
Elena tak henti-hentinya menangis dan terus menunggu di depan pintu ruang Ed. Dave yang menemaninya tak bisa berbuat apa-apa selain duduk diam di kursi khas rumah sakit itu.
satu buah peluru bersarang di punggungnya dan membuat Ed langsung jatuh tak sadarkan diri, terbilang sudah satu jam para medis menangani Ed tapi mereka belum kunjung keluar memberikan kabar.
Dave pun sudah memberitahukan hal ini pada sang lady, Valera tentu saja terkejut karena Ed justru menjadi korban atas insiden ini dan Valera yakin jika musuh kali ini adalah pihak yang mengincar Ed.
" bagaimana keadaan pasien ? " ucap Elena tanpa basa-basi.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasien sempat kritis sebelum peluru itu dikeluarkan dan sekarang kondisinya terbilang baik-baik saja, " ucap dokter yang bertugas dan Elena mengangguk pasrah. Dave menjadi sangat lega kala mendengar penuturan dokter yang menangani Ed.
Elena dan lainnya belum bisa masuk untuk melihat keadaan Ed mereka hanya bisa menunggu di luar atau Ed dipindahkan ke ruang rawat lainnya jika dalam dua puluh empat jam kondisinya stabil.
" Dave terimakasih " ucap Elena dan Dave mengangguk " kau pulang dan beristirahat lah, biar aku yang menemaninya disini " ucap Elena lagi.
" Ya baiklah, akan ada orang yang membantumu dalam menjaga Ed atas saran dari lady, " ucap Dave dan Elena mengangguk saja.
Dua orang anak buah king bertugas menjaga Ed di depan pintu ruangan dan sebagiannya berbaur menjadi warga sipil untuk melihat pergerakan musuh yang memanfaatkan keadaan di sekitar gedung rumah sakit. Elena terlihat menatap dengan pandangan yang lurus wajah si penembak sangat jelas tergambar di kepalanya yang cantik itu.
Waktu terus saja berlalu hingga tak terasa sudah dua puluh empat jam berlalu para dokter berlalu lalang untuk memantau keadaan Ed dan mereka akan segera memindahkan Ed keruang rawat, Elena tentu saja senang saat mendengar kabar ini setidaknya Ed baik-baik saja hanya perlu menunggu keadaan Ed sadar dari pengaruh obat bius.
Apartemen milik Thomas.
terlihat Aranna baru saja menyelesaikan ritual mandinya, ia tak melihat keberadaan Thomas suaminya kini, entah kemana orang itu pergi nya.
Aranna memilih untuk menonton sebuah acara televisi untuk mengusir kebosanan nya kini, tapi tiba-tiba perutnya lapar dan berbunyi membuat Aranna mau tidak mau harus melihat bahan makanan di dapur.
Kulkas dua pintu itu terlihat banyak dengan bahan makanan, Aranna bingung untuk melakukannya akan tetapi perutnya lapar dan bayi yang berada di dalam kandungannya harus diberi nutrisi yang cukup.
" Apakah tidak ada roti atau sereal ? '' bingung Aranna ia segera mencari kedua benda tersebut untuk mengganjal perutnya itu setelah beberapa lama terdengar suara pintu di arah sana. Aranna yakin jika itu adalah Thomas.
" Ara " ucap Thomas dan Aranna tersenyum kikuk " maaf aku keluar tanpa memberimu kabar, kau pasti lapar bukan ? ini aku sudah membelikan mu makanan dan beberapa kotak susu selama kau hamil " ucap Thomas dengan lembut dan Aranna menatap paper bag itu dengan mata yang berbinar.
" terimakasih, aku memang lapar " cicit Aranna dan Thomas mengelus rambut Aranna dengan lembut lalu beralih ke perut Aranna yang masih terlihat datar.
__ADS_1
" Makanlah, jangan lupa minum susu mu. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu. " ucap Thomas dan Aranna lagi-lagi hanya mengangguk pasti.
Thomas berjalan menuju kamar nya yang kini ia tempati berdua dengan sang istri, dulu di kamar ini ia akan tidur seorang diri dan kini ada istrinya yang akan menemaninya di atas ranjang.
Aranna makam tampak begitu lahap, mood ibu hamil memang tak bisa ditebak. Setelah menghabiskan makanan yang dibawa Thomas Aranna segera membuat susu hangat khusus untuk dirinya dan juga bayinya ia tak ingin bayi yang berada di dalam kandungannya itu kekurangan nutrisi.
" Ahhh segarnya, ternyata rasanya tak begitu buruk " gumam Aranna saat menatap gelas itu sudah kosong. Aranna berjalan menuju kamar dimana Thomas berada, suara gemericik air masih terdengar dan menandakan jika Thomas belum usai.
Aranna merebahkan diri di ranjang yang tak terlalu besar itu, beberapa kali ia menguap hingga Aranna tak sadar jika Thomas sedang memperhatikan nya. Thomas tersenyum saat melihat wanita yang kini menjadi istrinya itu.
" Ara " ucap Thomas dan Aranna langsung menatap kearah Thomas yang tidak memakai kaos dan hanya menggunakan sebuah boxer saja, pipi Aranna bersemu merah tat kala melihat itu dan Thomas tersenyum geli.
" I..iya. Ada apa ? kemana pakaian mu ? '' ucap Aranna gugup dan Thomas justru menyentuh pipi Aranna.
'' kenapa ? apa kau tak mau melihat tubuh suami mu ini hmm ? " goda Thomas dan Aranna diam saja " bukankah kau sudah pernah melihatnya " bisa Thomas lagi dan Aranna menelan salivanya kasar.
" Thomas '' cicit Aranna dan Thomas justru mendekatkan bibirnya pada bibir Aranna. Keduanya saling mematung satu sama lain Thomas bergerak dengan lembut hingga Aranna ikut terbuai.
Thomas menyapu seluruh rongga mulut Aranna yang menurutnya sangat manis dan hangat, Aranna kini nampak membalas kegiatan itu dengan percaya diri.
" Aku ingin tidur memeluk mu, apakah boleh ? " ucap Aranna dengan tatapan mengibanya dan Thomas tersenyum lalu mengangguk dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Aranna.
terlihat Aranna sangat nyaman berada di dekapan lelaki yang kini menjadi suaminya, apalagi saat menghirup aroma sabun dan juga shampo yang begitu sangat maskulin lagi-lagi Aranna berfikir lain.
tangan mungil Aranna kini bermain di dada bidang Thomas, membentuk pola abstrak hingga kedua mata Thomas terbuka dan merasakan sentuhan tangan Aranna.
" Jangan menggodaku Ara. Aku takut akan memakan mu dan melupakan jika kau sedang mengandung anak ku '' ucap Thomas serak dan Aranna langsung mendongak dan menatap wajah Thomas yang tampan.
" maaf " cicit Aranna lalu ia memejamkan kedua matanya dengan tangan yang masih menyentuh dada Thomas. Tak lama kedua insan itu terlelap dan terbuai dalam mimpi indahnya masing-masing.
******
suara celotehnya Athena kini menghiasi Gold Mansion dimana bayi itu kini sudah bisa berceloteh tak jelas dan terkadang tertawa secara bersamaan. Valera sangat senang melihat tumbuh kembang Athena yang begitu pesat.
__ADS_1
" Kau sungguh menggemaskan " ucap Valera saat ia memegang pipi gembul milik Athena. Selain menjadi seorang pemimpin Valera pun harus bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik secara bersamaan.
Remigio sangat bersyukur saat memilih Valera menjadi istrinya ia tak pernah menyangka akan mempunyai hidup yang sangat bahagia dan mempunyai seorang bayi bersama dengan istri yang dicintainya, begitupun dengan Valera.
Valera meletakkan Athena di box bayi miliknya, Sedangkan Valera dengan cepat menghidupkan laptop dan melihat serta memantau seluruh pergerakan anak buahnya.
untung saja aku sudah membersihkan para penghianat-penghianat itu dengan cepat sebelum Athena lahir, dan kini masalah semakin besar karena kehadiran Utera dan kemungkinan besar anak buah Mrs OTO sedang merencakan sesuatu untuk membebaskan kedua majikannya. Haruskah mereka aku pindahkan kesebuah pulau ?. batin Valera
Saat Valera menoleh kearah Athena dan ternyata bayi cantik itu sudah terlelap dalam mimpinya membaut Valera tersenyum geli karena merasa tingkah Athena sangat sulit untuk ditebak.
" Baiklah, selama kau tidur mommy akan menyelesaikan para tikus-tikus liar itu terlebih dahulu. Tidur lah yang nyenyak. " seru Valera lalu mengecup dahinya singkat.
Valera melihat kembali ke layar laptop miliknya. Banyak sekali email yang masuk dan belum sempat ia baca satu persatu. Valera harus segera mengatur ulang pekerjaan para jajarannya, terlebih Zizi cuti selama ia hamil, Thomas pun tak mungkin selalu standby di tempat karena ia sekarang sudah mempunyai istri dan saat ini Aranna pun mengandung.
" sepertinya Aku harus melakukan rapat ulang dengan seluruh jajaran king. Jika begini semua tugas tak ada yang menanggungnya. " keluh Valera lagi dengan memijat pelipisnya pelan.
Valera memangil salah satu maid untuk menjaga Athena terlebih dahulu dan kebetulan George sudah pulang dari berlatihnya. Jadi ia bisa meninggalkan Athena sejenak.
" jaga adikmu sebentar saja sayang " ucap Valera dan George mengangguk mantap.
Valera dengan cepat menuju ruang kendali miliknya membuka beberapa situs dan kode yang sungguh rumit untuk di jangkau, Valera terlihat ragu untuk menekan tombol enter disana.
haruskah aku menghubungi mereka ? . Batin Valera.
Valera seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu dengan matanya, sesaat matanya terpejam seolah sedang menikmati rasa lelahnya saat ini.
Sebagai seorang pemimpin tentu saja beban yang dipikulnya sungguh berat, walaupun Valera dikelilingi oleh orang-orang yang hebat tetap saja rasanya tak pernah berkurang. Terlebih saat ini putrinya lahir tidak menutup kemungkinan Athena akan diincar pihak musuh dan akan memanfaatkan putrinya untuk sebuah tujuan.
Tak lama ponselnya bergetar dan mendapatkan sebuah notifikasi, Valera mengerutkan dahinya saat sebuah nomor tak dikenal nya mengirim sebuah pesan.
Selamat atas kelahiran bayi mu, Aku harap kau dapat menjaganya dengan baik. isi pesan tersebut dan jantung Valera berdebar tak karuan.
" sialan !! " pekik Valera dengan sorot mata yang tajam saat mendapatkan sebuah pesan misterius itu. Valera lalu melacak nomor ponsel tersebut tapi sayang nomor itu tak tertera dan terkesan di blokir beberapa saat. " Utera !! aku yakin itu dirimu. Coba saja jika kau berani menyentuh putriku, maka aku pasti kan akan mendapatkan kepala mu saat itu juga " tekan Valera lagi dengan tangan yang terkepal menatap layar laptopnya.
__ADS_1
Valera mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, Ya Valera akan mewanti-wanti kepada seluruh jajarannya agar tetap berhati-hati dalam bertindak, Valera tak mau termakan sebuah pesan yang belum jelas tujuannya apalagi jika sampai Utera mengusik hidup nya dan seluruh orang-orang jajarannya.