Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
perjuangan.


__ADS_3

Saat ini Dave sedang berada di sebuah ruangan keluarga di mansion milik orang tuan Gloria. Tuan Gil dan nyonya Lauren duduk berhadapan dengan Gloria dan juga Dave.


kecanggungan dan ketegangan terasa di ruangan itu kala sosok tuan Gil sedang menatap tajam kearah Dave.


Gloria meremas gaunnya sendiri kala melihat sang ayah dengan tatapan tajam nya seakan siap untuk menekan Dave hidup-hidup, sedangkan nyonya Lauren hanya tersenyum lembut kepada Gloria.


" Ada apa Gloria ? apa kau sudah menikmati waktu mu di Paris ? apa kau sudah bosan untuk bermain-main ? " tanya tuan Gil dengan nada tegas.


Gloria hanya bisa menunduk dan tak berani menatap ayahnya yang saat ini sedang menatap dirinya lekat-lekat. Dave merasa ada hal lain disini.


" sayang. Ada apa ? " ucap nyonya Lauren lembut, dan Gloria hanya bisa diam dan menatap ibunya dengan harap-harap cemas.


" lalu siapa kau ? " ucap tuan Gil menatap Dave dengan tatapan penuh selidik. Dave hanya tersenyum sopan.


" perkenalkan aku Dave calon suami Gloria '' ucap Dave tanpa ragu " sebelumnya aku minta maaf karena kedatangan ku tiba-tiba dengan putri mu tuan Gil. Tapi aku datang dengan niat baik untuk mempersunting putrimu menjadi istriku. " ucap Dave dengan sopan meminta restu kepada tuan Gil selaku ayah kandung Gloria.


Nyonya Lauren tersentak kaget kalau mendengar perkataan Dave yang tiba-tiba lalu pandangannya beralih kepada Gloria seakan meminta penjelasan.


" Lalu ? " ucap tuan Gil dengan dingin.


" aku hanya ingin meminta restu pada mu tuan Gil " ucap Dave tanpa basa-basi dan tuan Gil tersenyum samar. Gloria merasa detak jantungnya berdebar tak karuan saat ini.


" Siapa kau berani sekali untuk memperistri putriku " ucap tuan Gil dengan dingin dan tegas.


Gloria dan nyonya Lauren hanya bisa diam kala mendengar ucapan dari suami sekaligus ayahnya itu. Dave hanya duduk dengan tenang seakan tak terkecoh dengan gelagat tak baik dari ayah wanitanya ini.


" Sudah ku katakan aku Dave " ucap Dave yang masih sopan dengan nada santai nya itu.


" Apa pekerjaanmu ? lalu apa jabatan mu ? apakah kau bisa menjamin jika putriku akan hidup bahagia dengan mu ! Aku tak akan memberi restu pada pria sembarangan. " ucap sinis tuan Gil dan Dave hanya tersenyum samar.


" papah dia orang kepercayaan kak Valera " ucap Gloria pelan.


seketika mata tuan Gil melotot lebar tapi tidak dengan nyonya Lauren ia seakan tak terkejut dengan penuturan putrinya beberapa detik yang lalu.


" berani sekali kau ingin mempersunting putriku. Kau hanya sebatas orang kepercayaan nya saja. Kau tidak mempunyai apa-apa lalu bagaimana kau bisa membahagiakan putriku. " marah tuan Gil dan Gloria seketika tersentak begitupun dengan nyonya Lauren.


" Papah ! " pekik Gloria marah karena ia tak suka dengan sikap ayahnya yang sudah merendahkan Dave tepat di hadapannya itu.


" Jangan berteriak Gloria ! papah tidak mengijinkan mu untuk berbicara " tegas tuan Gil dengan sorot mata yang tajam.


" Apakah status, kekayaan, dan tahta sangat penting untuk mu tuan Gil ? " tanya Dave menatap lekat-lekat sosok lelaki paruh baya yang kini sedang ikut menatapnya tajam.


" Yes ! " lantang tuan Gil seketika Dave menyunggingkan senyumannya itu. " Aku tak akan memberikan putriku pada mu yang hanya sebatas orang kepercayaan keponakan ku saja walaupun kau bagian dari King ! kau tetaplah seorang pembunuh. " tajam tuan Gil seketika Gloria lagi-lagi terkejut.


" Cukup Pah. Kau sudah merendahkan Dave dengan begitu keterlaluan. Aku mencintainya dan ia pun mencintaiku " marah Gloria berapi-api akan tetapi Dave mengelus lengan Gloria lembut selama meminta Gloria untuk diam tapi Gloria enggan melakukan hal itu. " jangan menghalangiku Dave. Papah ku sangat keterlaluan dia sudah merendahkan mu bahkan menghina mu. " ucap Gloria lagi.


" Duduk lah Gloria, tenangkan dirimu " ucap lembut Dave menatap Gloria dengan penuh permohonan, akhirnya Gloria menurut begitu saja.


" Hentikan Gloria kau jangan gila ! Apa kau benar-benar ingin menikah dengan dia ? seorang penjahat, mafia bahkan kita tidak tau sudah berapa banyak nyawa yang ia bunuh dan lenyap kan dengan tangannya. " marah tuan Gil menatap wajah putrinya lekat-lekat.


nyonya Lauren hanya bisa diam tak mau ikut campur dengan urusan ini, ia hanya memijat pelipisnya pelan dengan mata terpejam.


" Kau bisa mencari lelaki yang lebih baik dari dia " lantang tuan Gil.

__ADS_1


" Jangan memaksa ku. Aku hidup bukan untuk di atur dan diperintah. Aku mencintainya pah aku sangat mencintainya, jangan memaksa ku " tegas Gloria.


" GLORIA " teriak lantang tuan Gil.


" hentikan !! " pekik nyonya Lauren melerai pertengkaran antara suami dan anak nya. " Apa-apaan ini, kenapa kalian menjadi seperti ini. " tegas nyonya Lauren lagi.


Gloria Duduk kembali di kursinya dengan tangan yang menggenggam erat tangan kekar Dave. Dave hanya tersenyum lembut menatap Gloria.


" Maafkan saya nyonya kedatanganku membuat keributan disini. Tapi aku datang baik-baik dengan niat yang baik. Aku mencintai putrimu dan ijinkan aku untuk memperistri Gloria. " ucap Dave dengan sungguh-sungguh.


" dalam mimpimu ! itu semua tak akan terjadi. " tegas tuan Gil lagi.


" hentikan Gil. Kau tidak biasa menghalangi mereka yang saling mencintai. " tajam nyonya Lauren menatap tegas kepada suaminya.


" Aku tidak setuju. " tegas tuan Gil lagi.


" terserah dengan mu pah, kau sungguh keterlaluan. Ayo Dave kita pergi " ucap Gloria yang meraih tangan Dave untuk meninggalkan tempat ini.


" Gloria hentikan ! " ucap nyonya Lauren.


" Gloria ayo kita bicara baik-baik. Kau percayakan saja padaku " ucap Dave lembut dan Gloria hanya bisa pasrah.


" apakah kau benar-benar mencintai putriku ? " tanya nyonya Lauren.


" sangat " singkat Dave berwajah serius.


" Apa kau bisa menjamin jika putriku akan hidup bahagia dengan mu ? '' ucap nyonya Lauren lagi.


" Jangan meragukan hal itu nyonya. Aku berjanji " ucap Dave tegas.


Dave hanya tersenyum tipis saat mendapatkan perlakuan tak senang dari ayah yang wanitanya cintai. Hatinya berdenyut sakit saat mendapatkan pengihanaan ini.


Dave tau jika perjuangannya nya akan terus berlanjut untuk mendapatkan mimpinya tapi Dave tak akan gentar atau mundur, dirinya tetap harus mendapat restu agar ia segera menikah dengan Gloria.


******


" Siapa yang berani-berani bermain dengan ku " Picing Hugo dengan mengetuk jarinya di atas meja kerja yang dibanyaki kumpulan kertas dan layar komputer di hadapannya.


Ya dirinya saat ini sedang melihat rekaman CCTV yang tersembunyi pada saat dirinya di markas Wine yang hendak dikirim ke beberapa negara.


Matanya sangat tajam dan jeli kala melihat beberapa orang yang terlihat sangat mencurigakan di dalam markas itu, tidak mungkin markasnya di masuki penyusup atau lainnya.


pada saat Hugo sedang asyik menatap layar komputer miliknya tiba-tiba ia dikejutkan kedatangan Zizi disana.


" Apakah kau sudah menemukan siapa dalangnya ? tidak mungkin jika mereka tidak memiliki tuan bukan ? Mereka hanya orang suruhan. Lalu apa rencana mu ? " ucap Zizi tanpa basa-basi dan Hugo terlihat menatap layar komputernya datar.


" jebakan ! " Manado Hugo dan Zizi memicingkan matanya seketika.


" cara klasik " kekeh Zizi dan Hugo diam saja. " Bagaimana jika kita pancing mereka dengan mengosongkan markas wine tersebut ? " ucap Zizi asal.


" maksud mu ? " Picing Hugo lagi.


" Entahlah aku tak tau apa maksud dan tujuan orang-orang itu mengintai markas wine maupun pengiriman ke beberapa negara. Apakah mereka ingin mencuri Sempel ? atau lainnya. " ucap Zizi dengan dahi mengkerut. Dan Hugo terlihat mencerna ucapan Zizi dengan baik.

__ADS_1


" Ya kita akan coba '' ucap Hugo dan Zizi mengangguk mantap.


mereka segera menuju markas yang menyimpan ratusan wine terbaik dan tentunya berkualitas, Zizi akan meletakan beberapa alat canggih lainnya yang belum dimiliki oleh kelompok lainnya. Bahkan kamera pengintai tersembunyi pun tak luput dari rencana Zizi dan Hugo.


Zizi tak begitu yakin jika anak buah Hugo tak ada yang berkhianat, apalagi produk wine milik king laku keras dipasaran baik di kalangan pengusaha-pengusaha maupun di luar negara.


pada pukul empat pagi Zizi dan Hugo melakukan aksinya untuk menuju markas wine menggunakan motor, tidak ada siapapun yang mengetahui kepergian mereka termasuk anak buah Hugo maupun anak buah Zizi yang di bawanya.


satu setengah jam Hugo mengendarai motornya dan kini ia telah sampai di markas utama, Zizi dan Hugo saling lirik dan saling waspada karena aksinya tak ingin diketahui oleh para penjaga yang bertugas.


" Kau kesana, dan aku kesana " tegas Hugo dan Zizi mengangguk mantap. Keduanya sama-sama membawa sebuah tas ransel yang berisi beberapa alat dan senjata untuk berjaga-jaga.


Markas wine tidak terlalu besar tapi cukup rapi dan mewah karena Valera sendiri yang mendesain nya. Zizi segera menempelkan beberapa kamera tersembunyi di beberapa sudut tepat yang tidak diketahui oleh para karyawan yang bertugas, begitupun dengan Hugo.


Zizi dan Hugo pun tak luput meletakan alat penyadap suara dengan kecanggihan diatasi rata-rata untuk mereka letakkan di tempat yang mudah terjangkau dan dilalui para petugas disana


sekitar satu jam berlalu mereka berdua telah melakukan pekerjaan nya, Zizi dan Hugo dengan cepat segera meninggalkan markas wine milik sang lady, mereka keluar dari kawasan itu dengan begitu lihai, bahkan para penjaga disana tak mengetahui jika Zizi dan Hugo datang ke markas tersebut.


Disisi lain Ed sedang melihat dan menatap ke arah sekelilingnya, dimana apartemen yang ditinggali oleh Elena merasa sudah tak aman lagi karena banyaknya mata-mata disana.


Elena mendelik sinis kepada Ed. Ed yang melihat Elena tampak kesal hanya bisa diam tanpa mau bersuara, karena dirinya sedang fokus mengintai kucing yang sedang bersembunyi.


BRAKKKKKK


Ed terkejut karena suara gebrakan pintu yang ditutup keras, dirinya dengan cepat menuju Elena, tapi lagi-lagi ia tertegun saat wanitanya memegang senjata Laras panjang yang sangat unik dengan ukiran kalajengking di ujung penggagang.


" babe, kau mau apa ? tanya Ed tampak bingung saat melihat Elena menatapnya dengan datar.


" Aku ingin membidik mereka yang selalu mengintai kediaman ku. " tegas Elena dengan sorot mata yang tajam.


" Jangan gegabah babe. Ada waktunya kita bermain dengan mereka. " ucap Ed mengelus punggung Elena dengan lembut berusaha untuk menenangkan wanitanya yang sedang dilanda amarah.


" Tidak bisa ! aku sudah cukup diam membiarkan mereka selalu seperti itu, tapi tidak untuk kali ini. Aku sendiri yang akan membunuhnya. " ucap Elena lagi dengan marah


" Elena " tekan Ed dengan menatap mata Elena lekat-lekat. Dan Elena membalasnya dengan tatapan tajam tanpa berkedip. " Jangan seperti ini, percayakan padaku. Aku tidak ingin kau terluka babe " ucap Ed dengan mencium bibir Elena tiba-tiba, hingga membuat Elena diam membeku tanpa mau membalas serangan Ed." kenapa kau diam babe " ucap Ed dan Elena hanya diam lalu detik kemudian Elena membalasnya dengan sangat buas dan kasar seolah melampiaskan kekesalan nya terhadap sang kekasih.


Ed hanya membiarkan itu semuanya terjadi, daripada harus membiarkan wanitanya bertindak gegabah dan berakhir melukai dirinya sendiri.


nafas Elena tersengal-sengal dan Ed hanya mengusap bibirnya yang basah dengan pelan akibat ulah Elena yang menciumnya dengan sangat buas.


" Apa kau begitu senang menciumku seperti tadi. " tanya Ed dengan sedikit menggoda dan Elena hanya memberikan senyuman nakalnya.


" Ya aku sangat senang, apalagi jika aku melakukan tindakan yang lain pada mu sayang.'' ucap Elena dengan nada yang begitu sensual, dan Ed hanya tersenyum kikuk menanggapi tingkah wanitanya.


BRUKKK


Elena mendorong tubuh Ed dengan kasar ke sofa berbulu berwarna hitam, dan Ed tertegun akan hal itu. Elena menaiki kedua paha Ed dan tersenyum menyeringai.


" Babe " ucap Ed saat Elena melepas kancing kemejanya satu persatu hingga benar-benar terlepas dan menampilkan dada bidangnya yang begitu menggoda. " Jangan menggodaku " ucap Ed dengan nada berat dan begitu serak.


Elena langsung membungkam bibir Ed dengan bibirnya, kali ini Elena menciumnya dengan begitu lembut, hingga Ed terbuai dan ikut membalas ciuman Elena tak kalah lembut.


Elena meremas rambut Ed dengan begitu pelan dan penuh penekanan, hingga membuat Ed mengerang dalam ciuman nya. Elena lalu tersenyum lembut.

__ADS_1


" hehehe.. aku ingin mandi Ed. Maaf membuatmu tak nyaman " ucap Elena dengan senyum jahilnya. Dan Ed hanya bisa menatap Elena dengan tatapan tak percaya.


karena Ed merasa gairahnya sudah mencapai ubun-ubun tapi Elena justru menghentikkan nya membuat Ed hanya bisa merebahkan kepalanya dan memejamkan matanya secara perlahan.


__ADS_2