
Valera tidak menghiraukan mayat Aldebaran yang berada dalam ruangan bawah tempat para tawanan king, alhasil para anak buah king yang mengurusnya dan membakar mayat Aldebaran tanpa sisa, baik Chaiden maupun Chaiton hanya bisa meratapi nasibnya masing-masing dan menerima takdir jika hidup keluarganya akan setragis ini di tangan seorang wanita yang bergelar lady
kebencian tentu saja muncul dalam benak keduanya tapi mau bagaimana lagi melawan pun tak sanggup alhasil mereka hanya menunggu nasib dan suratan takdirnya
Sudah satu Minggu George dirawat di rumah sakit hanya saja keretakan yang dialaminya memang butuh waktu untuk memulihkan nya terlebih tulang rawan pada seorang anak kecil harus menjadi ekstra hati-hati bagi para dokter yang bertugas, George kini tampak lebih tenang walaupun terkadang masih menangis dan ketakutan yang berlebihan, membuat Valera hanya bersabar dan setia menemani nya. Kedua orang tua Valera sudah menjenguk George bersama dengan vyan dan Leonel mereka turut iba apa yang di alami oleh George diusianya yang masih dini
" jadi kapan kau berencana akan pergi ke Jerman ? " tanya vyan yang duduk berhadapan dengan Valera, mereka memilih duduk di luar karena George sedang beristirahat
" secepatnya, aku sudah berkonsultasi kepada dokter yang mengawasinya mereka menyetujui jika George di bawa ke Jerman untuk perawatan lebih lanjut " ucap Valera datar dan vyan hanya mengangguk mengerti
" apa kau butuh bantuan ku ? " tanya vyan lembut
" hmm... aku hanya minta kakak menjaga kedua orang tua kita selama aku pergi karena aku tak menjamin jika para musuh memanfaatkan situasi seperti ini, tapi aku akan menutupi kepergian ku ke Jerman " ucap Valera lagi
" kenapa ? apa masih ada orang-orang yang kau curigai ? " tanya vyan memicingkan matanya
" banyak ! sangat banyak hanya saja mereka pandai menyimpan topeng kebusukannya " desis Valera
" hmm baiklah aku mengerti " ucap vyan lagi dan Valera tersenyum tipis menanggapinya " hmm baiklah jika begitu aku akan pergi keperusahaan karena Leonel sudah menungguku di lobby " ucap vyan yang beranjak dari kursinya
" baiklah hati-hati kak dan selalu waspada jangan sampai lengah " pesan Valera lagu dan vyan mengangguk mengerti
*****
" sudah beberapa hari ini Fandarez masih belum ditemukan ! " saut Edrall kepada Robbin dan Journey
" jejak mereka hilang begitu saja " saut Journey lagi
" apa ini ada kaitannya dengan king ? " tanya Robbin tiba-tiba dan Edrall langsung menatap ke arah adiknya
" king ? apa mungkin, Fandarez salah satu mafia dibawah naungan mereka, apa jangan-jangan para petingginya sudah mengetahui jika Fandarez berkhianat ? " ucap Edrall dan Robin hanya menggeleng tidak tahu
" jika iya, kita tidak perlu mencarinya biarkan saja " saut enteng Robbin dan Journey menatap tajam Robbin " ada apa ? " tanya Robbin kepada Journey karena ia merasa ada yang salah dengan ucapannya
" jika Fandarez tertangkap maka informasi tidak akan kita dapatkan Robbin, dan Remigio pasti sekarang sedang berada di Prancis dan kita tidak mempunyai akses nya, melalui Fandarez kita dengan mudah meminta bantuannya " saut Journey
" tapi mereka berbahaya Journey ! aku sarankan untuk tidak mengusik mereka " sengit Edrall tiba-tiba
" apa kalian takut ? " tanya Journey memicingkan matanya seketika
" apa kau tidak bisa melihat apa yang dilakukan king kepada adikku Robbin, mereka meledakkan dua buah kapal yang Robbin bawa serta mereka menyekap Robbin dan memulangkannya dengan begitu mudah ! apa kau masih saja tak mengerti " ucap Edrall dan Journey terdiam sesaat
" lalu apa kita akan membiarkan begitu saja atas hilang nya Fandarez ? " ucap Journey dan Edrall mengangguk cepat " lalu bagaimana kita bisa membalas dendam pada Remigio sialan itu " ucap Edrall marah
" Calm down kita bisa memikirkan nya dengan kepala dingin, kau selalu saja marah-marah " celetuk Robbin dan Journey mendengus kesal
" kita akan melakukan nya dengan hati-hati Journey kita tidak bisa gegabah, kau selalu saja terburu-buru dalam bertindak dan membuatmu sendiri dalam masalah " ucap santai Edrall
" apa maksud mu ? " ucap Journey dengan mata yang melotot lebar
" ingatlah ini, aku yakin ruang gerak kita sudah dipersempit dan gempuran Remigio pada anggota ROLADEX membuat kita semua kalang kabut dan kau terkena imbasnya bukan ? mansion mu hancur dan kau tak bisa keluar berkeliaran jika tidak menyamar " ucap Edrall dan Journey mengangguk saja " maka dari itu kita mengunakan cara halus untuk membalaskan dendam pada Remigio '' ucap Edrall lagi dan Robbin kali ini setuju
__ADS_1
" ya aku pun begitu kak, tapi bagaimana dengan king ? " ucap Robbin tiba-tiba membuat Edrall mengerutkan dahinya seketika
" kita tak mempunyai masalah dengan mereka Robbin " ucap Edrall lagi
" kau salah kak, bahkan aku telah menyusup ke wilayah mereka melalui jalur pelabuhan apakah itu tidak membuat masalah ? " ucap Robbin bingung dan kini Edrall dibuat terdiam
" AGHHH semakin rumit " pekik Journey frustasi
****
Indonesia, waktu setempat
Edgar dan Hugo sudah tiga hari berada di indonesia mereka dibuat bingung dengan keadaan di Indonesia yang menurutnya sangat aneh untung saja mereka bisa berbahasa Inggris jadi komunikasi antara mereka bisa terjalin dengan baik
" baiklah aku tidak ingin membuang waktu ku terlalu lama di sini, pekerjaan lain menantiku " ucap Hugo datar Danang, Tama, dan Parto serta Andre yang kondisinya sudah membaik menjadi gugup seketika
" setelah apa yang kau bicarakan mengenai penembakan dan kita tak mempunyai rekaman CCTV di tempat perkara, hanya saja aku menyuruh Edgar untuk pergi menuju rumah sakit untuk mengambil peluru yang melukaimu Andre " ucap Hugo lagi dan mereka hanya mengangguk saja
" setalah aku teliti,peluru itu bukan berasal dari luar melainkan dari Indonesia, kemungkinan besar musuh nya berada di sekitar kita, coba kalian ingat apakah ada pihak yang kalian curigai " Picing Hugo dan keempat pria berwajah khas itu seketika mencoba untuk berfikir luas
Hugo dengan santai menyesap kopi hitam yang mempunyai rasa yang khas di Indonesia, terlihat Hugo sangat menyukai kopi itu
" aku tidak bisa memprediksinya, tapi pada tiga bulan yang lalu saat penerimaan senjata-senjata melalui jalur laut ada pihak yang mengetahuinya dan pada saat kami sedang membongkar senjata-senjata itu untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman entah dari mana ada sebuah mobil yang tidak kami kenali menyusup dalam komvoi kami " ucap Andre dan Hugo mengembuskan nafasnya sejenak
" lalu ? apa kalian berhasil membekuknya ? " rabat Hugo dan kempat lelaki itu menggeleng dengan serempak membuat Hugo tercengang dibuatnya
" kami membiarkan mereka pergi, karena kami sedang membawa senjata-senjata itu dan kami lebih mementingkan barang dari pada manusia sampah seperti mereka " ucap Tama datar dan Hugo hanya diam saja
" ya, aku mengingatnya " saut Andre antusias dan kini mereka sedang mencoba melacak plat mobil tiga bulan lalu
tak lama Edgar datang dengan seorang pria yang berusia seumuran dengannya, Edgar merasa lelah luar biasa karena harus membantu mereka mencari siapa dalang penembakan yang terjadi kepada Andre
" apa yang kau temukan Edgar ? " tanya Hugo santai dan Edgar langsung melirik kearah Hugo
" sepertinya kita akan menuju titik terangnya Hugo, pemilik peluru itu salah satu orang yang berpengaruh di kota ini, kemungkinan besar mereka pun seorang mafia seperti kita dan juga mereka sudah mengetahui jika mereka berempat orang-orang yang menerima berbagai Persenjataan dari Prancis " ucap santai Edgar " itu hanya prediksi ku saja " lanjut Edgar lagi dan semuanya hanya diam membisu
" besok kita akan menyelidik ya lagi, aku ingin beristirahat sebentar saja " ucap Hugo dan kelima lelaki itu mengangguk setuju, Hugo berjalan menuju lantai dua bangunan markas, akan tetapi markas mereka lebih mirip dengan rumah, semuanya sangat sederhana tetapi terlihat lebih nyaman dan terlihat asri
****
rasa lelah mendera begitu saja pada diri Valera secara tiba-tiba bagaimana tidak, pekerjaan banyak terabaikan begitu saja untung para jajaran Valera sangat mengerti dan membantu sang lady
semenjak George dirawat dirumah sakit, pengintrogasian kepada Kemila di tunda, pencarian tentang keluarga Daniel pun ikut tertunda hanya saja Edgar dan Hugo masih tetap pada rencana dan untuk B woman mereka akan pergi menuju Jepang esok lusa kini George sudah lebih baik, bahkan bertemu dengan nyonya Sofhia ia tampak tenang dan tidak terlihat ketakutan membuat Valera bisa bernafas lega
kini Valera sedang berada di markas untuk membicarakan keberangkatannya ke Jerman, Dave dan lainnya kini iku berkumpul dengan sang lady
" nona bagaimana dengan keadaan George ? hmm.. maafkan saya nona jika saya tidak bisa menjaga George dengan baik, " ucap Asnee menunduk dengan rasa bersalah
" sudah membaik, jangan menyalahkan dirimu seperti ini Asnee kau selama ini menjaga George dengan sangat baik, dan wanita itu penyebab George seperti ini ! " ucap Valera lagi
" ngomong-ngomong bagiamana kondisi nya saat ini ? apa ia sudah mati " tanya Valera nyeleneh dengan terkekeh
__ADS_1
" kemarin aku memberi nya pelajaran " saut J dengan geram dan Valera menatap langsung kearah K
" lalu ? " tanya Valera lagi
" tidak ada hanya merenggangkan otot ku saja karena sudah lama tak bermain " ucap K santai dan Valera hanya tersenyum menanggapi
" hmm baiklah, Dave aku harap selama kepergian ku ke Jerman kau bisa mengawasi nya secara keseluruhan dan kau akan dibantu oleh Thomas, bagaimana ? " tanya Valera menatap keduanya
" serahkan saja pada saya nona, saya akan melakukannya dengan baik, " ucap Dave mantap dan Valera mengangguk berterimakasih
" akupun siap membantu nona, serahkan saja pada kami, dan nona fokus saja pada penyembuhan George " ucap Thomas
" ya aku harap begitu, kalian " ucap valera melirik kearah B.woman " jalankan misi kalian " ucap Valera dan kelima B.woman itu mengangguk mantap
" tutup keberangkatan ku dan jangan sampai ada pihak lain yang mengetahuinya jika semua itu bocor maka akan sangat menguntungkan bagi pihak musuh " ucap Valera lagi dan semuanya mengangguk paham
lalu Valera kembali menuju rumah sakit untuk melihat George karena ibunya sudah memberi kan pesan singkat jika George selalu menanyakan keberadaan Valera
mau tidak mau Valera harus segera sampai di ruang sakit, ia melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang
kini George sedang memakan buah-buahan yang dibawa nyonya Sofhia, kini George tampak lebih tenang dari sebelumnya hanya saja sesekali ia merasa takut kepada suster yang merawatnya
" nenek apa mamih masih lama ? " tanya George
" tidak sayang,mamih mu sedang berada di jalan " ucap lembut nyonya Sofhia dan George hanya mengangguk kecil
" kau ingin makan lagi ? " tawar nyonya Sofhia yang menawarkan buah apel kepada George
" tidak, aku sudah kenyang " ucap George dan nyonya Sofhia hanya mengangguk saja
CEKLEK
George langsung menatap kearah pintu dan tersenyum lebar, mata nya tampak berbinar kala Valera berada di sana
" George " ucap Valera dengan tersenyum " apa kau makan dengan baik " tanya Valera yang duduk di samping George
" hmm aku baru saja memakan buah-buahan yang dibeli nenek " ucap George polos dan Valera hanya mengangguk saja
" mamih kapan aku bisa pulang, aku tak mau disini aku merasa takut " cicit George
" kita akan pulang sayang, setelah kondisi mu lebih baik lagi " ucap Valera
" tapi aku sudah baik-baik saja " ucap George dengan polos
" tidak sayang, kau belum sembuh total lihat ini " ucap Valera yang menunjuk bembanan perban yang melingkar di salah satu tangan George " apa ini masih sakit ? " tanya Valera lagi dan George hanya mengangguk dengan wajah menunduk
" kita tidak akan pulang George ? kita akan pergi ke Jerman untuk pengobatan mu lebih lanjut " ucap valera lagi
" Jerman ? apa mamih akan mengajak ku berlibur ? " ucap George dengan mata berbinar Valera hanya diam saja tetapi senyum lembut terbit di sudut bibirnya
" ya, jika kau sudah sembuh kita akan berlibur seperti yang kau ingin kan ! " ucap Valera dan George mengangguk antusias
__ADS_1
Valera tampak senang melihat George sudah bisa tersenyum hanya saja jiwanya masih terguncang Valera harus benar-benar menyembuhkan rasa trauma yang George alami akibat ulah Bianca, rasa kesal nya seketika terbuncah kala mengingat wajah menjijikan milik Bianca, betapa Valera sangat mengutuk wanita itu yang kini sudah lemah tak berdaya itu