
semua para penghuni markas utama dibuat merinding dan juga bungkam setelah kejadian dimana sang Lady mengamuk diruang introgasi, bahkan lelaki itu kondisinya cukup memprihatinkan dimana Ornaf sedang menangani kondisinya atas titah sang Lady karena Valera tak ingin lelaki itu sampai mati.
Brandon dan juga Alland kini ikut bergabung dan menjadi tatapan tajam para anggota predator bahkan Syina dan Elena pun berada disana.
" Jadi katakan pada kami mengenai Utera ? sungguh nama itu terkadang membuatku penasaran " ucap Dave menatap Alland dan juga Brandon secara bersamaan.
Alland hanya bisa menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu, sedangkan Brandon ia terlihat seperti seseorang yang sedang melamun, Syina dan Elena menatap aneh pada dua lelaki muda itu.
" kenapa diam ? " tanya Syina memecah keheningan " Brandon, Alland jawab saja. Kami pun butuh informasi mengenai wanita itu, sepertinya nama itu sungguh merepotkan. " ucap Syina asal.
" Utera adalah musuh masa lalu ratu " ucap Alland dengan suara lirih hingga para pendengar yang berada di sana memasang wajah yang serius. " Dia musuh lama kami. " ucap Alland lagi " kami pernah terlibat pertempuran sengit beberapa tahun silam karena mempertahankan Lamora agar tak jatuh ke tangan orang yang salah, " jelas Alland lagi.
" Lamora ? " Picing Thomas " apakah Lamora sangat penting " tanya Thomas sehingga Brandon dan Alland langsung menatap Thomas serempak hingga Thomas memicingkan matanya seketika. '' heii.. ada apa, aku hanya bertanya " ucap Thomas dengan polos.
" tempat itu memiliki sejarah tersendiri, dan aku yakin kalian semua tak tau menahu tentang hal ini, hmm bisa aku tebak mungkin ratu merahasiakan hal ini dari kalian semua " ucap Brandon dan semuanya terdiam seketika.
" kau benar. Bahkan sampai saat ini masih banyak rahasia yang belum terkuak secara keseluruhannya. " timpal Dave lagi dan semua orang mengangguk kecil membenarkan perkataan Dave barusan. " Lalu Alland aku tau kau orang yang paling tau mengenai Utera. Katakan sesuatu agar kita semua mengetahui jejak orang itu " ucap Dave lagi.
" Aku tak begitu yakin, India. Aku yakin Utera berada di India tapi tak tau berada di daerah mananya " ucap Alland.
" India ? hmm oke ini awal yang baik. Hmmm apakah kau ingat bagian-bagian mana yang membuat dirimu curiga ? " ucap Elena dan Alland mengangguk samar.
" hmm Brandon kau masih ingat tempat dimana kau menemukan aku yang sekarat waktu itu, aku mencurigainya " ucap Alland dan Brandon seketika mengingat tempat itu, tempat dimana ia menemukan Alland dan bertempur dengan pihak lain yang entah siapa Brandon pun tak tau.
semua orang kini menatap Brandon seksama, sedangkan yang ditatap justru asyik dengan dunianya sendiri, Syina kesal bukan main akhirnya ia melempar sebuah cookies pada Brandon hingga lelaki muda itu tersentak dari lamunannya.
" Heii kenapa ? " ucap Brandon lagi. " aku sedang memikirkannya. " ucap Brandon lagi dengan menghembuskan nafas nya kasar. " aku rasa tempat itu cukup seram banyak sekali jebakan yang terpasang diarea itu Alland. Bahkan pada saat kami menginjak tempat itu aku merasakan hal yang aneh. Hmm...apa orang-orang itu milik Utera " gumam Brandon lagi.
" sepertinya begitu Brandon " ucap Alland.
" jadi kita akan ketempat itu ? " saut Edgar tiba-tiba dan semua orang masih bungkam tak ikut berkomentar.
" jika benar tempat itu, maka kita butuh startegi,peta lokasi, dan sebagainya. Aku yakin tempat itu mempunyai sisi kelemahannya " ucap Dave dan semua orang setuju dengan perkataan Dave yang memungkinkan.
semua orang mulai berunding satu sama lain dengan Brandon yang menunjukan peta dari laptop milik nya. Semua orang sibuk dengan pemikirannya masing-masing. India tempat itu bukan wilayah kekuasaan king, salah langkah maka nyawa mereka dalam bahaya.
__ADS_1
******
" sweatheart ada apa ? " ucap remigio saat melihat istrinya sedang melamun sembari menatap langit malam di arah balkon kamarnya. Valera hanya menggeleng lemah dan menatap kembali langit itu tanpa berkedip. " jangan berbohong " ucap remigio serta melingkarkan tangan nya ke pinggang Valera dan mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
" Putri kita diincar oleh musuh ku Remi. " ucap Valera hingga tiba-tiba Remigio memutar tubuh istrinya hingga berakhir manik keduanya saling bertatapan. " Athena dalam bahaya. " ucap Valera lagi.
" Tidak ada siapa pun yang berani menyentuh putriku sweatheart. " ucap remigio menenangkan istrinya walaupun dalam hatinya saat ini merasa resah bukan main.
Valera memeluk tubuh suaminya dan menghirup aroma maskulin itu dalam-dalam, Remigio mendekap nya dengan erat dan lembut, manik hitamnya menyorot tajam pada langit malam hatinya saat ini panas dan ingin sekali merobek seluruh tubuh si pengincar putrinya.
" ayo masuk. Hari semakin larut dan juga dingin. " ucap Remigio dan Valera mengangguk patuh, waktu menunjukan pukul sebelas malam waktu setempat, putrinya sudah tertidur dengan lelap di box bayi tepat disamping ranjang, George pun sudah lelap dan terbuai dalam mimpinya, bahkan para maid yang bekerja sudah beristirahat begitupun dengan Asnee. Hanya para pengawal yang masih terjaga dalam tidurnya karena harus bekerja di malam hari.
valera menuju ruang kendali di Gold mansion miliknya, matanya menatap intens dan melihat keadaan sekitar dengan tajam. Rupanya Valera benar-benar memperketat penjagaan di Gold Mansion bahkan beberapa anggota black road berada di sekitar sana.
Utera awas saja jika kau berani datang ke kediaman ku, maka aku sendiri yang akan menyambut mu dengan sangat luar biasa. Batin Valera
valera memutuskan untuk beristirahat dan menatap suaminya yang sedang berbaring dengan mata terpejam, Valera lalu mengecup dahi Remigio dengan lembut hingga manik hitam itu terbuka dan menatap Valera dengan intens.
valera tersenyum kikuk dan mencoba untuk membaringkan tubuhnya dengan menghadap kearah lain, tapi Remigio menarik lembut tubuh sang istri dan mendekapnya lalu mengecup tengkuk Valera dengan sensual.
" Aku ingin mempunyai anak lagi darimu sweatheart " ucap Remigio tiba-tiba hingga membuat Valera terbelalak lebar.
" Remi Athena masih berusia empat bulan. Yang benar saja " pekik Valera terkejut dan Remigio hanya tersenyum tipis, lalu mencium bibir itu dengan gemas hingga membuat Valera mau tak mau harus membalasnya.
benda hangat tak bertulang itu saling membelit satu sama lain, nafas keduanya terlihat memburu, baik Valera dan Remigio mampu mengatur nafasnya agar lebih teratur walaupun dalam posisi sedang melakukan kegiatan panasnya.
valera melenguh kala Remigio bermain nakal pada aset kembarnya, hingga kedua matanya ikut terpejam menahan rasa yang begitu sangat menggelitik. Bibir Remigio kini sudah membelai aset kembar itu hingga Vera tersadar akan ulah suaminya yang menyusu persis seperti bayi.
" Remi. " pekik Valera karena Remigio menghisap dan menelan habis cairan sumber makanan anaknya itu.
" ini terasa sangat enak, hmm dan manis " kekeh Remigio hingga tubuh Valera condong ke depan karena merasakan gairah dalam tubuhnya mulai terbakar.
valera terus memejamkan kedua matanya dan sedikit meremas rambut Remigio dengan gerakan sensual, bayi besar itu persis seperti bayi pada umumnya.
" Remi, hentikan. Ini terasa perih " keluh Valera dan Remigio menatap wajah Valera dengan senyum tipisnya lalu mengangguk kecil dan mulai merapihkan baju nya kembali, " AGHHH " tiba-tiba Valera memekik kaget saat benda asing mulai memasuki aset yang paling hangat miliknya. Remigio tersenyum jail dan justru menghentakkan nya dengan sangat kuat Valera meringis ngilu bahkan dirinya hendak memukul Remigio karena berbuat seperti itu. " Remi. Kau gila " keluh Valera akan tetapi kini ia mulai menikmati permainan liar suaminya.
__ADS_1
Remigio menggeram saat merasakan cengkraman kuat pada benda keramatnya, mulutnya terus meracau tak jelas hingga ia menyebut nama istrinya terus menerus. Untung bayi cantik itu tidak terusik dengan kegiatan suami istri itu di malam hari.
satu jam berlalu Remigio masih saja gagah dan lebih unggul dalam kepemimpinan nya, sedangkan Valera ia sudah mulai terasa lemas akan tetapi kenikmatan itu tak ingin berhenti dan membuat Valera mau tak mau terus mengerang dan mendesah.
" Remi. " erang Valera saat dirinya merasakan sesuatu yang hendak meledak dalam tubuhnya, dan itu sudah beberapa kali Valera merasakan nya. Remigio semakin memacu tubuhnya dengan cepat dan sedikit kasar hingga lenguhan panjang terdengar maskulin disana dan tubuh Remigio sedikit bergetar.
valera ambruk begitu saja begitupun dengan Remigio nafas keduanya terdengar kasar dengan mata yang terpejam, keringat basah begitu sangat mengkilat di tubuh keduanya hingga mereka merasakan hawa panas dalam tubuhnya.
" sweatheart, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu, kau beristirahat lah " ujar Remigio seraya mengelus keringat yang membanjiri area dahi istrinya dengan lembut.
valera memejamkan kedua matanya sungguh setelah melakukan kegiatan panas ini, seketika rasa cemas dan ketakutannya hilang begitu saja. Valera membiarkan tubuhnya polos hingga rasa kantuk itu mulai menyerang dan tak lama kemudian Valera mulai terlelap dalam tidurnya.
lima belas menit berlalu Remigio telah segar kembali dengan rambut yang basah, Remigio tersenyum saat melihat istrinya tertidur dengan tubuh yang terekspos bebas. Lalu Remigio menarik selimut tebalnya dan menyelimuti tubuh sang istri agar tak kedinginan.
" tidurlah yang nyenyak sweatheart, aku pastikan putri kita akan baik-baik saja. " ucap Remigio lembut dengan berbisik di telinga valera. Remigio lalu melihat Athena yang masih terlelap dan mengelus lembut pipi gembul itu dengan pelan, tak lama Remigio ikut merebahkan diri disamping sang istri dan tak lama ia pun terlelap dalam tidurnya.
******
Hari ini Thomas mengantar istrinya Aranna ke dokter kandungan sesuai jadwal yang telah dijanjikan, Aranna tampil cantik dengan sebuah dress bermotif flower yang terkesan sederhana. Thomas mengecup lembut pucuk kepala istrinya.
" Thomas " ucap Aranna karena terkejut dengan kecupan tiba-tiba yang Thomas berikan itu, Thomas tersenyum manis dan mengecup bibir Aranna dengan lembut. Aranna selalu gugup saat Thomas berlaku demikian dan hal itu membuat Thomas merasakan kesenangan nya tersendiri.
" kau sudah siap ? " Aranna mengangguk " jika begitu ayo " ucap Thomas dan Aranna segera berlari kecil untuk mengambil tas miliknya.
Thomas menatap Aranna dengan geleng-geleng kepala, wanita berusia dua puluh tahun itu benar-benar telah menjadi istrinya saat kini dan ia pun tengah mengandung benih milik Thomas.
Aranna dan Thomas dengan cepat menuju mobil mewah milik Thomas, Aranna begitu senang karena bisa keluar rumah dengan ditemani suaminya. Semenjak Aranna hamil baik Thomas maupun kakak nya tak memberikan ijin untuk Aranna keluar apartemen sendirian dan untungnya Aranna patuh pada perkataan Thomas dan kakak nya itu.
jalanan begitu teramat lenggang membuat Thomas tak perlu merasa kan kemacetan yang beberapa hari ini terjadi karena ada sebuah perbaikan jalan, hingga tiga puluh menit berlalu Thomas sudah sampai di sebuah rumah sakit ternama di kota Paris dan mereka segera bertemu dengan dokter kandungan.
Seorang dokter wanita mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk masuk dan melakukan pemeriksaan, Aranna berbaring dan Thomas menemaninya di samping. Dokter tersenyum malu saat Thomas berlaku dan bersikap manis pada Aranna.
sebuah benda yang teramat kecil muncul di sebuah layar membuat senyum Thomas terkembang begitupun dengan Aranna, dokter itu menjelaskan jika kandungan Aranna baik-baik saja dan janinnya pun sehat dan berkembang secara baik.
Thomas mengelus perut Aranna dengan lembut sembari membisikan kata-kata cinta untuk calon anak nya, Aranna tersenyum kecil melihat tingkat Thomas yang sangat manis itu.
__ADS_1
sosok Thomas yang di awal sangat lah dingin dan datar, tapi Aranna sadar jika dibalik itu semua Thomas adalah sosok yang penyayang dan lembut, bahkan Aranna membayangkan saat pertama kali melihat tubuh Thomas yang sangat menggoda itu hingga malam itu terjadi dan kini benih itu telah tumbuh di dalam rahim Aranna.