
Frazzes bisa merasakan aura berbeda dari tubuh Remigio, awan gelap seketika menyelimuti sang penguasa ORTAXS nafasnya menderu tak karuan, mata kelam itu memancarkan aura yang begitu murka dan tajam.
Zizi yang baru saja tiba diruangan itu begitu terkejut saat melihat Ellara yang berada di sisi dinding dengan keadaan yang cukup memprihatinkan, Remigio berjalan mendekat kearah target.
Ellara masih menatap tajam dan angkuh pada Remigio walaupun tubuhnya kini dipenuhi oleh luka-luka, setiap langkah Remigio bagaikan adegan slow dalam dunia perfilman.
GREPPP
" aghh.. lepaskan aku sialan " ucap Ellara yang masih saja memaki Remigio yang kini mencengkram dagu Ellara dengan kuat.
" kau harus membayar apa yang telah kau lakukan terhadap istriku ! " tekan Remigio dengan sorot mata yang sangat tajam " karena ulah mu, aku harus kehilangan calon anak ku " pekik Remigio hingga membuat semua orang tercengang bahkan Zizi dibuat terkejut bukan main.
Ellara ia menatap manik kelam yang sedang murka itu lalu detik kemudian ia tertawa senang dan menampilkan senyum mengejek nya sama hal nya dengan Frazzes ia terlihat tersenyum puas saat ini.
" ohh sungguh berita baik " kekeh Ellara " keguguran yah.. dan calon anak mu mati begitu ? " sinis Ellara.
PLAKKK
Remigio menampar pipi Ellara sangat kuat hingga cap tangan nya tercetak jelas di pipi itu, Remigio tidak akan pernah membedakan untuk menyiksa lawan atau musuh nya, mau wanita ataupun lelaki semuanya sama Remigio akan menyiksa orang itu perlahan lahan.
Remigio kini menjambak rambut panjang Ellara hingga mata mereka saling menatap tajam, rahang yang tegas dan menimbulkan urat-urat kemarahan nya sangat terlihat jelas dimata Ellara.
" dasar perempuan sampah ! istriku terlalu berbaik hati hanya menyiksa mu dengan hukuman ringan tapi jika kau berhadapan dengan ku, akan ku pastikan kau sendiri yang meminta kematian itu untuk mu " tajam Remigio dan Ellara hanya mematung tanpa mengalihkan pandangannya pada pengusaha ORTAXS itu.
" menyiksaku ? heh.. aku tidak pernah takut silahkan saja, lakukan lah apa yang kau mau ! aku menantang mu " tajam Ellara dengan nafas tersengal dan Remigio tertawa mengerikan sungguh wanita ini sangat lucu menantang kedua penguasa saat dirinya sudah terancam seperti ini.
Remigio melihat kaki Ellara yang telah berhasil membuat Valera terluka serta merenggut satu kehidupan yang bersemayam diperut sang istri, seketika senyum menyeringai terbit di wajah tampan Remigio.
KRAKKKK
AGHHH
dengan gerakan cepat Remigio menarik dan sengaja mematahkan pergelangan kaki Ellara hingga membuat wanita itu meraung dan merintih kesakitan, Frazzes di buat terkejut begitupun dengan yang lainnya. Bahkan jajaran king yang melihat itu seketika menelan ludahnya kasar, mereka yang selalu melihat sosok yang kalem dan tak pernah banyak bicara kini telah berubah layaknya sosok seorang iblis tersembunyi.
" hahaha bagaimana ? Ellara " tanya Remigio tertawa menyeramkan, Ellara seketika berkeringat hebat saat merasakan pergelangan kaki nya yang teramat sakit luar biasa bahkan untuk menggerakkan nya saja ia merasa tak mampu.
Ellara mengusap air matanya dengan kasar dan ia masih saja menatap nyalang ke arah Remigio yang masih tersenyum mengejek itu, bahkan Syina dan Elena memilih duduk di kursi yang tersedia.
" apa sekarang kau puas heh ? " ucap Ellara dengan tenang dan Remigio hanya menyunggingkan senyumannya dengan sangat tipis.
" tidak ! justru aku belum puas, " seringai itu muncul kembali saat Ellara memberikan sebuah pertanyaan yang sangat konyol.
__ADS_1
" ingat ! aku tak akan pernah takut pada siapa pun termasuk dirimu " sengit Ellara dan Remigio hanya diam saja lalu pandangannya beralih pada Frazzes yang sedang asyik melihat adegan yang berada di hadapannya kini.
" lihatlah .. bahkan putrimu sendiri pun tak takut padaku ! ohh.. hahahaha mengagumkan, sepertinya aku harus menggunakan cara lain untuk membuat dia lenyap dengan cepat ! " tajam Remigio lagi dan Frazzes hanya diam saja.
semua orang tampak terdiam dari tempatnya,entah mengapa kemarahan Remigio membuat jantung semua orang berdebar dengan kencang.
" Tapi sayang aku tak akan membiarkanmu mati dengan mudah ! kau harus merasakan siksaan yang aku berikan atas apa yang telah kau lakukan terhadap istri dan calon anakku ! '' bengis Remigio lalu beranjak pergi dari ruangan itu diikuti oleh jajaran king.
*****
sudah lima jam Valera masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang dokter berikan, selama itu Dave tidak pernah meninggalkan ruangan nonanya. Rasa cemas menyelimuti hati Dave saat ini.
Tak jauh dari sana derap langkah terdengar berjalan beriringan ternyata Remigio datang bersama dengan Zizi dan juga Vyan mereka sama-sama mengkhawatirkan keadaan sang Lady.
" bagaimana ? apa istriku sudah sadar ? " tanya Remigio akan tetapi Dave menggeleng lemah membuat Remigio terusik di kursi dengan mengusap kasar wajahnya.
Tak lama dua orang dokter datang dengan peralatan dan beberapa obat lainnya bersama sang perawat, Zizi memicingkan matanya seketika kepada perawat itu.
Ada yang aneh, perawat itu tak seperti perawat pada umumnya Zizi tiba-tiba menaruh rasa curiga kepada perempuan yang memakai baju perawat dan mengunakan masker matanya hanya menunduk saat Zizi menatapnya dengan intens.
" tunggu ! " cegah Zizi seketika membuat Dave,vyan dan Remigio beralih kepada Zizi " siapa kau ! " tajam Zizi dengan suara tajam membuat semua orang memicingkan matanya seketika.
perawat itu gugup akal tetapi ia mencoba untuk tetap tenang walaupun nyawanya terancam, dua dokter menatap bingung kepada Zizi
" siapa namanya ? " tunjuk Zizi kepada perawatan itu.
" Helen ! nama saya Helen nona, ada apa ? " ucap gugup perawat itu dan Zizi seketika menarik paksa masker yang menutupi wajah nya itu dan seketika semua orang terkejut bukan main.
Dave merasa ada yang tidak beres langsung mencekal tangan sang perawat dan menatap tajam kearahnya sedangkan Remigio tanpa memperdulikan keadaan ia masuk dan melihat kondisi Valera.
wanita cantik yang kini berstatus istrinya masih saja betah dengan memejamkan mata indahnya, bahkan suara nafasnya terdengar sangat beraturan Remigio mengelus lembut wajah Valera lalu mengecup bibir yang selalu berucap kata manis terhadap dirinya itu.
" sweatheart, bangunlah jangan seperti ini, aku merindukan mu. Apa kau tak mau menghajar Ellara yang telah membuat kita kehilangan sesuatu yang berharga ? aku yakin kau akan menebas kepala nya saat kau tau dia telah membuat calon anak kita tidak sempat melihat dunia " sendu Remigio lagi dengan menggenggam erat tangan sang istri. Hingga suara gubrakan terdengar disana akan tetapi Remigio memilih mengabaikan nya karena ia yakin orang-orang king mampu mengatasinya
sedangkan di luar dokter dibuat terkejut karena perawat itu tenyata bukan Helen melainkan orang lain, dua dokter itu langsung tergugup saat melihat wanita itu ditendang kasar oleh Zizi hingga membentur dinding dan pintu ruangan milik Valera.
" cih.. Berani sekali kau melakukan hal ini. Siapa yang menyuruhmu ! " desis Zizi tahan dan seketika perawat itu bangkit lalu melempar sepatu yang ia kenakan kearah Zizi hingga mengenai dahi Zizi sehingga membuat si mpunya meringis seketika.
" heii !! " lantang vyan saat melihat Zizi dilukai akan tetapi wanita itu melarikan diri dan Dave segera mengejarnya tapi sayang kecepatan wanita itu seperti sudah terlatih Dave kehilangan jejaknya.
Dave memutuskan untuk menghubungi anak buahnya untuk melakukan tugas penting menjaga sang Lady dengan memblokir kawasan rumah sakit dengan pengawasan yang sangat ketat, bahkan dokter yang bertugas tidak diperbolehkan untuk diganti oleh orang lain, dan dokter itu langsung mengangguk setuju bahkan ia sempat syok karena ulah perawat samaran itu.
__ADS_1
hingga dua jam berlalu Valera baru membuka matanya secara perlahan, Valera masih bisa merasakan ngilu dan nyeri diarea perutnya, ia melihat Remigio yang sedang terlelap di kursi dengan posisi yang menurut Valera sangat tak nyaman.
" Remi " lirih Valera berusaha membangunkan sang suami, " Remi " ucap Valera dengan sedikit mencubit tangan Remigio hingga membuat si mpunya membuka mata secara perlahan.
" sweatheart, kau sudah sadar " bangkit Remigio lalu menekan tombol yang tersedia untuk memanggil dokter agar segera mengecek keadaan sang istri. Tak lama dokter masuk dengan nafas yang terdengar tak beraturan dan Remigio segera menyuruh dokter itu untuk melakukan tugasnya.
valera diam saja saat dokter memeriksa dirinya, tapi tatapannya tak lepas dari Remigio yang memancarkan raut sedih bercampur resah. entah apa yang disuntik kan oleh dokter sehingga membuat Valera memicingkan matanya seketika.
" kenapa harus itu ? " ucap Valera tiba-tiba menjaga dokter dan Remigio bingung " cairan itu ? bukankah itu untuk meredakan pendarahan hebat seperti keguguran ? " Picing Valera lagi dan dokter itu hanya tersenyum sekilas.
" apa yang anda rasakan nona ? " tanya dokter itu dengan ramah.
" nyeri dan ngilu dibagian perut " ucap Valera dengan singkat dan dokter mengangguk paham, lalu dokter menyarankan Valera untuk meminum obat yang sudah ia bawa dan Valera hanya menatap sekilas obat itu.
" tuan, ini obatnya dan tolong pastikan nona untuk meminumnya " saran dokter dan Remigio mengangguk sekilas lalu dokter itu pamit undur diri.
kini ruangan itu mendadak hening dan sunyi Remigio mengelus lembut pipi Valera dan membelai rambut yang menutupi dahinya, Valera sangat menikmati sentuhan Remigio yang terasa sangat nyaman, hingga membuat Valera memilih untuk memejamkan matanya sesaat.
" apakah seperti ini sangat nyaman ? " tanya lembut Remigio dan Valera membuka matanya lalu tersenyum tipis.
" sangat, sangat nyaman dan hangat " ucap Valera lagi dan Remigio terkekeh. " hmm Remi, apa yang terjadi dengan diriku ? pendarahan ? maksud nya " ucap Valera dan Remigio seketika menunduk sedih
" maafkan aku yang tak bisa menjaga mu calon anak kita " ucap remigio lirih dan Valera hanya diam menyimak, Remigio sedikit menjelaskan jika Valera keguguran akibat benturan yang kuat diarea perutnya sehingga membuat janin yang berusia rentan itu harus kehilangan nyawanya.
valera hanya terdiam dengan sorot mata yang kosong saat remigio menjelaskan kabar buruk ini, hatinya tiba-tiba sesak dan marah bahkan ia sendiri pun tak mengetahui jika dirinya sedang mengandung ! Betapa cerobohnya ia, Valera mengumpat dalam hati lalu mengusap airmatanya yang jatuh begitu saja.
" maaf.. maafkan aku. Bahkan aku sendiri pun tak mengetahui jika aku sedang mengandung. Aku ceroboh Remi. " Isak Valera dan Remigio segera menenangkan sang istri yang menangis pilu karena mendengar kabar buruk ini.
tangis itu semakin menjadi saat remigio terus membelainya dengan sangat lembut, bahkan sesekali Remigio mengecup pucuk kepalanya dengan penuh perasaan, bodoh ! valera meruntuki kebodohannya saat ini. Dan Ellara tunggulah waktu yang tepat untuk membuat ia merasakan neraka dunia yang dua penguasa itu ciptakan.
****
kabar buruk itu menyebar kepada jajaran inti king, bahkan mereka merasakan sedih yang teramat dalam karena kehilangan calon penguasa dan penerus selanjutnya. bahkan nyonya sofhia dan tuan Ramius yang mendapatkan kabar ini dari vyan langsung syok.
saat mereka ingin menjenguk Valera akan tetapi Valera melarangnya dan ia mengatakan jika akan pulang menuju Gold mansion dan ia menunda acara besar king untuk tiga hari kedepan karena dalam masa pemulihan.
untung saja semua mafia mengangguk dan mengerti keadaan, mereka dijamu oleh jajaran king untuk kenyamanan para tamu yang hadir. Bahkan beberapa dari mereka kembali ke hotel untuk lebih leluasa beristirahat.
kini di Gold mansion sudah ada nyonya sofhia dan tuan ramius yang datang berkunjung Valera menyambutnya seperti biasa walaupun awan mendung menghiasi wajah cantiknya, dan Remigio tentu saja ia tak akan pernah pergi dari sisi Valera sehingga pekerjaan nya ia limpahkan kepada James dan juga Leo.
" sayang, " sendu nyonya sofhia dan Valera memeluk erat ibunya bahkan terdengar suara isakan kecil dan nyonya sofhia mengusap lembut punggung putrinya " ini semua nya adalah takdir, kau harus bisa melewati semua yang telah tuhan gariskan untukmu " lembut nyonya Sofhia dan Valera hanya diam dalam tangisnya.
__ADS_1
" aku ceroboh ! bahkan aku tak tau jika aku sedang mengandung " lirih Valera dan nyonya sofhia tentu saja merasakan kesedihan yang teramat dalam saat mendengar kabar buruk ini,
nyonya sofhia hanya memberi pengertian untuk putrinya sebijak mungkin walaupun sulit tapi Valera akhirnya mengangguk dan mengerti, Remigio tersenyum saat Valera menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan itu semua tak luput dari pandangan nyonya sofhia dan juga tuan Ramius.