
Disebuah markas yang sangat besar dan megah dengan puluhan pilar-pilar besar yang berdiri sangat kokoh dan kuat dengan banyak nya kaca-kaca tebal yang menjadi dinding bangunan. Ya bangunan itu sesaat seperti mansion tapi siapa sangka jika itu adalah sebuah markas.
Ya bangunan itu dinamakan
silver house karena keseluruhan bangunan itu mendominasi berwarna silver dengan halaman yang sangat luas mengitari bangunan itu.
Terlihat orang orang sedang berlalu lalang dengan mengerjakan pekerjaan nya masing masing. Bangunan itu di jaga sangat ketat oleh orang-orang terlatih yang mempunyai ilmu beladiri yang sangat mumpuni, berbagai cctv terletak di setiap sudut bangunan.
seorang pria matang berusia 31 tahun sedang menikmati pemandangan halaman belakang di markas, ditemani oleh seorang lelaki yang lebih muda dari usianya. Kedua lelaki itu adalah Diego dan Lucas.
" bagaimana apa kau sudah tau kemana perginya Wanita itu? " tanya Diego kepada Lucas.
" iya tuan, nona Valera pergi ke negara Indonesia dua tahun lalu dengan menggunakan identitas lain tuan." jawab Lucas tenang.
Diego hanya mengernyitkan dahinya nya dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celananya.
" lalu apa kau sudah mengetahui di daerah mana ia tinggal ?" tanya Diego lagi.
" dia tinggal di daerah J tuan " saut Lucas kepada tuan nya.
" kirimkan anak buah mu untuk mengawasi wanita itu! " dengan suara tegasnya.
" baiklah tuan " sopan Lucas.
" kita akan memulai balas dendam kepada mereka karena telah merenggut nyawa ayahku! " dengan suara bergetar menahan amarahnya.
Diego yang mengenang ayahnya tewas di tangan Valera tidak bisa melupakan kejadian itu dimana ayahnya dan dirinya di tahan di markas milik king. Mereka menyiksa nya tanpa ampun bahkan sampai merenggut nyawa ayahnya.
Diego dengan kondisi yang sudah babak belur walau tak separah ayahnya dilepaskan begitu saja oleh Valera. Karena Valera memberi kesempatan untuk memulai kehidupan baru untuk Diego karena telah membantu misi ayahnya itu yang merugikan pihak-pihak lain.
Tapi siapa sangka dendam muncul dalam hati Diego yang tidak menerima kenyataan bahwa ayahnya disebut seorang penghianat. Waktu itu Diego masih muda dan belum cukup mengerti dengan keadaan sehingga dendam menguasai dirinya tanpa tahu alasan yang sebenarnya.
aku akan membalas dendam ku padamu dan akan ku renggut nyawa orang-orang terdekat mu, kita lihat saja sejauh mana kau melindungi orang-orang mu itu wanita sialan. geram Diego
*********
Hari ini Valera akan berkunjung kerumah Maya sudah lama sekali dia tidak menemui ibu dan adiknya Maya, bahkan Aldo sangat dekat dengan valera.
Rumah Maya berada di kawasan T dengan bangunan berlantai dua berwana kalem. Valera pun menekan bel di samping kanannya setelah beberapa kali memencet bel munculah wajah lelaki remaja di balik pintu itu.
__ADS_1
" kak Val " dengan senyum manis ala remaja Aldo menyapa Valera.
" ibumu ada ? " tanya Valera sambil merangkul pundak Aldo.
" ibu ada kak, tapi kak Maya belum pulang " sambil melangkah kan kakinya bersama dengan Valera ke arah ruang tamu berwana abu.
" sebentar kak aku panggilkan dulu mamah " sambil beranjak dan pergi ke kamar ibunya itu.
Tak lama keluarlah seorang wanita paruh baya yang seusia tak jauh beda dengan ibunya nyonya Sofia, dia menyambut hangat dengan senyuman lebar di wajahnya.
" nak, sudah lama kau tidak berkunjung kesini, ibu jadi rindu padamu. " bicara lembut nyonya Ana.
" iya Bu maaf, karena aku banyak pekerjaan yang harusnya aku selesaikan." dengan nada lembut dan nyonya Ana pun mengangguk paham, untuk seorang wanita karir tentunya sangat sibuk dan harus membagi waktu belum lagi usahanya sudah terkenal di pelosok negeri ini bahkan butiknya menjadi buruan para ibu-ibu maupun anak muda
tak lama suara deru mobil terdengar dihalaman ruma.
itu pasti Maya . batin Valera
Maya yang berjalan dengan lunglai sambil menekuk wajahnya berlipat-lipat terlihat sedang menggerutu membuat Valera heran dengan tingkah temannya itu.
" Maya " saut Valera membuat Maya menoleh.
" belum lama " singkat nya .
Maya dan Valera langsung naik ke lantai dua karena kamar Maya berada di lantai atas, sama dengan Aldo yang kamarnya terletak di lantai atas samping kanan, berbeda dengan sang ibu nyonya Ana memilih kamar di bagian lantai dasar, setelah sampai di kamar Maya yang bernuansa violet Maya langsung melepaskan tasnya ke atas ranjang.
PYUHHHHH
" kau kenapa? " selidik Valera sambil mendudukkan bokong nya di sisi ranjang dan matanya menatap ponsel.
" aku mempunyai bos yang sangat menyebalkan bagiku, belum lagi beberapa karyawan wanita menatap sinis kepadaku, seolah-olah aku ini menggoda seorang Presdir " gerutu Maya yang tak hentinya hentinya meruntuki orang-orang itu membuat Valera tertawa sangat keras.
" apa yang kau tertawa kan ?" delik Maya
" aku kira kau kenapa " sambil masih tertawa walaupun tak sekencang tadi.
" kau kira ini lucu? huh! " kesal Maya sambil melempar bantal kepada Valera dan hanya dibalas gelak tawa renyah keduanya.
" mungkin itu namanya jodoh yang tak terduga." lagi lagi Valera menambah kekesalan Maya hingga teman nya itu semakin menatap dengan nya kesal.
__ADS_1
" tidak! Pria itu sangat aneh bahkan aku sudah lama bekerja di perusahaan nya dia baru tahu nama ku kemarin. Bukan kah itu sangat menyebalkan " oceh Maya lagi dengan memijat pelipis nya pelan.
" sudahlah jangan terlalu difikirkan " ucap Valera dan Maya pun hanya mengangguk pelan. " Maya bagaimana jika kita berencana untuk berlibur di akhir pekan mungkin kita bisa membawa Aldo ikut serta. a
Agar dia tidak merasa bosan dirumah huhh dia seorang lelaki tapi selalu dirumah " sambil menatap layar ponsel untuk mencari destinasi wisata yang akan mereka kunjungi nanti.
" wahh seperti nya sangat menyenangkan
Kita sudah lama tidak berlibur bersama " ucap Maya lagi senang sambil melompat lompat tak karuan membuat Valera menggeleng pelan kepalanya, hingga pembicaraan mereka terganggu karena seseorang mengetuk pintu.
Tok..Tok..Tok..
" kak makan malam sudah siap. Ayo kita ke bawah mamah sudah menunggu " teriak Aldo memberitahu.
" ya tunggu sebentar!" ucap Maya yang ikut berteriak.
Valera dan Maya segera turun ke bawah untuk makan malam bersama terlihat beberapa menu rumahan sudah tersaji dan tersusun rapi.
Sekilas Valera teringat akan kebersamaan dengan keluarganya di Perancis. Bohong jika Valera tidak merindukan suasana di meja makan seperti ini, namun apa boleh buat jika waktunya belum juga tiba.
" Valera ayo kita makan malam bersama " ucap wanita paruh baya itu dengan penuh kelembutan layaknya seorang ibu kepada putrinya dan Valera pun hanya mengangguk dan menurut saja.
setelah makan malam usai mereka berempat pergi keruang keluarga untuk bersantai bersama di ruangan yang tidak terlalu besar, terdapat sofa empuk berbetuk persegi dengan beberapa pajangan serta photo keluarga Maya yang menghiasi dinding berwarna cream.
" mah kami berencana untuk pergi berlibur di akhir pekan " ucap Maya bersuara seraya memberi tahukan nya kepada sang ibu.
" pergilah kalian kan butuh hiburan " saut ibunya lembut dan penuh pengertian.
" Aldo apa kau mau ikut? " tawar Maya kepada adiknya seketika mata adiknya berbinar, dirinya ingin sekali ikut berlibur bersama kakak nya itu tapi selalu saja ditolak dengan alasan adiknya itu masih terlalu kecil.
" benarkah aku boleh ikut? " ucap aldo lagi memastikan, dan Maya pun hanya mengangguk membenarkan. Aldo tampak kegirangan mendengar nya walaupun Aldo seorang lelaki dirinya tidak pernah diijinkan ibunya pergi berlibur bersama teman sebaya nya.
ibunya takut Aldo terjerumus pergaulan yang tidak baik. Aldo pun hanya diam ketika ibunya bersikap seperti itu beda dengan kakak perempuan nya ibunya selalu mengijinkan Maya untuk pergi berlibur karena usianya sudah dewasa dan tentu saja Maya bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak baik. Apalagi dirinya sudah bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri.
Akhirnya Valera dan Maya memutuskan untuk berlibur di pulau Dewata Bali karena wilayah itu sangat ramai pengunjung dalam negeri maupun luar negeri.
tentu saja Maya dan Aldo segera mempersiapkan barang keperluan mereka yang akan dibawa dan kebetulan mereka akan berlibur tiga hari saja.
Valera terlihat sudah mempersiapkan semuanya bukan hotel melainkan sebuah villa yang cukup besar dan mewah yang Valera sewa, mengingat Aldo ikut berlibur bersama jadi Valera memutuskan untuk menyewa villa saja ketimbang hotel.
__ADS_1