian ? bagaimana kalian bisa masuk " tegas seorang lelaki bertubuh kecil dan. berwajah garang.


Asnee menyiagakan senjatanya dalam diam serta melihat kearah George dan Malvin yang sedang memasang wajah polos nan lugunya.


" ada apa paman ? kenapa menatap kami seperti itu ? " tanya Malvin polos tanpa merasa takut sedikitpun.


" kalian penyusup. Berani sekali kalian masuk tanpa izin. " ucap lelaki asing itu dengan wajah garang mencoba untuk bertindak garang dan tegas.


" jika aku meminta ijin apakah paman akan mengijinkan nya ? ckckck. Aku rasa paman tak Bodoh bukan ? begitupun dengan kami " saut George datar tanpa ekspresi.


" sialan ! " pekik lelaki itu marah karena merasa dipermainkan oleh anak kecil yang usianya masih sangat belia. Lelaki itu melangkah kan kakinya menuju George dengan tatapan kesal dan geram.


DORR !!


AGHHH


DORR !!


AGHHH


" paman " pekik George dan Malvin secara bersamaan saat Asnee ditembak oleh senjata api.


George marah dan geram bahkan tangannya terkepal dengan sempurna sorot mata nya tajam seketika kala menatap pria yang telah menembak Asnee


" aku tidak apa-apa cepat kita harus segera keluar dari sini. " saut Asnee dan George hanya mengangguk kecil.


" let's play " ucap George lirih dan tangannya mengambil senjata api dari balik pinggangnya. Malvin yang melihat pergerakan halus George hanya bisa diam saja.


DODODODOR !!


George melakukan aksi cepat dalam memainkan senjata api miliknya, Asnee tertegun seketika kala melihat aksi bocah tujuh tahun yang terlihat lihai dalam hal seperti itu yang sangat berbahaya.


setelah suara itu tiba-tiba saja Diandra terbangun dari tidurnya, Diandra mulai melihat sekelilingnya dan alangkah terkejutnya saat apa yang sedang ia lihat saat ini,


" mommy " pekik Malvin saat melihat ibunya telah sadar dan dengan cepat Malvin membuka ikatan yang membelenggu Diandra karena kesulitan akhirnya Malvin memotong tali ikatan itu dengan sebuah belati.


" dari mana kau mendapat senjata itu sayang " gugup Diandra dan Malvin tidak menjawab justru ia terlihat serius dalam kegiatannya.


" apa kau sudah selesai. Kita harus segera keluar dari sini " ucap George.


" hampir " ucap Malvin singkat. Asnee menahan rasa sakitnya karena sebuah peluru yang bersarang di lengan kirinya George terlihat sibuk dengan senjata yang berada di genggaman nya.

__ADS_1


kini mereka berempat dengan cepat keluar dari ruangan itu, ternyata Malvin pun menyimpan sebuah senjata api berukuran sedang yang ia sembunyikan di balik pinggang kecil nya, Diandra dan Asnee terkejut bukan main.


" jangan tanyakan hal ini sekarang mommy, situasinya tidak aman. Nanti saja jika ingin bertanya " tegas Malvin dan Diandra tertegun seketika karena perubahan sikap yang Malvin tunjukkan.


mereka keluar dengan kewaspadaan yang tinggi, bahkan Malvin dan Diandra begitu terkejut dengan lorong yang mereka lewati, George menyiagakan senjatanya dengan baik dan Malvin ia mengenggam tangan sang ibu dengan erat.


Dirasa aman mereka turun secara bersama-sama dengan Asnee yang berada di depan. George dan Malvin berada di tengah dan Diandra berada di belakang.


BUGHHHHHH


AGHHH


" paman " jerit Malvin dan George bersamaan, Diandra menutup mulutnya karena terkejut. Asnee tersungkur dengan hidung yang berdarah, kepalanya mulai berkunang-kunang.


" sialan " umpat Asnee saat merasakan sakit di area hidungnya itu.


" Penyusup ! berani sekali kalian membawa kabur tawanan kami " ucap seorang lelaki yang datang tiba-tiba hingga kemunculan para lelaki berbadan tegap mulai berdatangan secara silih berganti.


Diandra ketakutan bukan main, ia seperti merasakan kejadian masa lalu dimana dirinya dikejar-kejar oleh anak buah Chaiden dan layaknya seperti buronan.


" menyingkir lah " ucap George dengan penuh penekanan. Dan para lelaki itu hanya bisa tertawa secara bersamaan.


saat Asnee hendak menodongkan senjatanya lagi-lagi ia kalah cepat karena para lelaki itu lebih dulu menodongkan senjata mereka pada Asnee dan lainnya.


sial, aku harus bagaimana ? aku membawa dua orang anak kecil dan satu wanita, membuat ruang gerak ku terbatas karena takut melukai mereka. batin Asnee


" Turunkan senjata mu, dan kalian tak akan pernah bisa keluar dari sini. " ucap tegas lelaki berpakaian serba putih dengan topi nyentrik nya.


Asnee diam bergeming, karena tak mau menuruti perintah mereka matanya tajam menatap musuh nya kali ini. George bisa Merasakan jika Asnee sedang dalam keadaan marah.


" menyingkir atau kalian akan menyesal. '' tekan Asnee dengan nafas memburunya.


para lelaki yang berjumlah delapan orang itu hanya tertawa sinis dengan senyum mengejeknya, apalagi saat melihat tatapan tajam George maupun Malvin.


DODODORDODODOR !!


Asnee melakukan gerakan memutar saat ia berlatih dengan para senior king di markas utama kala itu, dan kini terbukti gerakan itu sangat membantunya ketika dalam keadaan terdesak.


George yang melihat itu tak mau diam saja tentu ia membidik target-target nya dengan tepat sasaran. Diandra syok bukan main bahkan ia mengajak Malvin untuk bersembunyi di tempat yang aman.


Malvin akhirnya menurut karena tarikan kencang ibunya hingga sebuah tangan mengenggam tangan Diandra dengan kuat dan erat. Diandra menjerit meminta untuk dilepaskan.


" lepas... dasar brengsek " jerit Diandra ketakutan.


SRETTTT


JLEBBB


Malvin segera bertindak kala sang ibu mendapatkan perlakukan tak menyenangkan dari orang asing terlebih dia seorang pria. Lelaki itu menjerit saat ia mendapat luka goresan dan berakhir dengan sebuah tusukan di dadanya.


" apa ia mempunyai penyakit yang serius hingga satu buah tusukan saja langsung membuat dia terkapar tak sadarkan diri ? " polos Malvin menatap bingung pada lelaki yang bersimbah darah dengan menutup matanya, Diandra syok bukan main bahkan nafasnya terasa berhenti saat melihat putranya berlaku dan bertindak kejam di usia dini.


" Ayo mommy, kau tak apa ,? " tanya Malvin dan Diandra menggeleng pelan.


" Malvin itu darah ? '' tanya Diandra gugup dan Malvin hanya mengangguk santai.


George dan Asnee dengan mudah melumpuhkan para lelaki itu, Malvin bisa melihat jika situasi mulai aman. Malvin dan Diandra segera menghampiri George.


" sebaiknya kita pergi dari sini " ucap Asnee lagi George hanya mengangguk kecil begitupun dengan Malvin. Mereka keluar dari gedung itu dengan mudah tidak ada penghalang ataupun jebakan dan sebaginya membuat Asnee yakin jika tempat ini gak dijaga ketat ini hanya sebuah kamuflase gudang penyimpanan bahan baku makanan.


setelah sampai di mobil mereka segera masuk dan meninggalkan area itu dengan cepat, tak lupa George menghapus permanen rekaman cctv yang berada di sekitar tempat kejadian, karena ia yakin sebentar lagi para aparat berwajib akan menghebohkan masyarakat.

__ADS_1


Diandra masih duduk termenung dan terpaku saat melihat aksi anak nya beberapa menit yang lalu, bayangan perlakuan Chaiden yang psikopat terhadap korban-korban nya kembali teringat di fikiran Diandra, seakan memory itu berputar kembali kini.


__ADS_2