
suasana kembali memanas kala Dave datang tiba-tiba membuat Margaretha hanya terdiam dan membeku. Valera yang melihat keterpesonaan dari mata lawannya hanya tersenyum sinis
" maaf nona jika saya lancang " ucap sopan Dave menghadap kepada Valera dan Valera hanya mengangguk kecil saja menanggapi
" jadi silahkan keluar, dan pintu nya jelas berada di belakang anda nona " ucap sinis Valera dan Margaretha menatap tajam kearah Valera
" tidak ! sebelum aku mendapatkan kakekku setelah itu baru aku akan pergi tanpa harus dititah " kekeh Margaretha tak kalah tajam dan Valera hanya diam saja melihat ini semua sedangkan Dave sungguh ia sudah geram bukan main
" pergi atau tidak sama sekali ! " ucap Valera memberi peringatan dan Margaretha serta sang asisten hanya menatap satu sama lain
" nona sebaiknya kita pergi dari sini " ucap asisten Margaretha kepada nonanya
" tidak ! jangan halangi aku, " pekik Margaretha membuat Valera marah
BRAKKKKKK
valera menggebrak meja hingga suaranya membuat orang yang berada di sana ngilu seketika, Dave sudah tak asing lagi dan ia pun merasa jengah kepada tamunya ini
valera menatap sengit kepada Margaretha sang asisten itu sudah gugup dan takut bukan main, nafas Valera begitu memburu emosinya hampir saja meledak karena ulah dari tamunya yang tak tau diri ini
" Dave bawa bajingan itu kemari " ucap Valera dan Dave hanya menurut saja tanpa mau bertanya lagi, sedangkan Margaretha ia terlihat tersenyum puas karena niatnya begitu berhasil
tak begitu lama Dave sudah membawa seorang tawanan dalam keadaan cukup mengenaskan dengan luka tembakan tanpa diobati, serta luka-luka lebam disekitar wajah nya Margaretha terbelalak lebar
Frazzes hanya menatap sinis kepada Valera dan Valera tak perduli akan hal itu, ia lebih asyik memandang warna kuku-kuku nya yang begitu cantik itu
" apa yang kau lakukan kepada kakek ku ! '' teriak Margaretha lantang dan Valera diam saja " katakan ! kau menyiksanya, apa kau tak berprikemanusiaan jika kakek ku sudah tua " pekiknya lagi dan Valera kali ini mendelik sinis
" nona " ucap sang asisten itu memperingati nonanya akan tetapi Margaretha hanya menatap tajam kepada lelaki yang mendampinginya
" sudah ku katakan jika cucuku akan datang dan membawaku pulang bersama nya, " kekeh Frazzes " dan sebentar lagi kau akan hancur ! '' ucap Frazzes dengan nada yang penuh penekanan
BUGHHHHHH
valera memukul kembali wajah Frazzes hingga ia tersungkur ke sisi kanan, Margaretha memekik kaget kala Valera menghajar seorang Frazzes tepat didepan matanya saat ini
" apa yang kau lakukan ! " teriak Margaretha lantang dan ia segera membantu kakeknya untuk berdiri tapi Dave menahan tangannya " lepaskan ! " pekiknya lagi tapi Dave tidak bergeming
" masih ingin berbicara ? jika iya maka nikmatilah adegan dimana kakek mu babak belur dihajar oleh orang-orang ku " tegas Valera dan Margaretha seketika terkesiap sang asisten hanya bisa diam tak berani ikut campur
" aku akan membebaskan kakek ku dari genggaman mu " ucap Margaretha dan Valera tertawa sumbang
" silahkan jika kau mampu, tapi jangan salahkan aku jika kau pulang dalam keadaan cacat '' ucap Valera lagi dengan menatap tajam kepada Valera. Margaretha semakin merasa marah karena Valera lagi-lagi mengancamnya lalu ia menatap wajah sang kakek yang sudah babak belur dengan tatapan sebuah harapan besar kepada Margaretha
valera hanya diam dan menatap acuh sedangkan Dave tentu saja ia menatap tajam kepada Margaretha dan seorang lelaki yang berada di samping tamunya itu
__ADS_1
" jawab aku kenapa kau memperlakukan kakek ku seperti ini ? " ucap Margaretha mulai tenang dan ia terlihat seperti ingin tau
valera tersenyum sinis ia sudah mengetahui jika Margaretha seorang desainer yang cukup ternama bahkan Margaretha sudah mengenal dunia hitam sejak ia masih kecil dari kakeknya akan tetapi Margaretha lebih memilih jalan lain, pada awalnya sang kakek tidak terima dengan pilihan Margaretha, akan tetapi Margaretha mempelajari berbagai ilmu beladiri sejak kecil agar sang kakek tidak berpikir buruk tentang nya
" kenapa kau tidak bertanya kepada nya saja, bukan kah kau tau jika king tidak akan menawan seseorang tanpa alasan yang jelas dan untuk bajingan itu tentu saja dia sudah melakukan kesalahan yang teramat fatal bisa dikatakan rahasianya terbongkar setelah sekian lama terpendam " datar Valera dan Margaretha terlihat bingung lalu ia menatap Frazzes. Margaretha mengetahui jika kakeknya seseorang yang sangat ambisius tapi kesalahan apa yang menyebabkan dirinya terjerat dalam sangkar king
" hahaha kesalahan ? bahkan dia melakukan kesalahan yang lebih dari ku, termasuk menelantarkan anaknya yang lain " ucap puas Frazzes lagi-lagi Valera terpancing emosinya ia tak suka jika harus mendengar wanita itu lagi
PLAKKK
BRAKKKKKK
" kakek !! " teriak Margaretha saat melihat tubuh kakeknya terpental karena tendangan kuat Valera, nafas Valera terlihat memburu dan berkilat marah " hentikan ! kau wanita kasar " pekik Margaretha kepada Valera dan Valera tak peduli dengan ucapan lawannya
suasana kembali menjadi tegang, Margaretha mencoba membantu kakeknya untuk berdiri akan tetapi Dave menghalanginya lagi
" minggir kau " teriak Margaretha lantang dihadapan Dave dan Dave hanya memasang wajah datar " kau ! " tunjuk Margaretha kepada Valera " tidak kah kau punya perasaan ? apa hatimu buta, melawan orang yang tidak sepadan dengan mu, sungguh seorang pengecut " ucap sinis Margaretha dan Valera mendatanginya dengan langkah santai lalu seutas senyum misterinya muncul seketika
PLAKKK
" jaga bicara mu ! dan ketahuilah tempat mu, ini wilayahku jangan mencoba untuk bermain denganku, jika tidak tau apa-apa sebaiknya kau diam saja, karena aku tak suka ada orang yang ikut campur dengan urusanku " desis Valera tajam " keluar dari tempatku atau aku akan menyeret mu secara tidak hormat " tajam Valera lagi dan Margaretha semakin meradang akhirnya ia mengalah karena ia ingat dan tau diri dimana posisinya saat ini
valera memandangi kepergian Margaretha dengan tatapan datar, dan Frazzes ia semakin marah dan benci pada Valera
*****
setelah dua hari berlalu kini Valera sedang berada dengan George di sebuah restoran yang cukup terkenal Valera pun menginap di mansion utama keluarga harson sebelum ia bertolak menuju Jepang
valera dan keluarganya pun terlibat pembicaraan yang serius tentang masa lalu, tuan Ramius dan nyonya Sofhia sedikit menceritakan tentang masa lalu dan Valera pun mengerti
" mamih kemana kau pergi selama ini, aku sangat merindukan mu " ucap George dengan wajah cemberutnya
" mamih pergi bekerja sayang, mamih pun merindukan mu " ucap Valera dengan senyum manisnya, dan George hanya membalas dengan senyuman tipisnya " hmm bagaimana dengan sekolah mu ? " tanya Valera lagi
" baik, semuanya baik-baik saja " ucap George dengan memakan makanannya " mamih aku sudah lama tidak bertemu dengan Malvin " ucap George tiba-tiba dan Valera seketika terdiam, Diandra dan Malvin mengapa ia melupakan dua hal ini, Valera meruntuki kebodohannya sendiri karena masalah lain ia melupakan keberadaan keduanya
" setelah ini kita akan berkunjung kesana " ucap Valera dan George tersenyum seneng dengan cepat George menghabiskan makanan nya dan Valera tersenyum kala melihat George sayang seperti itu
tiga puluh menit berlalu George dan Valera sudah menyelesaikan acaranya dan mereka segera bergegas menuju tepat tinggal Diandra, sebelum itu Valera dan George mampir terlebih dahulu ke suatu tempat untuk membawa buah tangan, George tampak antusias dalam memilih buah-buah segar untuk dibawakan ke tempat teman nya ini
setelah itu baru mereka segera meluncur ke tempat Diandra yang tidak terlalu jauh, kawasan yang cukup diminati oleh penduduk setempat
mobil mewah Valera telah sampai dipelataran rumah dua tingkat berwarna putih itu sang satpam segera membuka pintu kala melihat wajah Valera
terlihat Diandra sedang duduk dengan Malvin di sebuah gazebo mini, George dan Valera segera menghampiri kedua nya
__ADS_1
" George " pekik Malvin senang dan George hanya tersenyum kikuk Diandra tentu saja terkejut akan kehadiran George dan juga Valera
" ahh kalian, mengejutkan ku saja " ucap Diandra lagi dan Valera hanya tersenyum tipis lalu mereka berdua ikut bergabung dengan Diandra dan Malvin
valera menatap wajah Malvin yang kian mirip dengan mendiang Macky, Diandra yang tau akan tatapan Valera hanya diam saja ia pun tau jika wajah putranya sangat mirip dengan lelaki yang ia cintai
Malvin mengajak George untuk masuk dan bermain didalam, Diandra dan Valera membiarkan itu semua, kini kedua wanita itu sama-sama diam dengan seribu bahasa,entah apa yang sedang difikirkan oleh keduanya, tak ada yang tau
" hmm Diandra apa Malvin tidak bersekolah ? " ucap Valera hati-hati dan Diandra hanya menggeleng pelan " mengapa ? " ucap Valera terkejut
" aku takut jika ada mata-mata dari Chaiden yang melihat keberadaan kami " ucap Diandra lagi dan Valera mengerti akan hal itu walaupun Chaiden menjadi tawanan nya akan tetapi para antek-antek yang bertugas untuk mencari keberadaan Diandra masih berkeliaran diluar sana
" jika kau mau Malvin bisa bersekolah bersama dengan George, pasti mereka berdua akan sangat senang " ucap Valera memberi saran dan Diandra tentu saja ia terkejut akan ucapan Valera
" tapi.. aku tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk menyekolahkan malvin di tempat yang sama dengan George " ucap Diandra bingung hatinya tentu saja sangat sedih ia ingin yang terbaik untuk putra semata wayangnya akan tetapi keadaan tidak begitu memihak nya, Joni ? Diandra tak mungkin terus merepotkan Joni secara terus menerus, jika hanya sekolah yang biasa mungkin Diandra sanggup
" tak perlu kau fikirkan Diandra, kau hanya perlu memikirkan masa depan mu dan juga putramu, dan akupun tak mungkin lepas tanggung jawab kepada kalian berdua karena lelaki yang kau cintai adalah orang ku " ucap Valera memberi pengertian dan Diandra diam saja " aku tidak bisa memaksa mu, aku hanya menawarkan mu untuk kebaikan Malvin, dan jika kau berminat kau bisa kembali kerumah dulu saat kau masih bersama dengan Macky " ucap Valera sambil menatap lurus kedepan
jantung Diandra berdebar lebih kencang, rumah itu menyimpan kenangan nya tersendiri, rumah itu menjadi saksi dimana Diandra dan macky memadu kasih bersama, air mata Diandra mengalir tanpa permisi ia begitu sedih kala mengingat akan lelaki penuh kelembutan yang menjadi malaikat penolongnya
" apakah rumah itu masih ada ? " tanya sendu Diandra dan Valera mengangguk cepat " apa kau tau dimana Macky di kuburkan ? " ucap Diandra lagi dan Valera mengangguk pasti
" kau ingin kesana ? " tanya Valera dan Diandra mengangguk samar " lalu bagaimana dengan Malvin apa ia sudah tau jika ayahnya telah tiada " ucap Valera lagi dan Diandra lagi-lagi berwajah sendu ia belum menceritakan tentang kenyataan pahit ini kepada putranya, Malvin terlalu kecil untuk mengetahui kebenaran nya dan Diandra tidak mungkin menghancurkan impian Malvin yang sangat ingin bertemu dengan Macky ayahnya " sudah lah jangan terlalu difikirkan, yang terpenting kau fikirkan saja masa depan putramu aku akan menjamin semuanya kau tak perlu khawatir " ucap Valera lembut dan tersenyum manis kepada Diandra
" apa aku tidak merepotkan mu ? aku sangat malu terhadapmu.. aku sangat ingin sekali untuk bekerja tapi aku tidak tau bekerja apa, dan akupun masih takut untuk berkeliaran bebas di kota ini " sendu Diandra dan Valera hanya tersenyum tipis
" jika aku memberimu pekerjaan itu artinya kau menyetujui penawaran ku " ucap Valera dan Diandra mengangguk ragu " baiklah, aku akan memberi mu sebuah pekerjaan " ucap Valera lagi dan Diandra sangat senang
" benarkah ? terimakasih " ucap Diandra tulus dan valera mengangguk pelan " ayo masuk aku akan membuatkan mu minuman " ucap Diandra lagi dan Valera hanya mengangguk saja
George dan Malvin sedang berada di dalam kamarnya, mereka berdua asik mengoperasikan sebuah komputer entah apa yang mereka cari, akan tetapi wajah seseorang nampak jelas dilayar itu,
" apa kau yakin Malvin ? " ucap George ragu, tampaknya ia pernah melihat wajah orang itu tapi dimana
" ya, aku yakin jika dia adalah Daddy ku, tidakkah kau lihat jika wajahnya sangat mirip dengan ku " ucap Malvin begitu menyakinkan dan George terlihat menatap intens photo tersebut laku beralih menatap Malvin
" ya kau benar dia sangat mirip dengan mu, tapi Malvin aku sepertinya pernah melihatnya tapi dimana ? " ucap George ragu dan Malvin tentu saja ia sangat bahagia
" benarkah ? dimana ? " ucap Malvin begitu mendesak George membuat George mendengus kesal
" sabarlah aku sedang mengingatnya " ucap George lagi dan Malvin mengangguk setuju lalu membiarkan temannya itu bermain dengan ingatannya
pada saat George telah mengingat nya sebuah ketukan terdengar di kamar Malvin membuat anak itu dengan cepat menyudahi aktifitasnya dan segera bermaik selayaknya anak-anak biasa begitupun dengan George
Malvin membuka kan pintunya dan munculah wajah Diandra yang sedang tersenyum, Malvin membalasnya dengan senyuman tipis lalu Diandra mengajak Malvin dan George untuk turun dan makan buah bersama
__ADS_1