Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
* hari yang buruk.


__ADS_3

Pagi yang dingin menyambut dan menyapa pasangan suami istri yang masih bergelung dengan selimut tebalnya, semalam adalah malam terpanas yang dilakukan oleh pasangan hot dimana Remigio yang menjelma menjadi sosok Prince berubah begitu liar saat mempermainkan tubuh sang istri.


Valera tak kuasa mengimbangi permainan prince yang selalu membuat dirinya merasakan sakit pinggang setelahnya.


" Sayang " bisik Remigio lirih tepat ditelinga Valera, wanita cantik itu melenguh pelan dan semakin menenggelamkan tubuhnya yang polos di selimut tebal karena Turki saat ini sedang masuk musim dingin dimana tumpukan salju begitu memadati jalanan dan lain nya. " sayang bangunlah '' bisik Remigio lagi tapi Valera memejamkan matanya dan membalikkan tubuhnya hingga kedua aset kembar itu menantang tepat dihadapan Remigio. '' jangan menggodaku sayang '' ucap Remigio kembali menyeringai dan melahap langsung aset kembar sumber nutrisi untuk bayinya kelak.


" NO '' pekik Valera lantang hingga Remigio terkejut bukan main dan kini menatap sang istri dengan tatapan bingung. '' prince jangan begitu aku lelah, kau tak kasian padaku ? '' ucap Valera dengan memelas.


'' baiklah, ayo bangun dan kita akan mandi bersama '' ucap Remigio dan Valera mengangguk lemah dan justru merentangkan kedua tangannya untuk meminta digendong, Remigio terkekeh dan mengecup kilas bibir istrinya.


sedangkan disisi lain Ellara sedang menikmati waktunya diatasi balkon kamarnya dimana udara semakin dingin saja, maniknya menatap lurus kedepan secangkir coffea coklat ia sesap secara perlahan.


" Ella " ucap Ornaf tiba-tiba dan melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Ellara hingga membuat wanita itu terkejut dan hampir tersedak oleh coffea nya sendiri. " maaf mengejutkan mu '' ucap Ornaf kikuk saat melihat Ellara menatap tajam kearah dirinya.


" ada apa ? '' ketus Ellara dan membiarkan dirinya dipeluk oleh Ornaf secara intim.


" kenapa kau tidak ada manis-manis nya '' keluh Ornaf lagi dan Ellara terlihat memicingkan matanya seketika karena merasa geli dengan rengekan kecil Ornaf.


Ellara diam saja dan terus meminum kopinya membiarkan Ornaf memeluk serta mencium tengkuknya itu, Ellara terkikik geli saat sapuan benda tak bertulang itu mengenai kulitnya yang mulus.


Ellara memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut itu, Ornaf menyusuri setiap jengkal pangkal lehernya, deru nafas berat sangat terdengar jelas ditelinga Ellara.


Ornaf terlihat sudah bergairah dan memejamkan matanya saat bibir miliknya menyentuh tengkuk dan pangkal leher Ellara.


" Ella '' lirih Ornaf dan Ellara hanya berdehem saja " aku menginginkan mu " ucap Ornaf lagi dan Ellara diam saja menanggapi dan tak menolak saat tubuhnya di sentuh oleh Ornaf. '' katakan iya Ella '' ucap Ornaf lagi.


Ellara melenguh kecil saat tangan kekar itu menelusup dibalik pakaian nya yang tebal. Lembut serta hangat Ellara rasakan dekapan tubuh Ornaf semakin erat dan kuat hingga dirinya merasakan ada hal lain yang mengeras dan menonjol dalam diri Ornaf.


Ornaf membawa Ellara masuk dan menuju ranjang kamar yang dihuninya, kini mereka saling beradu dan bertautan dengan penuh gairah, Ellara selalu terbuai dengan gerakan benda tak bertulang itu yang menyapu seluruh rongga mulutnya.


" hmmppt '' erang Ellara saat tangan kekar itu menyentuh sedikit kasar aset kembarnya. " Ornaf " runtuh Ellara lagi.


" ya panggil namaku Ella.. '' ucap Ornaf lagi.


kini pakaian milik Ellara sudah terbuka dan berserakan di karpet coklat bermotif, hanya penutup tipis saja yang masih tersisa, Ellara tersenyum menyeringai saat melihat tatapan Ornaf yang penuh minat itu.


'' apa yang kau inginkan tuan Ornaf ? '' ucap Ellara menyentuh dada bidang Ornaf yang terpampang begitu saja, Ellara mengecupnya serta memberikan tanda merah disana hingga membuat Ornaf mendesah lirih. '' katakan padaku tuan Ornaf '' ucap Ellara lagi yang kini membelai mesra rambut Ornaf.


'' Aku... Aku menginginkan mu '' ucap Ornaf lagi dengan mata yang terpejam karena menikmati sentuhan tangan usil Ellara.


BRAKKKKKK

__ADS_1


" Ornaf, aku mem... " ucap Edgar terhenti saat melihat dua insan manusia dengan tubuh hampir polos dihadapannya.


" ahhh " jerit Ellara hingga Ornaf menyelimuti tubuh wanitanya dengan selimut lalu menatap Edgar tajam, Edgar menelan ludahnya kasar dan tersenyum tanpa dosa seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" KELUAR !! " teriak Ornaf lantang hingga wajahnya marah dan menatap tajam pada Edgar.


" maaf, aku tak tau jika kalian sedang bersenang-senang " ucap Edgar dengan polos dan Ornaf tak menjawab nya dan justru memalingkan wajahnya dan menatap Ellara yang sedang dilanda kepanikan.


Edgar buru-buru keluar dari ruangan itu dan menutup kembali kamar yang ditempati oleh Ornaf, sedangkan Ellara mengumpat dalam hati dan meruntuki perbuatan Edgar.


Ornaf mendadak diam dan tak tau harus berbuat apa sekarang, ia merasa dijatuhkan dari ketinggian saat ini.


" mau di lanjutkan ? '' ucap Ornaf lagi.


" tidak !! aku sudah tak berselera '' ketus Ellara dan Ornaf menghembuskan nafasnya kasar, Ellara bangkit dan memungut bajunya serta mengabaikan Ornaf yang sedang menatapnya dengan penuh gairah.


" Ella aku mohon " ucap Ornaf dengan memelas tapi Ellara menggeleng cepat dengan tegas. " please... I need you. " ucap Ornaf lagi tapi Ellara justru menatapnya dengan tajam yang pada akhirnya Ornaf mengalah dan memilih pergi ke kamar mandi untuk mendapatkan pelepasannya.


*******


Malam hari di Golden bar milik Deniz.


terlihat orang-orang berkuasa itu sedang duduk dengan melingkari sebuah meja bundar yang ditemani beberapa minuman kelas dunia, Valera memilih menyesap teh hangat beraroma Jasmine.


" Apa yang kalian lihat ? " ucap Remigio dengan memicingkan mata nya sesaat.


" Tidak. Apa semuanya baik-baik saja " ucap Dion dan Remigio mengangguk. " hmm.. tentang lelaki bernama Mehmet itu " ucap Dion.


" dia sudah tertangkap " ucap Remigio lagi dan Dion serta Deniz mengangguk pelan seperti tak begitu mempermasalahkan.


" kau tenang saja tuan Deniz. Aku tak membuat semuanya kacau nasib baik sedang berpihak kepadaku. Jadi kau tak perlu repot-repot melakukan sesuatu " ucap Valera dengan cepat hingga Deniz terdiam dengan perkataan istri dari sahabatnya itu.


" Ya syukurlah " suatu Deniz pelan.


" ada keperluan apa kau disini Dion ? " ucap Remigio menatap Dion yang sedang asyik menghisap rokok mahalnya itu.


" bertemu dengan salah satu klien ku " ucap Dion.


" wanita ? " celetuk Remigio dan Dion terkekeh dengan menyeringai hingga membuat Valera menggeleng kepalanya pelan, entah mengapa Dion selalu senang bermain-main dengan para wanita jiwa Casanova nya seakan tak pernah hilang dalam dirinya.


uang bukan hal yang masalah bagi pria penguasa seperti Dion, pria itu bisa membeli apa saja dengan uang miliknya termasuk harga diri wanita, itulah pemikirannya.

__ADS_1


Paras, jabatan, kekayaan dan kekuasaan tentu saja Dion miliki, wanita mana yang tak tergoda dengan lelaki yang mempunyai senyum memikat itu, bahkan ada saja yang menyerahkan tubuhnya secara suka rela hanya untuk bermalam dengan sang Casanova.


" ckckck. suatu saat kau akan merasakan apa itu artinya cinta '' ucap Valera dan Dion hanya tersenyum entah mengapa bayang-bayang wajah Athena kecil tiba-tiba terlintas dibenaknya begitu saja, dua kali ia bertemu dengan putri sahabatnya itu, bayi mungil yang sebentar lagi genap satu tahun membuat Dion ingin juga memilikinya.


" Ya semoga saja ada wanita yang aku inginkan di dunia ini " ucap Dion dengan santai dan kembali menyesap wine miliknya dengan gaya elegan. Deniz tertawa terbahak-bahak menanggapi sikap Dion ini.


" Ya semoga saja ketika itu terjadi kau tidak kelihatan tua " celetuk Deniz menahan tawanya dan benar saja Dion langsung termenung dan menatap Deniz dengan tajam.


*****


Keesokan harinya Valera mendapatkan kabar jika paman Jiro berhasil diamankan dan kini berada di markas utamanya, Red juga melaporkan jika tak ada penolakan atau pemberontakan dari paman Jiro saat kejadian berlangsung, Valera hanya tersenyum miring saat mendengarnya.


" Baiklah terimakasih atas kerjasama nya. Jaga semuanya baik-baik aku akan segera kembali '' ucap Valera tegas.


" baik lady " ucap seorang pria diseberang sana.


Valera meletakkan ponsel nya diatas ranjang, siang ini cuaca masih saja dingin dan kaku membuat Valera mengurungkan niat nya untuk berbelanja, akhirnya Remigio menyuruh seseorang untuk membelikan keperluan sang istri serta lainnya dan Valera mengangguk saja tanpa membantah.


" Ellara bagaimana keadaan ibumu, apa baik " ucap Valera menatap wanita yang memakai piyama kartun super Mario dibalut mantel tebal berwarna putih dengan rambut yang di cepol sederhana


" ya ibuku baik-baik saja " ucap Ellara tersenyum manis dan Valera mengangguk kecil.


" bagaimana kesehatannya ? apa kau menempatkan seseorang untuk menjaga ibumu selama kau pergi " tanya Valera lagi


" kesehatan ibuku semakin membaik saja, ya Ornaf menempatkan dua orang anak buah king disekitar rumahku " jelas Ellara dan Valera terlihat mengerutkan dahinya seketika, Ornaf merasa salah tingkah saat ini.


" ohh ya baiklah, hmm bisa kau jelaskan sedikit tentang Lorenza ? " pinta Valera dan Ellara mendadak diam menatap Valera dengan tatapan datarnya. " ada apa ? " tanya Valera lagi.


" satu kata untuk lelaki itu, dia licik dan sangat berbahaya seribu satu cara akan ia lakukan untuk mencapai tujuannya " ucap Ellara dingin. Semua orang mulai menyimak penjelasan Ellara mengenai Lorenza yang kabur entah kemana setelah pertarungannya dengan pemimpin king itu. " sampai detik ini aku masih berfikir bagaimana ia bisa menemukan kita pada saat di markas milik Frazzes. " gumam Ellara.


" apa tak ada yang kau curigai ? " Picing Remigio menatap Ellara tajam dari tempat duduk nya, dan Ellara diam saja seperti memikirkan sesuatu.


" kemungkinan besar ia menempatkan banyak mata-mata disekitar kita " ucap Ellara lagi.


" mata-mata ? apa prediksi mu yakin " ucap Dave kini bertanya.


" tak sepenuhnya yakin, ingat yang aku katakan Lorenza sangat berbahaya asal kau tau Dave jangan meremehkan nya walaupun usianya tak lagi muda tapi ia mempunyai dukungan yang kuat dibelakangnya " tegas Ellara dan entah mengapa jantung Valera berdebar tak karuan maniknya bergerak tak beraturan memikirkan perkataan Ellara, itu kemungkinan ia akan datang suatu saat nanti.


" Aku jadi penasaran seberbahaya apa dirinya itu hingga kau berkata demikian " celetuk Edgar merasa tak yakin dengan ucapan Ellara yang terlalu berlebihan untuk nya.


Ellara hanya tersenyum miring menanggapi perkataan Edgar, dirinya tahu dan sangat tahu karena ia sedari kecil tumbuh besar disekitar mereka.

__ADS_1


bahkan Ellara sangat ingat saat Lorenza membunuh istrinya karena sesuatu kesalahan yang menurutnya kecil, Lorenza yang pada dasarnya adalah adik dari Frazzes tak akan segan-segan menghukum siapapun yang melakukan kesalahan bahkan dirinya pernah di gantung di atas kolam yang berisi para hewan buas karena sebuah kesalahan kecil yang dilakukan oleh anak berusia sepuluh tahun.


__ADS_2