
satu bulan sudah berlalu, semuanya masih berjalan dengan sama aman dan terkendali bahkan Valera bisa bernafas lega karena tidak ada lagi para penghianat yang menggerogoti king secara perlahan-lahan, mereka semua telah di hukum dan kematian adalah jalan terbaik.
valera menikmati waktunya dengan meminum teh Jasmine kesukaan nya sembari membaca berita terkini, dengan sebuah tablet yang bergerak dengan sendirinya.
dering ponsel Valera membuat si mpunya mengalihkan pandangannya sesaat, dan tenyata salah satu bodyguard bayangan milik George, Valera mengerutkan dahinya seketika.
" ada apa ? " tanya datar Valera, dan orang itu memberi kabar jika George dan juga Asnee berserta anak buah yang lainnya sedang ditahan oleh seseorang saat mereka hendak pulang menuju Gold mansion, tentu saja Valera terkejut bukan main akan tetapi orang itu mengatakan jika tidak ada hal yang mencurigakan hanya saja seorang pria tiba-tiba memeluk tuan muda George.
Jantung Valera berdebar tak karuan apa kemungkinan orang yang dulu di sekap dan di interogasi oleh Valera kembali dengan membawa seseorang bersamanya ? Lettan ? Ya Valera masih ingat pria itu.
tanpa fikir panjang Valera segera menuju titik lokasi yang dikirimkan oleh anak buahnya, tanpa basa-basi lagi Valera melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal karena titik lokasi George dengan jarak Gold Mansion tidak terlalu jauh.
fikirannya menerawang jauh dan jantungnya berdebar tak karuan, apa kemungkinan orang itu adalah orang tua kandungnya ? banyak sekali pikiran-pikiran aneh yang hinggap begitu saja di kepala Valera, hingga mobil Valera telah sampai di titik tertentu tapi ia tak melihat siapapun disana.
" kosong ? dimana mereka ? " gumam Valera hingga suara dering ponsel terdengar lagi dengan cepat Valera mengangkatnya, dan benar saja orang itu memberi tahu jika George dan lain nya memasuki sebuah restoran mewah dan memesan sebuah ruangan VIP khusus agar tak ada yang menganggu, Valera mengangguk paham. tanpa basa-basi Valera segera memakirkan mobilnya dengan asal Hingga petugas yang berjaga kebingungan dan hendak menegur akan tetapi di urungkan saat Valera keluar dengan sorot mata yang tajam membuat orang itu menunduk gugup.
valera segera mencari nomor ruangan tersebut dan tenyata berada di lantai empat bangunan ini, entah mengapa perasaan Valera sangat tenang dan tak menunjukkan rasa gelisah sedikit pun, hanya sana jantungnya sungguh tak bisa diajak kompromi. Hingga Valera berdiri tepat di sebuah ruangan bernomor unik 111.
BRAKKKKKK
valera membuka pintu itu dengan kasar hingga matanya menatap satu per satu orang yang berada didalamnya,
" mamih " pekik George berlari menuju Valera dan Valera segera memeluknya dengan erat. pemandangan itu semua tak luput dari tatapan semua orang. Asnee dan juga anak buahnya hanya bisa menunduk ternyata orang-orang asing itu membawa banyak sekali anak buah termasuk Lettan.
sebuah senyum tipis terukir diwajahnya Valera terkekeh melihatnya semuanya, lalu Valera melihat makan siang yang disediakan dengan rapi diatas meja.
" kau belum makan ? " tanya Valera lembut dan George menggeleng pelan.
" aku tidak mau, mereka orang asing aku takut jika makanan itu diracuni sesuatu " celetuk George membuat semua orang tercengang tapi tidak dengan Valera ia hanya tersenyum, lalu Valera menuntun tangan kecil George dan duduk kembali di kursinya.
__ADS_1
mata Valera bertatapan dengan seorang lelaki berparas tampan bermata biru layaknya mata milik George, kulitnya yang putih bahkan wajahnya ditumbuhi sedikit rambut disana. lelaki itu berpakaian formal dan terkesan elegan bahkan Valera bisa melihat lambang sesuatu yang diselipkan diantara jas miliknya.
" maaf nona, jika kedatangan kami mengganggu " ucap Lettan dan Valera melirik kearahnya dengan tatapan datar. Hingga Valera duduk tanpa dipersilahkan. Tatapan nya tajam menyorot orang-orang asing itu dengan tatapan intimidasinya. " tuan muda belum makan, kami sudah membujuknya tapi ia tetap menolak " ucap Lettan lagi.
" aku tidak mau, kalian orang asing " ucap George menatap Lettan dengan tatapan tajam sehingga membuat Valera sedikit terkejut " aku lebih baik makan masakan mamih pasti di mansion makanan itu sudah tersiap saji " ucap George lagi dan Lettan menuduk kan wajahnya saja.
seorang lelaki yang yang kini duduk berhadapan dengan Valera menatap intens Valera seperti sedang mengulik sesuatu bahkan perkataan George sedikit menggelitiknya.
" baiklah, kau akan mendapatkan nya mamih sudah menunggu mu sedari tadi, dan ternyata kau berada di sini. Pulanglah bersama dengan paman Asnee dan yang lainya tunggu mamih di mansion karena masih ingin berbicara dengan paman-paman ini " lembut Valera dan George seketika menatap orang-orang asing itu.
" baiklah, jangan terlalu lama " patuh George lalu mengecup singkat pipi Valera setelah itu Asnee dan lainnya menunduk penuh hormat sebelum mereka pergi dan Valera hanya mengangguk kecil kalau memandangi kepergian George hingga tubuh kecil itu hilang dibalik pintu.
suasana mendadak hening bahkan Valera menatap datar tidak ada sorot mata lembutnya dan kini tatapannya seolah siap menghujam siapapun.
" maaf jika saya lancang nona, perkenalkan nama saya Hans Maxwell " ramah lelaki itu dan Valera sesaat terdiam seperti memikirkan sesuatu, Mata lelaki itu menatap sejenak wajah Valera dan menelusuri apa yang sedang Valera fikirkan.
" valera Harson " singkat Valera dan lelaki itu mengangguk kecil. " jadi jelaskan padaku tentang apa yang kau lakukan tuan ? kau menahan putra dan orang-orang ku disini " tajam Valera dan lelaki itu hanya tersenyum saja.
" kau sedang berbicara apa tuan Hans ? " ucap Valera dan lelaki itu hanya diam saja lalu Lettan mencoba untuk berbicara akan tetapi Valera mengangkat tangannya keatas tanda Lettan untuk diam. " apa kau tidak punya etika dalam bertindak ! kau membawa putraku begitu saja. Jika benar kau lelaki bangsawan maka seharusnya kau tau apa yang kau lakukan. " tandas Valera menatap tajam kearah lelaki yang mengaku ayah biologis dari George.
orang-orang yang berada disana tertegun dengan perkataan Valera yang menurut mereka sangat tidak sopan pasalnya tidak ada seorang pun yang berani berbicara kurang ajar terhadap tuan nya ini.
" baiklah sekali lagi maafkan aku nona " ucap lelaki itu dengan berwibawa dan Valera diam saja matanya tak lepas dari simbol yang tertempel di jas milik lelaki itu. " aku yakin dia putraku yang hilang, dan dia bukan putramu. " ucap lelaki itu lagi dan Valera hanya menyunggingkan senyumannya " jadi ceritakan padaku bagaimana awal pertama kau menemukan bayi ku yang hilang " tandas lelaki itu lagi dan Valera merasa tidak suka akan ucapan lelaki itu.
Lettan merasa suasana berubah menjadi dingin saat sorot mata tajam Valera siap menghujam orang-orang sekitarnya. Lettan cukup menciut saat mendapatkan beberapa pukulan dari Valera beberapa bulan yang lalu.
BRAKKKKKK
valera menggebrak meja dengan sangat keras, nafasnya menderu begitu saja, lelaki itu menatap Valera dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
" berani sekali kau berbicara seperti itu tuan Hans yang terhormat ! aku tak perduli jika kau benar-benar ayah dari George ! dan ingat George tetap putraku. Jaga sikap kebangsawanan mu tuan Hans. Jika kau bertindak nekat aku tak akan segan kepadamu bahkan membuat mu tak bisa keluar dari sini selangkah pun. Tapi Jika kau datang baik-baik kepadaku maka aku dengan senang hati akan menceritakan keseluruhannya tanpa terkecuali. " ucap Valera datar.
" lalu berikan alamat mu biar aku yang akan mengunjungi mansion mu untuk membahas ini " tenang lelaki itu dan Valera segera mengeluarkan sebuah kertas dan pulpen lalu mulai menulis nya dengan cepat dan teliti
" silahkan temui aku esok pagi jam 10 Selebihnya aku tak bisa " tegas Valera dan lelaki itu mengangguk patuh. " baiklah jika begitu aku permisi " ucap Valera lagi lalu muslim melangkah keluar dari ruangan itu tapi sebelum ia menggapai pintu lelaki itu berkata dan membuat langkahnya terhenti.
" terimakasih karena kau telah merawat putraku dengan tulus " lirih lelaki itu dan Valera hanya mendengarnya tanpa mau menoleh lalu berlalu pergi.
*****
keesokan harinya seperti yang dijanjikan oleh Valera tepat pada pukul sepuluh pagi kini orang-orang itu telah tiba di tempat yang Valera janjikan bersama dengan Remigio karena sebelumnya Valera membicarakan hal ini pada sang suami.
Lettan gugup setengah mati saat harus kembali menginjakkan kakinya ditempat yang menurutnya seram dan dingin. Markas utama king, ya kini mereka sedang berada di dalamnya.
orang-orang asing itu harus melewati pengamanan terlebih dahulu membuat mata biru milik lelaki itu memicingkan matanya seketika.
" selamat datang di markas king " ucap Valera datar sontak mata orang-orang asing itu melebar seketika saat nama king meluncur begitu saja di bibir Valera. Lettan menganggukkan kepalanya mantap saat tatapan tuannya tertuju pada nya. " ternyata kau orang yang tepat waktu tuan Hans tepat jam sepuluh kalian datang ke tempat ku ini. Baiklah mari kita bahas masalah ini dengan tuntas dan tak terlewatkan. " ucap Valera dan Hans Maxwell mengangguk mantap. " jadi apa yang membuat tuan Hans berfikir jika anak lelaki yang bernama George yang tak lain putraku kau anggap sebagai putramu yang hilang dulu ? apa kau bisa menjelaskan nya ? selain tes DNA jalan terakhir nya " ucap Valera tanpa basa-basi
" wajah nya ! mata biru miliknya dan tentu saja kharisma dan paras yang dimiliki George benar-benar mirip dengan ku ayahnya. aku yakin kau bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat kesamaan dari kami bukan ? dan juga warna kulitnya putih bersinar saat cahaya matahari menyinari kulitnya " ucap Hans Maxwell penuh percaya diri sesaat Valera memikirkan ucapan dari lelaki asing dihadapannya kini dan itu semua benar adanya mereka benar-benar mirip tak ada perbedaan apapun.
" lalu ? " ucap Valera yang merasa tak puas akan jawaban dari lelaki itu.
" mantan mendiang istriku adalah seorang putri dari bangsawan China akan tetapi darah Yunani mengalir dalam tubuhnya. Putraku terlahir dengan sangat istimewa termasuk interaksi nya dengan para hewan seperti prediksi dan raamalan para leluhur kami, apakah George memiliki tanda lahir berwarna biru laut di punggung nya ? jika dilihat sangat jelas itu seperti sebuah simbol " jelas Lelaki itu lagi dan benar adanya George memiliki tanda itu dan sangat jelas serta kontras di kulitnya.
Remigio mengelus lembut punggung Valera ia tahu jika Valera belum siap untuk bertemu dengan keluarga George yang sesungguhnya dan bagaimana pun dari bayi George berada dibawah pengawasan nya.
Keterbungkaman Valera membuat lelaki bernama Hans Maxwell tersenyum senang bahkan matanya sedikit berkaca-kaca begitupun dengan Lettan yang senang melihat tuannya akhirnya menemukan tuan muda mereka yang hilang dulu.
" Aku menemukan George di hutan terlarang dengan seekor serigala putih yang mendampinginya saat itu. Lalu bagaimana mungkin bayi mu hilang sejauh itu tuan Hans ? " Picing Valera seakan ingin mengulik informasi lebih dalam lagi, dan sontak perkataan Valera membuat jantung lelaki itu berdebar tak karuan.
__ADS_1
" jadi bajingan itu menaruh bayiku sejauh ini, pantas saja aku tak menemukan jejak putraku dan ternyata ia berada ditempat yang cukup terpencil. Dan apa katamu ? seekor serigala putih ? " Picing Hans lagi dan Valera hanya menautkan kedua alisnya. " pada saat tragedi itu terjadi mendiang istriku mempunyai sepasang serigala putih dan benar salah satunya menghilang tepat saat bayiku hilang. Awal nya aku fikir dia sedang bermain disekitar mansion kami, tapi aku baru menyadarinya satu Minggu berlalu jika serigala jantan itu hilang seperti bayiku " lirih Hans lagi dan Valera memijat pelipisnya serta memejamkan matanya " kau bisa melakukan tes DNA seperti yang kau bilang, aku siap " tegas lelaki itu dan Valera mengangguk mantap.
hari sudah semakin siang dan hampir menjelang sore, Valera memutuskan untuk menuju Gold Mansion dan esok ia akan menyuruh seseorang untuk melakukan tes DNA lelaki itu pun terlihat siap dengan usul Valera dan ia pun sangat setuju, jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam Valera merasakan bimbang bukan main, bagaimana jika lelaki yang bernama Hans Maxwell mengambil George begitu saja. Valera hanya menerawang jauh dengan pandangan yang lurus kedepan. Remigio yang berada di sampingnya hanya bisa mengelus dan membisikkan kata-kata yang membuat Valera akhirnya tenang dan mengerti, hingga mobil mewah mereka telah sampai di gerbang utama Gold Mansion.