
kedatangan Ellara dan juga Ornaf bagaikan angin yang berhembus dengan damai, keempat anggota predator hanya bisa menghembuskan nafas leganya karena bala bantuan datang tepat waktu.
Ellara berjalan menghampiri Valera dengan senjata di tangannya begitupun dengan Ornaf.
" Anda tak apa lady ? '' ucap Ornaf merasa khawatir karena melihat wajah sang Lady yang nampak kotor dengan keringat membanjiri wajah nya begitupun dengan yang lainnya.
" aku tak apa-apa jangan khawatir. Tapi yang lainnya terluka untung kau ikut '' ucap Valera lagi dan Ornaf hanya diam seraya melirik kearah Ellara.
baru saja mereka beristirahat, lagi-lagi aparat berwajib datang dengan tiga buah mobil dan para anak buah nya yang bersenjata lengkap.
Valera memijat pelipisnya pelan, Ornaf dan Ellara saling pandang dan tersenyum miring.
" angkat tangan !! " teriak serta perintah lelaki berbaju aparat kepolisian dengan lambang berpangkat tinggi di bahunya.
Valera tak mengidahkan perintah polisi itu dirinya terlalu lelah untuk berdebat maupun bertarung lagi. Ornaf berjalan dengan santai kearah para polisi itu.
" angkat tangan !! " lagi-lagi teriakan dan nada perintah dari seorang polisi terdengar lagi.
" ada apa datang-datang kau langsung menyuruh kami angkat tangan ? '' Picing Ornaf menatap tajam ke sekumpulan polisi yang kini menodongkan senjatanya masing-masing.
'' kalian adalah sekelompok penjahat dan ******* yang menganggu kedamaian disini maupun dunia, jadi sebaiknya bekerja samalah '' tegas salah satu opsir berwajah angkuh dan terlihat ia seperti pemimpin dalam pasukannya. '' bahkan kalian pun memiliki senjata '' tegas nya lagi.
'' kami bukan penjahat maupun ******* '' tegas Ornaf tapi para aparat itu tak percaya dan terkesan tak perduli, mereka kekeh dengan penilaiannya itu.
" maling mana ada mau yang mengaku '' sinis opsir itu lagi.
" pergilah sebelum terjadi sesuatu dengan kalian '' kini Ellara yang berbicara.
'' Kau menantang kami pihak berwajib !! '' tanyanya menggelegar. Hingga
DODODODOR !!
Ellara meluncurkan pelurunya kearah para polisi hingga beberapa dari mereka ambruk dan roboh seketika.
para polisi tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Ellara hingga polisi yang tersisa kini menodongkan kembali senjatanya untuk berjaga.
Valera yang kesal akhirnya turun tangan dan berjalan santai kearah salah satu polisi dengan berwajah datar, sontak Ornaf dan Ellara saling menodongkan balik senjatanya kearah pihak berwajib itu untuk melindungi pemimpin mereka.
" siapa kau !! " tanya seorang lelaki muda menatap Valera dengan tatapan menyelidik. Valera bungkam dan melirik tag nama dari orang tersebut.
" jika masih ingin hidup sebaiknya minggir dan biarkan kami pergi, tapi jika kalian bersikeras menahan kami, maaf nyawa kalian berakhir sampai disini. " ucap Valera dingin dan tegas.
" heii.. Kami tak melakukan kesepakatan dengan para penjahat " lantang polisi itu.
DODODODOR !!
AGHHH
" bereskan !! " tegas Valera menatap jajarannya.
Dave, Ornaf dan Ellara menyeret para mayat-mayat polisi dengan dibantu oleh Edgar dan zumba, mereka ditumpukkan menjadi satu setelah itu Ellara membakar tubuh mereka hingga benar-benar terpanggang.
Hari itu sang Lady dan lainnya pergi meninggalkan tempat itu, tentang kerusakan villa yang terjadi Dave akan mengurusnya nanti.
Melakukan perjalan sekitar dua jam menggunakan helikopter akhirnya burung besi itu mendarat sempurna di rerumputan yang sangat luas.
__ADS_1
Valera tak tau berada di mana, lalu ia melirik Ornaf dan Ellara sekilas, tak ada kehidupan disekitar sini bahkan tak ada tanda-tanda warga yang beraktifitas.
sebaliknya bangunan berbentuk kotak persegi berada tak jauh dari mereka, Ellara mengajak sang Lady dan lainnya untuk segera masuk, dan Valera pun mengangguk saja walaupun rasa penasarannya kini membuncah.
KLEKKK
sebuah pintu bersensor sidik jari telah teridentifikasi dan ternyata sidik jari milik Ellara lah yang dapat membuka pintu tersebut.
" tempat apa ini ? '' celetuk Edgar saat mereka telah masuk dan hanya terdapat ruangan luas tanpa barang-barang didalamnya.
Ellara tampak tersenyum tipis saat mendengar celetukan dari Edgar, Ellara mengajak semuanya menuju lantai atas dimana tempat itu lebih mirip seperti sebuah rumah pada umumnya.
" wow... kamuflase yang indah '' gumam Dave saat sebuah tangga muncul di dinding sebelah kanan, tangga tersebut lebih mirip seperti tangga portabel.
" ini sebuah markas tersembunyi milik Frazzes '' ucap Ellara dan Valera menyipitkan matanya seketika.
'' kau mengetahuinya ? '' ucap Valera dan Ellara tersenyum tipis.
" tentu saja, saat aku tau kalian berada di Selandia aku memutuskan untuk mengajak kalian ketempat ini, karena aku yakin kalian tak memiliki tempat tinggal sementara di negara orang, benarkan ? '' ucap Ellara dan Valera mengangguk saja walaupun ia merasa ada kaitannya antara Frazzes dan lainnya.
Ornaf dan lainnya duduk di sebuah sofa panjang yang tersedia disana begitupun dengan Valera, Ellara memilih membuatkan minuman hangat karena malam ini diprediksikan akan terjadi badai, cuaca diluar pun mulai tak bersahabat.
Valera melihat tablet miliknya yang retak, ia mendengus sebal sedangkan Ornaf mengobati kawan-kawan nya yang terluka, bahkan Ornaf membawa beberapa botol cairan yang diberikan Zizi kala itu.
" ckckck ternyata Zizi tau apa yang ku butuhkan jika kita terluka '' kekeh Elion dan semua orang terlihat memicingkan matanya.
Ellara datang dengan membawa nampan minuman yang banyak, Valera segera mengambilnya dan meneguk minuman itu secara perlahan begitupun dengan yang lainya.
" jika boleh tau setelah ini kalian akan kemana ? '' tanya Ellara lagi.
" boleh aku ikut ? '' ucap Ellara dan Ornaf langsung menatap dalam Ellara hingga wanita itu tersenyum polos.
'' tentu saja jika kau mau '' ucap Valera dan Ellara mengangguk antusias.
Valera terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, turki sepertinya Valera harus meminta bantuan salah satu sahabatnya Remigio yaitu Deniz.
Ya Mehmet ! Nama itu akan menjadi target selanjutnya setelah Allarik, Wilson, Anetha dan juga Josephine tertangkap.
malam itu benar saja Badai terjadi dan membuat suhu cuaca meningkat dengan cepat, Dave dan Edgar segera menuju ke tempat perapian. Ellara pun telah mengatur suhu ruangan agar lebih hangat tapi tetap saja suhu dinginnya masih terasa.
para anak buah king yang ikut serta dengan Ornaf dan Ellara berada di lantai bawah, di sanapun terdapat sebuah ruangan yang cukup luas dengan beberapa tempat tidur yang bertingkat layaknya di sekolah militer.
*****
keesokan harinya, Valera sedang melakukan Vidio call bersama Remigio dan juga putrinya Athena, Remigio memberengut kesal karena kepulangan istrinya kali ini tak bisa ditentukan.
Valera terkekeh dan melakukan kiss jauh hanya untuk menggoda suaminya itu, Remigio menatap tajam sang istri saat itu.
" Lihat saja jika semuanya telah usai, aku akan merantai mu dikamar kita " ancam Remigio justru membuat Valera gemas bukan main.
" Silahkan Remi, setelah itu kita akan bermain hingga puas " ucap Valera menyeringai dan Remigio hanya diam saja " ohh ya Remi.. Aku berencana akan menuju Turki, pastikan teman mu Deniz berada di tempat. Karena aku ingin bertemu " ucap Valera tiba-tiba mengejutkan Remigio hingga raut wajah itu tak terbaca.
" turki ? Deniz ? ada apa ? " Picing Remigio curiga.
" Tentu saja ini bagian dari misi ku Remi. " ucap Valera lagi.
__ADS_1
" hmmm.. baiklah. Aku akan kabari ia terlebih dahulu, tapi setelah itu kau harus mengabari ku setelah kau sampai disana " ucap Remigio dan Valera mengangguk pasti.
Hampir dua jam Valera melakukan panggilan Vidio bersama Remigio dan si kecil Athena, Valera sangat merindukan putri kecilnya itu rasanya ia ingin sekali memeluk dan mencium pipi bulat kemerahan milik Athena yang terlihat gembul dan sangat menggemaskan.
di luar sana Ellara dan lainnya sedang duduk bersantai, mereka tidak tau harus melakukan apa karena diluar cuaca tak begitu baik, Ellara membuka tabletnya untuk melihat sesuatu.
" Kapan badai ini akan berakhir ? " ucap Valera tiba-tiba dan ikut bergabung bersama jajarannya.
" entahlah, tak bisa diprediksikan " ucap Ellara lagi dengan sedikit lesu pasalnya jika sudah seperti ini harus menunggu waktu yang tepat untuk berpergian.
" hmm bisa dikatakan kita terjebak " kekeh Valera " bagaimana dengan luka kalian ? " ucap Valera menatap para rekannya dengan seksama.
" jauh lebih baik, setelah diobati oleh obat milik Zizi " ucap Hugo menimpali perkataan sang lady.
Valera tau jika Zizi suka membuat obat-obatan yang mirip seperti serum saat dirinya masih berada di Amerika bersama dengan pasukan milik Elion dan juga Lotus kala itu.
Ada untung nya juga obat milik Zizi itu, para jajarannya akan sembuh dengan cepat.
" Lady, masalah polisi Thailand sepertinya salah satu dari mereka telah mengetahui identitas anda " ucap Dave yang mendapatkan kabar dari nyonya Mecca tadi pagi.
Valera menyeruput minuman hangat dengan santai, ia paling tak suka berurusan dengan pihak berwajib seperti ini, dan akan sulit untuk bergerak kedepannya
'' bunuh opsir itu ! " santai Valera walaupun terdengar kejam dan bengis. Dave dan lainnya saling pandang satu sama lain. " bunuh mereka yang mencoba mencari tahu identitas dari hancurnya rumah Wilson, aku tak ingin langkah kita terhambat gara-gara mereka '' ucap Valera tegas dan Dave hanya bisa mengangguk saja.
" Apa kita perlu menghubungi nyonya Mecca Lady ? " ucap Dave lagi dan Valera menggeleng keras.
" jangan libatkan mereka. Cukup kita saja yang bertindak " tegas Valera dan Dave mengangguk lagi dan lagi. " Ellara jika hari ini tak ada kendala, maka sebaiknya kita pergi malam ini, entah mengapa perasaan ku mengatakan akan terjadi sesuatu disini '' ucap Valera dan Ellara bingung tapi ia mengangguk saja.
waktu menunjukkan pukul lima sore, dimana Valera dan lainnya sedang berdiskusi untuk kepergian mereka menuju turki. Tapi tiba-tiba anak buah king datang dengan raut wajah yang tak bisa diprediksikan.
" Ada apa ? '' tanya Ornaf penasaran.
" Lady, Ada pergerakan asing dari jarak tiga KM dari arah timur bangunan ini '' ucap nya dan sontak membuat semua orang panik serta bingung sekaligus.
" Apa lagi ini ? " gumam Dave heran.
" persiapkan diri kalian, jika mereka menyerang dan membuat kekacauan. '' tegas Valera dan salah satu anak buah king itu mengangguk saja. " Kita pergi " ucap Valera tegas dan sontak semua orang berlari berhamburan dan membereskan barang-barang mereka terlebih dahulu.
empat buah Helikopter telah siap untuk mengudara, Valera berteriak lantang agar semuanya segera pergi dari sini, jika boleh jujur Valera lelah jika harus terus bertarung, tapi kali ini biarkan Valera dan lainnya menghindar terlebih dahulu.
" Ohh.. shitt.. mereka semakin dekat '' pekik Ellara saat melihat sebuah benda entah apa yang terpasang di dinding bangunan dan mengedipkan lampu berwarna merah. " tak ada waktu untuk kita pergi, '' ucap Ellara dan Valera hanya mendesah pelan.
" bertempur lagi ? '' tanya Ornaf dan sontak semua orang mengangguk tanpa ragu.
Ellara segera menampilkan sebuah layar yang mirip dengan sebuah cctv hanya untuk melihat keadaan sekitar di luar bangunan, ternyata beberapa orang terekam kamera dan Ellara mengenali salah satu dari mereka.
" Paman.. '' gumam Ellara pelan.
******
Hai-hai reader ku tersayang. Owee mau ucapkan terimakasih atas dukungannya selama ini mulai dari like dan juga komentarnya, hanya untuk membuat owe lebih semangat lagi dalam menulis naskah.
seperti yang owe katakan jika novel ini akan segera tamat owee harap kalian para pembaca agar lebih bijak lagi dalam menanggapi novel owee ini.
Semoga nanti endingnya tak mengecewakan karena owee akan lanjut di novel kedua dimana novel tersebut akan lebih memacu emosi para pembacanya.
__ADS_1
TnQ all ๐๐