
setelah kepergian Valera dari Gold mansion ponsel milik Dave berdering dan muncul sebuah notifikasi dari nonanya jika ia berpesan untuk membawa George menuju mansion utama membuat Dave bingung seketika
" apakah itu Valera " ucap Vyan menatap Dave dan Dave hanya mengangguk saja " apa yang ia katakan ? " desak vyan lagi
" nona berpesan jika segera membawa George menuju mansion utama tuan " ucap Dave
" kemana nona akan pergi " ucap Leonel membuka suara
" entahlah, aku rasa nona tak ingin waktunya diganggu untuk sementara waktu " ucap Dave lagi dengan lemas dan Thomas hanya bisa diam menatap dengan apa yang baru saja terjadi tadi
" sebaiknya kita segera membawa George menuju mansion utama, kurasa orang tua ku harus segera mengetahuinya " lemas Vyan dan semuanya mengangguk
saat itu Asnee yang mendengar cerita dibuat terkejut dengan cepat ia membereskan barang keperluan milik George selama tinggal di mansion utama tentu saja George senang bukan main, karena ia sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tua Valera, Dave dan Thomas memutuskan mengikuti mobil milik Asnee sedangkan Vyan bersama dengan Leonel
sedangkan saat ini Valera menuju makam sang kakek yang terletak cukup jauh dari mansion, bahkan Valera Sudah lama tidak berkunjung ke sana membuat dirinya semakin merasa bersalah hingga Valera berjalan dengan langkah gontai dan pandangan yang kosong hari itu angin cukup kencang hingga menyapu habis rambut panjang Valera akan tetapi ia tak menghiraukannya hingga matanya tertuju pada Nisan yang bertuliskan nama sang kakek dengan ukiran dan tinta emas, Valera duduk bersimpuh dengan air mata yang semakin deras
" hikss.. kakek maafkan aku, maafkan aku. Aku tak mengetahui jika kematian mu direncakan oleh seseorang hiks.. kakek mengapa orang tua beserta kakak ku tidak memberitahu ku yang sesungguhnya mengapa kek " tangis Valera pecah saat mengingat kejadian berapa tahun silam saat ia hendak membuka penutup peti milik Marcell Harson akan tetapi keluarganya melarang dengan alasan yang cukup logis karena saat itu Valera tidak mencurigainya jadi ia menurut saat peti itu dibawa ke tempat peristirahatannya terakhir nya " aku akan menemukan orang itu, aku akan membalasnya untukmu kau tenang saja aku tak akan mengecewakan mu, itulah sumpahku maka nyawa dibalas dengan nyawa " bengis Valera dengan mata memerah hingga tangannya mengepal sempurna " tenanglah di alam sana, maaf jika aku belum menjadi orang yang kau harapkan " ucap Valera lirih hingga isak tangisnya tak lagi terdengar
dirasa cukup Valera segera meninggalkan tempat itu, dan akan menuju suatu tempat yang orang lain tak ketahui bahkan orang terdekat nya.
*****
" jadi dia sudah mengetahuinya " ucap tuan Ramius dan Vyan hanya menunduk saja sedangkan George langsung menemui nyonya sofhia untuk melepas rindunya, kini para lelaki itu sedang duduk dan terlibat pembicaraan yang sangat serius
" akupun tak tau akan jadi seperti ini, jika saja Kemila tidak bercerita hal masa lalunya " ucap vyan lagi membuat tuan Ramius mengeryitkan dahinya bingung
" Kemila ? siapa wanita itu " Picing tuan Ramius dengan
" entahlah akupun tak paham, hanya Vale yang mengetahui semuanya tentang wanita itu " ucap vyan lagi dan tuan Ramius semakin penasaran
" lalu kemana adikmu sekarang " cemas tuan Ramius lagi
" entahlah " singkat vyan tertunduk lesu " Dave coba kau lacak ponsel atau sinyal milik valera aku yakin mobil yang ia gunakan terdapat sinyal disana " ucap Vyan sedikit memaksa Dave dan Dave hanya mengangguk pasrah lalu ia meminjam laptop untuk ia berkerja dan tuan Ramius mengijinkan untuk menggunakan miliknya dan Dave melakukan tugasnya dengan baik hingga lima belas menit berlalu akan tetapi apa yang mereka cari tak membuahkan hasil
" ada apa ini kenapa tidak bisa dilacak " gummam Dave lagi dan semuanya mendengar gumaman Dave membuat tuan Ramius yang cemas semakin cemas
" coba lagi dave " tekan tuan Ramius dan Dave mengangguk patuh, hingga beberapa menit berlalu akan tetapi hasilnya sama
" ini tidak bisa, saya yakin jika nona sudah memblokir akses mengenai dirinya, ditambah ia menitipkan George disini '' ucap Dave lemah dan semuanya hanya diam saja tak berani berbicara lebih banyak
__ADS_1
*****
sudah dua hari Valera berada ditempat hunian mewah miliknya yang tidak diketahui oleh orang lain, hunian salah satu kalangan elit yang sangat ramai diminati oleh kalangan pengusaha kelas kakap siapa sangka Valera memiliki satu hunian disana yang terletak paling dominan disana
selama dua hari itu Valera telah menghubungi salah satu anggotanya yang sudah lama vakum, pasukan bayangan ! mereka sangat senang karena di panggil oleh nonanya kembali
kini Valera sedang menunggu kedatangan para pasukan bayangan yang masih tersembunyi dari dunia bahkan dari jajarannya, tatapannya yang datar dan wajahnya sedikit bengkak hingga lingkaran hitam terlihat disana
bagaimana dua hari ini ia memikirkan bagaimana cara untuk menemukan si pelaku, dan Valera memutuskan untuk bertolak menuju Argentina ! ya Valera akan bertolak menuju Argentina bersama dengan pasukan bayangannya
saat ia menatap lurus kedepan sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya dan muncul lah sosok-sosok yang akan membantu Valera selama pencarian
" welcome " ucap Valera datar dan para pasukan bayangan itu langsung menunduk hormat kepada Valera raut wajah bahagian terpancar jelas di mata mereka
" apa kabar nona ? " ucap salah satu dari mereka yang bernama Emil
" baik, bagaimana dengan keadaan kalian semua, dan maaf aku baru menghubungi kalian di saat ada sesuatu yang mendesak '' ujar Valera lagi
" tidak apa-apa nona kami mengerti " ucap Emil lagi dan Valera hanya diam saja
Hunian mewah Valera memiliki bangunan tiga lantai pada hunian umum nya, lengkap dengan beberapa kamar, kitchen set, ruang gym, perpustakaan, kolam renang, semua itu adalah salah satu icon hunian yang wajar pada umunya tapi siapa sangka terdapat ruangan besar yang tersembunyi di sana, garasi mobil menjadi akses untuk keluar masuknya ruangan itu, kini Valera berada di tempat itu
" kematian kakekku bukanlah murni ada campur tangan seseorang " ucap Valera dengan datar membuat para pasukan bayangan itu terkejut seketika siapa yang tak kenal dengan mendiang Marcell harson bahkan para pasukan bayangan itu sangat mengenal sosok yang dulu melatihnya hingga menjadi pasukan bayangan milik Valera
" jadi.. " ucap Emil dengan lidah kelu bahkan ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh nonanya ini " lalu, apa kedatangan kami ada kaitannya dengan ini ? " tanya Emil lagi
" kita akan menuju Argentina, untuk menemui paman Yu, aku tak yakin jika paman Yu mengetehuinys tapi akan aku coba dan langkah pertamanya adalah paman Yu " ucap Valera lagi
" kami siap membantu nona " ucap mereka serempak dan Valera tersenyum tipis
" beristirahat lah terlebih dahulu, Karena esok lusa kita akan berangkat " titah Valera lagi dan semuanya mengangguk lalu Valera meninggalkan ruangan itu dan kembali ke hunian mewahnya
selama berada di dalam kamar Valera selalu memantau semuanya dari sebuah laptop bahkan ia tahu jika keluarganya sedang mencarinya saat ini bahkan Valera tau jika Dave ikut membantu kakak dan ayahnya
" Kalian mengecewakan ku, masalah sebesar ini kalian tega menutupinya dariku " lirih Valera lagi " maaf karena aku harus menyelesaikan semuanya " ucapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca
*****
Argentina, waktu setempat.
__ADS_1
seorang wanita yang berpenampilan anggun dengan memakai sebuah dress berwarna hitam dengan rambutnya yang diikat rapi serta kaca mata hitamnya yang bertengger indah sedang berjalan dengan langkah tegas di sebuah bandara, para pasukan bayangannya berjalan dibelakang sang lady dan tentu saja menjaga jarak dengan nonanya
Deon sudah memesan sebuah mobil sewaan untuk nonanya agar berpergian lebih mudah karena negara ini begitu sangat teliti, mobil yang dimaksud oleh Deon sudah menunggunya di sebuah tempat seperti halte
Valera menatap kearah sekitar banyak perubahan yang sudah ia lewatkan selama ini, hingga akhirnya mereka menuju sebuah kota dimana paman Yu tinggal, entah mengapa jantung Valera berdetak lebih kencang seperti orang yang gugup akan tetapi Valera menepis perasaan itu dengan cepat
waktu begitu sangat berlalu, siang telah berubah menjadi malam perjalan memakan waktu hampir enam jam tentu saja rasa bosan itu menghampiri Valera
" masih tetap sama " gumam Valera saat melihat bangunan yang paling menonjol dari pada lainnya bangunan bergaya dan berjenis khas timur akan tetapi paman Yu mendominasi nya agar lebih terlihat estentik
Emil turun terlebih dahulu dan berbincang dengan para penjaganya awalnya mereka melarang akan tetapi karena Emil mencoba menyakinkan mereka dan akhirnya mereka menginjinkan rombongan Valera untuk masuk
" mari nona " seru Emil dan valera mengangguk saja
sesuai prosedur barang bawaan Valera di simpan di begitu saja dan tidak diijinkan masuk awalnya Valera menatap tajam dan pada akhirnya ia menginjinkan mereka berlaku semaunya, seorang wanita menggiring rombongan Valera untuk menuju ruang bersantai para tamu hingga mereka disuruh menunggu kedatangan paman Yu
" maaf lama menunggu, dan apa maksud kedatangan kalian ditempat ku " ucap seorang lelaki yang usianya sudah berumur bahkan berjalan dengan sebuah tongkat di tangan kanan nya paman Yu itulah orangnya. Valera diam menatap seksama wajah paman Yu dan orang itupun menatap balik kepada Valera hingga
" wajah mu " ucapnya lagi dengan masih terkejut
" Valera Harson ! apa kau tak mengenali lagi wajah ku paman ? kita bertemu pertama kali saat usiaku lima belas tahun " jelas Valera dengan lugas dan paman Yu tentu saja ia terkejut bahkan terlihat seperti tak percaya
" jadi kau anak itu, oh tuhan mimpi apa aku semalam ? kau tumbuh menjadi wanita yang cantik nak.. " puji paman Yu dan Valera tersenyum tipis " ya kau benar kita baru bertemu sekali saat kau berumur lima belas tahun pada saat kau ingin berduel pedang bersama ku " kekeh paman Yu lagi dan Valera terseyum tipis menanggapinya
" ingatanmu sangat baik paman, aku tersanjung mendengarnya " kekeh balik Valera dan paman Yu tertawa terbahak-bahak sungguh sikap dan sifatnya hampir mirip dengan mendiang Marcell Harson
" melihat kedatangan mu kemari dengan membawa rombongan aku yakin ada sesuatu bukan ? " ucap paman Yu dan Valera mengangguk saja " ada apa ? katakan saja " ucap nya lagi
" tentang kematian kakekku ! penyerangan terhadap mansion kakekku yang berada di sini dan tentang siapa pelakunya " tegas Valera dengan sorot mata yang tajam membuat paman Yu terkejut akan peryataan Valera sesaat ia terdiam dan menatap nanar dengan pandangan lurus
ingatannya menerawang jauh saat dimana ia sudah tak bisa menemukan sahabatnya pada saat mansion itu hancur ia pun mendapatkan kabar yang begitu lambat yang ia dapatkan hanya tubuh Erson sang asisten Marcell Harson kala itu
" mengapa kau bertanya ? jangan bilang kau baru mengetahuinya ? " Picing paman Yu dan Valera terdiam dengan pandangan yang begitu sedih paman Yu paham akan hal itu " dari mana kau mengetahui informasi ini ? " tanya paman Yu lagi
" mantan anak didikan mu ! " singkat Valera dan paman Yu mengkerutkan dahinya seketika wanita yang berada dihadapannya ini seperti sebuah teka-teki " Kemila " ucap Valera tak sabar
" Kemila ? " bingung paman Yu lagi lalu detik kemudian ia mengingatnya " ya tuhan Kemila ? kau bertemu dengan nya dimana ia ? Kemila pergi menuju Roma saat Marcell Harson diserang di waktu yang bersamaan bukan ? aku pun mengetahuinya melalui anak buah ku " jelas paman Yu dan Valera diam saja
" jadi adakah yang kau tau tentang perihal beberapa tahun silam ? mengenai kematian kakekku ! " ucap Valera tanpa ekspresi dan datar membuat paman yu merasakan devaju nya kembali, sosok Marcell Harson begitu kuat didalam diri Valera, tak salah jika dulu ia mewariskan organisasinya kepada cucu perempuannya akan tetapi masih ada cucu laki-laki nya yang mampu menangani ini semua akan tetapi itu semua jatuh kepada Valera !!
__ADS_1
anak ini benar-benar menguasai sikap dan sifat kau Marcell, bahkan aku merasakan adanya dirimu dalam dirinya sekarang aku percaya mengapa kau bersikeras untuk mewariskan apa yang kau miliki kepada cucu perempuan mu ini, aura nya sangat luar biasa bahkan melebihi dirimu. batin paman yu menatap dalam Valera