Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
kematian lebih baik


__ADS_3

Aldebaran menatap Valera dengan tatapan penuh arti seolah ia tengah menelisik siapa sesungguhnya wanita yang berada di hadapannya ini, ketakutannya mulai mencuat mengatasi dirinya apa yang dikatakan Valera seolah menjadi kutukan untuk dirinya


" apakah kau siap menerima kematian dan ajal mu Aldebaran " ucap Valera dengan penuh penekanan seolah dirinya adalah hakim yang akan memutuskan masa depan tersangka nya


" kau ingin membunuhku ? " tanya Aldebaran dengan nada pelan bahkan teriakan dirinya sudah tak terdengar lagi, tapi Valera hanya menatap sinis kepada Aldebaran


" kau tau apa yang membuat ku muak, seolah-olah kau sedang bersandiwara Aldebaran ! saat aku belum menangkap mu kau tanpa berfikir panjang menentang ku tanpa mengetahui akibatnya , mengusik ku, bahkan merencakan pembunuhan dengan kakak tiri mu terhadap kedua orang tuaku, tapi saat kau tertangkap dengan mudah kau bertanya apa kah aku akan membunuhmu ! cihh.. jangan mimpi aku akan berbaik hati terhadap mu ataupun anak-anak mu " desis tajam Valera menatap geram Aldebaran yang sedang dilanda ketakutan itu


" apa yang akan kau lakukan terhadap ayahku " teriak Chaiton berteriak lantang tetapi Valera menghiraukan Chaiton begitu saja, Chaiton memberontak bahkan menendang pintu tahanannya seolah-olah ia sedang melampiaskan amarahnya


geram dengan teriakan itu, Valera menarik pelatuknya dan melangkahkan kakinya menuju ruangan milik Chaiton


DORR


AGHHH


satu buah tembakan berhasil mengenai kaki Chaiton, bahkan Aldebaran dibuat terperangah akan yang Valera lakukan tapi tidak dengan Chaiden ia hanya menatap datar kearah Valera,


" tidak ! jangan sakiti putraku " teriak Aldebaran dengan suara yang menggema, hingga membuat Bianca terperanjat kaget,


Valera tertawa jahat seolah-olah ialah tokoh antagonisnya, Valera tersenyum mengejek saat melihat Chaiton mengerang kesakitan serta meringis menahan rasa sakit di kakinya


" itulah akibatnya jika kau ingin bermain dengan ku " tajam Valera dengan tatapan dingin, saat Valera hendak berlalu sebuah tangan mencengkram erat lengannya membuat ia terkejut, rupanya Bianca !


" apa yang kau lakukan terhadap kakak ku " ucap Bianca dengan suara lemah, sedangkan Valera hanya menatap sinis kearah Bianca


" tentu saja aku akan membuat kalian menderita, termasuk dirimu " desis Valera lagi


BUGHHHHHH


AGHHH


" Bianca " jerit Aldebaran serta kedua kakaknya saat Valera menerjang Bianca kembali, Aldebaran sangat murka dengan apa yang Valera lakukan


" AGHHH kau wanita biadab yang tak punya hati, kau dasar iblis " pekik Aldebaran membuat api amarah Valera kian memuncak


DORR


" ayah " pekik Chaiden yang melihat ayahnya ditembak tepat di dahinya dan seketika Aldebaran tumbang tak bernyawa membuat Valera tertawa mengerikan, Chaiton yang melihat itu hanya bisa terperangah dan menatap sayu kepada tubuh ayahnya yang sudah ambruk sedangkan Bianca ia hanya bisa menangis, langkah yang ia ambil telah membuat dirinya menderita hingga membuat ayah nya merenggang nyawa


Bianca menjerit kala melihat ayahnya sudah tak bernyawa, tidak ada perasaan bersalah dalam diri Valera, hanya ada tatapan datar yang Valera tampilan bahkan Chaiden ia hanya bisa diam dan pasrah apa yang akan Valera lakukan selanjutnya


" lihatlah ? bagaimana apa ini menyenangkan ? " tanya polos Valera dan Bianca hanya menatap datar kepada Valera kebencian kian membuncah dalam hatinya tapi ia sadar untuk melawan pun ia sudah gak sanggup karena luka yang ia dapati saat ini, belum lagi tulang lengannya yang patah " ohh menangis ? jangan bersusah payah membuat dirimu menangis Bianca kemana keberanian mu saat kau dengann lancang ingin melawanku ! " ucap Valera lagi


" cukup ! hentikan semua ini.. hiks..hiks.. ini semua karena mu, kau merebut Remigio dari tangan ku, kau menawan ayah dan kakak ku. Aku membenci mu sangat membenci mu terlebih kau membunuh ayahku " ucap frustasi Bianca dan Valera hanya tersenyum sinis mendengarkan nya " harusnya kau yang mati " ucap Bianca lagi


" kau, cihh wanita yang dikuasai iri dengki, aku tak perduli jika kau membenciku bahkan sampai kau mati sekalipun aku tak perduli untuk ayah serta kakakmu yang menjadi tawanan ku itu semua ulah mereka, mereka lah yang terlebih dahulu mengusik hidupku, kau tidak tau apa-apa dasar bodoh " ucap valera mengejek dan Bianca diam saja sembari menatap datar kearah Valera " apa yang kau perlakukan kepada putraku tak akan pernah ku maafkan walaupun kau bersujud dibawah kakiku, aku tak Sudi ! kau akan menerima mimpi buruk mu sehingga kau memilih kematian dalam hidupmu " ucap Valera tajam akan tetapi Bianca tersenyum sinis


" lakukan lah, aku tak akan pernah takut " ucap Bianca menantang, wow Valera amat menyukai akan keberanian dari seorang Bianca lalu Valera mengambil sebuah alat cambuk yang membuat Bianca ketakutan seketika

__ADS_1


" A..apa yang akan kau lakukan " gugup Bianca


" menurutmu, tentu saja untuk mencambuk sebuah permainan baruku " ujar Valera dengan terkekeh, gemetaran, keringat dingin mulai mengucur rasa sakit yang dirasakan di sekujur tubuh Bianca seakan menjadi kebas


valera memainkan alat cambuk itu dengan gerakan perlahan, karena Valera yakin jika Bianca saat ini sedang ketakutan, sedangkan Chaiton hanya bisa berteriak saat Valera hendak mencambuk adik perempuannya begitupun dengan Chaiden mereka benar-benar di uji oleh seorang Valera


CETARRRR


AGHHH


" ampun, ini sakit " ringis Bianca saat cambuk itu mengenai punggungnya yang sudah terluka


CETARRRR


AGHHH


" menangis lah Bianca bukankah aku sudah memberi mu kesempatan untuk hidup setelah kau menyerang dan masuk kedalam markas ku tapi kesempatan itu kau anggap remeh membuat kau harus berakhir seperti ini " ucap Valera dengan dingin bahkan auranya pun ikut menegang


CETARRRR


AGHHH


tiga kali sudah Valera mencambuk tubuh Bianca hingga ia tersungkur lemah dan semakin lemah, Valera tersenyum sinis melihatnya entah bagaimana bisa tidak ada rasa iba atau rasa keprimanusiaan dalam diri Valera saat ia menyiksa para korbannya


" sa...kit tolong " ucap lemah Bianca lagi hingga dirinya menutup mata dengan sempurna, Valera menatap datar kearah tubuh yang sudah tergolek itu


" nikmatilah sisa hidupmu Chaiden ! atau kau ingin bertemu dengan Diandra ? hmmm..wanita cantik itu kini sudah mempunyai seorang putra dan kau tau siapa ayah biologisnya ? " ucap Valera santai dan Chaiden sontak terkejut mendengar nama Diandra " Macky ! Macky adalah ayah kandung dari putranya nya, tapi sayang takdir tidak mempertemukan mereka itu semua karena kau " tunjuk Valera dengan berapi-api dan kini Chaiden justru tertawa puas


" takdir berpihak padaku bukan ? hahaha " ucap Chaiden tertawa bagaikan orang gila dan Valera pun ikut terkekeh menimpalinya membuat Chaiden terdiam seketika


" apa kau sedang bermimpi tuan Chaiden buka mata mu lebar-lebar saat ini kau sedang berada di mana ! tentu saja kau sedang berada di tempat kematian " sinis Valera lalu ia melenggang pergi dari tempat itu dengan wajah yang dingin dan datar bahkan sorot matanya sangat tajam bagaikan seekor elang


*****


sudah tiga hari George dirawat dirumah sakit, kondisinya tetap sama setiap melihat orang ia akan ketakutan dan menangis histeris Valera dibuat kewalahan menghadapi George yang hampir setiap saat menangis


dokter mengatakan jika George terguncang jiwanya bisa dikatakan George trauma yang berlebihan diusia nya yang masih kecil


Valera memutuskan untuk membawa George pergi ke Jerman setelah keadaan nya cukup baik untuk menemui temannya yang sebagai dokter psikolog


" mamih " lirih George dan Valera seakan menadapat kekuatan karena ia memanggil Valera dengan sebutan mamih


" George, " ucap Valera dengan mata yang berkaca-kaca dan George hanya menatap Valera dengan tatapan seperti biasa, Valera langsung mendekat dan George langsung memeluk Valera dengan sangat erat


" hiks..George takut mamih, Tante itu jahat " ucap George menangis dan Valera mendekap erat tubuh mungil George amarah kembali meliputi dirinya pada seorang Bianca


" George tidak perlu takut, mamih ada disini bersama mu hmm " ucap Valera tersenyum saat mereka sedang berbicara seorang suster masuk ke ruangan George membuat pria kecil itu menangis histeris Valera terkejut bukan kepalang lalu ia menatap tajam kepada suster itu


" ada apa ? " tanya valera datar dan suster itu gugup bukan main

__ADS_1


" ini sudah waktunya pasien meminum obatnya " ucap suster itu lagi dengan gugup


" biar aku saja, sekarang kau keluar lah " ucap Valera dan suster itu mengangguk patuh, tak lama George kembali tenang dan ia patuh pada setiap perintah Valera


satu jam berlalu George dalam pengaruh obat, rasa kantuknya tak bisa ia tahan tak lama ia tertidur dengan nyenyak dan Valera segera keluar untuk menemui Dave dan Remigio yang berjaga di luar


Remigio dan Dave tampak sedang berbincang kecil, Valera memilih duduk berhadapan dengan keduanya baik Remigio dan Dave hanya diam dan saling melirik satu sama lain


" Dave setelah kondisi George jauh lebih membaik aku akan membawa nya ke Jerman untuk menemui dokter psikologi, siapkan keberangkatan ku ketika semuanya siap dan pastikan semuanya aman saat aku tak ada disini " ucap tegas Valera dan Dave mengangguk patuh


" kau akan pergi ? " ucap Remigio dan Valera mengangguk mantap


" ingin ku antar ? " tawar Remigio lagi


" apa kau tidak sibuk dengan perusahaan Remi, bahkan aku tidak tau sampai kapan aku berada di sana, jika George sembuh dari rasa trauma nya lebih cepat maka aku akan pulang lebih cepat tapi jika itu tidak, kemungkinan aku akan tinggal sampai George benar-benar dinyatakan sembuh " ucap Valera lagi dan Remigio hanya terkekeh dibuatnya


" apapun untuk mu sweatheart, kita bisa pergi bersama bukan, kau tenang saja masih ada James dan Leo yang membantu diperusahaan dan akupun masih bekerja dan tidak akan lari dari tanggung jawab " ucap Remigio dan Valera hanya tersenyum dibuatnya sedangkan Dave ia pura-pura tidak mendengar nya


" baiklah kita akan pergi bersama " ucap Valera lagi dan Remigio mengangguk mantap


****


para B.woman baru saja tiba di markas dan mengentikan misi nya sementara waktu untuk melihat kondisi George tapi Valera mengatakan jika George akan ketakutan saat melihat seseorang selain dirinya tentu itu membuat kelima wanita tangguh itu syok dibuatnya, bagaimana bisa ?


Thomas dan Asnee menceritakan perihal kondisi George serta wanita yang membuat George mengalami trauma diusia dini membuat emosi kelima wanita itu memuncak seketika dengan cepat K berjalan dengan langkah tergesa menuju ruang bawah tanah di mana Bianca ditawan


BRAKKKKKK


K dengan emosinya langsung menjambak rambut Bianca dengan kasar membuat si mpunya meringis tertahan tubuhnya sudah lemah bahkan luka ia alami hampir di sekujur tubuh, matanya sudah satu bahkan ia terlihat pasrah akan hidupnya itu


" jadi kau yang membuat George mengalami mimpi buruknya " ucap K berapi-api dan Bianca hanya diam saja bahkan untuk melawan pun tak bisa


DUAKKK


K dengan kasar membenturkan dahi Bianca ke lantai yang sangat dingin itu bahkan Chaiden dan Chaiton memberontak dan berteriak melihat adiknya terus menerus disiksa tiada henti


" bunuh lah aku sekarang juga " lirih Bianca semangat hidupnya sudah tidak ada lagi bahkan kini ia meminta sebuah kematian untuk dirinya sendiri


K tertawa keras, mendengar permintaan Bianca yang menurutnya sangat mudah hanya dengan satu tembakan mengenai dahi atau jantungnya dan pada saat itu juga malaikat maut akan mendengar doa-doa nya tapi K tidak mau melakukan itu ia hanya ingin membuat Bianca menderita terlebih dahulu


DUAKKK


AGHHH


Lagi-lagi K menendang wajah Bianca hingga ia terjungkal kebelakang, K tersenyum sinis tetapi Bianca ia hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan kejam dari jajaran Valera


hanya satu permintaan nya yaitu kematian tetapi seakan tuhan tak mendengar kan setiap doa nya padahal ia sudah di siksa sangat kejam dan lagi-lagi ia tak bisa mati dengan begitu mudah


perlahan mata Bianca mulai menutup dan begitupula K pergi berlalu dari tempat itu sedangkan yang lainnya hanya bisa tercengang dengan apa yang K lakukan

__ADS_1


__ADS_2