
George masih sibuk memakan cemilan berbentuk bulat itu bahkan dirinya tak merasa panik saat keadaan tidak memungkinkan. Valera melirik kearah putranya yang duduk tenang karena ia merasa takut jika George akan terluka.
" wow.. apa dia putramu ? hmm aku bisa menebaknya jika dia memang putramu yang hilang beberapa tahun lalu, apakah ucapan ku benar tuan Hans yang terhormat " ucap wanita itu dengan senyum devil nya bahkan kini ia melepas wig yang ia kenakan.
Valera diam dan menyimak keadaan bahkan Remigio menggeser tubuh istrinya agar tetap berada di samping dirinya dan juga George.
" kau ! bagaimana bisa kau berada di sini " tekan Hans Maxwell dan wanita itu hanya tersenyum saja seolah ia mengejek kecerobohan dari seorang Hans Maxwell.
" kau tanya kan saja pada anak buah mu yang betugas untuk mengawasiku setiap waktu. Dan apa kau tau jika mereka kini berpihak pada ku " tajam wanita itu dan Hans terkejut bukan main bahkan Lettan ikut tak menyangka jika utusannya yang ia titah untuk menjaga ruang rahasia itu kini berbalik menghianati tuannya.
" Mamih, aku sudah selesai ayo kita pulang " ucap George tiba-tiba dan Valera segera menarik George dan mendekap tubuh kecilnya dengan begitu erat. Semua itu tak luput dari pandangan semua orang.
" Remi.. " ucap lembut Valera dan Remigio hanya tersenyum lalu melabuhkan kecupan singkat di dahi Valera seolah mereka tak memperdulikan keadaan.
" baiklah, kami sebaiknya pamit karena kami merasa ini adalah hal yang sangat pribadi dan tidak baik jika orang asing seperti kami terlibat didalamnya " ucap Remigio lagi dan ia menarik lembut tangan sang istri dan tangan mungil George.
CEKREK
" Tak ada yang bisa keluar dari sini dengan mudah ! " ucap wanita itu lagi dan Remigio hanya menyunggingkan senyumannya.
" lalu apa mau mu ? dingin Remigio dan manik hitamnya mengkilat marah tertahan.
sebuah seringai licik muncul dalam benak wanita itu, ia begitu terpesona akan manik hitam milik Remigio yang mampu menarik perhatiannya padahal Hans Maxwell tak kalah mempesona dari sosok Remigio Adomson.
Valera yang mengetahui gelagat dan niat tak baik menggeram marah bahkan ia meremas sedikit genggaman tangan Remigio.
" bermalam lah dengan ku ! dan aku jamin kau akan puas " seringai wanita itu membuat semua orang terkejut bahkan Remigio sendiri. Tapi sudut bibirnya melengkung keatas.
Hans Maxwell dan Lettan menatap tak mengerti dengan wanita yang penuh akan tipu muslihat bahkan anak buahnya pun mampu ia kelabui dengan mudah benar-benar licin.
" begitukah ? apa kau sedang bernegoisasi dengan ku nona ? kau terlalu percaya diri jika kau mampu memuaskan aku " ucap Remigio dengan angkuh.
" Haii.. aku bisa membuktikannya padamu jika kau mau. Hmmm tapi aku tak menerima penolakan kau harus ikut dengan ku malam ini juga " desis wanita itu dan lagi-lagi Valera merasakan hatinya panas dan siap untuk meledak sungguh emosinya tak bisa di tahan lagi secara lama.
" hmm baiklah, " ucap Remigio membuat Valera menatap tak percaya.
" Remi " bentak Valera marah dan menghempaskan genggaman Remigio dengan kasar sedangkan wanita itu hanya tersenyum senang.
PRANGGG
AGHHH
valera sengaja memecahkan gelas kristal lalu melemparkan nya pada wanita itu hingga ia terluka dan berdarah, nafasnya kini naik turun tak terkontrol.
George memilih duduk dan diam di kursinya, dengan Lettan menjaga tuan muda di sampingnya. Hans merasa ini sebuah permainan belaka.
" beraninya kau ! " teriak Valera marah menatap Remigio dan justru Remigio dibuat panik saat istrinya marah tak terkira. " dan untukmu wanita jalang ! kau benar-benar tak punya rasa malu. Kau orang asing dan secara terang-terangan menginginkan suami orang untuk bermalam dengan mu ! cihh.. sungguh menjijikan seperti sampah, " pekik Valera lantang.
" sweatheart, aku tidak .. " ucap Remigio tapi dengan cepat Valera mengangkat tangannya untuk Remigio berhenti berbicara. Hans Maxwell dan Lettan merasa akan terjadi hal buruk.
" Kau...siapa kau sebenarnya ? datang dan mengacaukan semuanya, siapa yang ingin kau racuni ! jika urusan mu bersama dengan tuan Hans maka selesaikan lah Tapi tidak melibatkan aku, suami serta putraku. " pekik Valera lagi dengan api amarah yang melingkupi dirinya.
" wow.. tenang nona. Aku memang tidak ada urusan dengan mu dan suami mu tapi dengan lelaki itu " tunjuk wanita itu kepada Hans Maxwell dengan seringai tipisnya dan Valera diam saja menyimak pembicaraan selanjutnya. " Tapi aku berubah fikiran. Aku tergoda dengan suami mu jadi bisakah kita bermalam dan kau serta putramu bisa keluar dari sini dengan aman. " ucapnya dengan tersenyum licik dan Valera menatap tajam wanita yang berada di hadapannya kali ini. Manik Valera menatap tajam sang suami dan wanita itu secara bergantian.
Remigio menggeleng pelan kepada Valera seakan sedang memberi kode untuk Valera diam dan tenang, biarkan semua ini dia yang menangani nya, akan tetapi itu semua percuma Valera terlanjur marah dan emosinya sedang tidak stabil. Kemungkinan ucapan George benar jika Valera sedang mengandung.
__ADS_1
" enyah kau dari sini ! " teriak Hans Maxwell lantang dan wanita itu hanya tersenyum mengejek lalu tak tau malunya dia duduk dan mulai mencomot kue yang baru saja George ambil.
" kue ini sungguh enak. " celetuk wanita itu dan George tak suka jika ada yang menggangunya. Valera segera menarik tangan mungil George dengan lembut karena Valera takut akan terjadi hal yang lainnya yang tak terduga.
" bibi kau sungguh tak sopan dan tak punya rasa malu " dingin George menatap wanita itu dengan intens. " kau berlaku layaknya seorang ratu yang harus dituruti. Dan apa kau tau jika kau itu wanita tak tau diri " ucap George dengan tajam membuat semua orang terdiam dengan ucapan kecil George yang sangat pedas.
valera cukup terkejut akan perubahan sikap sang putra yang berubah begitu saja, George yang lucu penurut kini tak terlihat lagi, Valera merasakan sosok lain dalam diri George.
" Hahahaha " tawa wanita itu dengan terbahak-bahak " kau pria kecil, mulutmu sangat tajam. " desis wanita itu berjalan secara perlahan menuju arah George.
GREPPP
Hans Maxwell menangkap pergelangan tangan wanita itu dengan erat, dan sorot mata yang sangat tajam.
" berhenti, berani kau melangkah mendekati anak itu aku tak akan segan untuk membunuh mu saat ini juga " bengis Hans
BUGHHHHHH
AGHHH
" Tuan " pekik Lettan saat melihat tuan nya tersungkur dan meringis ngilu karena ditendang sangat kuat oleh wanita sialan itu. Lettan datang dan membantu tuannya untuk bangkit dan berdiri.
" cihh.. ingin membunuhku ! tidak kah kau lihat jika kalian semua terkepung oleh anak buah ku " marah wanita itu lagi dan kini ia datang menghampiri tubuh Hans Maxwell.
Valera dan Remigio diam saja karena mereka tak mau ikut campur, dan situasi itu mereka rasa masih biasa dan tidak ada yang dikhawatirkan.
Lettan menodongkan senjatanya saat wanita itu mendekati tubuh tuannya, dan seketika Lettan pun ditodong kembali oleh beberapa senjata yang mengenai tubuhnya.
apa dia tidak bisa melawan wanita gila ini. kesal Valera
JLEBBB
AGHHH
wanita itu merintih kala punggungnya mengenai benda tajam dan semua orang tentu saja terkejut bukan main, darah mulai mengucur deras di punggung wanita itu.
Remigio dan Valera membelalakan matanya lebar saat George melakukan hal mengerikan seperti itu.
" sialan ! siapa yang berani melukai ku. ! " pekik nya marah dan seketika anak buah nya menodongkan senjata tepat kerah George. " ohh jadi kau pria kecil. Sungguh berani sekali kau ini. " rintih dan erang wanita itu.
" bibi kenapa kau berlaku dan bertingkah layaknya wanita gila ? aku tak suka melihat pemandangan seperti ini, dan kalian semua menganggu makan malam ku " acuh George.
" tangkap anak itu " titah wanita itu dan seketika
DODODODOR !!
DODODODOR !!
Remigio mengeluarkan senjata dan melukai anak buah wanita itu dengan satu kali tembakan, rintihan dan erangan terdengar disana Lettan mulai melakukan bagian nya dimana ia mulai menembak orang-orang yang menodongkan senjatanya tepat ke arah Hans Maxwell.
DODODORDODODOR !!
AGHHH
wanita itu menatap tak percaya dimana orang-orang nya tergeletak tak berdaya setelah mendapatkan luka tembak di tubuhnya.
__ADS_1
" berani sekali kau ingin melukai putraku ! " ucap Remigio dengan penuh penekanan. Valera segera mendekap tubuh putranya dan George terlihat ketakutan saat mendengar suara tembakan yang begitu nyaring.
" AGHHH.. berani sekali kalian semua " teriak wanita itu lantang lalu berlari keluar dari ruangan itu dan Lettan segera mengejarnya
Hans Maxwell melihat George yang menunduk seperti memikirkan sesuatu, Valera terlihat bingung dengan situasi ini.
" mamih aku ingin pulang " lirih George.
" hmm baiklah, ayo. Maaf tuan Hans sepertinya kita harus pulang " ucap sopan Valera dan Hans terlihat diam dan tersenyum kecut menatap putranya. Valera yang tau akan hal itu hanya diam saja bahkan ia terlihat bingung dengan menyikapi semuanya.
" bisakah aku memeluk mu nak ? " tanya Hans dengan sendu dan George menatap mata biru yang mirip dengan nya sesaat lalu berjalan perlahan dan mulai memeluk tubuh tegap lelaki itu dengan erat. Valera dan Remigio yang melihat itu hanya bisa tersenyum.
" Daddy " lirih George dan Hans tentu saja ia tersentak karena George memanggilnya dengan sebutan Daddy.
" putraku " sendu Hans lagi Valera dan Remigio yang mendengar itu hanya diam saja tanpa mau berbicara.
George hanya mengelus punggung kekar ayahnya dengan lembut airmatanya mengalir tanpa permisi tapi George malu untuk menatap wajah ayahnya ia merasa lelaki tak pantas untuk menangis.
" jangan menangis aku merasa lelaki tak pantas jika harus menangis. " ucap George sedikit serak dan Hans tertawa cekikikan mendengar perkataan anaknya itu dengan cepat Hans mengusap air matanya dengan kasar.
" Ya kau benar jika lelaki tak pantas untuk menangis. " ucap Hans dan George mengangguk mantap.
" Daddy. Kau pasti Daddy ku. Mata ini sangat mirip dengan ku. Benar kah mamih ? " ucap George yang menatap Valera yang terdiam dan Valera hanya tersenyum tipis dengan anggukan kepalanya. " aku senang bisa bertemu dengan mu, kita bisa bertemu lagi jika Daddy mau ?, " ucap George dengan mata berbinar dan Hans tersenyum senang.
Valera hanya tersenyum manis saat George mampu bersikap dengan bijak diusia dini, lalu George pamit dan tak lupa ia mengecup singkat pipi Hans Maxwell ayah kandungnya.
valera dan Remigio pun pamit dan meminta maaf karena tak bisa melanjutkan acara makan malam ini begitupun Hans ia pun meminta maaf dengan apa yang telah terjadi sehingga membuat mereka tak nyaman.
sepanjang perjalanan suasana tampak hening dan sunyi, Remigio fokus akan kemudi setirnya sedangkan Valera memikirkan perkataan George yang cukup membuat nya tersentak, mengandung ? apakah benar dirinya sedang mengandung ?
" hmm sayang apa boleh mamih bertanya padamu ? " ucap Valera yang menoleh kearah belakang dan George mengangguk mantap. " hmm bagaimana bisa kau berkata jika mamih sedang mengandung ? " tanya Valera bingung.
" Aku hanya menebak nya saja, dan hatiku berkata jika mamih sedang mengandung calon adik perempuan untuk ku " ucap George polos dan lagi-lagi ucapan kecil George membuat pasangan suami istri itu terperangah lebar.
" apakah itu benar ? " tanya Remigio dengan sedikit berbinar.
" Ya. aku harap begitu " ucap George lagi dan Valera hanya terpaku di tempat nya saja dengan pandangan lurus kedepan, George hanya tersenyum kecil saat melihat sang ibu dilanda kebingungan begitu saja.
Remigio langsung menggenggam tangan Valera dengan lembut lalu beralih pada perut Valera yang masih rata, seutas senyum bahagia timbul dari raut wajahnya, dan ia berharap ucapan George benar adanya. Akan tetapi Valera diam saja rasa kesalnya terhadap sang suami belum saja hilang, lalu Valera sedikit menepis tangan kekar Remigio dari perutnya membuat si mpunya sedikit terkejut.
" ada apa ? " Picing Remigio bingung.
" tidak ada " datar Valera dan lagi-lagi Remigio terhenyak saat mendapatkan jawaban datar dari sang istri, lalu ia tersadar jika Valera sedang marah padanya saat ini karena perkataan nya tadi terhadap si wanita itu.
" sweatheart " lirih Remigio dengan pandangan lurus kedepan dan Valera ia memilih untuk menoleh kearah samping karena tidak mau melihat ataupun menatap wajah Remigio saat ini.
hingga mobil mewah itu telah sampai disebuah bangunan megah bak istana dalam negeri dongeng, para penjaga sibuk menundukkan kepalanya dengan sopan.
mereka bertiga akhirnya memasuki bangunan mewah yang diberi nama Gold mansion itu, sebelum itu George memberikan kecupan hangat pada pipi Valera dan juga perut Valera dengan lembut lalu beranjak naik ke lantai atas Dimana kamar pribadinya berada, begitupun dengan Valera dan Remigio.
*****
**Maaf yah readers kemarin telat upload karena owee sibuk dan gak sempat nulis naskahnya, tetap berikan support pada owe ❤️
Tenang saja novel owee Masih panjang dengan kisah-kisah lainnya. Kalau ada yang nanya kapan bahagia nya ? kok musuhnya gak habis-habis ? silahkan baca novel Romance saja karena novel owee bergenre mafia/Action pasti banyak adegan rusuhnya ketimbang Romance nya.
__ADS_1
Tapi owee berusaha imbang dengan menyuguhkan adegan Romance dibeberapa episode untuk pemanis nya agar novel owee tidak terlalu tegang.
TnQ ❤️🙏**