Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
Patricia yang malang


__ADS_3

saat ini Valera sedang berada di dalam mobil dengan Bruce dan Frank bahkan Valera tak memperdulikan teriakan serta larangan Remigio untuk pergi, alhasil Valera harus mengancam nya terlebih dahulu baru Remigio diam dan patuh.


Bruce dan Frank hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam sungguh kejadian tadi membuat kedua lelaki itu merinding sekaligus seram. Kedua lelaki bertubuh tegap itu merasa jika permasalahan rumah tangga lebih menakutkan ketimbang perang.


" nyonya kita akan kemana ? " ucap Frank yang sedang melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" kita pulang " ucap datar Valera dengan pandangan ke arah samping kanan yang sibuk menatap jalanan malam saat ini. Frank mengangguk patuh dalam hatinya ini lebih baik daripada mereka harus ketempat yang tidak jelas dan akan menimbulkan masalah lain lagi.


sepanjang perjalanan Valera hanya diam tanpa mau berkata sepatah pun sejak mobilnya bergerak dan terus melaju, dalam hatinya ia pun tak tau kenapa tak bisa mengendalikan emosi dan amarah dalam dirinya jika berkaitan dengan hal yang sensitif.


tanpa sadar valera tersenyum tipis saat ia mengingat jika Remigio menamparnya kali ini, Ya Valera tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari Remigio selama ia mengenal sosok lelaki itu sampai kini ia menjadi suaminya.


Lalu detik kemudian Valera mengingat perkataan ibunya jika wanita hamil terkadang sangat sulit untuk mengatur dan mengendalikan emosi yang yang sedang dialami nya, Valera mengelus lembut perutnya dimana calon anak nya tumbuh didalam sana.


Bruce melirik kearah kaca spion kearah nyonya nya begitupun dengan Frank. Hingga mobil mewah berwana merah itu telah sampai dipelataran Gold mansion bahkan Valera tak begitu menyadarinya, hingga ketukan pada pintu jendela membuyarkan lamunannya.


Valera terkejut saat melihat Remigio mengetuk keras kaca jendela mobilnya, Bruce dan Frank saling lirik satu sama lain. Ternyata Remigio telah tiba lebih dulu ketimbang dirinya.


Valera membuka pintu mobilnya dan menampilkan wajah datar tanpa ekspresi masih terlihat jelas bekas tamparan yang dilayangkan oleh Remigio kala itu.


" Sweatheart " lirih Remigio ia mengikuti langkah Valera hingga menuju lantai dua, untung saja tidak ada yang melihat disana George kemungkinan sudah tidur dan para maid sudah beristirahat. " kita harus bicara " ucap remigio menatap penuh harap Valera saat berhasil mencegah istrinya itu.


valera bergeming dan menatap datar Remigio bahkan untuk berbicara pun ia sepertinya enggan, Remigio menggenggam kedua tangan istrinya dan menciumnya berulang kali disana sembari melontarkan kata maaf berkali-kali.


" maaf. maafkan aku yang telah berani menyakitimu.. aku menyesal.. sangat menyesal " lirih Remigio dengan matanya yang berkaca-kaca, jauh dalam hatinya ia merasa sangat menyesal beribu-ribu kali lipat. " aku mohon dengarkan dulu penjelasan ku agar kau tak salah paham " pinta nya lagi akan tetapi Valera hanya menatap nya tanpa berkedip sedikit pun.


" Aku lelah dan aku ingin tidur " ucap Valera datar lalu melepaskan genggaman Remigio dengan sedikit kasar, Remigio memandang sendu Valera yang berjalan begitu saja. Remigio tak menyerah ia mengikuti Valera hingga memasuki lift untuk sampai ke lantai dimana kamar pribadi mereka.


valera diam seolah tak mempedulikan keberadaan Remigio disampingnya, hingga suara dentingan lift membuat Valera segera melangkah kan kakinya menuju ruangan yang dimaksud.


valera membiarkan Remigio begitu saja, dan Valera segera memasuki kamar mandi dengan cepat. Remigio terduduk di sofa dengan raut wajah yang cemas bercampur menyesal, ia mengusap-usap wajah nya dengan kasar.


hingga satu jam berlalu Valera baru saja keluar dan Remigio segera membuka mata nya dengan cepat, Valera masih tak mau menatapnya bahkan Valera memakai gaun tidurnya dihadapan Remigio tanpa memperdulikan manik hitam itu sedang menatap tubuhnya dengan intens.


GREPPP


valera terkejut karena Remigio memeluknya dengan erat dari arah belakang akan tetapi Valera masih tak mau bersuara. Remigio mencium ceruk leher Valera dan dengan mudah membalikkan tubuh Valera hingga kini wajah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain.


" maaf " lirih Remigio dengan membelai lembut pipi yang ditamparnya beberapa waktu yang lalu dan terlihat masih saja memerah disana " maaf kan aku sweatheart. Hukum aku yang sudah berani menampar mu tapi tidak dengan mengabaikan ku seperti ini " pinta Remigio lagi dengan mata yang berkaca-kaca dan siap meluncur bebas itu.


" sudah lah ini sudah larut malam. Aku lelah dan aku mengantuk. " ucap Valera menghindari Remigio yang terus meminta maaf padanya tapi saat ini hati valera seolah menolak permintaan maaf Remigio.

__ADS_1


Remigio memeluk Valera dan melabuhkan kecupan ringan disana, air mata nya sudah mengalir begitu saja lalu Remigio mengusap kasar air matanya yang jatuh dan tersenyum lembut pada Valera.


" tidurlah, " ucap remigio lembut lalu mengelus lembut perut Valera dan melabuhkan kecupan hangat disana. Setelah itu Valera berjalan dan menuju ranjang serta menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya, sedangkan Remigio hanya menatap sendu Valera yang kini sedang bergelung dengan selimut tebalnya itu.


*****


seminggu berlalu kini keempat jajaran Valera sudah berada di markas utama, luka yang mereka alami benar-benar hilang sesuai dengan keinginan sang Lady.


seminggu ini pun Valera masih enggan untuk berbicara dengan Remigio walaupun Remigio telah meminta maaf berkali-kali bahkan membujuk Valera berkali-kali tapi nihil valera masih saja bersikap dingin dan acuh bahkan ia berbicara seadanya membuat Remigio semakin merasa bersalah.


valera masih marah terhadap wanita yang bernama Patricia itu bahkan ia menyuruh seseorang untuk membawa paksa wanita itu dan membawanya menuju markas king.


valera memasuki markas dengan wajah tegas dan datar tanpa ekspresi sorot matanya dingin bahkan terlihat kaku. Para jajaran king yang kebetulan sedang duduk di sofa menatap penuh heran pada sang Lady. Baru beberapa saat yang lalu seorang wanita asing tak sadarkan diri dibawa masuk oleh anak buah king.


valera memasuki ruangan yang dilapisi oleh kaca tebal transparan dimana sosok wanita yang membuat amarahnya semakin meledak tepat berada di hadapannya saat ini.


" bangunkan dia ! " tegas Valera lalu duduk di kursi. Salah satu anak buah king menyiram air mineral pada wajah Patricia sehingga membuat wanita itu terkejut bukan main.


Patricia mengumpat tak jelas dengan wajah linglung nya perlahan-lahan ia baru menyadari kejadian beberapa waktu lalu dimana seseorang membuat ia tak sadarkan diri.


" Heii . lepaskan aku " teriak Patricia lantang membuat Valera geram dan pada akhirnya Valera melemparkan botol air mineral dan tepat mengenai wajah nya itu, Patricia meringis kesakitan dan menatap terkejut akan sosok Valera yang sedang duduk santai tak jauh dari hadapannya.


" kau.. jadi ini semua ulah mu ? '' ucap Patricia dengan sedikit terkejut.


" cihh.. Kau memang wanita gila ! tak seharusnya Remigio menikahi wanita gila seperti mu " ucap Patricia lantang membuat para anak buah king yang berada di sana terkejut sekaligus mengutuk perkataan wanita itu. Dan mereka yakin bahwa neraka sesungguhnya akan dimulai.


PLAKKK


PLAKKK


valera menampar pipi Patricia sebanyak dua kali karena ia mulai tersulut dengan perkataan Patricia yang membuat amarahnya meledak seketika.


" Dan kau dasar wanita parasit tak tau malu bahkan kau secara terang-terangan menginginkan suami ku. Kau tak lebih dari sebuah sampah menjijikan dan seharusnya wanita parasit seperti dirimu harus dilenyapkan. " teriak Valera lantang dan menggelegar hingga suaranya mengundang rasa penasaran para jajaran king di markas itu.


Patricia menatap gugup pada sosok Valera yang kini terlihat sangat berbeda tidak ada bicara sopan dan ramah bahkan tidak ada sosok wanita yang berwibawa dalam diri Valera.


para jajaran king berbondong-bondong memasuki ruangan kaca itu dan menatap bingung, bahkan Patricia semakin merasa heran sengan orang-orang yang baru saja memasuki ruangan itu.


Valera mengatur nafasnya agar lebih tenang, bahkan kini ia menatap Patricia dengan tatapan membunuh nya, Patricia tak kalah menatap tajam Valera seolah ia sedang menantang kemarahan seorang lady.


" nona " ucap Zizi menyadarkan Valera karena ia merasa Valera akan melalukan sesuatu yang lebih sadis. Patricia menatap Zizi dengan memicingkan matanya.

__ADS_1


" kau tau Zizi. Hukuman apa yang pantas untuk wanita yang menginginkan suami orang lain bahkan ia memohon untuk menjadi yang kedua dan artinya ia ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga ku " desis valera tajam dan semua orang kini paham akan akar permasalahan nya, para jajaran king tak berani bersuara mereka hanya akan melihat adegan selanjutnya yang akan terjadi pada wanita malang itu. " kau tau aku bukan wanita berbaik hati kepada orang-orang yang mengusik kehidupan pribadiku termasuk dirimu Patricia. Aku bisa saja membunuh mu saat ini juga akan tetapi aku tak akan melakukanya dan aku lebih suka jika mendengar suara jeritan mu saat ini " ucap Valera dengan senyum seringainya dan entah mengapa membuat Patricia takut dan gugup seketika.


" apa yang akan kau lakukan ? aku yakin kau tak akan berani melakukan hal itu terlebih membunuh ku " tantang Patricia membuat Valera tertawa terbahak-bahak.


" lakukan " titah Valera lalu ia kembali duduk dan siap menyaksikan adegan selanjutnya. Patricia bingung saat seorang lelaki bertubuh tegap berada di hadapannya membawa alat panjang serta ujungnya yang mengeluarkan lampu berwarna merah dan benda itu mulai bergetar dengan sendirinya.


AGHHH


jerit Patricia saat benda itu mulai menyentuh tubuhnya. bahkan lelaki itu menyentuh kaki serta tangannya dan membuat tubuh Patricia bergetar dengan hebat bahkan kini tubuhnya mulai berkeringat.


nafas Patricia terengah-engah saat benda itu sedikit menjauh dari dirinya, matanya kian menatap tajam Valera akan tetapi Valera acuh dan menampilkan senyum mengejeknya membuat Patricia geram seketika.


" kau ! dasar wanita iblis " ucap Patricia dengan suara yang bergetar.


" iblis ? hmm mungkin kah " ucap Valera acuh. " lakukan lagi sampai ia berteriak dengan puas " titah Valera seketika Patricia menggeleng lemah baru saja ia bernafas dan kini alat itu sudah menyentuh tubuhnya lagi dan lagi akan tetapi Patricia merasakan getaran yang mulai meninggi dan kian meninggi. " aghh .. am..ampun ku mohon.. he..hentikan " jerit Patricia dengan tubuhnya yang mulai kejang-kejang dan bergetar dengan hebat.


valera memberi kode pada anak buahnya untuk berhenti dan seketika tubuh Patricia ambruk dan tidak bertenaga nafasnya terdengar memburu bahkan mata nya sayu menatap Valera.


" ini belum seberapa Patricia ! bukan kah aku sudah memberi mu peringatan untuk tidak bertindak lebih jauh dan ternyata kau tidak mendengar perkataan ku baik-baik dan menganggap ancaman ku hanya sebuah lelucon ! dan kini rasakan akibatnya " tajam Valera


" lepaskan aku ! " jerit Patricia dengan sisa tenaganya yang ada " jika Remigio tau aku yakin ia akan sangat marah padamu ! dan ia akan berpaling darimu, aku yakin Remigio tak sudi memiliki istri kejam bagaikan iblis seperti mu " raung Patricia lagi dan Valera hanya diam saja.


" kau terlalu banyak bicara rupanya " pekik Valera, lalu ia mendatangi Patricia dengan wajah sangat marah tanpa aba-aba Valera mencengkram leher Patricia erat hingga wanita itu sulit bernafas. " mulutmu sangat tajam dan kau terlalu percaya diri nona " desis Valera lagi


BRAKKKKKK


AGHHH


Patricia terlempar ke dinding kaca setelah Valera dengan sengaja membanting tubuh lemah Patricia dengan sangat mudah. Semua orang yang berada di sana tertegun dan menelan ludahnya kasar.


" AGHHH sakit..sakit.. " erang Patricia saat sepatu Hells yang ujungnya lancip menginjak tangan Patricia dengan bengis hingga tangan itu memerah dan mulai membiru dengan cepat " am..ampun.. " ucap Patricia lagi.


" hahahaha " tawa Valera menggelegar saat mendengar pengampunan dari Patricia " ampun ? hahaha apa kau sedang memohon kepadaku ? ohh aku suka itu " tengil Valera dan Patricia hanya bisa menangis saat merasakan sekujur tubuhnya sakit luar biasa. " sudah kukatakan aku tak akan membunuhmu tapi aku akan menyiksa mu hmm bagaimana ? kau suka apa aku kurang asyik dalam bermainnya ? hmm katakan saja aku akan mengabulkan nya untuk mu Patricia sayang " ucap Valera lagi dan Patricia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat.


" tidak lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan mengganggu Remigio lagi bahkan aku akan menjauhinya tapi mohon lepaskan aku " Isak Patricia dengan tubuh gemetar.


" kenapa baru sekarang kau akan menjauhinya ! " teriak Valera lantang dengan mata memerah " kenapa tidak dari dulu sebelum aku melakukan hal ini padamu ? jawab aku Patricia, jawab " teriak Valera lagi dengan menggebu-gebu dan Patricia hanya bisa menangis.


" maaf.. itu karena aku masih mencintainya sangat mencintainya " ucap Patricia lagi terisak dan Valera hanya tersenyum sinis.


" Kau hanya masa lalunya yang tak akan pernah bisa menjadi masa depannya ! bahkan kau sudah mengetahui jika ia sudah dimiliki tapi kau dengan rendah nya meminta menjadi yang kedua, Kau wanita tak tau malu Patricia " teriak Valera lagi dengan air mata yang kini sudah mengalir. Zizi yang takut akan terjadi sesuatu pada ladynya dengan cepat menghampiri Valera dan menenangkan nya dengan cepat.

__ADS_1


Patricia hanya bisa menangis dan berharap Valera mau membebaskan dirinya tapi itu semua hanya mimpi nyatanya Valera menyuruh anak buah nya untuk menjaga Patricia dan melakukan sesuatu terhadapnya sampai waktu nya tiba.


valera berlalu pergi diikuti oleh yang lainya, fikirannya saat ini kacau bahkan hatinya saat ini merasakan hal lain. Patricia telah mengusik hati dan fikirannya dimana kini Valera sedang mengandung membuat dirinya tak bisa berfikir dengan jernih saat ini.


__ADS_2