Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
*307


__ADS_3

pesawat komersial yang ditumpangi oleh Bie dan lainnya telah mendarat mulus di bandara internasional Prancis. Ketiga anggota black road memutuskan untuk mengikut sertakan Lima lelaki yang mereka temui di kediaman Paman Yu dan Weston, awalnya mereka menolak tapi setelah berunding akhirnya mereka setuju.


Kedatangan mereka telah ditunggu oleh anak buah king yang betugas, tiga buah mobil SUV dengan cepat melaju dan menjauh dari kawasan bandara menuju markas utama, dimana sang Lady sudah menunggu kedatangan mereka sejak lama.


" sudah lama aku tak menginjakkan kakiku di sini " saut number three menatap kearah luar jendela dimana beberapa objek terlihat asing.


" memangnya kau sudah berapa lama tinggal di Argentina ? " ucap Bie penasaran.


" sangat lama " singkat number three lagi dan Bie hanya mengangguk saja tak mau bertanya lebih dalam lagi, karena Bie merasa ini sejauh pribadi dalam kelompok.


setelah beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya mereka telah tiba dikawasan area terlarang yaitu markas utama, dimana Sepanjang jalannya dijaga ketat oleh pasukan bersenjata lengkap, dengan logo king pada gagang senjata nya masing-masing.


kedatangan mereka tentu saja membuat beberapa orang bingung dan heran terlebih wajah-wajah asing diantara mereka itu. Dave, Thomas segera mengkonfirmasikan kedatangan mereka kepada sang Lady tentu saja Valera langsung menyuruh mereka untuk segera memasuki ruang rapat yang tersedia.


Ruang rapat, Markas utama.


Sosok Valera duduk dengan angkuh dan elegan, riasan wajahnya yang tipis dengan polesan lipstik berwarna merah seakan menambah kesan misterius yang kuat, rambut panjangnya ia gerai begitu saja, Valera mirip dengan sosok secret lady.


ketiga anggota black road hanya diam tak berani berbicara, sosok Licon yang berada di antara mereka justru menatap tajam pada sosok sang Lady. Valera menyadarinya tapi ia bersikap acuh saja.


" Mana berkasnya " ucap Valera membuka suara menatap Red dan lainnya. Bie menyodorkan sebuah map dihadapan Valera dan Valera membukanya lalu mulai membaca nya sekilas.


" tunggu.. Untuk apa kau meminta aset-aset itu " ucap Licon menatap Valera tanpa sungkan.


" mengamankannya dari orang yang serakah dan picik " ucap Valera tanpa ragu hingga manik Licon menatap tajam Valera " ada apa ? sepertinya kau tak rela jika berkas-berkas ini jatuh ke tangan ku " ucap Valera sinis.


" ckckck... Tentu saja aku tak rela, tuan Yu menyimpannya di Weston bertujuan agar aman dari pihak manapun, dan sekarang kau mengambilnya atas dasar persetujuan para tetua king. " cibir Licon dan Valera tersenyum tipis.


" tolong jaga ucapan mu, ingat kau tamu disini! " ucap Dave dengan tajam yang berada di antara mereka menatap dingin kearah Licon.


" Aku ? kenapa aku " ucap Licon menatap Dave balik tanpa berkedip, semua orang hanya bisa meruntuki sikap lancang yang Licon tunjukkan tapi tidak dengan Valera, ia senang karena Licon bersikap seperti itu.


" Tujuan ku mengambil aset paman Yu memang bertujuan untuk mengamankan nya, dan tentu saja aset ini bukan sepenuhnya milik paman Yu melainkan milik mendiang kakek ku, dan aku akan memberikan aset-aset sah milik paman Yu kepada anak-anak nya " ucap Valera tanpa menatap Licon dan lelaki itu hanya bisa diam dengan sorot mata yang tajam. " bawa lelaki itu keluar dari ruangan ini, aku butuh privasi dengan keempat pria itu " ucap Valera tegas menatap keempat lelaki asing yang ditemuinya di kediaman paman Yu.

__ADS_1


Dave dan lainnya mengangguk paham, tapi tidak dengan Licon ia seakan enggan untuk pergi dari tempat itu, dan Dave menyeretnya dengan paksa hingga tubuh Licon tersentak beberapa langkah karena ulah Dave.


ruangan itu kini terkunci secara otomatis, keempat lelaki itu mendadak diam saat berhadapan langsung dengan sang lady, Valera masih menatap satu persatu wajah lelaki asing yang berada di hadapannya seperti sedang mengulitinya hidup-hidup.


" Nama kalian cukup unik, mudah diingat dan tidak neko-neko " ucap Valera dan keempat lelaki itu hanya diam saja " Jadi kalian orang-orang milik Kakekku, sebelum pada akhirnya ia meminta kalian untuk menjaga tempat kediaman paman Yu. " ucap Valera lagi.


" Dari mana kau tau ? " ucap number one dan Valera hanya tersenyum tipis. " ohh maaf nyonya, Kau keturunan mendiang pemimpin kami, tentu saja segala kemampuan beliau menurun pada anda nyonya " saut number one dan Valera tersenyum tipis.


" Bisa aku tebak. Kalian semua adalah saksi hidup yang mengetahui rahasia besar kakek ku hingga saat ini bukan ? " ucap Valera menatap tajam kearah lelaki yang duduk dihadapannya itu, mereka mengeryitkan dahinya seketika, entah apa maksud ucapan yang Valera lontarkan. " musuh ! tentang Queen, dan hal lainnya. Pasti kalian semua tau " ucap Valera dengan lantang dan seketika keempat lelaki itu menelan ludahnya kasar, wanita yang bergelar lady ini sungguh diluar dugaan, lebih berbahaya dari hewan liar dan lebih berbisa dari pada ular, pemikirannya tak pernah melenceng dan semakin membuat orang-orang yang berhadapan nya semakin waspada.


" Right. Kau pandai nyonya. Tentang Queen mungkin kami akan membantu mu, karena itu adalah hal milikmu sepenuhnya, hanya saja ada orang yang tak tau malu merampasnya dari tangan tuan Marcell. Bahkan di dalam jajaran mu terdapat beberapa orang-orang Queen yang bergabung hanya untuk mencontek cara kerja kalian." ucap number four hingga manik Valera menatap tajam lurus seakan tak menyangka.


" benarkah ? dari mana kau tau ? " Picing Valera lagi dan number four hanya diam seraya tersenyum tipis. Valera menelisik wajah mereka masing-masing, apa yang ia lewatkan ? valera terdiam seraya memikirkan hal lain nya.


" Simpan aset milik tuan Yu dengan baik, jika tidak, akan banyak orang yang mengincarnya, termasuk Licon " ucap number two dan Valera tersenyum tipis.


" kalian mencurigainya ? " tanya Valera dan keempat lelaki itu mengangguk tanpa ragu " kenapa ? apakah kinerja nya selama ini ada yang cacat ? " ucap Valera lagi.


" baiklah. Aku mengerti terimakasih atas informasi yang kalian berikan padaku, itu sangat berharga untukku, mengenai Queen sebenarnya aku tak terlalu tertarik dengan hal itu, tapi hmmm.. yasudah mau bagaimana lagi ternyata kakek ku menyimpan sejuta teka-teki dan harta Karun yang tersebar dibeberapa negara lainya, menyebalkan " ucap Valera dan keempat lelaki itu hanya tersenyum seperti seseorang yang sedang mengejek tapi Valera acuh saja.


" Tuan Marcell.. aku jadi teringat akan sosoknya " gumam number one tanpa sadar mengingat dan mengenang kejadian beberapa tahun silam saat Marcel Harson masih memimpin dan mengendalikan king di dalam genggamannya. " ohh tidak-tidak. Hmm aku lelah apa kau tak menyediakan kamar untuk kami disini ? " tanya number one lagi.


" sungguh tamu yang tak tau malu " cibir Valera tapi selanjutnya mereka terkekeh dan tertawa kecil secara bersamaan. " aku sudah menyiapkannya, nanti akan ada anak buah ku yang mengantar kalian untuk beristirahat, buatlah diri kalian senyaman mungkin dan jangan sungkan " ucap Valera dan keempat lelaki itu mengangguk serempak.


Gold Mansion.


" Sean bagaimana jika kau bekerja dengan ku saja, di Amerika ? " ucap Remigio tiba-tiba dan Sean putra paman Yu seketika terbelalak tak menyangka dengan penawaran dari Remigio, semua orang yang berada disana hanya bisa menatap pada Sean yang belum memberikan jawabannya itu.


" bekerja ? denganmu ? " ulang Sean dan Remigio mengangguk.


" jangan salah paham terlebih dahulu, aku hanya akan menawari mu sekali saja, Hidupmu sedang terancam dan kau banyak di incar oleh musuh-musuh ayahmu, biarkan adik-adik mu hidup dengan tenang tanpa ada kekacauan seperti pada waktu itu lagi " ucap Remigio dan Sean sejenak memikirkan sesuatu, benar adik-adik nya kini butuh perlindungan yang tepat, dirinya tak bisa diandalkan, sean menatap Remigio ragu-ragu dan pada akhirnya ia mengangguk tanda setuju. " Good. Pilihan yang tepat " ucap Remigio dan Sean hanya bisa pasrah dengan hidupnya.


Tak lama Valera datang bersama dengan Daniel dan Aldo, sesaat Remigio terkejut kedatangan dua remaja itu tapi akhirnya Remigio tersenyum kemudian.

__ADS_1


Gold mansion terasa hangat dan penuh rasa kekeluargaan, mereka saling memperkenalkan diri dan berbaur satu sama lain, bahkan para tetua king terdahulu seakan melupakan beban dan ketakutannya saat ini.


George asik menggoda Athena hingga bayi cantik yang hampir berusia tujuh bulan itu tertawa begitu renyah tanpa beban, Valera yang melihat itu hanya tersenyum menatap kedua nya begitupun dengan Remigio.


Keesokan harinya, Suasana tampak begitu tenang, terdapat beberapa menu untuk sarapan pagi ini, paman Jiro dan lainnya sampai terbelalak saat melihat begitu banyak makanan diatas meja. George langsung duduk di kursi miliknya begitu pun dengan Daniel dan Aldo yang ikut sarapan bersama.


" jangan sungkan " ucap Remigio menatap kearah para tetua king dan mereka hanya mengangguk dengan samar. Sarapan kali ini penuh dengan keheningan hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu.


valera memakan roti tawar dengan selai keju mozzarella dan taburan kismis hijau diatasnya, sarapan kali ini Valera terlihat terburu-buru karena ia akan menuju markas utama untuk meninjau sesuatu, sedangkan Remigio tampak Leo sudah menghunginya beberapa kali agar sang tuan tidak terlambat pada rapat pagi ini.


Markas utama.


Disebuah ruangan yang tertutup dan mewah kini Valera duduk di kursi kebesarannya, terdapat beberapa jajaran king yang duduk dihadapan mereka, bahkan beberapa orang yang terlibat misi beberapa bulan terakhir.


Ruangan itu tampak klasik dan terlihat begitu elegan dengan beberapa lukisan mahal yang begitu sangat Entestik dan bernilai seni, photo dirinya terpampang besar di dinding yang berdampingan dengan pemimpin king terdahulu.


" Maaf jika aku mengadakan rapat secara mendadak, hanya saja kita harus bergerak cepat dalam menindaklanjuti para pembuat onar yang menyebar. " tegas Valera dan semua diam menyimak. " Zizi terimakasih atas kehadirannya kali ini, semoga persalinan mu lancar " ucap Valera.


" terimakasih Lady " ucap Zizi berbicara dengan formal karena ia tak mungkin mengatakan nama sang Lady di saat ada rapat seperti ini.


" Dave, serahkan semua berkas-berkas milik para mafia yang berada dibawah naungan king, aku meminta keseluruhan nya " ucap Valera dan Dave mengangguk mantap " kirimkan ke alamat email ku, nanti malam aku harus segera menerimanya " lanjut Valera lagi sama Dave mengangguk tanda mengerti. " masalah satu persatu sudah selesai hanya saja kita butuh penyelesaiannya, Syina dan lainnya belum kembali semoga mereka membawa kabar baik. Kini keadaan terbilang masih aman, aku akan menyelesaikan semua masalah yang ada hanya saja aku butuh bantuan kalian semua, " ucap Valera dan semua orang berwajah serius seketika, Zizi mengeryitkan dahinya pelan. "


" apa ada hal yang penting Lady ? " ucap Thomas membuka suara.


" ya bisa dikatakan begitu, Greta akan tiba besok siang, ia akan membantu tugasmu Thomas, aku tahu saat ini kau harus membagi waktu antara perkejaan dan istrimu jadi jangan mengabaikan keduanya, " ucap Valera dan Thomas mengangguk serta berterimakasih " Dave konfirmasikan pada team Alland jika tiga hari kedepan mereka belum juga mendapatkan keberadaan yang akurat tentang Utera, tarik mereka dan suruh mereka pulang, aku akan mengambil alih tugas ini " ucap Valera lagi dan Dave mengangguk patuh. " satu masalah selesai, masalah yang lain menunggu ku " kekeh Valera dengan menyeringai mengerikan bahkan mereka yang hadir hanya bisa diam saja dan tak berani membantah jika sang lady sudah turun tangan.


" hmm Lady, maaf menyela. Hanya saja aku ingin menyampaikan pesan dari number one untuk mu " ucap White dan Valera mengangguk tipis tanda ingin mendengarkan pesan itu " mereka bersedia menjadi orang-orang mu bergabung dengan kita semua " ucap white hingga tawa Valera pecah seketika semua orang mengerutkan dahinya heran, Valera tertawa seraya memegang perutnya karena ini merasa lucu. Lagi-lagi semua orang hanya bisa saling lirik dan saling pandang.


" Aku akan memikirkan nya nanti, tanggung jawabku semakin banyak, bahkan nyawa kalian pun aku harus bertanggung jawab juga. Hahhh memang ini sudah menjadi takdir ku " kekeh Valera menghembuskan nafasnya secara kasar seraya memandang ke lantai marmer yang berwana hitam itu.


semua orang hanya menunduk dan memikirkan ucapan sang sang lady, benar tanggung jawab para anak buah nya adalah sepenuhnya tanggung jawab sang pemimpin.


valera tidak akan mengambil tindakan cepat untuk semuanya, ia butuh memperhitungkan semuanya ditambah akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang diawali dengan masa lalu membuat Valera kian hari kian merasa resah dan tak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2