
PRANGGG
Gloria membanting gelas kristal yang berada di dekatnya ke lantai, hingga pecah seribu dan menimbulkan suara yang begitu nyaring. Nafas Gloria begitu menderu dan menatap tajam sang ayah.
" Hentikan semuanya ayah, jangan melebihi batasan mu hingga membuat aku tak hormat akan siapa dirimu. Kau terlalu sombong ayah, harta dan kedudukan telah membutakan mata serta hati mu " teriak Gloria lantang setelah itu ia berlari menyusul Dave ke lantai tiga. Semua orang terdiam kala Gloria berkata seperti itu.
valera tersenyum sinis saat melihat wajah tuan Gil masih saja santai tanpa rasa bersalah, sedangkan nyonya Lauren ia sangat meruntuki sikap suaminya yang terlalu arogan dan sombong.
" Kau lihat paman dari mana sifat pemberontak Gloria jika bukan darimu, kau terlalu membanggakan apa yang sudah kau miliki saat ini paman, kau tidak pernah berubah masih memandang orang dari status dan kedudukannya. " tajam Valera dengan penuh penekanan. " bibi, maafkan atas sikapku yang kurang sopan pada paman, tapi paman harus diberi sikap tegas jika tidak ia akan berulah lagi dengan kata-kata nya itu " ucap Valera menatap nyonya Lauren.
" ya tidak apa-apa sayang, maafkan atas sikap paman mu ini, sungguh bibi pun merasa tak senang " ucap nyonya Lauren lagi hingga tuan Gil memberikan tatapan tajam pada istrinya. " kondisikan mata mu itu Gil jika tidak aku akan mencongkelnya " tajam nyonya Lauren lalu beralih dan meninggalkan tuan Gil dari tempat itu.
nyonya sofhia dan tuan Ramius hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adik iparnya yang selalu saja menusuk hati orang lain dengan setiap perkataannya itu.
salah satu pelayan pria datang dan segera membersihkan pecahan yang berserakan di lantai itu, Valera memilih duduk di samping suaminya dan tersenyum saat menatap manik hitam itu lekat-lekat.
suasana masih terus berlangsung kini para tamu undangan masih menikmati jamuan lezat yang masih tersedia disana, George dan Malvin sibuk mengambil beberapa kue bolu dan hidangan penutup lainya yang mengunggah selera itu.
Hans Maxwell dan Celia tampak asyik dan akrab dengan beberapa orang disana bahkan Celia tampak asyik mengobrol dengan Diandra di sudut ruangan yang tidak terlalu ramai. Valera memperhatikan keadaan sekitar hingga senyum manisnya terkembang dengan sempurna.
disisi lain Gloria langsung menuju ruangan Dave yang sedang mengganti pakaian nya, Gloria langsung memeluk tubuh kekar itu sembari mencium aroma parfum dari tubuh lelaki kekar itu.
" hiks.. hiks.. maafkan sikap ayahku Dave, sungguh aku tak menyangka akan terjadi hal memalukan seperti ini. Aku sangat marah padanya karena telah mempermalukan mu bahkan menghina mu dengan kata-kata nya. " lirih Gloria dengan mata terpejam.
Dave hanya tersenyum tipis kala mendengar perkataan dari Gloria, hati wanitanya sangatlah rapuh dan mudah tersentuh, sikap bar-bar yang Gloria miliki itu hanya sebagai karakter tambahan untuk Gloria.
Dave mencoba untuk melepaskan dekapan tangan Gloria yang melingkar dari perutnya lalu Dave membalikkan tubuhnya dan menatap lekat-lekat wajah cantik Gloria yang kini dibasahi oleh air mata, tangan Dave bergerak untuk mengelus kedua pipi Gloria dan mengusap nya lembut disana.
" jangan menangis, aku tak apa-apa. Bukankah sudah pernah aku katakan, aku akan melakukan apa saja hingga mendapatkan restu dari ayahmu walaupun ia menghina ku berkali-kali aku tak akan perduli. Yang terpenting kau tetap di sampingku dan tak akan pernah pergi untuk meninggalkan ku. " ucap Dave dengan lembut dan sedikit tegas lalu mengecup bibir Gloria dengan penuh perasaan.
tampak Gloria tak bisa menerima sikap ayahnya itu, Dave terlalu baik bahkan ia rela dipermalukan didepan banyak orang oleh ayahnya. Dada Gloria tiba-tiba bergemuruh kencang rasa haru menyelimutinya tat kala Dave mengatakan semua itu dengan perasaan tulus.
" Jangan menangis sayang, aku tak suka jika melihat wanitaku menangis seperti ini " ucap Dave dengan mengecup kedua mata Gloria lembut. " aku akan melakukan apapun untuk mu. " ucap Dave lagi dan Gloria hanya memeluk Dave dengan sangat erat.
Dave rasanya ingin tertawa saat melihat tingkah Gloria yang membenamkan wajahnya di dada miliknya seakan sedang menyembunyikan wajahnya itu, Dave gemas akhirnya mencium pucuk kepala Gloria bertubi-tubi.
" ayo sayang lepaskan terlebih dahulu, aku akan memakai pakaian ku. " saut Dave pelan dan pada akhirnya Gloria mengangguk patuh.
Gloria menatap tubuh Dave yang benar-benar sempurna, otot-otot perutnya seakan melambai-lambai untuk disentuh, ditambah pesona Dave benar-benar tampan, dengan kulit eksotisnya.
Gloria menelan ludahnya kasar saat melihat itu, Dave yang memandang wajah Gloria dari balik cermin hanya bisa tersenyum geli akan wajah Gloria yang memerah.
" Ayo sayang kita turun acaranya belum selesai bukan " saut Dave dan Gloria hanya mengangguk patuh saja.
acara itu benar-benar sangat hangat dan berlangsung hingga malam menjelang, bahkan para orang tua sudah naik ke lantai atas untuk mengistirahatkan tubuhnya karena merasa lelah.
bayi Athena sedang tertidur pulas setelah di susui oleh Valera, bayi mungil itu seperti boneka karena dikenakan sleepsuit berwarna merah muda dengan corak yang sangat lucu dan menggemaskan.
Remigio terus mengecup pipi putrinya bertubi-tubi hingga bayi Athena mulai terusik dan pada akhirnya menangis kencang.
__ADS_1
" Remi " ucap Valera saat melihat bayi nya menangis kencang dan Remigio tampak terkejut sekaligus panik bukan main.
" sweatheart, aku hanya menciumnya sungguh " panik Remigio dan Valera langsung menggendong dengan hati-hati bayi Athena itu hingga suara tangisannya tak lagi terdengar dan kembali tertidur, Remigio tampak lega dan mencium bibir Valera singkat.
" aku mencintaimu ' ucap remigio lalu beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya itu. Valera hanya tersenyum tipis melihat suaminya yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi.
tok tok tok
suara itu mengalihkan pandangan Valera, lalu Valera membuka kan pintu kamar nya dengan remote kontrol yang canggih, Nampak sesosok anak lelaki yang sedang mengenakan piyama tidur sedang tersenyum lalu dengan cepat George menuju ranjang dan mengecup pipi valera singkat.
" Kau belum tidur ? " tanya Valera lembut.
" belum, aku ingin melihat my princess terlebih dahulu mamih, '' ucap George " apa dia habis menangis ? " tanya George dengan mengusap sisa air mata bayi Athena.
valera hanya mengangguk lalu tersenyum dan menjelaskan sedikit kenapa bayi Athena bisa menangis, dan George hanya diam saja lalu mengecup dahi bayi Athena lembut.
" sangat harum, aku suka aroma ini '' ucap George dengan mengecup pipi bayi Athena.
setelah dirasa cukup George akhirnya memutuskan untuk pergi dari kamar Valera dan memilih tidur kembali, sebelum itu ia pun masih terus mencium bayi Athena bertubi-tubi, hingga bayi Athena mulai merengek karena tak nyaman.
" good night, my princess " lirih George
******
DODODORDODODOR !!
suara keributan begitu terjadi di salah satu jalan X yang berada di pinggir kota dekat taman, entah apa yang terjadi hingga suara selongsong senjata begitu terdengar memekikkan telinga, para pengunjung yang sedang bersantai ria bersama dengan keluarganya dengan cepat berhamburan tak tentu arah.
suara jeritan saling bersaut-sautan hingga beberapa orang memilih menjauh dari arah sana, para security yang bertugas seketika panik kala beberapa orang lelaki bertubuh tegap membawa senjata api dengan mudah.
" Heii siapa kalian !! " teriak salah satu security disana dengan menunjuk lelaki itu kasar.
DORR !!
AGHHH
lelaki asing itu menembakkan pelurunya kearah security hingga pria itu tergeletak tak sadarkan diri dengan bersimbah darah. Para pengunjung semakin berteriak histeris kala melihat insiden itu hingga sepuluh menit berlalu suara sirene polisi terdengar di tempat kejadian.
para penjahat dengan pintar telah melarikan diri sebelum para polisi itu berdatangan, para pihak berwajib menyelidiki kasus ini lebih lanjut bahkan satu korban dibawa ke rumah sakit terdekat.
rupanya keributan dan kerusuhan ini sampai terdengar di telinga anak buah king yang bertugas tak jauh dari area tersebut, dengan sigap mereka memberikan kabar ini kepada para petinggi king.
Markas utama.
" siapa lagi mereka ini " geram Thomas saat mendapatkan laporan tersebut dari anak buahnya.
" ada apa ? " tanya Greta duduk di kursi yang berhadapan dengan Thomas.
" entahlah kekacauan baru saja terjadi di jalan X dekat taman kota, Greta tolong kau retas cctv yang berada disana. Aku ingin melihat siapa mereka. " pinta Thomas dan Greta hanya mengangguk patuh lalu beranjak dan mengambil laptop canggih milik nya.
__ADS_1
Greta melakukan tugasnya dengan baik dan cepat terbukti hanya butuh waktu lima menit Greta sudah mendapatkan rekaman cctv yang sempat hilang itu, akan tetapi bukan Greta namanya jika tidak bisa memulihkan kembali rekaman cctv yang baru saja terhapus.
Thomas menatap dengan wajah serius didepan layar itu, begitupun dengan Greta. terlihat beberapa orang disana muncul dan langsung melesatkan pelurunya tak tentu arah.
Greta dan Thomas seketika saling pandang karena ini disebut sebuah penyerangan tak terduga yang melibatkan warga sipil, Thomas diam mematung saat salah satu petugas keamanan di tembak dengan sebuah peluru.
" apa yang terjadi ? " saut tiba-tiba Syina yang berada di belakang Thomas dan Greta, dengan matanya yang ikut menonton adegan itu.
" entahlah " jawab Thomas dengan mengedikkan bahunya tak tau. Syina terus melihat nya dengan seksama bahkan ia meminta Greta untuk memutar ulang rekaman tersebut.
" ckckck. Dasar para sampah " gerutu Syina lalu ia duduk di kursi yang berdampingan dengan Greta.
" apa kita akan diam saja ? " saut Greta dengan polos hingga Syina dan Thomas menatap Greta secara bersamaan.
" Tidak ! " ucap keduanya serempak.
" Aku yakin mereka masih berada di sekitar sana, entah apa maksud nya itu. " saut Thomas.
ketiga orang itu larut dalam fikirannya masing-masing, hingga suara deru mobil terdengar sangat nyaring di halaman markas utama.
Thomas dengan cepat melihat ke arah balkon dan menatap ke lantai bawah, mobil itu milik Dave akan tetapi apa yang terjadi. Thomas memilih untuk turun dan bertemu dengan Dave.
Greta dan Syina terperangah karena Thomas berlalu begitu saja, Dave masuk dengan langkah terburu-buru seperti seseorang yang di buru oleh waktu.
Thomas melihat Dave menuju ruang kendali, dengan cepat ia pun segera masuk ke dalam sana. Dave yang tau jika Thomas berada di belakangnya hanya membiarkan itu semua.
" Dave apa yang terjadi ? " saut Thomas bingung karena Dave sedang melihat keamanan sistem yang berada di bandara internasional Prancis.
" Tidak ada " suatu Dave santai akan tetapi Thomas merasa ada yang disembunyikan oleh Dave. Hingga mata Thomas menatap layar komputer yang menunjuk seorang pria berpakaian culun dengan kaca mata tebalnya dan topi hitamnya.
" Sial " umpat Dave kesal dan geram bahkan Thomas merasa bingung. " Berani sekali ia masuk ke wilayah king dengan menyamar. " geram Dave lagi.
" apa ? siapa yang kau maksud Dave ? " bingung Thomas akan tetapi Dave memilih diam.
" Apa kau sudah menerima informasi jika terjadi penembakan di jalan X dekat taman kota ? " tanya Dave tegas dan Thomas mengangguk mantap.
" Dave siapa pria yang kau tandai itu ? tanya Thomas penasaran.
" Salah satu orang yang berkomplot membunuh Macky pada kala itu. Ya aku sudah mencari orang ini sekian lama dan pada akhirnya ia datang dengan sebuah penyamaran. Chaiden ! lelaki itu pasti akan senang kala temanya datang ke negara ini " ucap Dave dan Thomas terkejut bukan main.
" Tapi bukankah Macky dibunuh oleh Chaiden ? lalu apa hubungannya dengan lelaki ini " ucap Thomas yang masih saja tak mengerti.
" entahlah, aku pun tak begitu paham. Kau ingat musuh kita banyak bukan sedikit jadi wajar jika mereka saling bersangkutan satu sama lain. Apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu disini ? apa ia datang untuk membebaskan Chaiden dan Chaiton ? jika benar tapi bagaimana ia tahu. " ucap Dave bergumam sendiri berusaha untuk menemukan jawaban yang simpel dari kejadian ini. Thomas Masih tak begitu paham ternyata kematian kakak nya masih saja menyimpan sebuah rahasia.
" Diandra " kata-kata itu lolos begitu saja di bibir Thomas dan Dave langsung menatap Thomas dengan dahi yang mengkerut.
" Diandra ? " ulang Dave lagi dan tanpa sadar Thomas mengangguk.
" Apa kau ingat jika Diandra pernah bercerita jika ia sangat takut untuk mengijak kan kakinya di prancis karena ia merasa seperti buronan oleh anak buah Chaiden. Apa jangan-jangan salah satu anak buah Chaiden telah menemukan keberadaan di Diandra ? " ucap Thomas dengan memijat pelipisnya pelan dan Dave merasa ucapan Thomas masuk akal dan patuh untuk di waspadai.
__ADS_1
Dave tak ingin mengambil tindakan gegabah yang akan mengancam keselamatan Diandra dan juga Malvin jika itu benar adanya. Tapi di satu sisi Dave pun masih ragu ia harus segera menyelesaikan kasus ini dengan cepat sebelum sang lady mengetahuinya dan berakhir sangat mengerikan.