
Gold mansion
pagi-pagi sekali Valera sudah berperang dengan dapur mewahnya padahal sudah ada maid yang bertugas disana tetapi Valera tidak mau ia ingin menyiapkan sarapan pagi untuk hari ini
satu jam berkutat dengan segala alat dan bahan-bahan makanan lainnya akhirnya Valera menyelesaikan pekerjaan nya itu tak lama George turun beserta dengan Daniel dan Asnee Valera tersenyum melihatnya
" sarapan lah " seru Valera dan George Daniel langsung duduk dan menatap sarapan itu dengan mata berbinar sedangkan Asnee hanya berdiri mematung disana " kau tak ingin sarapan Asnee ? " tanya Valera memicingkan matanya
" saya tidak pantas nona, saya bisa sarapan nanti " ucap sopan Asnee dan Valera berdecak sebal
" sarapan lah tak perlu sungkan seperti itu, anggap aku kakak mu Asnee " ucap Valera datar dan Asnee tertegun seketika entah bagaimana ia mengambil sikap dan Asnee pun benar-benar sungkan dan malu akan kebaikan nonanya itu " duduklah " ucap Valera lagi dan Asnee mengangguk pelan
mereka sarapan dengan keadaan sunyi dan sontak hanya ada dentingan sendok yang terdengar seirama, George sudah menghabiskan satu gelas susu nya itu
" aku sudah selesai " saut George dan Valera tersenyum lalu mengangguk, lalu George menunggu Asnee di ruang tamu lantai dasar sembari menonton televisi sebelum berangkat sekolah
tinggal tersisa Daniel Valera dan Asnee, Valera hampir selesai dengan sarapannya begitupun dengan Daniel dan Asnee
" Asnee jaga George jika terjadi sesuatu atau hal yang mencurigakan segera hubungi aku dengan cepat " ucap tegas Valera dan Asnee mengangguk mantap
sepuluh menit berlalu Asnee dan George sudah meninggalkan gold mansion dengan mobil mewah milik Asnee sedangkan Daniel sedang duduk berhadapan dengan Valera
" Daniel, maaf jika aku menyinggung tragedi pembunuhan tentang keluargamu " ucap Valera menghembuskan nafasnya sesaat karena ia ingin tau reaksi Daniel dan Daniel hanya mengangguk saja dengan tatapan sendu nya " apa kau pernah melihat ciri-ciri orang yang membantai keluargamu saat itu ? " ucap Valera hati-hati dan seketika Daniel termenung dan hanyut dalam ingatan masa lalunya Valera hanya diam saja sembari menunggu jawaban dari Daniel
" tidak begitu jelas, yang aku tau mereka semua lelaki dan salah satu nya memiliki tato di lehernya yang menggunakan angka-angka tertentu " ucap Daniel dan Valera menyimak ucapan Daniel itu
" tato angka ? apa kau masih ingat ? " tanya Valera lagi dan Daniel hanya menunduk
" entahlah, aku tak begitu yakin " ucap Daniel serius dan Valera memaklumi hal itu karena kejadian nya sudah sangat lama ketika Daniel masih berusia sangat belia
" Daniel andaikata jika kau masih mempunyai keluarga bagaimana dengan tanggapan mu ? " ucap Valera lagi
" jika saja itu terjadi sudah tentu aku sangat senang jika aku masih memiliki keluarga, tapi rasanya mustahil ayah ibuku beserta saudara ku sudah tewas dalam tragedi itu " lirih Daniel
" hmm Daniel apakah ayah atau ibunya berasal dari negara lain ? " tanya Valera dengan menatap Daniel seksama
" ayahku berasal dari Indonesia ! awalnya aku tak mengetahui hal itu akan tetapi seiringnya berjalan waktu aku menemukan perbedaan antara wajah ibuku dan ayahku " ucap Daniel dengan pandangan yang lurus ke depan " jika ibuku berwajah Eropa beda lainnya dengan ayahku yang berwajah seperti orang Asia " lanjut Daniel lagi dan Valera mengangguk mengerti ia akan terus menggali informasi tentang keluarga Affonso dan para pembunuh itu
*****
Valera sedang memantau markas besar king yang sedang di renovasi ulang Valera sangat puas karena cara kerja mereka sangat teliti dan cekatan
bahkan Valera menggelontorkan uang yang tak main-main untuk pembangunan ulang pada markas king ini, kabar jika markas king di serang oleh pihak lain sampai ke telinga para keempat predator bahkan para mafia dalam jajarannya mereka tak menyangka jika sang lady di serang oleh orang tak dikenal
dirasa semuanya hampir selesai Valera meninggalkan markas dan menuju perubahan Adomson Crop's hanya sekedar ingin bertemu dengan Remigio
Valera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sehingga tiga puluh menit berlalu ia telah sampai di perusahan besar dan megah itu
semua orang menunduk hormat kala Valera menampakkan wajahnya di gedung itu,
" selamat datang nona " seru Leo dan Valera tersenyum tipis
__ADS_1
" hmm apa Remigio berada di ruangannya ? " tanya Valera ramah
" tuan sedang berada di ruangannya nona, mari saya antar " ucap Leo lagi dan Valera mengangguk patuh hingga sepuluh menit berlalu Valera telah sampai di lantai tertinggi gedung milik remigio ini
CEKLEK
Valera tersenyum melihat sosok gagah dan berwibawa sedang berkutat dengan benda berlayar pipih itu, Remigio mengalihkan pandangannya kearah pintu
" sweatheart " ucap remigio tersenyum dan Valera segera mendekat kearah Remigio lalu mengecup singkat pipi Remigio
" apa aku menganggu mu ? " tanya Valera lembut
" tidak , kau tidak pernah mengganggu waktu ku sweatheart, apa kau merindukan ku ? " goda Remigio dan Valera hanya berdecak sebal lalu ia duduk di sofa berwarna hitam itu Remigio mengikuti langkah sang kekasih
" ada apa sweatheart ? " tanya Remigio yang duduk tepat disamping Valera
" tidak ada aku hanya ingin melihat wajah tampan mu saja " ucap Valera lugu dan Remigio terkekeh melihat nya " hmm Remi bagaimana dengan urusanmu selama kau di Amerika apa semuanya baik-baik saja ? " tanya Valera
" kau tenang saja semuanya baik-baik saja sweatheart , aku tidak akan pernah membiarkan siapapun orang yang telah mengusik hidupku berkeliaran dengan bebas di luaran sana " ucap remigio tegas dan Valera diam saja " apa kau mengkhawatirkan ku ? " tanya Remigio dengan memicingkan matanya sebelah lalu tersenyum nakal
" kau terlalu percaya diri tuan Adomson " sebal Valera dan Remigio langsung memberikan kecupan singkat di pipi Valera membuat si mpunya merona seketika
saat remigio akan menggoda Valera lagi ponselnya berdering dan mau tidak mau Remigio harus mengangkat panggilan itu
" ya ada apa ? " tanya Remigio datar dan dingin
" (....)
" ada apa ? " tanya Valera dan Remigio mendesah kesal
" tidak ada sweatheart, hanya wanita tak tau malu " ucap Remigio kesal dan Valera menatap bingung kepada Remigio
" siapa ? apa Bianca ? " ucap Valera dan Remigio mengangguk jujur dan Valera hanya diam saja
BRAKKKKKK
suara pintu membuat dua anak manusia itu terkejut dan menatap langsung kearah pintu, tak lama muncul lah Leo dengan nafas yang tersengal-sengal dengan luka lebam di pipi kirinya Remigio dan Valera menatap bingung kearah Leo
" berani sekali kau memasuki ruangan ku " tajam Remigio kepada Bianca dan wanita itu diam saja sungguh ia tak percaya jika Valera berada di perusahan Adomson saat ini,
Valera menatap tajam kearah Bianca seolah-olah siap menerkam wanita yang pernah hampir dibunuhnya itu, sedangkan Bianca menatap sinis kepada Valera
" Remi, ayolah kenapa kau selalu saja seperti itu kepada ku, " ucap Bianca dengan merengek dan manja laku kakinya melangkah maju kearah Remigio
" Leo apa yang kau lihat ? seret wanita ini keluar dari perusahaan ku " tegas Remigio dengan suara lantang dan Leo mengangguk cepat tapi saat Leo akan menyeret Bianca dengan cepat Bianca memelintir tangan Leo membuat Leo merintih kesakitan sontak perbuatan itu membuat Remigio terkejut tak percaya tapi tidak dengan Valera ia terlihat santai
" jangan pernah menyentuhku sedikitpun, atau kau akan mendapatkan akibatnya " tajam Bianca dengan nada mengancam
prok prok prok
" wow lihatlah ? apa mataku saat ini sedang bermasalah ? apa hari itu tak cukup membuatmu jera Bianca atau kau ingin merasakan satu kakimu patah lagi ! " tajam Valera yang masih duduk santai Remigio mengerutkan dahinya seketika ia tak mengerti dengan perkataan Valera ia yakin jika melewatkan hal yang paling penting saat kepergiannya ke Amerika dan Remigio bisa merasakan jika Bianca berbeda dari sebelumnya
__ADS_1
" diam kau ! " pekik Bianca dengan nafas tersengal, lalu Bianca melepaskan tangannya Leo begitu saja hingga Leo terhuyung kebelakang
" cihh.. memuakkan kenapa tidak dari dulu saja aku membunuhmu " desis Valera tapi Bianca diam saja, Leo tutup pintunya aku ingin memberikan pelajaran pada wanita ini " seru Valera lagi dan Leo langsung mengangguk patuh Remigio semakin tak mengerti dengan situasinya
" sweatheart " ucap remigio tapi Valera memberikan senyuman termanis nya " apa yang ingin kau lakukan ? " ucap Remigio lagi
" tentu saja bermain " polos Valera tetapi sorot matanya begitu tajam, membuat Remigio menelan salivalinya kasar
Bianca tersenyum sinis kepada Valera, dan Valera manatap lekat-lekat wajah Bianca kini keduanya saling berhadapan satu sama lain
PLAKKK
Valera menampar wajah Bianca dengan sangat keras, membuat Bianca memalingkan wajahnya kesamping nafasnya tersengal Matanya memerah menahan amarah
" AGHHH " teriak Bianca lalu ia maju dan menyerang Valera dan Valera menyambut gerakan itu dengan suka cita, Leo dan Remigio menatap tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat Bianca berubah layaknya seorang wanita petarung
Bianca menyerang valera dengan sangat brutal dan semangatnya yang berkobar, Valera dengan santai melawan setiap pergerakan dari Bianca
BUGHHHHHH
BUGHHHHHH
Uhukk
Valera tersenyum sinis, melihat Bianca tersungkur dengan darah yang keluar dari mulutnya. Disisi lain Valera meruntuki jika ia harus melawan diruangan milik remigio ini
sedangkan Remigio dan Leo dibuat terpaku atas pertarungan dua wanita yang berada di hadapannya ini,
" Kau tau, aku menyesal saat itu tidak membunuhmu Bianca ! dan kau wanita yang akan menjadi parasit untuk hidup ku di masa depan. Maka dari itu kau pilih pilihan yang akan aku berikan padamu " smirk Valera tetapi Bianca mengerutkan dahinya seketika karena tak paham akan pembicaraan Valera begitupun dengan Remigio dan Leo " mati ditanganku atau kau akan kuasingkan dari negara ini " ucap Valera santai lalu duduk kembali di sofa
" VALERA SIAPA KAU BERANI MENGATUR HIDUPKU ! '' teriak lantang Bianca dengan mata yang memerah menahan amarah,
" jangan berteriak kepada wanitaku Bianca " dingin Remigio menatap tajam Bianca
Bianca langsung tersadar bahwa posisinya saat ini sedang tidak-baik saja apalagi yang melihat Remigio marah terhadap dirinya Bianca meruntuki Valera dengan sumpah serapah dalam hatinya, Valera menatap datar tetapi senyum tipis terbit di sudut bibirnya membuat Bianca semakin membenci nya
tanpa sepatah kata pun Bianca pergi dan meninggalkan tempat itu dengan kondisi yang tidak memungkinkan,
BRAKKKKKK
Bianca membanting pintu itu dengan segala kekuatannya yang ada, baik Remigio dan Valera mengerutkan dahinya seketika dan Leo segera pergi mengundurkan dirinya, setelah kepergian Leo Valera langsung menghubungi seseorang
" awasi dia, wanita itu semakin menjadi jangan sampai kecolongan ! " tegas Valera dan langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak
" sweatheart ? apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ? lalu apa yang terjadi dengan Bianca, aku merasa ada hal lain yang berbeda dalam dirinya " ucap remigio dengan tatapan bingung dan Valera hanya tersenyum sinis
" tidak ada yang aneh Remi, dia hanya berusaha untuk menjadi wanita tangguh untuk membebaskan ayah serta kedua kakak " saut Valera santai " dan kini aku merasa harus lebih hati-hati terhadapnya ada seseorang yang belum diketahui di belakangnya " ucap Valera lagi dan Remigio memicingkan matanya seketika
" hmm.. sekarang aku mengerti apa maksud dari ucapan mu sweatheart " ucap remigio lagi dan Valera hanya berdecak sebal
" obsesinya terhadapmu akan membuat dirinya menjadi gila dan terjerumus dalam jurang yang tidak akan pernah ia bayangkan sebelumnya, wanita itu ! rasanya aku ingin menenggelamkannya di lautan " ucap kesal Valera dan Remigio seketika tertawa terbahak-bahak dan Valera mendengus kesal
__ADS_1
Remigio tau jika Valera sedang cemburu tapi itu menjadi suatu kebanggaan dirinya, karena wanita yang dicintainya setidaknya menunjukan rasa cinta walaupun tidak terlihat