Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
* Penyelesaian 3


__ADS_3

Setelah keluar dari ruang pengintrogasian, Valera segera menuju ruang kerjanya ia akan melakukan panggilan Vidio bersama nyonya Mecca, Loose dan Zorfan, Valera mengatakan kebenaran yang baru saja terungkap sontak mereka terkejut bukan main, nyonya Mecca hanya memejamkan kedua matanya pelan bahkan Loose dan Zorfan menggeleng seakan tak percaya.


" itulah kenyataan nya, sekarang paman Jiro berada di tangan ku apa kalian tak ingin melihatnya ? " tawar Valera, sontak perkataan Valera seperti sebuah kalimat perpisahan.


" Apa kau akan melakukan sesuatu padanya ? " tanya nyonya Mecca dengan wajah sendunya dan Valera diam saja seraya menghembuskan nafasnya kasar lalu menyeruput teh Jasmine nya secara elegan.


" Jika ia apa pendapat kalian ? " tanya Valera lagi menatap tiga orang berusia lanjut itu.


" Aku tak menyangka jika Jiro melakukan hal ini " ucap Zorfan dengan raut yang penuh kekecewaan.


" Pada kenyataan nya ia melakukan hal ini " tegas Valera seakan ia tak ingin mendengarkan belas kasih untuk paman Jiro.


" Aku tak tau harus berkata apa " ucap loose lagi.


" Jika begitu datanglah ke tempat ku. Aku menunggu " ucap Valera tegas dan tak ingin terbantahkan, ketiga orang itu diam dan pada akhirnya mengangguk pasrah, mereka pun harus bertemu dengan salah satu sahabatnya itu mereka akan berdiskusi kembali tentang Jiro tapi tidak dengan kelima orang asing itu, mereka akan tetap menerima akibatnya.


Tiga hari berlalu, Markas utama.


Markas besar king kini kembali ramai oleh jajaran king, black woman dan pasukan Phoenix pun ikut serta didalamnya. Nyonya Mecca, loose dan Zorfan merasa gugup saat melihat wajah-wajah baru dalam jajaran king yang semakin tangguh dan garang.


paman Jiro dibawa kesebuah ruangan khusus dimana ketiga kawannya ikut masuk keruangan tersebut bersama dengan Valera sedangkan yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing.


Paman Jiro duduk dihadapan empat orang yang kini menatapnya tajam, bahkan Valera terlihat malas untuk bertemu dengan paman Jiro.


" Jiro benarkah itu ? " ucap nyonya Mecca menatap Jiro tajam, Jiro terdiam dan tak lama mengangguk kecil " kenapa ? " tajam nyonya Mecca " Apa karena putramu terlibat " tebak nyonya Mecca lagi dan Jiro hanya mengangguk saja.


" Aku hanya ingin menyelamatkan putraku saja " ucap paman Jiro dengan wajah yang sendu.


" untuk apa kau peduli padanya Jiro !! Bahkan sedari dulu ia tak pernah menghormati mu sebagai ayahnya " sentak Zorfan merasa kesal " dia telah lama mengabaikan mu Jiro. Anak lelaki mu itu sungguh kurang ajar " pekik Zorfan lagi.


" tapi dia tetap putraku Zorfan. Dia anak yang terlahir dari rahim wanita yang sangat aku cintai hingga kini " ucap Jiro lagi.


" Lagi-lagi kau harus mengingat masa lalu Jiro. Kini semuanya sudah berubah " ucap Loose membuka suaranya " kau menghianati persahabatan kita yang telah terjalin lama Jiro " ucap loose lagi dengan pelan


" maaf.. Aku tak tau harus berbuat apa ketika putraku terlibat dengan ini, maka aku sebagai ayahnya harus melindungi nya " ucap Jiro lagi.


" Lalu apa mau mu paman ? kau ingin aku membebaskan nya begitu ? " tanya Valera dengan sikap tenang dan paman Jiro mengangguk cepat. " berikan aku alasan yang kuat paman " ucap Valera lagi.

__ADS_1


" tidak ada alasan hanya saja dia putraku " ucap paman Jiro lagi.


" jika begitu aku tak akan mengabulkan permintaan mu. Salah tetap lah salah walaupun kau memohon berkali-kali tetap saja aku tak akan mau melakukannya. Aku bersusah payah mencarinya dan menangkap nya lalu kini kau memintaku untuk melepasnya " ucap Valera datar.


" setidaknya pengasingan lebih baik ketimbang kematian " pinta paman Jiro lagi lalu Valera menatap paman Jiro dengan intens wajahnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu lalu Valera menghembuskan nafasnya kasar dan beranjak dari ruangan itu dengan langkah tegas.


keempat orang itu saling pandang satu sama lain, ini terlalu sulit jika harus berurusan dengan Valera, nyonya Mecca memijat pelipisnya pelan, mereka tak tau harus berbuat apa.


Keesokan harinya.


Entah mengapa wajah sang lady sangat tidak bersahabat, tidak ada senyuman tidak ada perkataan yang keluar hanya sorot matanya yang tajam menatap kelima tawanan di hadapannya.


merepotkan jika harus berurusan dengan mereka yang sudah berusia lanjut, pasti ada yang iba dan menaruh rasa kasihan terhadap mereka.


" Apa keputusan mu ? " ucap nyonya Mecca mengawali pembicaraan di suasana yang begitu dingin seakan mencekam


" Kali ini aku berbaik hati tidak memberikan mereka hukuman mati melainkan pengasingan kesebuah pulau dengan pengawasan ketat hingga mereka meregang nyawa di sana dengan sendirinya " ucap Valera datar tanpa ekspresi.


Nyonya Mecca dan lainnya terdiam seketika saat mendengar perkataan Valera tapi tidak dengan paman Jiro ini lebih baik daripada kematian.


" Tidak !! Aku tidak mau. Dasar wanita sialan !! " teriak Mehmet memberontak dengan mencoba melepaskan ikatan yang menjerat kedua tangannya.


AGHHH


Mehmet lagi-lagi menjerit kesakitan setelah mendapatkan serangan tiba-tiba dari Valera, Allarik dan lain nya tertegun akan serangan Valera yang cepat dan tak mudah terbaca.


" akan ku robek mulutmu jika kau memberontak " bengis Valera " Ini yang kau inginkan paman Jiro ? Oke aku melakukannya. Kali ini aku berbalik hati pada para tawanan ku sebagai gantinya kalian akan diasingkan " ucap Valera lagi.


" ya itu jauh lebih baik " gumam paman Jiro.


" Thomas siapkan kepergian mereka esok malam. " tegas Valera dan Thomas mengangguk patuh dan menundukkan sedikit kepalanya.


" Tugas ku selesai. kalian semua yang akan mengurus sisanya " ucap Valera beranjak tapi langkahnya terhenti kala mendengar makian dari Wilson.


Wilson mengatakan sesuatu yang memancing amarah sang lady hingga wajahnya memerah dengan tangan terkepal erat. Semua orang meruntuki kebodohan Wilson yang memancing kemarahan sang lady.


Valera berbalik dan menyeringai dengan senyum tipisnya maniknya mengunci kearah Wilson seorang, senyum yang diberikan Valera seakan menyambut kematian bagi seorang Wilson.

__ADS_1


Valera berjalan dengan perlahan dan Wilson semakin menatap tajam pada wanita anggun dihadapannya ini, para jajaran king hanya bisa diam dan melihat apa yang akan dilakukan oleh lady nya itu.


Valera tersenyum manis, membelai wajah serta rahang Wilson dengan gerakan perlahan, Wilson diam dan bingung dengan sikap Valera tapi dia harus berhati-hati.


Semua orang menjadi bingung dengan sikap Valera yang persis seperti wanita penggoda, belaian Valera perlahan turun ke leher Wilson ia sedikit bermain disana, seringainya muncul tatkala Valera melihat sesuatu yang melesak ingin keluar di dalam sana.


" apa kau ingin mengatakan sesuatu ? '' bisik Valera lirih tepat ditelinga Wilson hingga semua orang terbelalak dengan perbuatan Valera yang mirip seperti sedang mencium Wilson.


'' ckckck. kau bertindak seperti wanita tak terhormat " desis Wilson lirih hingga suaranya sedikit berat karena Valera terus membelai rahang serta lehernya.


Valera tersenyum manis menanggapi perkataan Wilson, lelaki itu diam mematung saat sebuah tangan berada di lehernya Valera tersenyum penuh kepuasaan lalu ia berpaling dan berjalan menjauh dari sana, hingga.


" WILSON !! " pekik Anetha saat melihat keadaan Wilson mengerikan dengan leher yang tersayat sempurna dan darah mengucur deras di sela-sela lukanya, tubuhnya bergetar hebat.


Semua orang menatap tak percaya, iblis !! benar-benar wanita jelmaan iblis, Valera tersenyum tipis.


" anggaplah ini perbuatan terakhir ku, walaupun jauh dalam lubuk hatiku aku ingin membunuh kalian semua dengan tangan ku, selamat paman kemauan mu aku penuhi mengingat kau bagian dari king bahkan kau pun berjasa di masa lalu, jika kakek ku masih hidup mungkin aku akan mendapatkan amarahnya karena aku menghukum paman dengan caraku. '' tandas Valera lagi tapi paman Jiro hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


" terimakasih '' lirih paman Jiro hingga tak terdengar.


Valera segera pergi meninggalkan tempat itu tujuannya saat ini adalah sang putri, ia sudah merindukan Athena bahkan Remigio beberapa jam lagi akan pulang menuju Gold mansion.


*****


Thomas telah menyiapkan beberapa helikopter untuk mengangkut para tawanan king menuju pulau kematian, dimana pulau tersebut pulau yang tak berpenghuni dan tentunya di jaga oleh anak buah Valera yang lain.


Thomas akan ditemani oleh Lotus, Brayen dan juga Alland serta beberapa anak buah king lainnya yang ikut serta.


nyonya Mecca, Zorfan dan Loose merasa tak rela saat melihat salah satu sahabatnya harus diasingkan, tapi mereka pun kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Jiro.


empat buah Helikopter telah siap mengudara, semua tawanan diikat dan segera dinaikkan, Mehmet sempat membentak siapa saja yang menyeretnya hingga pada akhirnya ia mendapatkan pukulan telak dari Thomas karena merasa kesal.


" AGHHH hentikan sialan !! '' teriak Mehmet dengan mata melotot menatap salah satu anak buah king itu.


BUGHHHHHH


" sebaiknya kau perhatikan wajah mu itu bung jika tidak aku akan memukulnya hingga puas dan benar-benar puas '' seringai Thomas dan Mehmet semakin mengumpat kasar walaupun tidak memberontak lagi.

__ADS_1


kabar kepergian mereka telah sampai ditelinga sang lady yang pada saat itu berada di Gold mansion, Valera hanya mengiyakan dan menegaskan jika perjalan mereka harus tiba dan benar-benar selamat.


nyonya Mecca memandang sendu kepergian Helikopter yang membawa paman Jiro, wajah sahabatnya itu tak sama sekali takut justru merasa tenang dan masih bisa tersenyum Manis disaat hidupnya benar-benar terancam.


__ADS_2