
Jerman, waktu setempat
pesawat pribadi milik Valera sudah mendarat dengan mulus, Remigio yang sempat tertidur akhirnya terbangun karena suara lembut Valera yang memanggilnya, George tampak diam selama berada dalam penerbangan
kini mereka sudah di jemput oleh sebuah mobil SUV keluaran terbaru, Valera menutupi wajahnya dengan topi yang melingkar sedangkan Remigio ia memilih pakaian santai dengan topi hitam serta kaca mata hitam nya untuk menambah kesan penampilan dalam dirinya
kepergian Valera benar-benar tertutup bahkan Dave melakukan tugasnya dengan baik dan Greta tentu saja ia memblokir pesawat yang di gunakan oleh sang lady untuk menghalau para musuh melacak sinyal milik Valera maupun pesawat yang mengudara di wilayah king
dua jam berlalu kini mereka sudah sampai di sebuah mansion yang mewah yang berkesan minimalis, yang terletak dipinggiran kota Heidelberg
Heidelberg terkenal dengan sebutan kota tua seperti kastil tua, dan universitas tua yang terkenal di dunia
" sweatheart, mansion ini milik mu ? " tanya Remigio dan Valera hanya mengangguk saja
" aku sangat suka dengan desain nya yang unik dan minimalis " puji sweatheart dan Valera hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih
Valera mengajak keduanya untuk masuk, dan di dalam sudah ada satu maid yang bertugas disana ia menyambut kedatangan tuan dan nyonya nya
" selamat datang nona Valera " ucap maid itu dan Valera terseyum lembut
" terimakasih " ucap Valera lagi
" Remi apa kau lapar ? " tanya Valera lagi
" sedikit, " ucap remigio dengan terkekeh
" bi, tolong siapkan beberapa menu untuk kita makan " ucap Valera sopan dan maid itu mengangguk patuh
satu pengawal yang bertugas berjaga di mansion itu, telah membawa barang-barang milik nonanya hingga lantai atas, Valera berterimakasih kepada lelaki yang paruh baya yang berumur lanjut itu
" apa kau ingin membersihkan tubuhmu terlebih dahulu ? " tawar Valera dan Remigio mengangguk patuh, lalu Valera mengajak Remigio dan George untuk pergi ke kamar nya masing-masing
" Remi kamar mu ada di depan kamar ku, dan aku akan tidur bersama dengan George ! kau tak apa kan ? " tanya Valera lagi
" tidak apa-apa sweatheart, jika nanti kau sudah menjadi istriku kita akan tidur bersama di kamar impian " goda Remigio dan Valera langsung bersemu merah sedangkan George hanya diam saja " baiklah aku akan membersihkan diri terlebih dahulu, kita akan bertemu di meja makan nanti " ucap remigio lembut dan Valera mengangguk lalu tersenyum manis
Valera membantu George untuk membersihkan badannya menggunakan air hangat yang tersedia, setelah George selesai Valera memberikan sebuah tablet untuk mengusir rasa bosan George selama Valera membersihkan diri
" mamih " ucap George tiba-tiba saat valera hendak masuk ke kamar mandi
" ada apa ? " tanya Valera lembut
" aku takut " cicit George dengan meringkuk kan tubuhnya di ranjang,
" kau tidak perlu takut sayang, di sini ada masih tidak ada yang bisa menyakitimu, percayalah " ucap valera tersenyum tetapi George hanya diam saja " biarkan mamih mandi terlebih dahulu setelah itu kita makan, bagaimana ? tawar Valera dengan guyonan kecil nya
" hmm janji tidak akan lama " ucap George
" janji, tunggulah disini oke " ucap valera dengan gaya keren nya dan George hanya mengangguk saja lalu Valera segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
****
" tuan salah satu tawanan kita ada yang tewas " ucap salah satu pengawal yang mengawasi ruang bawah tanah tempatnya para tawanan
__ADS_1
" apa seorang wanita ? " ucap Dave datar dan pengawal itu mengangguk membenarkan, Dave dan Thomas saling lirik,
" bersihkan " datar Thomas dan pengawal itu langsung undur diri untuk melakukan perintahnya
" apa Bianca ? " tanya Thomas membuka suara
" hmm sepertinya " saut acuh Dave dan Thomas hanya diam saja, " teryata kematiannya lebih cepat dari yang kita duga Dave " Picing Thomas
" aku tak perduli dia mati cepat atau lambat yang terpenting ia sudah tewas membawa penyesalannya " ucap Dave tanpa melirik kearah Thomas, dan Thomas hanya diam saja sesekali bibirnya mengerucut tak jelas membuat Dave memicingkan matanya diam-diam
para pengawal menggotong tubuh Bianca yang sudah tak bernyawa itu, Chaiden serta Chaiton hanya bisa menangis dalam diam saat para pengawal king memboyong tubuh adik perempuannya keluar
Dave dan Thomas melihat para pengawal itu dari atas balkon yang mulai melakukan pembakaran di halaman belakang markas, sesaat kobaran api mulai membesar membakar tubuh Bianca yang dipenuhi luka-luka dan penderitaan
Thomas meringis menyaksikan pembakaran itu sedangkan Dave hanya menatap datar mayat Bianca yang sudah mulai di lahap api
" untung saja dia capat mati, jika tidak ia akan mengalami penderitaan yang lebih menyakitkan lagi " celetuk Thomas meringis dan Dave hanya memicingkan matanya saja
Thomas dan Dave kembali masuk kedalam untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda mereka benar-benar mengerjakan tugasnya dengan baik selama sang lady pergi
" Dave bagaimana dengan pengintrogasian Fandarez ! apa ia masih saja bungkam ? " tanya Thomas
" tidak, hanya saja masih ada yang ia tutupi Thomas aku sudah menyiksanya dengan berbagai alat disana tapi ia hanya diam dan sesekali berbicara jujur, tapi aku yakin ada yang membantu dirinya " ucap Dave dingin
" hmm.. masalah ini semakin rumit, kapan kita akan merasakan kedamaian hidup tenang, para musuh musnah,.dan aku bisa berlibur ke beberapa negara " ucap Thomas senantiasa membayangkan apa yang kini ia fikirkan
" pasti ada saat nya Thomas, hanya saja kita harus menunggu waktu yang tepat untuk memusnahkan para musuh tak tau diri itu, bukan hanya dari luar, di dalam pun masih ada orang yang berkhianat dan berniat memberontak " ucap Dave tanpa mengalihkan pandangannya ke layar laptop milik nya itu
" hmm kau benar, Dave ! " ucap Thomas dengan lemas
kini Asyur sedang duduk bersama dengan adik perempuan nya, yang sama-sama menyukai pertarungan seperti seorang lelaki
" ada apa kak, kau terlihat senyum-senyum sendiri ! apa kau sakit " celetuk Aurora
" tidak ! aku tidak sakit hanya saja aku sedang menatap wajah cantik calon kakak ipar mu " ucap Asyur dengan percaya diri membuat Aurora mengerutkan dahinya seketika
" kakak ipar ? apa kau akan menikah ? " tanya Aurora lagi dan Asyur hanya tersenyum lebar " katakan kak, apa kau akan menikah ? dengan siapa ? apa wanita yang kau cintai adalah wanita lemah ? " ucap Aurora dengan serentetan pertanyaan membuat Asyur menatap tajam kepada Aurora
" wanita ku bukan wanita lemah Aurora ! ia lebih tangguh dari mu, kekuasaan nya pun bertebaran dimana-mana dan ia pun seorang pemimpin tidak ada yang bisa menandingi seorang Valera " ucap tegas Asyur dan Aurora hanya diam saja mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh kakaknya
" wanita tangguh ? kekuasaan ? seorang pemimpin ? apa wanita yang kau cintai itu merupakan seorang mafia juga yang sama seperti mu " celetuk Aurora
" bisa dibilang begitu " singkat Asyur dan Aurora hanya mengangguk kecil saja
aku jadi penasaran dengan wanita yang kau cintai kak, setangguh apa dirinya sampai kau mengatakan kemampuannya jauh di atas diriku, batin Aurora
*****
Jerman, kediaman Florenze
pagi ini Valera baru saja tiba dikediaman teman lamanya itu, Florenze seorang dokter psikologi yang menangani ribuan pasien seperti hal nya George yang memiliki rasa trauma, kepopulerannya sebagai dokter yang ramah dan mampu menyembuhkan pasien dalam waktu yang mencengangkan membuat dirinya menjadi dokter nomer satu di Jerman hingga kini
" welcome my home Vale " ucap ramah Florenze sembari memeluk erat Valera
__ADS_1
" thank'you Flo " ucap Valera tak kalah ramah dan George serta Remigio hanya bisa melihat interaksi keduanya
" ada angin apa kau membawa diri kemari Vale, bahkan kau mengunjungi ku beberapa tahun silam saat kematian Macky " ucap Florenze santai dan mempersilahkan tamunya untuk duduk sesaat Florenze menatap ke arah George yang tampak memeluk erat Remigio " because that child ? " tanya Florenze dan Valera hanya tersenyum tipis
" kedatangan ku kemari untuk menyembuhkan putraku dari rasa traumanya Flo, " ucap Valera santai membuat Florenze tercengang putra ? kapan Valera menikah ?
" putra? kau sudah menikah ? " tanya ulang Florenze
" no, akan ku jelaskan nanti, oh ya perkenalkan ini Remigio calon suamiku " ucap Valera tersenyum dan Florenze menjabat tangan Remigio dengan ramah begitupun dengan Remigio
" ohh God " pekik Florenze lagi " seorang pengusaha, Remigio Adomson sang billioner " terkejut Florenze dan Remigio hanya tersenyum tipis sedangkan Valera hanya menatap Florenze dengan tatapan malas " ohh sorry aku hanya terkejut saja, baiklah kita beralih ke topik pembicaraan yang sebenarnya " ucap Florenze membenarkan cara duduknya serta cara nada bicaranya yang terlihat elegan dan berwibawa
Valera memulai menceritakan kejadian yang menimpa George, dan Florenze mendengarkan nya dengan seksama sesekali ia melihat George dengan tatapan yang sulit diartikan, tetapi George hanya menunduk dan memeluk erat Remigio
terdengar sekali dari nada bicara Valera yang geram akan yang Bianca lakukan terhadap George, begitupun dengan Florenze ia tak menyangka jika diusianya yang masih kecil George harus mengalami rasa trauma nya
" baiklah aku mengerti sekarang, kita lakukan pada besok siang karena hari ini aku ada jadwal dengan seorang pasien yang berusia 15 tahun diapun mengalami rasa trauma nya, aku akan menyembuhkan putramu Vale kau tenang saja dan aku lihat ia mulai bersikap tenang kepada orang asing walupun masih menunduk takut tapi aku jamin ia pasti akan sembuh " ucap Florenze dan Valera mengangguk berterimakasih
saat mereka sedang berbincang kecil dengan secangkir teh yang menemaninya tiba-tiba sang asisten Florenze, Roy datang tiba-tiba dengan raut wajah yang tegang
" ada apa ? " tanya Florenze bingung
" maaf Flo, di luar ada tuan Mehmed dengan anak buahnya " ucap Roy dengan gugup membuat Florenze menghela nafas kasarnya
sial, disaat aku sedang kedatangan tamu ia datang dan mengusik hidupku lagi, AGHHH ini semua gara-gara putrinya jika saja ia tak sakit aku tak akan terjebak dalam situasi seperti ini. batin Florenze geram
" maaf aku masuk tanpa ijin dari pemilik rumah, karena aku tak suka menunggu " saut tuan Mehmed dengan santai " oh rupanya ada tamu " ucap nya lagi lalu duduk di kursi single yang tepat di samping Valera
Valera dan Remigio tampak mengerutkan dahinya seketika, lalu Valera menatap kearah Florenze dan valera tau akan tatapan seperti itu,
oh tuhan, baru saja aku menginjakan kaki ku di Jerman, masalah sudah mulai muncul dihadapan ku lagi. batin Valera meringis
" maaf tuan, tidak bisakah kita bicara nanti saja, kau tidak lihat jika aku mempunyai tamu dan seorang pasien disini " ucap Florenze dengan tegas
" ya aku tau, dan aku tak buta ! " gerutu tuan Mehmed lagi " aku hanya memastikan jika kau akan tetap menyembuhkan putriku dan setelah itu kau akan menikahinya " ucap enteng tuan Mehmed membuat Valera dan Remigio membelalakkan matanya seketika
ya tuhan aku bisa mati cepat jika seperti ini.batin Florenze lagi
" sudah aku katakan aku tidak bisa menikahi putrimu, dia hanya pasien ku bukan kekasihku " ucap Florenze dengan nada tegas, tapi detik kemudian tuan Mehmed menodongkan senjatanya kepada Florenze membuat pria tampan berkaca mata itu terkejut bahkan terlihat gugup tapi detik kemudian ia hanya tersenyum tipis
" kau berlaku tidak sopan tuan Mehmed, lihatlah sekitarmu tamu ku masih ada, jangan membuat mereka takut terlebih anak kecil itu " ucap Florenze dengan senyum tipis nya
" aku tak perduli ! yang aku inginkan kau menikah dengan putriku ! " ucap tuan Mehmed lagi dengan nada tak ingin terbantah
George meringkuk ketakutan melihat tuan Mehmed yang seperti itu, membuat Valera geram seketika niatnya hanya ingin berkonsultasi dengan temanya justru ia disuguhkan adegan yang kurang etis di kediaman sang dokter
BRAKKKKKK
Valera menggebrak meja dihadapannya dengan sorot mata yang sangat tajam menatap tuan Mehmed, membuat semua mata tertuju pada dirinya sendiri
" lancang kau, apa kau tidak lihat jika disini ada seorang anak kecil ? jagalah sikap santun mu tuan, kau pria berumur tapi sikap mu sungguh disayangkan " cibir Valera kesal dan membuat tuan Mehmed marah seketika
" siapa kau ? berani sekali kau mengatur dan berbicara lancang kepadaku " pekik tuan Mehmed lagi dengan sorot mata yang sangat tajam
__ADS_1
Valera membalas tatapan itu tak kalah sengit, sedetik kemudian tatapan tuan Mehmed memudar dan menciut karena ia tak sanggup melawan aura dari Valera yang lebih mendominan kali ini
nah Kena kau. batin Florenze lagi