
valera mendapat kabar dari anak buah king yang bertugas di ruang tawanan jika Ellara dalam keadaan yang cukup memprihatinkan membuat para anak buah king menempatkan Ellara diruangan khusus dengan Ornaf di dalamnya.
Ornaf menatap dalam pada Ellara yang memiliki luka di sekujur tubuhnya, bahkan Ellara berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri karena ia merasa belum menerima kenyataan dalam hidupnya.
Ellara hanya memandang Ornaf dengan sekilas lalu memalingkan wajahnya ke samping karena tak mau menatap tatapan penuh kasihan yang Ornaf layangkan padanya.
'' berhenti menyakiti dirimu sendiri nona, Kau tau jika lady kami bukan orang yang bermurah hati pada musuh-musuh nya termasuk anda. Akan tetapi Lady masih menghargai ibumu yang terus memohon padanya untuk tak membunuh mu di sisa masa tua nya karena ia sangat ingin hidup bersama dengan putrinya. " ucap Ornaf datar dan Ellara hanya diam saja, masih jelas teringat saat wajah tua itu memohon untuk tidak membunuh putrinya, sekelebatan ingatan Ellara menuju ke seorang pria yang selalu berada di sampingnya dari ia kecil hingga ia kini sudah tumbuh dewasa.
BRAKKKKKK
pintu ruangan itu dibuka dengan kasar dan membuat Ornaf terkejut sehingga menjatuhkan alkohol yang hendak ia berikan pada Ellara sedangkan wanita yang kini sedang berbaring dengan lemah hanya bisa menatap datar pada orang yang baru saja memasuki ruangannya itu.
" katakan padaku jika kau benar-benar ingin mati Ellara ! maka aku akan mengabulkan permintaan mu itu dengan senang hati, Jika kau seperti ini justru kau membuat tempatku kotor karena mayat mu " bengis Valera dan Ellara hanya diam seakan tak menggubris perkataan Valera, sedangkan Ornaf ia hanya bisa menelan ludahnya kasar karena perkataan frontal sang Lady.
Valera menatap Ornaf yang diam dan seketika Ornaf dengan segera merapihkan tumpahan alkohol dan dengan segera menyelesaikan tugasnya dengan cepat, Ellara sedikit berontak dan tidak mau diobati membuat Valera geram bukan main.
" Kau menyusahkan saja, jika tidak bisa dengan cara lembut maka siram saja alkohol itu pada luka-luka nya Ornaf, kau payah dan terlalu lemah " pekik Valera marah dan Ornaf hanya bisa mengangguk dengan cepat, sedangkan Ellara menatap tajam pada Valera.
Ellara akhirnya menurut saat Ornaf mengobati luka-luka luar yang tampak mengerikan itu, bahkan luka tembaknya belum juga sembuh dan semakin buruk membuat Ornaf sedikit meringis melihat luka itu.
" obati saja dan jangan menatap nya seperti itu, aku tak butuh belas kasih mu " tajam Ellara dan Ornaf justru membalas tatapan itu tak kalah tajam,
" jika sudah selesai tolong tinggalkan kami, ada sesuatu hal yang ingin ku sampaikan dengan nya . " datar Valera dan Ornaf mengangguk mengerti.
setelah kepergian Ornaf hanya ada keheningan disana, Ellara dan Valera sama-sama menatap dalam diamnya. Tak lama Ellara mendesis pelan.
" Apa yang ingin kau bicarakan padaku, cepat aku muak melihat wajah mu " ketus Ellara dan Valera hanya tersenyum sinis.
" oh hehe.. lihatlah kemana keberanian seorang Ellara saat kau dengan lantang menyebut jika kau salah atau keturunan Harson ! malu ? tentu saja kau pasti merasakan nya bukan ? " tanya Valera dengan mengejek. Dan Ellara hanya bisa menatap tajam dengan nafas menderu nya.
" Hanya ini yang akan kau sampaikan ? " Picing Ellara dan Valera hanya menatap dalam lawan bicaranya.
" Tidak kah kau ingin bangkit dan menyelesaikan semuanya hingga tuntas Ellara ? jujur sesama wanita aku kasihan terhadapmu entah mengapa aku berubah menjadi lebih sensitive kali ini " ucap Valera dan Ellara menyimak perkataan Valera dengan seksama. " marah, kecewa dan rasa ingin melenyapkan mu semua aku rasakan jika kau ingin tau Ellara, terlebih saat kau secara tak sengaja melenyapkan sebuah nyawa di dalam rahimku. Tapi aku sadar jika kau korban ke ambisiussan seseorang yang tak lain ayah kandungmu, tidak kah kau berterimakasih padaku karena aku telah membebaskan ibumu dari rantai belenggu yang diciptakan oleh Frazzes willyam ? " tanya Valera dengan nada datar.
" senarnya apa yang ingin kau katakan ! " tekan Ellara dan Valera hanya mendesah pelan.
" Temuilah ibumu jika kau mau, dia akan menceritakan semuanya terhadapmu Ellara. Setelah itu baru kau fikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan untuk hidupmu dimasa depan. " ucap Valera lagi.
" jadi kau akan membebaskan aku ? '' tanya Ellara dengan nada sedikit terkejut.
" tergantung " singkat Valera dan Ellara hanya diam menatap dalam Valera dengan memikirkan sesuatu. Keduanya sama-sama bungkam dan pada akhirnya Valera keluar dari. memberikan waktu pada Ellara untuk berfikir.
****
disisi lain Ed panik karena tak mendapatkan keberadaan Elena sama sekali, ia berlari dengan cepat untuk bisa menemukan Elena dengan segera bahkan Ed tidak menemukan jejak Ketty di sana.
" sial, suara tembakkan ? bahkan tak ada korban satu pun, " kesal Ed kamu ia mulai tenang dan berfikir dengan jernih. Akan tetapi dirinya benar-benar cemas memikirkan keadaan Elena yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
__ADS_1
Tak lama mobil polisi sudah berada di depan dengan cepat Ed menjauh dari kerumunan warga sipil, dan menuju mobilnya dengan cepat.
Ed Menganti keadaan sekitar di dalam mobilnya tapi tidak ada yang mencurigakan, hingga sebuah mobil melintas di hadapannya begitu saja membuat Ed menatap curiga.
" nyonya Leah, awas saja jika kau menyentuh wanita ku " geram Ed dengan marah dan kini matanya menatap tajam dengan pandangan lurus ke depan.
ponsel Ed berdering dengan sendirinya dan ternyata anak buah nya, alangkah ia terkejut saat mendapat kabar jika Elena berhasil di bekuk oleh anak buah Ketty dan mereka sudah meninggalkan tempat itu beberapa menit yang lalu, kemudian Ed teringat akan mobil yang baru saja melintas dengan cepat Ed melajukan mobilnya dan mencari jejak dari mobil anak buah Ketty.
Elena tak sadarkan diri setelah anak buah Ketty dengan sengaja membekap hidungnya dengan obat bius saat Elena hendak menuju mobilnya, Ketty memandang wajah Elena dengan pandangan tak suka.
" kau memang cantik, pantas jika Ed tergila-gila padamu Elena, kau memiliki tubuh yang indah akan tetapi kau adalah Terget dari nyonya Leah kita lihat saja nanti apakah Ed bisa menyelamatkan mu atau tidak ! ," desis Ketty tajam dengan menatap sinis Elena yang masih tak sadarkan diri.
mereka melakukan mobilnya kesebuah pelabuhan karena sebuah helikopter sudah menunggunya disana, lagi pula pelabuhan itu sudah terbengkalai jadi tidak akan terdekteksi oleh pihak manapun.
BRAKKKKKK
mobil yang tumpangi Ketty dan juga Elena di tabrak dari arah belakang, hingga laju mobil itu sedikit oleng. Ketty terpental dan terbentur di bagian kepalanya sedang kan Elena pun sama hal nya begitu.
" Ketty ! sialan kau ! " teriak lantang suara itu menggelegar dan menyatu dengan angin semilir, seketika Ketty sadar jika Ed pelakunya dan ia segera menoleh.
DODODODOR !!
PRANGGG
AGHHH
Ketty terkena tembakan saat ia menoleh kearah belakang dimana peluru itu memecahkan kaca dan juga menembus bagian dadanya, seketika sang supir panik tak karuan saat melihat Ketty terkena tembakan itu.
DODODORDODODOR !!
Ed terus memberikan rentetan pelurunya agar mobil yang membawa Elena berhenti dan benar saja mobil itu berhenti mendadak membuat mobil Ed tanpa sengaja menabraknya.
Ketty terus memegangi dadanya yang kini mulai terasa nyeri bahkan darah yang keluar cukup banyak ditambah penglihatannya mulai gabur.
BRAKKKKKK
PRANGGG
Ed menggila dengan memecahkan kaca mobil itu dengan beringas dirinya harus segera menyelamatkan Elena sebelum anak buah nyonya Leah menyadari hal ini.
" Kau penghianat Ed " ucap Ketty dengan suara bergetar akan tetapi Ed tak peduli dan dengan segera ia membopong tubuh Elena yang tak sadarkan diri.
" itulah akibatnya jika kau menyepelekan ancaman ku Ketty, itu hanya satu buah peluru saja yang bersarang di dada mu lalu bagaimana jika peluru ku yang lain nya yang menembus tubuh mu sekali lagi. " datar Ed menatap wajah Ketty yang kini sedang merintih kesakitan " semoga peluru ku itu tak membuat mu mati dengan cepat Ketty. " dingin Ed lalu pergi meninggalkan Ketty dalam keadaan terluka sedangkan sang supir hanya bisa diam tak berkutik.
Ed segera melajukan mobilnya menuju apartemen Elena, bahkan Ed terlihat terus menggenggam tangan sang kekasih dengan begitu erat, raut wajah kecemasan yang Ed tunjukkan benar-benar kentara.
*****
__ADS_1
seminggu telah berlalu, tidak ada keributan maupun yang lainnya, hanya saja Valera telah menyebarkan mata-mata di setiap orang-orang yang ditandai nya termasuk musuh masa lalu yang kini mengincar George.
Valera saat ini sedang berada di kota Piana dengan Bruce dan Frank yang menemaninya, untuk meninjau secara langsung bisnis-bisnis yang dikelola oleh keempat predator, sedangkan di mansion utama keluarga Harson telah terjadi kerusuhan karena nyonya besar dan tuan besar Harson menghilang begitu saja.
Pram yang mengetahui segera mengkonfirmasikan masalah ini ke tuan muda Harson, sontak Vyan terkejut bukan main bahkan ia meninggalkan rapat penting karena hal ini dan tentu saja Leonel yang menghandle semuanya dengan cermat.
Ternyata kabar menghilangnya tuan besar Harson diketahui oleh Dave dan jajaran king lainnya, mereka akhirnya memutuskan untuk mencari keberadaan nyonya sofhia dan juga tuan ramius.
" Kenapa bisa terjadi ? dan kemana perginya para pengawal yang menjaga kedua orang tua ku " teriak vyan lantang dengan menatap wajah orang yang kini tertunduk tak berani menatap kearah tuan mudanya.
" mereka pun turut menghilang tuan " ucap Pram dengan gugup
PRANGGG
BRAKKKKKK
vyan mengamuk dan membanting Gucci yang berharga miliaran rupiah untuk melampiaskan amarahnya kali ini, Tak lama Zizi datang dengan beberapa anak buahnya ia terkejut melihat Vyan yang sedang diliputi amarah.
" Hentikan kegilaan mu ini tuan muda. Jika kau seperti ini maka tidak akan mencari jalan keluarnya, yang ada kau justru memperlambat waktu. " tegas dan data Zizi. Vyan yang mendengar suara itu langsung menatap sendu dan Pram ia hanya bisa menghela nafasnya perlahan.
" orang tua ku hilang, lalu bagaimana bisa ini terjadi Zizi " datar Vyan dan Zizi mendengus kesal.
" jika boleh tau tuan dan nyonya besar akan pergi kemana Pram ? " tanya Zizi yang kini beralih menatap Pram.
" mereka menghadiri acara dari sahabat tuan ramius nona " ucap Pram.
" Lalu, pengawal ? " Picing Zizi.
" mereka pun ikut mengulang, aku mendapatkan kabar dari sinyal darurat yang terkoneksi di dalam ponsel ku nona, kemungkinan besar salah satu pengawal memberikan sinyal itu, akan tetapi aku tak bisa melacak keberadaan mobil yang dikendarai oleh mereka. " jelas Pram dan Zizi maupun Vyan terdiam sejenak.
" Aku akan mengirimkan anak buah ku untuk ke tempat lokasi terakhir " ucap Zizi dan vyan diam saja karena dirinya sudah melakukan hal yang diucapkan oleh Zizi.
" ponsel ? pelacak lainnya ? '' gumam Zizi dan Vyan seperti memikirkan sesuatu.
" shitt, pelacak itu terkoneksi dalam ponsel Valera. Jika ia tahu mengenai ini sudah pasti ia akan bertindak dalam keadaan hamil, aku tak mungkin membahayakan calon keponakan ku " geram Vyan lagi.
Ya nyonya sofhia selau memakai gelang yang terdapat alat pelacak seperti micro berbentuk sangat kevil yang selalu melingkar ditangan nya.
Vyan memejamkan matanya sesaat untuk memikirkan apa yang selanjutnya ia lakukan. Dan Vyan pun mencoba menerka-nerka siapa musuh kali ini yang Berani menyentuh orang tua Valera dan juga Vyan.
sedangkan di kota Piana, ponsel Valera terus berkedip bahkan Valera tak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan setumpuk berkas yang ia baca.
" Lady, ponsel mu " ucap Matt dan Valera melirik kearah penselnya itu seketika jantungnya berdebar tak karuan saat melihat sesuatu itu.
dengan nafas berat Valera menatap layar ponselnya dimana titik merah terus melaju dan hendak meninggalkan kota Paris.
BRAKKKKKK
__ADS_1
Matt dan juga Edgar terkejut saat mendengar sang Lady menggebrak meja dengan begitu keras bahkan Hugo, zumba dan juga kedua pengawal Valera seketika masuk keruangan itu dengan paksa setelah mendengar suara mengejutkan itu.
" siapa yang telah berani menyentuh orang tua ku ! " pekik Valera lantang dan sontak mereka yang mendengarnya terkejut buka main, "