
Remigio dan Valera yang mendengarkannya menjadi terkejut bukan main, wanita berambut cepak itu tampak sudah pucat menahan segala rasa sakit yang diterimanya.
DORR !!
satu buah tembakan melesat dan membidik lelaki berjenggot itu dengan tepat, Valera keluar dari tempat persembunyiannya, lelaki itu seperti tak merasakan apapun saat satu buah peluru melukai tubuhnya, semua orang kini menodongkan senjatanya kearah Valera.
" Nyonya... cepat..cepat pergi dari sini " ucap wanita berambut cepak itu dengan tergagap dan Valera tersenyum manis kearah wanita itu.
" siapa kau wanita cantik ? " ucap Lelaki berjenggot itu saat melihat kehadiran Valera diantara mereka, Valera menatap dengan datar dan seakan tak perduli dengan keadaan sekitar. " Jadi siapa kau ? " ucap nya tengil dan melupakan jika ia sedang terluka.
sedangkan Remigio yang masih memantau keadaan dan menghitung beberapa orang disana mulai terlihat geram saat lelaki itu seperti sedang menggoda sang istri.
" Aku ? kenapa kau ingin tau siapa aku ? " tandas Valera dan lelaki itu menatap intens wajah Valera seakan pahatan wajah itu terasa tak asing lagi " Kenapa kau menyerang mansion milik paman Yu " ucap Valera dingin.
" Hahaha !! jadi kau kerabat tua Bangka itu ? ohh aku tak menyangka jika ia memiliki kerabat secantik dirimu nona " ucapnya dengan suara dibuat-buat seakan meminta perhatian lebih, Remigio mengepalkan tangannya seketika rasanya ia ingin sekali menghajar lelaki itu hingga puas.
DODODORDODODOR !!
DODODODOR !!
DODODORDODODOR !!
Remigio keluar dari tempatnya dan memegang senjata di kedua tangannya, beberapa dari mereka tewas dan hanya tersisa beberapa orang saja, lelaki berjenggot itu heran akan kedatangan mereka.
" maaf sweatheart, aku tak bisa menunggu. Telinga ku sakit saat mendengar lelaki itu berbicara dengan nada menjijikan kepadamu " ucap remigio seraya mengecup pelipis Valera dan Valera diam saja. Lelaki itu menatap Remigio dan Valera tajam.
" sialan !! siapa kalian ?? " ucap lelaki itu dan Valera serta Remigio tersenyum sinis, wanita berambut cepat seakan mendapatkan kekuatannya kembali. Ia merasa keadaan tak mengerikan seperti yang dibayangkannya.
" Apa motif mu membunuh paman Yu " tanya Valera.
" Tidak perlu ikut campur !! " ucap lelaki itu seraya menodongkan senjata miliknya tepat kearah Valera, tapi gerakannya kalah cepat saat Remigio melesatkan sebuah jarum yang ia dapatkan di dalam ruang bawah tanah milik paman Yu.
" ahhhh.. apa ini ? " ucap lelaki itu dan ia melihat kala beberapa jarum menancap erat di tubuhnya yang terbungkus kemeja. " jarum ? apa yang kau lakukan !! " marah lelaki itu saat darah mulai keluar dari tubuhnya.
DODODORDODODOR !!
Remigio dan Valera menghindar saat peluru-peluru itu hendak bersarang ditubuhnya, gerakan Valera dan Remigio begitu gesit dan lincah saat menghindari serangan musuh.
DODODORDODODOR !!
DODODORDODODOR !!
PRANGGG
lagi-lagi Valera dan Remigio diberondong peluru-peluru sialan itu, nafas kedua nya tersengal dan Remigio melihat Valera yang sedang bersembunyi disebuah lemari dan Remigio bersembunyi di tempat semula, tas ransel berukuran sedang itu ia kalung kan begitu saja.
valera dan Remigio seperti memberikan sebuah kode satu sama lain, lelaki berjenggot itu kemudian ambruk dengan tubuh yang kejang-kejang, wanita berambut cepak terbelalak lebar saat menyadari jika jarum-jarum itu beracun.
wanita berambut cepak itu diam-diam melakukan pergerakan untuk melawan sisa nya.
DODODORDODODOR !!
DODODORDODODOR !!
AGHHH
JLEBBB
wanita berambut cepat bangkit dan melakukan serangan diiringi dengan Remigio yang melepaskan jarum-jarum beracun kepada para musuh yang tersisa.
valera tercengang kala tak mendapatkan bagian nya, Valera melihat kearah luar jendela jika ada pihak lain yang memasuki mansion, mayat-mayat bergelimpangan begitu saja bau anyir mulai menyeruak tak karuan, keadaan mansion kacau dengan barang-barang beserakkan tak tentu arah.
__ADS_1
" kita pergi. Ada yang datang " pekik Valera menatap Remigio dan wanita berambut cepat itu, seketika mereka berdua mengangguk dan menuju ruang rahasia dimansion milik paman Yu.
wanita berambut cepak itu, segera menutup Kembali pintu rahasia yang warna nya berbaur dengan cat dinding persis seperti pergerakan bunglon.
ruangan itu dingin, lembab dengan lampu yang temaram, Remigio menyiagakan senjata miliknya begitupun dengan Valera, wanita berambut cepat mengomandoi didepan dengan hati-hati.
sebuah lorong panjang yang persis seperti sebuah penjara kecil pada jaman dulu, seketika bulu kuduk Valera meremang, tidak ada celah cahaya yang masuk.
valera mengambil ponsel nya yang berada di dalam saku celana untuk melihat sesuatu sekaligus menyalakan lampu senter dalam ponselnya.
" Kau.. siapa namamu ? " ucap Valera kala langkah mereka terhenti.
" panggil saja aku Bie " ucapnya sopan dan Valera mengangguk " mari nona kita harus segera keluar dan bergabung dengan mereka yang telah menunggu kita. " ucapnya lagi dan Valera hanya mengangguk kecil.
valera melihat luka tembak di bahu Bie, tanpa aba-aba Valera menyobek baju panjang milik Bie hingga wanita itu terkejut bukan main, Valera diam dan mulai mengikat lengan bagian atas dengan erat agar tak terjadi perdarahan karena darah milik Bie seakan tak mau berhenti mengalir.
" ini jauh lebih baik. " ucap Valera lagi dan Bie mengangguk kecil dan tersenyum tipis.
Remigio menggenggam tangan Valera sepanjang perjalanan, dan Valera balas menggenggam nya dengan erat. Tak lama terdengar seperti suara ledakan yang begitu dahsyat hingga getarannya mereka rasakan.
" ya tuhan mereka meledakkan mansion tuan Yu " sendu Bie dan Valera menoleh kearah belakang. Getarannya cukup kuat Remigio segera menarik sang istri agar tidak menghentikkan langkah kakinya karena ditakutkan bangunan ini akan roboh dan berimbas pada mereka yang belum keluar dari jalan rahasia. " Ayo kita harus cepat. " ucap Bie lagi
setelah beberapa menit berjalan di ruangan yang cukup sempit akhirnya mereka menemukan pintu terakhir yang terbuka sedikit, mereka bertiga menyiagakan senjatanya masing-masing. Remigio membukanya dan terlihat alam bebas di depan matanya.
valera mengedarkan pandangannya karena tak melihat orang-orang yang di selematkan sebelumnya, Bie pun demikian mereka menjadi bingung akan kemana tujuannya saat ini.
Remigio berjalan lurus secara perlahan untuk melihat sesuatu, dan ternyata ada sebuah air terjun yang sangat indah di tempat itu, sungguh indah hingga membuat Remigio terkesima, tempat ini persis seperti dongeng atau tempat yang belum terjamah sama sekali.
" apakah mereka disana ? " ucap Bie saat melihat sebuah rumah kayu yang masih kokoh Valera dan Remigio mengedikkan bahunya serempak. " sebaiknya kita periksa terlebih dahulu. " ucap Bie dan Valera mengangguk pelan.
Valera terus menelisik tempat ini dengan mata tajamnya begitupun dengan Remigio, pintu yang mereka lewati tadi adalah sebuah gua yang sudah berlumut dan ditumbuhi para tumbuhan liar untuk menutupi dinding nya, tapi mereka tak bisa melihat mansion paman Yu dari sini.
Bie mencoba untuk membukanya, dan ternyata rumah itu masih terkunci, itu artinya mereka tak ada disini. Valera semakin curiga akan keadaan situasi disini apakah ada seseorang yang mengetahui jalan rahasia ini ?
" Apakah ada jalan lain ? " ucap Valera tiba-tiba dan Bie seperti sedang berfikir keras dengan mengigit jari telunjuknya sendiri hal itu membuat Valera dan Remigio menyipitkan matanya sesaat.
tak lama suara ledakan kembali terdengar dan kali ini disertai percikan api yang bisa terlihat keatas langit, Valera terkejut bukan main ternyata jaraknya tak begitu jauh,
DUARRRR.
BRAKKKKKK
DUARRRR.
bangunan itu roboh secara perlahan hingga menimbulkan getaran yang mirip seperti gempa bumi, Bie termenung kala melihat mansion tuannya hancur tak tersisa, lalu bagaimana hidup keluarganya kelak jika mereka tak mempunyai tempat untuk bernaung.
" temukan mereka. kita harus segera pergi dari sini " ucap remigio dan kedua wanita itu mengangguk mantap.
valera mencoba membuka ponselnya hanya untuk melihat dimana posisi mereka saat ini, dan Remigio pun melakukan hal yang sama untuk menghubungi anak buahnya yang berada di Argentina tanpa sepengetahuan Valera.
Remigio mengirimkan sinyal darurat kepada anak buahnya untuk mengirimkan beberapa helikopter ke tempat mereka, sedangkan Valera ia terlihat kesal saat ponselnya tak bisa melakukan sesuatu karena tak memiliki sinyal, Remigio tersenyum tipis akan hal itu.
sayup-sayup Valera mendengar suara rintihan orang yang kesakitan, pendengarannya seketika menajam, langkahnya terhenti membuat Bie menatap Valera sesaat.
" ada apa nyonya ? " tanya Bie
DODODODOR !!
DODODORDODODOR !!!
" **** " umpat Valera saat sebuah peluru hampir saja mengenai kepalanya, Remigio membalas serangan balik tapi dalangnya tak terlihat membuat ketiganya semakin waspada. " sial, menyusahkan " desis Valera dengan mata yang tajam melihat sekitar. " gunakan insting jangan mudah tertipu. " ucap Valera lagi. Bie hanya bisa mengangguk walaupun ia tak yakin karena sebelumya Bie tak begitu banyak saat dilatih oleh paman Yu.
__ADS_1
ckckck ternyata mereka bersembunyi disana. Batin Valera
DODODORDODODOR !!
AGHHH
DODODODOR !!
ahhhhhh
valera tersenyum saat melihat beberapa orang roboh ketanah dengan suara rintihan yang begitu memilukan, Tak lama keluar beberapa orang dari arah samping kiri dan kanan dengan menyekap beberapa orang disana.
valera mengenal salah satu dari mereka, paman Jiro ? apa mereka tertangkap jika ya berarti ini jebakan. Pihak musuh pun mengetahui tempat ini dengan baik.
" kalian, mencampuri urusan kami. menyerah lah " ucap lelaki yang memainkan sebuah pistol berlambang kepala naga api. Remigio memperhatikan lambang tersebut dengan intens begitupun dengan Valera, " Kau " ucap kepada Bie " tunjukkan dimana aset-aset itu berada, aku yakin kau tau " seringai lelaki itu dan Bie menatap tajam.
" walaupun aku tau tak akan ku biarkan semua itu jatuh ke tangan orang-orang yang serakah pada kalian, bedebah !! " teriak Bie lantang.
DORR !!
AGHHH
" Bie " pekik Valera saat Bie ditembak di kakinya hingga ia berlutut dengan sorot mata yang tajam, Valera membantu dan Bie menerima uluran tangan Valera, " bertahanlah aku akan menyelesaikan semuanya, " bisik Valera dan Bie mengangguk samar walaupun rasa sakit yang ia rasakan.
DORRR !!
pada saat lelaki itu hendak menembak Valera Remigio lebih cepat dan melesatkan pelurunya kepada lelaki yang telah lancang itu, Remigio tersenyum tipis saat lelaki itu ambruk ketanah.
" tak akan ku biarkan mau menyakiti istriku " desis Remigio. Valera bersiaga dan menyerang mereka tanpa aba-aba hingga para musuh mulai kelabakan ditambah Remigio pun ikut melumpuhkan beberapa orang dengan senjata yang berada di genggamannya.
nafas keduanya sama-sama tersengal dan keringat mulai membasahi tubuh mereka, Remigio sengaja membuka kancing kemejanya agar tak merasakan sesak dalam bertarung, beberapa dari mereka cukup sulit dan terlihat lincah membuat Valera dan Remigio makin waspada.
DORRR !!
" Remi !! " terbaik Valera lantang saat Remigio tertembak begitu saja, Remigio tersenyum dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja, Valera menggeram marah akan tetapi ia terkejut melihat Remigio yang kembali semangat dan lincah dalam melumpuhkan musuh-musuh yang terlihat.
DODODORDODODOR !!!
SHOTTT
JLEBBB
AGHHH
Remigio beringas dan membuat Valera mematung ditempatnya, kali ini Valera bisa melihat sosok iblis yang begitu kejam dalam diri Remigio. Valera tersentak dari lamunannya kala mendengar suara deru Helikopter diarea itu.
siapa lagi ini. Batin Valera.
" AGHHH " jerit seorang pria kala dadanya ditusuk dengan mudah oleh Remigio. Remigio tertawa membuat bulu kuduk Valera merinding seketika.
DORRR !!
" done !! " ucap Remigio lantang dan ia menatap sang istri dengan senyum lebarnya. Valera berlari dan mendekap erat tubuh Remigio yang mengeluarkan banyak darah. " mereka datang " ucap remigio saat melihat kearah langit dimana Helikopter milik anak buahnya terbang dan mulai mendarat.
" mereka orang mu ? " tanya Valera dan Remigio mengangguk samar.
valera segera melepaskan ikatan yang membelenggu keluarga paman Yu dan lainnya, tapi alangkah terkejutnya saat Valera melihat kondisi mereka semua lemas dan beberapa luka lebam mereka alami.
Remigio dan Bie tersentak dibuatnya, anak buah Remigio turun dan langsung membantu mereka atas perintah tuannya, untung saja empat Helikopter itu bisa membawa mereka pergi dari wilayah itu jika tidak entah apa yang terjadi.
valera melihat mansion milik paman Yu yang hancur dan kukuh lantah, mansion yang awalnya megah dan berdiri kokoh kini hanya tinggal kenangan, Bie tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat itu semua. Valera menepuk pelan punggung Bie dan wanita itu hanya menatap Valera dengan sendu.
__ADS_1