
Valera dan Prada sedang mengemasi barang barang pribadi milik George di mulai dari pakaian, mainan, dan berbagai buku cerita dan lainnya.
sedangkan Remigio bersama George dan Riley di taman belakang, itu menjadi spot favorite George karena itu terhubung langsung dengan pemandangan alam disekitar walaupun dibatasi dengan dinding kawat yang mempunyai daya jika diaktifkan. Remigio pun sudah tampak akrab dengan George, begitupun dengan George sebaliknya
kebersamaan mereka tak luput dari pengawasan b.woman kelima wanita tangguh yang selalu mengikuti pertumbuhan Goerge dari bayi sampai saat ini.
" kau lihat lah mereka persis seperti ayah dan anak " ucap wanita yang disebut L kepada keempat wanita lainnya
" kau benar, semoga saja George betah tinggal bersama Valera disana " ucap A menimpali
banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak Remigio tentang tempat ini, tentang mansion yang tepat berada di belakang yang tak kalah megah seperti istana, tentang bagaimana bisa Valera mempunyai wewenang penuh akan wilayah yang sangat terisolasi. Kejutan apalagi yang akan diberikan oleh kekasihnya itu, Tak hanya itu Remigio pun sampai terbelalak melihat pesawat dan puluhan helipad yang terjejer rapi di landasan Lamora dengan berlambang VH
" kau sungguh kejutan sweatheart, kau jauh dari fikiran ku " batin Remigio
" papi " ucap George yang membuyarkan lamunan Remigio
" ada apa George ?" ucap remigio lembut sembari mengelus kepala anak lelaki itu
" mami bilang kita akan pergi " ucap George polosnya, sesaat Remigio pun terpukau akan pesona Goerge. Kulit putihnya, wajah tampannya, rambut tebal nya, alis yang melengkung sempurna, mata birunya membuat Remigio tersihir seketika
" papi " Suara George menghentak lamunan Remigio
" ehh..George kau berbicara apa?" tanya Remigio lagi
" papi kenapa, apa kau sedang melamun " tanya George yang masih menatap Remigio
" tidak, papi tidak melamun sekarang ayo kita temui mami " ucap remigio lagi sembari menuntun jadmri kecil George
tampak beberapa pengawal membatu Valera memasuki barang barang milik George ke dalam mobil, George hanya diam saja melihat mereka .
hari ini mereka akan kembali, mengingat pekerjaan Remigio dan juga Valera tidak bisa di tinggalkan dengan begitu lama. Prada sang pengasuh pun akan ikut bersama Valera untuk tetap menjaga George di sana.
Valera membawa George untuk memakai kan mantelnya, tampak prada sudah bersiap begitupun dengan Valera dan Remigio dan Riley sudah berada di samping George. tiga buah mobil Phoenix mengiringi dan mengantar kepergian majikannya. Mengingat kejadian kemarin para penyusup kembali memasuki kawasan Lamora. Demi menjaga keselamatan nona dan juga tuan kecilnya
para b.woman saling memberikan pelukan terakhirnya untuk George ada rasa tak rela dalam diri Mereka karena akan kehilangan pria kecil yang selalu meramaikan suasana mansion di Lamora
" George ingat perkataan aunty, jadilah anak baik dan tidak boleh menyusahkan mami mu " ucap C dengan gemasnya dan George pun mengangguk patuh lalu Goerge memberikan sebuah kecupan di pipi C
setelah selesai dengan acara salam perpisahan yang dilakukan oleh para wanita tangguh, kini mobil milik remigio melaju dengan kecepatan sedang dan diikuti oleh rombongan Phoenix yang mengawalinya
George duduk di kursi belakang bersama Prada dan Riley, George dengan antusias menatap luar jendela begitupun dengan Riley mereka seperti mempunyai ikatan batin satu sama lain.
siang ini cuaca begitu sangat panas tidak seperti biasanya. bahkan dedaunan terlihat sangat kering dan terdapat hembusan angin yang begitu kuat.
baru saja satu jam menikmati perjalanan sebuah mobil berwarna putih menghalangi jalan mereka dengan posisi tegak melurus, tentu saja Remigio kaget akan hal itu lalu dia dengan cepat menginjak rem nya dalam dalam sampai suara mobil itu berdecit
CHITTTT
DUAKKK
sebuah mobil yang berada di belakangnya tak sengaja menabrak mobil milik remigio, mereka pun sama sama terkejut. Remigio tampak begitu dan mengumpatnya
" sial, selalu saja seperti ini " gerutu Valera
" sweatheart, dibawah jok mu aku menyimpan banyak senjata kita bisa menggunakan nya " ucap remigio santai dengan cepat Valera menyiapkan senjata lengkap dengan pelurunya tanpa mau bertanya kepada Remigio.
para penghadang menatap mobil Remigio dengan tajam, mereka semua berbadan sangat tegap dan berisi, aneh nya mereka hanya berlima tapi Berani sekali mereka menghadang jalan sang ratu predator.
para Phoenix tidak ingin memberi kesempatan hidup tanpa harus bernegosiasi untuk mereka yang sudah berani menghadang jalan ratunya, lalu
DORRR DORRRR DORRRR
para Phoenix menghujani tembakan ke arah mereka, tapi mereka menghindar dan bersembunyi dibalik mobil. George menjerit seketika membuat Valera tersentak dan melupakan keberadaan George. untung saja Prada mendekap nya dengan sangat erat dan Riley pun tampak mengaum dengan suara besarnya menandakan ia sangat tak nyaman
DORRR DORRRRR
suara tembakan semakin menggelegar, Remigio yang kesal akhirnya ikut menembak ke arah para ke penghadang dengan cepat Remigio menarik pelatuknya dan membukanya kaca mobilnya.
DORRR DORRRR
dua orang tewas ketika karena tembakan dari Remigio tepat mengenai kepalanya, melihat kedua kawannya sudah tewas mereka gemetaran dan ingin melarikan diri tapi naas para Phoenix menembak kaki mereka satu demi satu dan akhir nya mereka tersungkur tak berdaya
" remi, kita harus cepat ! aku tidak bisa bergerak karena disini ada George aku takut dia akan melihat semuanya " ucap Valera dengan sedikit panik, ini bukan waktu yang cukup tepat untuk aksi balas membalas karena keberadaan George yang terlihat sangat ketakutan dengan menutup kedua telinganya.
para Phoenix menangkap orang yang masih tersisa dan meringkus nya untuk dimasukan kedalam mobil,setelah itu mereka akan menjadi tawanan baru di Lamora .
Valera turun sebentar untuk menghampiri para Phoenix dan memberikan merak titah
__ADS_1
" kalian, kembali lah menuju Lamora,cukup sampai disini kalian mengawal Ku, bawa dan kurung mereka " ucap Valera dengan nada yang tidak ingin dibantah dan mereka pun mengangguk patuh
Valera dan Remigio segera melanjutkan perjalannya, terlihat George masih shock dan kini sudah berpindah dalam dekapan Valera
" George, tenang lah tidak terjadi apa apa " ucap Valera sembari mengelus punggung George dengan sangat lembut
" mami aku takut " ucap George dengan suara gemetaran nya dan memejamkan kedua matanya
" tidak kau jangan takut, ada mami disini " ucap Valera lagi dan detik kemudian George sudah tenang kembali karena dekapan hangat Valera seakan naluri seorang ibu menuntun nya dalam sebuah dekapan
" shitt, berani sekali mereka menghadang jalan ku, . batin Valera geram
" sweatheart, siapa mereka " kini Remigio bersuara
" entah lan Remi aku belum memastikan, tapi mereka berwajah Asia " bingung Valera yang sedang memikirkan sesuatu, " apa jangan jangan mereka mafia Hongkong, anak buah Ben " ucap Valera dengan terkejutnya
" maksud mu " tanya Remigio yang tak kalah bingung nya
" aku baru ingat Diego memberi tahuku bahwa mafia Hongkong telah bergerak untuk mencari Ben di negara ini, apa mungkin mereka " gumam Valera menerka nerka dengan dahi berkerut, Remigio menggenggam satu tangan Valera dengan sangat erat seolah olah mengatakan semuanya akan baik baik saja .
" jangan terlalu difikirkan, jika kau butuh batuan aku siap membantu mu sweatheart, musuh mu musuhku juga, Ingat itu dan cerna baik baik sweatheart, aku tidak akan membiarkan dirimu terluka " ucap remigio dengan penuh penekanan dan Valera pun mengangguk patuh lalu tersenyum kemudian.
mobil milik remigio telah sampai di pelataran rumah mewah. George menatap kagum akan bangunan yang berada di hadapannya
lalu mereka turun dan berjalan beriringan beserta Riley, sontak para pengawal panik dan langsung menodongkan senjatanya, George yang panik langsung berteriak dengan lantang nya
" jangan pernah mencoba kalian membunuhnya " pekik George lantang sontak membuat Valera terkejut, tidak biasanya George bersikap seperti ini. Lalu Valera menyuruh para pangawal nya untuk menurunkan senjatanya, Valera masih tertegun darimana George mengetahui kata membunuh ??
mereka telah memasuki ruangan besar dan megah para pelayan yang melihat nona mudanya membawa seorang anak kecil mulai bertanya tanya,
" dimana papah dan mamah " tanya Valera ke seorang pelayan
" mereka sedang didalam kamarnya nona " ucap pelayanan itu sopan
" tolong panggilan " titah Valera lagi, Remigio dan George sudah duduk di sofa yang tersedia dengan Riley yang duduk dengan manis nya disebuah karpet, Valera hanya tersenyum melihatnya, sampai ketika suara teriakan terdengar menggema yang berasal dari ibunya
" Vale, serigala ? " pekik ibunya panik, dan tak lama kemudian ayah nya keluar dan juga tak kalah panik
Valera
" dia Riley, Tenang lah" ucap santai, Lalu ibu dan ayahnya segera duduk di sofa dengan setenang mungkin walaupun masih ada perasaan takut menyelimuti hati mereka bagaimana tidak takut seekor serigala putih berukuran saat besar ada dihadapan mereka
" sweatheart," ucap remigio berbisik pelan
" kenapa? apa ucapan ku salah ? " polos Valera lagi semabari menatap Remigio dan detik kemudian pandangan nya beralih menatap kedua orang tuanya
" mah pah " saut Valera lagi, detik kemudian nyonya sofhia tersenyum lebar
" kau sungguh tampan nak, terutama matamu " ucap nyonya sofhia lagi
Valera haha menghela nafas nya bersender kepada penyangga sofa
" mami, mereka siapa ? tanya George dengan polosnya, Valera sangat bingung harus memanggil apa kepada orang tuanya, tuan ramius yang mengerti kebingungan putrinya segera berbicara
" panggil aku kakek, dan ini nenek " ucap tuan ramius dengan lembut sembari tersenyum George pun membalasnya dengan tersenyum.
*****
di markas utama Dave sudah mengumpulkan berkas berkas orang yang dicurigai nya bekerja sama dengan Peter, dibantu oleh pram orang tentunya.
Dave pun segera menandai orang orang itu ada rasa tak percaya yang terselip dalam hatinya, sebagian orang yang dicurigai nya pembelot adalah orang yang selalu berkerja dengan kompeten, anti dengan penghianatan tapi apa nyata nya semuanya berbanding terbalik.
ponsel Dave berdering, tanpa melihat siapa yang menghubunginya Dave langsung menekan tombol hijau untuk mengangkatnya
" Hallo " ucap Dave dengan nada malas nya
" (.........) "
" baik nona " seketika Dave seperti mempunyai kekuatan penuh setelah mendengar suara nona nya,
" (.........) "
" baik nona, aku akan menemui nya " ucap Dave lagi, panggilan itu pun berakhir.
Dave segera menyambar kunci mobilnya, jaket dan tak lupa senjata api kesayangan nya
lalu ia bergegas keluar dengan langkah tegasnya,
__ADS_1
Dave akan menemui Lucas dan Diego di restoran C sesuai dengan instruksi nona nya, restoran itu lumayan jauh dari markas.
Dave mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata, mobil mewah berwarna hitam dengan jenis Porche melenggang di kawasan kota jantung nya Paris yang cukup terkenal.
Dave pun telah sampai di restoran itu, bangunan nya cukup besar dan luas, sangat ramai itulah kata yang muncul dalam hati Dave.
Dave segera memakai topi serta kacamata nya yang selalu tersimpan rapi di dashboard mobilnya, lalu dengan langkah elegan ia segera memasuki restoran itu, para pelayan dengan sigap melayani dave dengan baik.
lalu tak lama Valera menghubungi Dave Kembali, dan ia menyuruh Dave bersabar menunggu kerana Diego masih dalam perjalanan, dan Dave pun tak keberatan .
Dave melihat keadaan sekitar restoran ini, semuanya cukup baik tidak ada masalah atau hal lainnya sampai mata Dave menangkap sosok lelaki seperti sedang mengintai restoran milik Diego, gerak gerik lelaki itu sangat mencurigakan dengan sebatang rokok yang terselip di celah jemarinya, lalu terdapat tato besar di bagaian otot lengannya.
tak lama Dave di kejutkan dengan suara lelaki yang cukup asing di telinga nya
" selamat datang Dave " ucap lelaki itu senantiasa menarik kursi dihadapannya, Dave hanya memicingkan satu matanya
" tuan Diego " ucap Dave pelan tapi masih bisa dengar oleh Diego, dan ia hanya tersenyum samar
sedari dulu Dave tidak menyukai diego. Ya karena Diego salah satu musuh king. yang selalu berselisih dan menaruh dendam pada nona nya
" kau sudah tahu kedatangan ku kemari, jadi cepat katakan yang kau ketahui karena aku masih banyak urusan yang belum aku selesaikan " ucap Dave dengan wajah datarnya dan Diego pun menatap Dave dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan lalu detik kemudian diego tersenyum tipis
" baiklah, tapi ku rasa tidak disini kita berbicara, ikutlah keruagan ku karena disini tidak nyaman " ucap Diego lagi yang beranjak dari kursi dan diikuti oleh Dave tanpa berkata sepatah pun
kalau bukan karena nona nya, ia tidak ingin bertemu atau berurusan dengan Diego, tapi karena kesetiaan dan pengabdian nya pada Valera ia rela melakukan apa saja untuk sang nona nya.
kini keduanya di ruangan Diego yang tampak sederhana dan klasik Diego menyuruh Dave untuk duduk
" sekarang katakan " ucap Dave yang terlihat tidak sabar, Diego hanya mendengus kesal karena sikap tak sabaran Dave
" mereka saat ini ada di kota piana, " ucap Diego lagi, Dave hanya menyimak mendengarkan
" kau tidak sedang membohongiku ?" ucap Dave menatap tajam.
" tidak, aku sedang tidak berbohong ! jika aku berbohong kau boleh membunuhku. " ucap Diego dengan mantap sembari menatap lekat lekat wajah Dave,
" baiklah, lalu " lanjut Dave lagi
" piana menjadi kota yang pernah disinggahi Ben waktu dulu, tempatnya tak jauh dari tempat wiasata disana dan Ben juga mempunyai pengikutnya dari kalangan preman dan berandalan dikota itu, mereka semua berada di bawah kendali Ben, Aku tidak tahu menahu awal mula nya seperti apa. Kemungkinan besar anak buah Ben yang berasal dari Hongkong akan bekerja sama dengan mereka yang disini " ucap Diego serius
" hanya segelintir debu yang ingin mencoba melawan kami, mereka hanya bermimpi " ucap Dave dengan tajam
" tapi kau jangan salah Dave, mereka sangat licin terutama Asnee dia orang yang paling kuat dari yang lain nya, " lanjut Diego lagi, dan Dave pun mengangguk paham setelah semuanya dirasa cukup Dave mengundurkan diri dengan sangat sopan ya walaupun dengan terpaksa dan Diego pun membalasnya dengan tersenyum tipis
Dave segera melakukan mobilnya menuju kediaman utama keluarga harson untuk bertemu dengan nona nya.
para pengawal yang sudah mengetahui Dave segera membuka kan gerbang lalu membungkuk hormat pertanda Dave orang yang berpangkat tinggi dalam jajaran king
" katakan pada nona muda, aku menunggunya disini " ucap Dave dengan datar kepada salah satu pengawal yang masih muda
Dave menduduk kan dirinya di sofa yang ia biasa tempati jika ingin bertamu ke rumah rumah mewah dan megah keluarga harson
terlihat vyan baru saja sampai di rumah utama lalu vyan dan Dave saling menyapa dan tersenyum ramah
Valera berjalan bersama Remigio secara beriringan membuat Dave dan vyan mengerutkan dahinya mereka tidak mengetahui keberadaan pemilih Adomson Crop's Disni
" nona tuan " sapa Dave dengan ramah dan sopan
" duduklah " ucap valera datar, vyan yang merasa ada pembicaraan penting mengangguk dirinya untuk ikut bergabung. Kini mereka sudah siap mendengar penjelasan dari Dave.
" bagaimana " ucap Valera lagi dengan menyilang kan kakinya
" mereka berada di kota piana nona, tuan Diego mengatakan jika tuan Ben mempunyai pengikutnya di kota tersebut kemungkinan besar mereka akan berkerja sama " jelas Dave dengan sikap tenang nya, Valera mendengarkan nya dengan seksama, Remigio pun hanya diam tanpa ikut berbicara berbeda dengan vyan ia terlihat bingung
" bersiaplah kita pergi dua hari lagi, kumpulkan dan kau persiapkan 200 pasukan, kita akan menyerang meraka tanpa ampun. Aku sudah tidak sabar ingin memberantas mereka " ucap Valera dengan wajah dinginnya
Dave hanya
" baik nona " ucap Dave mengangguk patuh
" sweatheart, aku akan menemani mu " ucap remigio dengan tegasnya ia tidak akan membiarkan kekasihnya pergi tanpa dirinya, Valera pun mengangguk tanda membolehkan Remigio untuk pergi dengan nya menjalankan misi
" apa perlu aku membantu mu Vale " ucap vyan yang menawarkan diri
" tidak kak, aku berharap kakak tetap disini, " ucap Valera dengan penuh harap dan vyan pun menuruti permintaan adiknya
Dave segera mengundurkan diri untuk mempersiapkan pasukan dan alat persenjataan untuk menyerang ke wilayah piana. Begitu pun dengan Remigio ia harus mempersiapkan dirinya untuk ikut misi bersama sang kekasihnya
__ADS_1
Valera harus menitipkan George sementara kepada ibunya selama ia pergi, tentu saja ibunya tak berkeberatan dan George pun sangat cepat bersosialisasi membuat Valera tidak begitu kerepotan.