
Valera lunglai dan jatuh tak sadarkan diri, Dave dan lainnya terlebih Remigio panik dan langsung menghampiri Valera yang kini terjatuh ke tanah di samping jasad rivalnya.
" sweatheart " panik Remigio mencoba untuk membangunkan sang istri tapi maniknya melihat luka tusuk di perut bahkan terdapat luka tembak.
" bawa istrimu, sebelum di kehilangan banyak darah " ucap Cello dan Remigio tanpa basa-basi membawa sang istri menuju helikopter untuk membawanya pergi dari sini agar memdapatkan penanganan dengan segera.
Remigio pergi ditemani oleh Cello sedangkan Garvish bersama dengan Dave menggunakan helikopter yang sebelumya dikendalikan oleh Valera.
kastil megah itu hancur berkeping-keping setelah mendapatkan gempuran yang menurut Remigio sangat ringan, mayat-mayat bergelimpangan dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
beberapa kali ledakan masih menguap dan mengeluarkan asap hitam walaupun warna nya tak sepelekat tadi, perlahan dua buah Helikopter itu melayang dan mulai menjauh dari udara.
sisa orang-orang Remigio yang masih hidup mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu mengunakan mobil yang ditempatkan dirimbun nya hutan nan lebat itu.
Berakhir, semuanya sudah berakhir tidak ada lagi rival masa lalunya yang cukup pelik itu, dendam telah tertustaskan walaupun Valera cukup tak mengerti dengan dendam yang Utera rasakan, sebuah harta dan kekuasaan rela membuat dirinya hidup dengan kedendaman yang berketerusan yang ada, dan pada akhirnya kematian adalah jalan terkahir yang dilalui nya.
Ruang kesehatan pribadi.
Dua dokter terbaik berada di tempat itu, ternyata Garvish memiliki rumah sakit sakit pribadi walaupun tak besar seperti rumah sakit pada umumnya.
valera segera diberi penanganan yang baik dan teliti, kecemasan terlihat jelas di wajah Remigio bahkan rambutnya sedikit acak-acakan.
suara ribut-ribut didalam terdengar jelas di telinga Remigio dan lainnya jika Valera telah kehilangan banyak darah, Remigio seketika lemas dan lunglai memikirkan kondisi sang istri saat ini.
Garvish segera masuk dan menanyakan golongan darah milik Valera salah satu dokter mengatakan jika golongan darah Valera cukup mudah tapi mereka tak membawa stok darah.
" tenanglah, aku mempunyainya " ucap Garvish menepuk bahu Remigio dengan pelan dan berlalu pergi kesebuah ruangan untuk mengambil apa yang dibutuhkan oleh istri temannya itu.
Dave mengerutkan dahinya seketika, stok darah ? entah darah siapa yang dimaksudnya Dave seketika bergidik ngeri ia duduk harap-harap cemas.
dua dokter yang berada di dalam mencoba memberikan penanganan yang terbaik, luka tembak dan luka tusukan dicek kembali oleh mereka bahkan pelurunya sudah berhasil di keluarkan mereka mulai menjahitnya sedikit saja.
suara alat-alat medis terdengar disana, Valera terbaring tak sadarkan diri bahkan dirinya tak tau jika dua orang dokter sedang mengotak-atik tubuhnya itu.
CEKLEK
Garvish datang dengan membawa lima kantong darah berukuran sedang, dua dokter itu dibuat syok menatap nya. Mereka tau jika Garvish bukan orang sembarangan hanya saja mereka pun tak mengerti dari mana tuan muda itu mendapatkan sesuatu yang diluar nalar.
" apakah ini cukup ? jika tidak katakan " ucap Garvish dengan dingin dan datar, salah satu dokter wanita segera mengambilnya dan mengangguk jika ini cukup bahkan terlalu berlebihan dua kantung saja kemungkinan besar akan cukup, tapi dokter itu bernafas lega setidaknya stok kantung darah masih tersedia.
Garvish mengangguk kecil dan keluar dari ruangan itu, ponsel Remigio berbunyi dan Remigio segera menatap dan melihat siapa yang menghubunginya, ternyata nyonya sofhia yang menghubunginya.
Remigio tahu untuk mengangkatnya, tapi jika tak diangkat itu sama saja ia berbohong pada orang tua, akhirnya Remigio menarik nafasnya secara perlahan dan mulai bersuara dengan seperti biasanya.
__ADS_1
" Hallo Remi. Kau baik-baik saja bukan, Valera mana ? dimana putriku. Aku merasakan sesuatu yang tak baik dengannya, bahkan Athena tak berhenti-henti menangis hari ini, bahkan tak mau menyusu " ucap nyonya sofhia sedikit cemas.
Remigio terhenyak kala mendapatkan putri kecilnya sedang menangis dan tak ingin menyusu,
" aku sedang berada di luar, Valera berada di rumah dia baik-baik saja. Kami akan pulang secepatnya mah jika urusan di sini sudah selesai, aku berjanji. Tolong jaga putri ku mah " ucap lesu Remigio hingga baginya sofhia merasa aneh dengan nada bacanya itu.
" kalian sedang tak menyembunyikan sesuatu kan ? bahkan ponsel Valera tak aktif saat ini. Bicaralah yang jujur Remi " pinta nyonya sofhia lagi.
pada akhirnya Remigio memilih jujur kepada ibu mertuanya itu, sungguh terkejut dibuatnya ternyata sang putri sedang terluka pantas saja sang cucu menangis dan rewel tak karuan hingga tuan Ramius sang kakek khawatir dibuatnya, bahkan George tidak bersekolah hari ini karena kekeh ingin menemani adik nya yang menangis tanpa sebab itu.
Remigio berjanji akan segera pulang jika keadaan Valera memungkinkan dan baik-baik saja, bahkan nyonya sofhia meminta Remigio agar Valera dipindahkan di rumah sakit Prancis dan Remigio hanya mengiyakan ucapan ibu mertuanya itu.
Cello meminta kepada anak buahnya untuk membelikan cemilan dan minuman segar untuk mereka, Bahkan Garvish kini sudah berganti pakaian dan lukanya sudah ditangani oleh dokter yang bertugas.
tak lama anak buah Cello datang sembari membawa dua buah kantong plastik berisi makanan dan minuman seperti yang diperintahkan oleh sang tuan.
" minumlah terlebih dahulu. Aku yakin istrimu baik-baik saja " ucap Cello memegang bahu Remigio dengan sedikit keras, Remigio hanya berdehem lalu pandangan Cello beralih pada Dave yang saat ini hanya menatap lurus pintu dimana Valera sedang ditangani. " Nama mu Dave kan ? " dan Dave menoleh lalu mengangguk datar " minumlah atau makan lah terlebih dahulu karena aku yakin perut kalian pasti sudah lapar, jangan biarkan perutmu itu kosong karena jika kau sakit akan menambah beban untuk kami " ucap Cello dan Dave hanya mengeryitkan dahinya saja.
" terimakasih '' ucap Dave yang masih datar dan di dingin bahkan Garvish menoleh sekilas kearah Dave yang tak menatapnya.
ponsel milik Garvish kali ini berbunyi nyaring, salah satu asisten yang berjaga di mansion nya ternyata menghubunginya, Garvish segera mengangkat panggilan tersebut dengan malas.
" Ada apa ? " tanya Garvish kesal dan datar saat menerima panggilan tersebut. Dahi Garvish mengeryit saat mendapatkan sebuah laporan dari asisten nya, tangannya mengepal sempurna dengan wajah yang memerah dan mata yang melotot dengan sorot mata yang tajam. " kejar dia aku yakin dia tak akan jauh dari area itu, aku akan segera kembali " ucap Garvish tegas dan langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
******
Disisi lain Lokanne berhasil mengelabui para anak buah Garvish setelah ia berpura-pura sakit pada perutnya sendiri, Kini ia tak tau berada dimana, ucapan Garvish serta ancaman nya tak membuat jiwa Lokanne takut.
sebuah hutan yang lebat bahkan tidak ada seorang pun kecuali dirinya saat ini, Lokanne terus berlari saat ia mendengar suara derap langkah kaki seseorang.
Lokanne kian panik dan tak tau jalan diarea sini, ia mengutuk dirinya sendiri karena gak usah keluar dari rumahnya sendiri, wilayah ini tentu saja masih kekuasaan Lokanne dan Utera tapi bagaimana bisa Garvish memasuki nya dengan begitu mudah, sepertinya ada yang ia lewatkan tentang psikopat muda itu.
DODODORDODODOR !!!
" sial mereka menggunakan senjata untuk menggertak ku !! tak akan ku biarkan mereka menangkap ku " ucap Lokanne hingga ia berlari dan pada akhirnya terjatuh karena tersandung tapi matanya sekali lagi melebar dengan sempurna.
sepasang ular kobra berukuran besar sedang berada tepat didepannya kini, mata ular-ular itu menatap Lokanne tajam bagaikan sebuah ancaman, Lokanne bergerak secara perlahan agar tak mengecoh fokus ular tersebut.
" Larilah sepuas mu sayang " ucap suara itu tiba-tiba membuat Lokanne terkejut sekaligus merinding, entah mengapa ia tak ingin menoleh kearah belakang ia lebih memilih menatap dua ekor ular yang berada di hadapannya ini " Hahahaha ada apa ? kau terkejut dengan kehadiran mereka ? hmm larilah terus maka kau akan menemukan banyak ancaman yang akan membuat mu berfikir dua kali " seru Garvish yang sudah tiba dan kini hanya diam saja menatap Lokanne yang tak ingin menoleh ke arahnya.
" Dasar bajingan kau !! kita tak saling mengenal tapi kenapa kau mengusik ku, ini wilayah ku ingat itu " ucap Lokanne dengan penuh penekanan Garvish hanya tersenyum miring mendengar ocehan wanita yang sedang berdiri mematung itu.
kedua ular itu seketika hendak menyerang Lokanne tapi dengan sigap Lokanne menghindar dengan segera. Lagi-lagi ular itu mendekat kearah dirinya Lokanne tak bisa gegabah ular ini bukan ular sembarangan, jika terkena racun ia akan berakhir dengan tubuh yang menegang tak bernyawa.
__ADS_1
" kemarilah dan jadi tawanan ku kembali " seru Garvish.
" Dalam mimpimu !! '' pekik Lokanne.
DORRR !!
AGHHH
" dasar wanita angkuh yang menyebalkan. Seret dia " marah Garvish dan seketika kedua ular itu bergerak menjauh setelah mendengar suara selongsong senjata yang dilayangkan oleh Garvish.
Lokanne berontak membuat dirinya kesulitan berjalan karena kakinya ditembak begitu saja oleh lelaki tak berperasaan ini, Garvish berjalan dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Lokanne berteriak dan memaki Garvish dengan kata-kata kasar serta umpatan yang luar bisa, bahkan Lokanne ikut memaki Utera karena ini semua ulah nya hanya untuk melindungi nya dan merelakan hidupnya ditawan oleh orang asing.
setelah sampai di mansion, Lokanne ditempatkan di sebuah ruangan kecil yang cukup sempit atas perintah dari sang tuan rumah, terdapat sebuah ranjang kecil dan satu buah lemari serta nakas berukuran kecil.
" sialan kau bedebah !!! Kau menempatkan aku diruangan terkutuk ini '' jerit Lokanne hingga urat-urat lehernya keluar dengan sorot mata yang memerah.
dua orang penjaga menatap Lokanne dengan tatapan mencibirnya bahkan mereka dibuat kelelahan karena ulah wanita ini yang sudah berani untuk melarikan diri.
tak lama seorang wanita berwajah dingin masuk dan membawa peralatan medis untuk mengobati Lokanne yang menjadi korban kekerasan tuannya itu.
dua orang penjaga memilih untuk keluar dan menunggu seorang wanita yang menangani Lokanne hingga usai, setelah kepergian dua lelaki berwajah sangat itu sedikit membuat Lokanne bernafas dengan lega.
" sebaiknya kau hentikan niat mu untuk melarikan diri dari tempat ini, kau sudah menjadi tawanan tuan muda maka tak akan pernah bisa untuk lari atau kabur seperti yang kau lakukan tadi " ucap dingin wanita berambut pendek yang saat ini fokus mengobati luka Lokanne.
" cihh apa peduli mu. Aku tak takut dengan lelaki bajingan itu " ucap Lokanne sinis dan wanita berambut pendek itu hanya menatap tajam lawan bicaranya.
" Aku sudah memperingatinya. Jika aku bersikeras maka kau akan menerima akibatnya yang lebih dari ini. Tuan muda jika adha mengamuk maka bangunan ini bisa-bisa hancur dibuatnya " ucap wanita itu lagi.
" cihh hanya seorang tuan muda saja berlagak " ketus Lokanne dan wanita berambut pendek itu hanya terkekeh dibuatnya sungguh nyali wanita ini sangat berani. " seharusnya dia bertekuk lutut dibawah kaki ku karena ini wilayah kekuasaan ku. India ada dalam genggaman ku " ucap Lokanne geram.
" buktinya saat ini kau berada di sini, melawan pun tak mampu dan terbukti jika tuan muda dengan mudah memasuki wilayah yang kau maksud itu. Kau tau artinya apa ? " menatap Lokanne dengan tatapan dingin dan datar " itu artinya tuan muda bukan orang sembarangan dia salah satu putra sah seseorang lelaki yang berkuasa pada jamannya bahkan hingga saat ini ayah tuan muda memegang kendali penuh pada beberapa bagian negara, kekuasaan mu dan juga kakak mu tak asli dan tak sah bahkan kalian semua dianggap perusak saja " tajam wanita itu hingga mata Lokanne terbelalak lebar dengan sempurna, maniknya menatap tajam wanita berambut pendek itu hingga ia mendorong nya dengan kasar.
BRAKKKKKK
" Lancang kau berbicara seperti itu pada ku. Omong kosong " pekik Lokanne hingga wanita itu berdiri dan menjauh dari ruangan itu tapi belum juga ia keluar Garvish tepat berada di hadapannya kini dengan tatapan membunuh.
Garvish menyeringai menatap Lokanne yang menatapnya tajam.
" sebaiknya kau jadi tawanan ku yang patuh. Persiapkan dirimu malam nanti karena aku butuh asupan nutrisi ku. " tajam Garvish berlalu pergi dari ruangan itu meninggalkan Lokanne yang bergerak frustasi dibuatnya.
para penjaga segera mengunci ruangan itu dan wanita berambut pendek segera keluar karena ini merasa percuma untuk dirinya sendiri.
__ADS_1