
Markas utama.
seorang lelaki sedang duduk dan terikat di kedua tangannya, Syina hanya mengikat tangannya saja tanpa mau mengikat kaki dari lelaki yang berhasil dibawanya itu.
Tampak Valera duduk di kursi besi berwana coklat sembari menatap wajah lelaki yang kini sedang tertunduk dengan mata terpejam karena sedang menikmati waktu tidurnya.
" Bangunkan ia " ucap Valera tegas dan datar, Syina dan Elena yang berada di ruangan itu mengangguk, Elena berjalan dengan membawa segelas air dingin di tangannya itu.
BYUURRR
" Ahhhh sialan, apa yang kau lakukan ! " pekik lelaki itu dengan wajah yang gelagapan karena Elena menyiram air itu tepat di wajahnya.
Elena hanya tersenyum tipis dan mengedikkan bahunya acuh lalu berjalan menjauh dari lelaki itu dan menatapnya dari jarak yang cukup jauh, lelaki yang bernama Damian terkejut saat melihat sosok wanita berwajah cantik dengan tatapan dingin dan tajam seperti sebuah belati yang siap menghunus nya kapan saja.
Aura wanita itu sungguh kuat dan terlihat lebih dominan, Damian sesaat tersenyum tipis lalu detik kemudian menyeringai penuh arti, akhirnya ia bisa melihat sosok Lady dari king itu.
" Valera Harson ? hmm apa harus ku panggil lady " ucap Damian dan Valera menaikkan salah satu alisnya dengan wajah datar tanpa ekspresi, ternyata lelaki itu mengetahui namanya serta sosok nya tapi Valera masih bersikap santai dan penuh perhitungan. " Akhirnya aku bisa melihat sosok mu itu dengan jelas, " lanjutnya lagi tersenyum penuh arti.
" Begitukah ? memangnya kau tak pernah tau siapa aku ? " ucap Valera ikut menimpali perkataan konyol Damian.
" hahaha, jangan konyol. Siapa yang tak tau dengan pemimpin king seperti dirimu bukan ? hanya orang bodoh yang tidak mengetahuinya " ucap Damian dan Valera mengangguk membenarkan perkataan Damian dengan gaya angkuh miliknya.
" baiklah, cukup basa-basi nya sekarang kau jawab pertanyaan ku " ucap Valera dengan gaya bertumpu kaki menatap lekat Damian. " siapa Mrs X ? kau Damian orang yang berkomplot dengannya memasuki wilayah ku dengan mengatasnamakan king, penyeludupan yang kalian lakukan tentu saja membuat ku rugi " ucap Valera dan Damian diam saja. " Dasar orang-orang tak tau aturan " desis Valera lagi hingga Damian mendengus kesal.
" ckckck rupanya kau wanita yang penuh perhitungan bukan ? penyeludupan dan kerugian apa yang kau maksud ? " ucap Damian lantang dan Valera hanya tersenyum miring.
Syina melemparkan beberapa berkas kehadapan Damian hingga matanya terbelalak lebar, dimana ia melihat beberapa photo di sebuah dermaga dengan beberapa barang bukti yang disita layaknya pekerjaan seorang abdi negara.
Damian pun melihat sebuah photo hunian yang hancur dan luluh lantah rata dengan tanah seperti mendapatkan sebuah serangan tak terduga.
" Apa itu ? aku tak mengerti " kilah Damian dan Valera tersenyum miring.
" Rupanya kau terlalu banyak berkilah Damian. Kau adalah orang yang sama dengan kasus perampokan senjata-senjata milikku yang hendak di kirim ke sebuah negara beberapa tahun yang lalu. " ucap Valera dan Damian memicingkan matanya sesaat " Dan kini kau kembali dengan kedok lain ? ohhh waww.. mengejutkan bukan ? ternyata king masih banyak parasit seperti dirimu, orang yang tak tau malu tentunya " ucap Valera dengan sinis hingga manik lelaki itu menatap Valera dengan tajam dan nafas yang terlihat begitu menderu hingga dadanya naik turun menahan amarah.
Valera menyunggingkan senyuman tipisnya seperti sedang mengejek saja, lelaki bernama Damian itu masih betah dengan keterbungkaman nya.
__ADS_1
" Jadi bisa ditebak kalian melancarkan pekerjaan itu dengan mengatasnamakan king hanya untuk kelancaran bisnis kalian saja, tapi disini aku yang rugi, ini wilayah kekuasaan ku kalian telah menginjakkan kaki sialan kalian tanpa seijin dari ku. Itu sama saja kalian semua mengantarkan nyawa secara cuma-cuma '' ucap Valera lagi.
" Hahahaha .... kau terlalu sombong menjadi pemimpin, apa kau bilang, wilayah kekuasaan mu ? dan itu semua harus meminta ijin darimu begitu ? '' ucap Damian dengan mimik yang heran dan Valera diam saja " itulah permainan sesungguhnya '' smirk Damian
DUAKKK
AGHHH
valera melemparkan sepatu miliknya tepat ke wajah lelaki itu hingga mengenai dahinya, Damian meringis kesakitan hingga darinya memerah seketika.
Syina dan Elena yang melihat itu setengah mati menahan tawanya, karena sang Lady tiba-tiba melempar sepatu mahal miliknya hanya untuk memukul Damian.
Lelaki itu tampak marah dan ingin memberontak tapi tak bisa karena dirinya saat ini sedang terikat sempurna karena diikat.
" Lancang kau !! " pekik Valera marah menatap Damian dengan nafas yang begitu menderu, sontak suara menggelegar sang lady membuat Syina dan Elena terkejut bukan main. " aku tak suka berbasa-basi bajingan. Cukup kau katakan maka semuanya akan selesai, dan kau sungguh banyak bicara " ketus Valera dengan manik yang tajam.
Valera menghela nafasnya secara perlahan, lalu berjalan dengan anggun dan memungut kembali sepatu yang berada di samping Damian, dirinya menatap Damian sekilas.
'' Syina, Elena kalian lanjutkan saja interogasi nya bersama dengan Thomas. Aku harus segera menyelesaikan urusan ku, jika ia masih bungkam beri dia hadiah yang sangat membahagiakan '' ucap Valera kepada dua wanita yang sedang duduk di kursinya, mereka berdua mengangguk patuh dan Valera segera pergi dari ruangan itu dengan wajah kesal nya.
******
nyonya Mecca menyambut hangat kedatangan Valera dan beberapa lainnya, ia sungguh senang jika Valera mau mengunjungi kediaman pribadinya di Thailand.
Valera yang saat itu baru saja tiba langsung tersenyum saat melihat nyonya Mecca tersendiri di bandara dengan beberapa orang lelaki bertubuh tegap sempurna.
" Apa disini tak ada yang mengancam keselamatan mu ? '' tanya Valera saat dirinya berada satu mobil dengan nyonya Mecca yang akan menuju kediaman nyonya Mecca tersendiri.
nyonya Mecca tersenyum simpul dan melepaskan kaca mata berwana coklat miliknya, rambut yang sudah mulai memutih itu ia gulung tali dengan gaya putri ala jaman kuno.
" Nyawaku tentu saja bisa terancam dimana saja dan kapan saja, tapi untuk apa aku takut dan bersembunyi dari kenyataan ?Tidak ada gunanya. " kekeh nyonya Mecca dan Valera diam sembari menatap indahnya kota Tagulandang pada sore hari.
ternyata kediaman nyonya Mecca melewati sebuah pantai yang sangat indah, jalanan terowongan yang sangat gelap pun tak luput mereka lalui pada kala itu, Valera menyipit seperti sedang menandai sesuatu.
Dirinya memang belum pernah ke Thailand sebelumnya dan ini adalah pengalaman pertama dirinya mengijinkan kaki di sini, hingga mereka telah tiba disebuah mansion yang cukup unik dengan warna coklat seperti bambu.
__ADS_1
disana pun terdapat banyak para lelaki bertubuh tegap lengkap dengan senjata yang disematkan di pinggangnya.
" Ayo kita harus segera masuk, '' ajak nyonya Mecca dan Valera hanya mengangguk patuh saja.
Valera memperhatikan tempat itu dengan seksama, begitupun dengan orang-orang nya, kebanyakan wajah para bodyguard milik nyonya Mecca berwajah Asia dan berkulit putih.
Dave dan lainnya hanya tersenyum geli, untuk menatap tampang dari beberapa lelaki asing yang baru saja ia temui di Thailand. Valera masuk kedalam mansion unik tersebut.
terdapat banyak kamera cctv dan pengawas pengintai serta Valera menemukan dua buah benda senjata otomatis di sekitarnya. Nyonya Mecca membawa rombongan Valera ke suatu ruangan di lantai tiga.
" Duduklah, terlebih dahulu " ucap nyonya Mecca kepada Valera dan Valera hanya mengangguk pelan. Nyonya Mecca pun memanggil salah atau pelayan nya agar membuat suguhan untuk para tamunya.
" Jadi nyonya Mecca kedatangan ku kemari, bukan untuk berbasa-basi " kekeh Valera dan nyonya Mecca mengangguk pasti dengan senyum tipisnya " Aku akan menjalankan misi yang kalian sarankan padaku waktu itu, jujur ini saja penuh dengan pertimbangan karena semua aset-aset itu sudah lama berada di pihak asing akan jadi Boomerang untukku jika aku muncul dan merampas aset-aset itu semua termasuk Quenn '' ucap Valera panjang lebar dan semua orang mendengarkannya secara seksama.
Nyonya Mecca berjalan dan kemudian mengambil beberapa berkas usang yang masih terlihat dan terbungkus rapi, Valera menatap sampul itu dengan mata yang memicingkan karena ada sebuah tanda tangan milik mendiang kakek nya itu.
" itu ... ? '' ucap Valera menggantung.
" ini adalah sebuah berkas kepemilikan sahabatku, Marcell Harson. Disini juga ada sebuah catatan yang menunjukkan jika kakek mu selalu dalam incaran para musuh, aku menemukan setumpuk berkas-berkas ini disebuah kediaman milik nya di Argentina dulu. '' ucap nyonya Mecca menghela nafas sesaat pelan dan Valera terlihat tertarik dengan cerita selanjut nya '' Aku tak bisa menjelaskan nya panjang lebar pasti kau akan sangat bosan, lebih baik kau baca dan kau pelajari semuanya. Setelah itu kau dapat menemukan pilihan mu untuk masa depan semuanya '' ucap nyonya Mecca tersenyum dan Valera terlihat memikirkan sesuatu hal atas ucapan nyonya Mecca.
" Ya baiklah " singkat Valera sembari menerima berkas-berkas tersebut dari tangan nyonya Mecca.
*******
" Aku melihat Mecca bersama dengan seorang wanita, serta mereka mendapatkan pengawalan yang ketat '' ucap seseorang menatap lawan bicaranya tanpa berkedip.
" Seorang wanita ? " ucap sang lawan bicara lagi dengan dahi yang sedikit mengeryit.
" Apa kau yakin itu adalah Mecca ? '' ucap seorang lelaki paruh baya dengan nada seperti tidak percaya.
" Ckckck. aku sungguh yakin jika dia wanita gila itu, Mecca !!. Mataku tak mungkin salah melihat '' ketus lelaki berpenampilan kasual dengan rambut yang tak disisir secara rapi.
" hmm baiklah jika begitu, sudah lama aku mencarinya dan dia selalu bersembunyi secara terus menerus dengan para antek-anteknya itu '' ucap lelaki berpenampilan rapi dengan memakai rompi mahal pada setelannya hari ini.
" Ya kau benar. Yu dan Marcell sudah tewas, dan kini tertinggal sisanya saja sebelum malapetaka itu terjadi '' ucap lawan bicaranya dengan nada penuh percaya diri.
__ADS_1
dua orang lelaki itu adalah para musuh-musuh terdahulu king, mereka selalu mengincar para tetua King terdahulu hingga saat ini. Untung saja para tetua terdahulu tak mudah terkecoh dan dikelabui mereka memilih bersembunyi dan meloloskan diri dari mara bahaya sebelum hal buruk menimpa mereka.