
Seorang pria menatap lurus ke depan dan memandang sebuah photo seorang wanita cantik, sudah beberapa bulan terakhir hidup pria itu seperti kehilangan arah, setelah mendapatkan kabar jika wanita yang mengisi hatinya itu menikah pada saat itu dunia seorang Asyur lemah begitu saja, apalagi saat ia mendengar jika valera sedang mengandung, Asyur semakin diam saja tanpa mau berbuat sesuatu.
" kakak ? " ucap Ara tiba-tiba membuka ruangan kerja milik Asyur dengan perlahan. Asyur menatap wajah adiknya di ambang pintu.
" Ada apa masuklah " saut Asyur dan Ara berjalan dengan langkah perlahan. '' ada apa hmm " ucap Asyur menatap lekat-lekat wajah adiknya karena ia sangat tau jika adiknya akan meminta sesuatu.
" Hmm kakak. Aku akan pergi ke Paris karena aku akan bertemu dengan salah atau produser yang akan membantuku untuk menjadi seorang model " ucap Ara dan Asyur hanya menatap tajam sang adik.
" Dengan siapa ? dan berapa lama ? " ucap Asyur dingin tanpa ekspresi, Paris adalah kota yang membuatnya seperti ini, bahkan wanita yang masih dicintainya berada di negara itu, dan kini adiknya akan menuju kesana.
" dengan temanku, entahlah mungkin seminggu " ucap Ara polos dengan mata yang ikut memandang photo seorang wanita yang terpajang cantik di dinding ruang kerja kakaknya itu.
" kapan kau akan berangkat ? " tanya Asyur lagi.
" besok " saut singkat Ara dan Asyur hanya diam tak menjawab lagi " kak, aku mohon bukankah itu salah satu impian ku " ucap Ara dengan wajah sendu nya, dan Asyur tak bisa melihat sang adik bersedih.
" Ya baiklah, " saut Asyur pasrah dan Ara tentu saja ia senang bukan main bahkan mengecup pipi sang Kakak bertubi-tubi layaknya seorang bayi hingga membuat Asyur merasa risih.
Ara Kembali menuju kamar pribadinya dan meninggalkan sang kakak yang masih saja tetap diam dan betah di ruang kerjanya. Asyur masih terus menatap wajah cantik Valera di sana.
" Kau pasti sudah melahirkan bukan ? aku turut senang akan kelahiran bayimu. Tapi aku berharap bayi itu hasil dari benih ku bukan dari benih pria lain. Tuhan tak menakdirkannya untuk ku. " sendu Asyur lalu ia melihat kontrak kerja sama dengan perusahaan Adomson yang selalu di urus oleh sekretarisnya, lalu meletakkan nya dengan kasar hingga suara hembusan nafasnya terdengar keras disana.
Keesokan harinya.
Ara telah bersiap-siap untuk menuju Paris bersama dengan teman wanita yang seusianya, Asyur telah menempatkan beberapa anak buah kepercayaannya untuk melindungi sang adik dari musuh yang mengintai.
Ya bagaimana pun Asyur memiliki musuh di luar sana baik dalam bisnis maupun luar bisnis, Tidak ada yang tau bagaimana sepak terjangnya dari seorang Asyur dalam dunia hitam.
" Ara jaga diri mu baik-baik disana. Ingat kau sendiri, tidak ada kakak yang menemanimu. " ucap Asyur tegas dan Ara mengangguk patuh.
" Aku tau kak, terimakasih telah mengijinkan aku untuk pergi, doakan aku supaya cita-cita ku selama ini tercapai kak. " ucap Ara dengan senang dan Asyur tersenyum tipis lalu mengecup dahi sang adik singkat.
" masuklah, penerbangan tinggal beberapa menit lagi, nanti kau terlambat. " ucap Asyur dan Ara mengangguk patuh lalu ia mulai mendorong koper berukuran kecil bersama dengan teman wanitanya. Asyur menatap kepergian sang adik dengan raut wajah datar tanpa ekspresi ia memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang kini berkaca-kaca.
" tuan " sapa anak buahnya.
" Jaga adikku. Jangan sampai ia terluka sedikitpun " saut Asyur dan anak buahnya mengangguk patuh. " masuklah penerbangan sebentar lagi, pastikan Ara tak mencurigai keberadaan kalian. " tegas Asyur tanpa ekspresi dan dua anak buahnya mengangguk mantap lalu dengan cepat bergegas.
Asyur segera meninggalkan bandara dengan cepat, ia tau jika banyak sekali musuh yang siap mengintainya tapi jangan harap jika mereka sudah tertangkap akan dilepaskan begitu saja.
mobil Buggati hitam itu melaju pesat meninggalkan area bandara. Para anak buah Asyur menyebar dimana-mana untuk mamastikan keselamatan sang tuannya.
Asyur segera kembali kerumah milik mendiang ibunya, disinilah Asyur menghabiskan waktu beberapa bulan terakhir sejak kabar pernikahan Valera tersiar begitu saja di media, hatinya hancur saat itu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa apalagi memaksa kehendak orang lain ia percaya jika jodoh nya sudah tuhan rencana kan dimasa mendatang.
__ADS_1
Asyur menatap kembali surat kontrak kerja dengan perusahaan Adomson di bidang transfortasi mobil-mobil mewah. Lalu ia dengan cepat menghubungi sekretaris sekaligus kaki tangannya dan orang yang ia percayai.
" Siapkan semuanya, aku menerima kerja sama dengan perusahaan Adomson, siapkan jadwalku dan penerbangan menuju Paris, beritahu CEO Adomson jika aku memintanya untuk bertemu. " tegas Asyur.
" baik tuan. " ucap seorang pria disana.
*****
Entah mengapa hari ini Malvin tidak masuk sekolah membuat George heran bukan main, Malvin tidak memberi kabar apapun kepadanya hari ini. Jam pelajaran telah usai George memutuskan untuk pergi ke kediaman Malvin ditemani oleh Asnee tentunya.
George kini sedang sibuk menatap layar tablet miliknya, sedari tadi ia menghubungi Malvin tapi tidak ada jawaban sama sekali, lalu dirinya memberanikan diri untuk menghubungi ibu dari Malvin tapi hasilnya nihil, tak ada yang menjawab satupun.
" Paman tolong cepatlah sedikit " ucap sopan George, dan Asnee mengangguk saja.
mobil mewah berwarna hitam yang selalu membawa George kemanapun ia pergi melaju dengan pesat membelah jalanan dengan kecepatan diatas rata-rata.
hingga beberapa menit berlalu mereka telah sampai disebuah hunian yang cukup mewah itu, Asnee turun dan mencoba untuk masuk dan melihat keadaan akan tetapi suasana disana sangatlah sepi.
George merasa aneh karena tak biasanya rumah Malvin sepi bahkan tidak ada petugas yang berjaga di sana, dari dalam mobil George dengan cepat mengambil senjata nya dan memasukkan ke balik pinggangnya.
" sepertinya tidak ada orang tuan muda " ucap Asnee dan George diam saja.
" ini aneh paman tidak biasanya Malvin dan bibi Diandra tidak ada di rumah. " ucap George " apa jangan-jangan mereka berada di butik milik bibi Diandra ? " ucap George dan Asnee hanya diam saja karena ia pun tak tau.
" Ada apa paman ? kenapa melihatku seperti itu ? " polos George dan Asnee mendadak gugup dan hanya menggeleng pelan " jangan katakan pada siapapun paman " ucap George sedikit tegas dan Asnee mengangguk mantap.
hilang sudah George yang lucu dan imut serta menggemakan bahkan biasanya George akan bersikap polos tapi kini Asnee baru sadar jika itu hanya topeng belaka untuk George.
" mereka tidak ada disana paman " ucap George lagi dan Asnee menatap bingung.
" Tuan muda sepertinya ada yang tidak beres, sebaiknya kita masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Dan kita akan memantau nya dari sana " ucap Asnee memberikan saran dan George mengangguk patuh.
George memperhatikan rumah Malvin yang sepi itu, begitupun dengan Asnee. Hingga George mulai merasa bosan karena sudah menunggu cukup lama.
" Tuan muda " ucap Asnee dan George menatap Asnee " lihatlah, siapa mereka ? " ucap Asnee dan George ikut melihat kearah yang Asnee tunjukkan.
Beberapa orang lelaki yang terlihat asing keluar dari rumah Diandra, gerak-gerik nya sangat mencurigakan dan patut diwaspadai. George menajamkan pandangannya. Hingga mereka membawa sebuah tandu yang ditutupi kain yang terbungkus rapi disana.
Asnee merasakan ada hal yang janggal, begitupun dengan George. Orang-orang itu dengan cepat melihat ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya mereka memasuki sebuah mobil SUV yang tak jauh dari sana.
" Paman ikuti mereka " perintah George dan Asnee mengangguk setuju.
Asnee mengemudikan mobilnya dengan perlahan dan santai, agar tak dicurigai oleh target. George memeriksa plat mobil itu dan mencari informasi melalui tabletnya.
__ADS_1
mata George menajam saat sebuah nama asing muncul disana, pemilik mobil itu adalah seorang pengusaha yang berdiri di bidang makanan ringan yang cukup terkenal di dunia.
Asnee menatap tuan mudanya dalam diam, dan Asnee memilih fokus untuk mengikuti mobil yang menjadi target mereka, hingga mobil SUV itu berhenti di sebuah gudang tempat penyimpanan barang-barang bahan baku.
" apa-apaan ini " gumam George dan Asnee hanya diam saja. Orang-orang itu mulai melakukan tugasnya dengan membawa dua tandu yang sebelumya ia bawa dari kediaman Diandra, hingga mata George menatap benda yang ia kenali.
" Malvin ? Ya itu sepatu milik Malvin paman. " pekik George dengan suara geram dan Asnee menatap arah pandang tuan mudanya.
" Tuan muda kita jangan bertindak gegabah yang pada akhirnya akan mengancam keselamatan tuan muda, jika nyonya Valera tau paman bisa dimarahi. " tukas Asnee dan George mengangguk paham. " bukankah Malvin menggunakan jam tangan yang sama dengan tuan muda, jika benar Malvin dalam bahaya ia akan menekan sinyal darurat yang akan terhubung pada jam tangan anda tuan muda " ucap Asnee dan George langsung menatap jam tangannya benar apa yang diajarkan oleh Asnee.
" baiklah kita akan menunggu. Tapi jika sinyal darurat yang di kirimkan oleh Malvin benar adanya. Maka kita harus segera menyelamatkan nya paman. " ucap George dengan tegas.
" saya paham tuan muda " ucap Asnee dan George diam saja dengan pandangan yang menatap tajam kearah depan.
pada saat George sedang menatap lurus ponsel miliknya tiba-tiba berdering dengan cepat George mengangkat panggilan tersebut.
" George. Kau berada di mana ? ini sudah lewat dari jam kau pulang sekolah. Apa semuanya baik-baik saja ? " tanya Valera cemas.
" Ya aku baik-baik saja mamih. Aku sedang bersama dengan paman Asnee, dan aku sedang mengajaknya makan dan berkeliling di mall untuk membeli sesuatu untuk Athena. " ucap George dengan manis hingga Asnee hanya bisa diam saat tuan mudanya mencoba untuk berbohong.
" ohh benarkah ? baiklah jika begitu, hati-hati sayang. Dan jangan terlalu malam " ucap Valera lembut.
" Ya mamih. I love you " tutup George dengan senyum manisnya hingga panggilan tersebut berakhir dengan cepat.
Asnee diam saja saat tuan mudanya Kembali serius menatap layar tablet miliknya, entah apa yang sedang George lakukan dengan benda pipih 10'inc tersebut.
satu jam berlalu tapi Malvin belum memberi tanda-tanda darurat melalui jam tangannya, hingga membuat George geram bukan main. George membuka pintu mobilnya dengan kasar hingga membuat Asnee panik bukan main.
" Tuan muda, tunggu " pekik Asnee panik.
" kecilkan suaramu paman, jika tak mau kita tertangkap basah. Lebih baik paman hubungi anak buah yang lainnya yang selalu ditugaskan oleh mamih menjadi pengawal bayangan. " tegas George dengan sorot mata yang tajam.
Asnee tanpa sadar segera menuruti perintah tuan mudanya untuk menghubungi pengawal bayangannya. Asnee dengan cepat membawa beberapa senjata lalu ia selipkan dibalik pinggang serta jas miliknya.
George dengan lihai menyelinap masuk ke dalam gudang tersebut, otak cerdasnya harus segera berfungsi. Tiba-tiba George terkejut karena sebuah tepukan pelan dibahu kecilnya.
" ini paman " bisik Asnee dan pada akhirnya George bernafas lega, George masuk dan menyelinap bersama dengan Asnee. Gudang itu banyak sekali cctv membuat Asnee kian panik karena ruang pergerakannya terbatas.
" kita aman paman rekaman itu tak akan berfungsi. Aku sudah mengatur semuanya tadi " ucap George dan lagi-lagi membuat Asnee tercengang bukan main.
gedung itu sangat luas dan memiliki beberapa ruangan bahkan berlantai dua. George dan Asnee harus segera menemukan Malvin. Akan tetapi George bingung akan pergi ke arah mana pada saat bersamaan jam tangan miliknya muncul sebuah lampu LED berwana merah dengan kelap-kelip yang melemah, ya Malvin memberikan respon sinyal darurat, dengan cepat George memeriksa arah sinyal yang baru saja di kirimkan.
" Mereka berada di sana paman ! " tukas George menunjukkan lantai dua. Asnee mengangguk paham akan tetapi banyak sekali pria-pria yang berlalu-lalang disana. Asnee dan George memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu karena jika sampai mereka ketahuan ini semua akan gagal dan pada akhirnya mengancam keselamatan bersama.
__ADS_1
George mencoba untuk mengamati situasinya, ini adalah hal yang paling perdana dalam hidupnya, biasanya George akan memainkan peran penyelamat dari sebuah game online tapi sekarang ini semua menjadi nyata.