
DUARRRR.
DUARRRR
suara ledakan itu membuat terkejut para penghuni yang berada di dalam, Valera terlihat bingung dengan apa yang terjadi ia yakin jika sesuatu hal terjadi.
DUARRRR
" Shittt, ini penyerangan " ucap Valera kembali terkejut saat ia hendak menyusul keruang rapat dimana sang suami, Dave dan beberapa orang berada di sana.
langkahnya semakin cepat dan belum sampai kakinya menapak anak tangga, Dave datang dengan tergesa dan raut wajah yang cemas seperti sedang terjadi sesuatu.
" nyonya mansion ini diserang " ucap Dave dan Valera mengangguk saja karena ia sudah tau, lalu ia menatap kearah jendela yang memiliki tabir berwarna transparan untuk melihat, tapi anehnya tidak ada pergerakan apapun hanya beberapa tempat seperti Dojo yang hancur dan hangus terbakar.
Valera dan Dave saling pandang satu sama lain terlihat aneh dengan ini semua, tak lama suara ribut-ribut kembali terdengar dari lantai atas. valera segera bergegas dengan senjata yang berada dalam genggamannya.
Dave memilih untuk tetap bersiaga dengan senjata yang ia pegang dan ia genggam dengan erat walaupun ia bingung apa yang harus ia bidik nantinya.
disisi lain Garvish mengumpat kesal karena ada sekelompok orang yang ingin bermain-main dan mencoba untuk mengantarkan nyawanya dengan suka rela.
" mereka menghancurkan bangunan kecil itu " pekik Garvish lagi.
" temukan dalang nya Garvish. Aku akan menyusul istriku terlebih dahulu " ucap remigio tegas dan Garvish hanya mengangguk saja.
Aneh tidak ada siapapun yang menyerang tapi ledakan itu berasal dari mana jika tidak ada manusia yang melakukanya. Valera menajamkan pandagannya setelah ia tiba di lantai teratas yang ternyata tidak ada siapapun.
langkahnya begitu hati-hati dengan sorot mata yang tajam bagaikan sebuah belati yang siap menyayat korbannya dengan bengis. Hening, sepi Valera semakin merasa dipermainkan.
sial. Permainan apa ini. Batin Valera.
Valera kembali untuk menemui suaminya, ia yakin jika ada yang ingin bermain-main dengan dirinya tapi siapa entahlah.
setiba di lantai dua Remigio langsung memeluk Valera dengan erat Valera balas memeluk tubuh suaminya tak kalah erat.
" Kosong, tidak ada siapa-siapa. Aku yakin tadi mendengar suara ribut-ribut di atas sana dan beberapa kali ledakan " ucap Valera menatap sang suami dan Remigio hanya mengangguk santai dan tersenyum lembut.
" Aku tau, jangan khawatir " ucap Remigio lagi.
" Heii... siapa yang khawatir ? aku hanya merasa penasaran saja tidak mungkin hantu yang melakukan ini semua bukan " ucap Valera dengan kesal dan seketika Remigio terbahak-bahak mendengar perkataan sang istri, Valera diam saja dan masih fokus pada kaca jendela yang memiliki tabir transparan.
setelah menunggu beberapa menit mengamati manik hazel nya menangkap sebuah pergerakan yang cukup jauh dari gerbang mansion yang saat ini ia tinggali.
orang itu terlihat berlari dan detik kemudian ternyata ia sedang dikejar oleh beberapa anjing bertubuh sintal nan garang, Valera tertawa geli dibuatnya. Apa orang itu yang melakukan penyerangan tiba-tiba ? entahlah kemunginan besar ia.
" prince " panggil seseorang dari arah belakang hingga Remigio dan Valera menoleh secara bersamaan. " Aku yakin mereka anak buah Utera. Ternyata wanita itu cerdik dan cukup cekatan " ucap lelaki berpakaian kasual yang hanya memakai baju kaos berwarna merah dengan celana panjang berwarna hitam.
" Jadi wanita itu sudah mengetahui tempat ini ? " Picing Remigio lagi.
" kemungkinan besar ya. Tapi itu hanya sebuah prediksi saja, sejauh ini tak ada siapapun yang mengetahui tempat ini " ucap lelaki itu lagi yang bernama Cello " semoga saja lelaki yang sedang dikejar para anjing itu menyerah dan memilih untuk mengatakan semuanya " ucapnya lagi hingga valera mengerutkan dahinya halus.
" Apa kau tak lihat jika ia berlari ? hanya dikejar sebuah anjing saja ditembak oleh senjata apapun anjing-anjing itu akan mati. Lalu bagaimana kau mengatakan jika ia akan menyerah ? " bingung Valera menatap Cello lalu Remigio bergantian.
Cello terkekeh dibuatnya, ternyata istri dari seorang prince bisa juga bersikap polos dalam keadaan seperti ini, Dave memicingkan matanya heran ia yakin jika terdapat sebuah jebakan yang lainnya disana.
__ADS_1
" pergilah, dan bawa lelaki itu kemari. Jika benar dia anak buah Utera maka siapkan semuanya kita akan menyerang hunian cantik miliknya tanpa ragu " ucap Remigio dengan seringai menakutkan nya yang muncul baju seorang dewa kematian.
Cello mengangguk dan langsung berlalu pergi dan meninggalkan ketiga orang itu dengan dapat, Valera memandang kepergian Cello dengan bingung.
Dua jam berlalu seorang lelaki yang wajahnya terlihat lelah dengan pakaian yang compang-camping dengan beberapa luka cakaran di sekujur tubuhnya.
valera menelisik wajah lelaki itu dari ujung sampai bawah, lelaki itu tampak kelelahan dengan sorot mata yang tajam menyorot orang-orang yang sedang duduk dengan angkuh saat ini.
Remigio bangkit dan mengambil sebuah tongkat berwana hitam, pergerakan Remigio tentu saja menjadi pusat perhatian orang-orang disana termasuk lelaki yang sedang terduduk dengan lesu.
tongkat setrum ? ya saat ini Remigio sedang mengenggam sebuah alat penyiksaan, kakinya berhenti di depan lelaki itu, Valera dan lainnya duduk dengan santai seraya menikmati sebuah wine yang tersedia disana.
Valera justru semakin suka saat melihat Remigio berlagak seperti itu, ia terlihat seksi dan begitu jantan, kemeja yang kancingnya dibuka dengan lengan bajunya yang digulung sempurna, wajahnya tegas dan aura kebengisan seketika terasa dalam ruangan itu.
AGHHH
suara teriakan itu sontak menjadi pembuka dari kegiatan Remigio yang saat ini sedang menempelkan sebuah ujung tongkat yang sedang bergetar hebat dengan tekanan listrik yang cukup kuat.
" ohh ternyata masih berfungsi, aku kira tongkat ini tak berguna " polos Remigio menatap orang- orang yang duduk dengan tenang sembari menikmati minuman hangatnya.
" AGHHH hen...tikan hentikan !! " teriaknya lantang dengan suara yang hampir tercekat-cekat dan wajahnya memerah sempurna dengan tubuh yang sedikit kejang-kejang.
Remigio menghentikkan aksi nya terlebih dahulu seperti memberikan sebuah nafas baru untuk korbannya, mata lelaki itu menatap tajam pada Remigio.
" siapa kau ? dan mengapa kau membuat keributan ditempat ini " ucap dingin Remigio menatap datar lelaki yang kini kondisinya sangat memprihatinkan.
" sialan kau !! " umpat nya dengan suara yang hampir tenggelam dan Remigio hanya terkekeh mendengarnya.
tubuhnya bergetar dengan raut wajah yang gugup bukan main, bahkan jantungnya berdebar tak karuan saat Remigio menatapnya penuh kejahatan.
BYUURRR
AGHHH
Garvish menyiram tubuh lelaki itu dengan wine miliknya hingga lelaki itu berteriak dan merintih kesakitan, sungguh melodi yang sangat indah dan mendayu bukan ? Remigio dan Garvish tersenyum senang saat melihat korbannya menggelepar di lantai dengan jeritan yang begitu sangat indah.
" dasar manusia iblis " pekik lelaki itu yang masih sempat berbicara walaupun kini tubuhnya tak baik-baik saja bahkan keringat hebat terlihat jelas di wajah lelaki itu.
AGHHH
" katakan saja, kenapa kau sulit untuk menjawabnya ? apa nyawamu ini tak berharga " ucap remigio geram.
" tuan Vijay " lirihnya dengan suara lemas dan Remigio menyeringai penuh arti, Garvish melirik Remigio dan Remigio hanya mengedikkan bahunya acuh.
Garvish mengangguk dengan senyum terkembang nya, sebuah senjata tajam berada disebelah tangan kirinya Valera menatap tajam dengan apa yang dilihatnya karena ia merasa jika nyawa lelaki itu akan lenyap ditangan Garvish.
KRASSSS
CRATTT
leher lelaki itu disayat dengan indah oleh Garvish seketika Dave yang melihat itu semua terkejut bukan main hingga gelas yang digenggam nya hampir terlepas begitu saja jika ia tak memegangnya dengan erat.
tubuh lelaki itu menggelepar dengan tubuh yang kejang-kejang hebat, dan mata yang terbelalak lebar detik kemudian tak ada pergerakan lagi dari lelaki itu, sudah dipastikan ia tewas dengan tragis.
__ADS_1
Valera tersenyum miring begitupun dengan Remigio dan Cello yang berada di sana, Dave menatap sekelilingnya dengan perasaan tak menentu.
Gila. Ini sekumpulan para psikopat. Bagaimana bisa mereka tersenyum penuh arti saat melihat asli kebrutalan lelaki itu bahkan ini terbilang sungguh kejam. Batin Dave.
Garvish menyeringai saat melihat korbannya tak bernyawa dengan darah yang mengucur deras di lehernya itu, Garvish menendang kuat tubuh tergelatak tak bernyawa itu seperti sedang memastikan sesuatu.
" see he's done " ucap Garvish tersebut tipis.
" Vijay ? " gumam Valera mengulang nama yang itu. " apa mereka masih antek-anteknya Utera jika ia ini sungguh menyenangkan " ucap Valera tersenyum membayangkan akan ada pertempuran yang mengangumkan didepan matanya.
" well ?? kapan kita akan menyerang ? " ucap Cello dengan semangat empat lima nya menatap Remigio dan Valera secara bersamaan.
" Pastikan rencana kita berhasil Cello, masalah menyerang kau tenang saja " ucap Remigio santai.
" wait wait !! Sebelum itu terjadi aku butuh asupan nutrisi ku terlebih dahulu, " ucap Garvish menyeringai penuh arti menatap Remigio yang sedang menatapnya dengan tatapan datar " bukankah begitu price ? adik kecilku butuh dimanjakan " ucap Garvish
" terserah kau saja !! " ucap datar Remigio dan Garvish tersenyum penuh arti lalu mulai membersihkan diri dan pergi dari tempat itu secepat mungkin karena saat ini ia butuh asupan nutrisi yang sangat tinggi setelah mengeksekusi korbannya.
******
BRAKKKKKK
seorang lelaki tak sengaja menabrak seorang wanita saat dirinya sedang di swalayan terbesar di kota itu, Wanita itu segera memungut barang belanjaannya yang terjatuh.
" maaf aku tak sengaja " ucap Asyur dengan sopan dan ikut memungut barang belanjaan milik wanita itu.
" Ya tak apa-apa tuan, tapi lain kali kau harus berhati-hati " ucap wanita itu dengan lembut dan senyum manis nya. Asyur seketika terdiam saat melihat wajah sendu wanita yang baru saja ia temui saat ini.
" ahh ya sekali lagi maafkan aku " ucap Asyur merasa tak enak hati karena sudah menabrak tanpa sengaja, wanita itu mengangguk lalu tersenyum dan pamit kepada Asyur
sesaat Asyur menatap kepergian wanita bertubuh tinggi, dengan wajah yang khas dan memiliki rambut panjang hitam mengkilat. Asyur tersenyum tipis saat menatap kepergian wanita itu dan menghilang dari pandangannya dengan cepat.
Tak lama ponsel milik nya berdering dengan cepat Asyur mengangkat nya, dan ternyata Aranna menghubungi sang Kakak untuk menitip sesuatu, dan Asyur menyanggupinya.
Disisi lain pergumulan panas terus terjadi, suara ******* bercampur dengan nada manja menggelegar di sebuah ruangan tertutup, dua anak manusia sedang mengarungi surga dunia.
" ahhhh... it's so good Ed '' rintih Elena saat Ed memacu tubuhnya dengan hentakan keras dan cepat hingga Elena tak berhenti untuk mendesah nikmat dibuatnya.
tubuh kekar Ed makin menggoda dengan kilatan keringat bercampur aroma parfum mewah dalam tubuhnya, Ed mencium ganas bibir Elena yang tidak henti-hentinya nya mendesah tak karuan.
Elena menyambutnya tak kalah buas bahkan Elena bertindak liar dengan suara decapan mereka satu sama lain, Ed mengerang tertahan saat tubuh sintal Elena memacu dengan kuat.
" ohh sayang.. " racau Ed dengan mata terpejam bahkan urat-urat leher nya menonjol saat itu.
" hmm ini sungguh sesak " ucap Elena dengan menggoda dan bahkan meremas sedikit rambut Ed
keduanya sama-sama tak mau mengalah dan rasanya suara decitan ranjang itu membuktikan betapa liarnya dua anak manusia yang sedang di buai kenikmatan.
tubuh Elena bergetar hebat saat dirinya merasakan pelepasan yang luar biasa tak lama Ed menyusul dan menumpahkan miliknya untuk berlari-lari di rahim Elena.
Nafas keduanya tersengal dengan mata terpejam, keduanya sama-sama berkeringat hebat dengan mata yang terpejam, Ed melirik sang istri yang betah memejamkan kedua matanya.
" I love you my wife " ucap Ed dengan lembut dan mengusap punggung polos istrinya.
__ADS_1