Kembalinya Sang Ratu Mafia

Kembalinya Sang Ratu Mafia
tertembak


__ADS_3

Chaiden menembak tepat di bahu valera, membuat ia langsung tersungkur dan jatuh ke tanah, terpaan angin yang di akibatkan helipad miliknya sangat mengganggu pemandangan. Bahu serta perutnya sudah bersarang peluru senjata milik Chaiden, saat Valera menajamkan penglihatan nya betapa ia kaget karena helipad turbo itu milik nya dengan beberapa orang yang sangat dikenal olehnya


Chaiden pun tak kalah kaget kini ia sudah dikepung tanpa adanya pengawalan, Valera langsung menyeringai mengerikan


" kau telah membangunkan jiwa iblis ku Chaiden ! " ucap Valera dengan seringai iblis nya, Valera seperti tidak merasakan sakitnya karena tembakan itu, vyan dan yang lainnya segera menghampiri Valera dan betapa kagetnya ketika ia melihat adiknya sudah penuh berlumuran darah


" Vale, kau terluka " pekik vyan langsung terkejut melihat kondisi adiknya bahkan Dave dan Thomas sampai tak percaya karena nona nya terkena sebuah tembakan


" Sweatheart, kau ini selalu saja membuat ku khawatir " ucap remigio dengan nada panik nya ia belum menyadari jika Valera terluka sampai ia memekik karena sebuah pelukan erat Remigio


" awww " rintihannya Valera meringis


" ada apa " ucap remigio menatap wajah Valera seketika pandangan nya menyapu tubuh sang kekasih " kau terluka, beritahu aku siapa yang melakukan ini " geram Remigio tapi Valera hanya tersenyum tipis lalu melepaskan tangan nya dari Remigio dan beralih ke arah Chaiden.


" kau telah membangunkan iblis dalam diriku, jangan harap kau bisa lepas dari genggaman ku setelah ini " ucap Valera dingin dengan nada setengah berteriak, semua orang menatap tajam kearah Chaiden tapi tidak dengan Remigio ia justru terkejut jika pria yang sedang berhadapan dengan kekasihnya adalah Chaiden orang yang telah bermain main dengan perusahaan nya


" Chaiden " ucap remigio tak percaya begitupun dengan Chaiden ia justru tak menyangka akan bertemu dengan Remigio pria yang dicintai adik perempuannya, Valera diam saja walaupun ia ikut terkejut


" jadi dia kekasihmu " ucap Chaiden dengan tatapan remeh nya walaupun kini ia sudah di kepung oleh KING tapi rasa takut tak membuat nyalinya menciut, Valera hanya menyunggingkan senyuman nya " jadi wanita ini yang menjadi penghalang cinta adikku " ucap Chaiden lagi dengan sorot mata yang tajam menatap Valera


" wanita ku justru lebih baik dari adikmu " ucap remigio dengan lantang serta membalas dengan tatapan tajam, Vyan belum mengerti dengan situasi ini entah apa yang ia fikirkan, yang terpenting ia mengkhawatirkan kondisi adiknya yang sedang terluka


" tutup mulut mu " pekik chaiden yang emosinya mulia terpancing


" ckk.. sekarang aku sudah mengerti kau dan adikmu Bianca sama saja hanya permasalahan cinta ? kau dan adik mu tidak pernah berkaca terlebih dahulu " ucap Valera dengan nada yang menggelikan


" diam kau wanita sialan " pekik chaiden di sela sela rasa sakit yang mulai menjalar dari lukanya begitupun dengan Valera


" kalian bereskan pria itu " ucap Valera lagi kearah anak buahnya, kini wajahnya sudah mulai memucat keringat mulai membasahi dirinya tapi rasa sakit itu ia coba untuk menahannya


" sweatheart, wajah mu sudah memucat ayo kita ke rumah sakit, biarkan ini menjadi urusan Dave dan Thomas. Aku menghawatirkan mu " ucap remigio sedikit panik, dan Chaiden kini sudah diringkus oleh anak buah king dengan todongan sebuah senjata untuk menggertak nya. saat Valera akan berjalan dan menaiki helipad nya, tiba tiba ia kehilangan kesadarannya dan ambruk begitu saja ke tanah vyan dan Remigio pun terlonjak kaget karena Valera tak sadarkan diri


" cepat bawa adikku " pekik vyan dan Remigio pun segera membopong Valera, helipad sudah siap untuk mengudara tanpa menunggu lagi mereka segera meninggalkan kawasan itu.


Valera yang tak sadarkan diri membuat orang orang panik seketika bahkan Remigio yang memeluk tubuh kekasihnya yang sudah berlumur darah membuat tubuh Remigio bergetar seketika, vyan pun tak kalah panik ia terus mengumpat Chaiden tidak karuan


setelah mereka menempuh perjalanan beberapa menit, mereka sudah sampai di rumah sakit Cell hospital milik sahabat dari ayahnya ramius Harson, mereka segera mendarat di atap rumah sakit yang memang diperuntukan untuk landas nya sebuah helipad disana mengingat Cell hospital rumah sakit termewah di kota itu dengan langkah yang sangat cepat mereka berlari ke lantai bawah Remigio yang membopong tubuh kekasihnya seakan tidak kelelahan ia terus berlari mencari dokter yang berjaga sampai akhirnya mereka menemukan salah satu perawat lelaki disana. Perawat itu seakan akan panik sesaat karena melihat kedatangan orang orang penting dan berpengaruh ni negara ini


vyan yang kesal melihat perawat itu termenung langsung membentak si pria untuk menunjukan ruang gawat darurat, perawat itu sedikit tersentak karena suara teriakan dari vyan ia pun segera bergegas menuju kan ruang tersebut


Akhirnya Valera ditangani oleh dokter muda yang bertugas pada jam itu serta beberapa perawat yang masih berjaga


" bagaimana bisa Valera mengenal Chaiden " ucap remigio kearah vyan dan tak lama Dave dan Thomas baru saja tiba setelah mengkonfirmasikan dan memberikan intruksi kepada helipad untuk menjemput Greta yang masih tertinggal disana, kekacauan yang terjadi di kawasan itu ternyata sudah diketahui oleh Aldebaran untungnya ia belum mengetahui pasti siapa yang menyerang mansion tersembunyi miliknya, hm


" maafkan kami tuan, kami tak menyangka jika akhirnya seperti ini " ucap Dave bersungguh sungguh ia enggan menatap wajah datar dua pria yang ada dihadapannya ini


" bagaimana bisa Valera terlibat dengan Chaiden, bisa kau jelaskan " tanya Remigio geram ke arah Dave,dan vyan pun seakan menanti jawaban dari jajaran adiknya itu

__ADS_1


" tuan Chaiden adalah orang yang membuat macky kami merenggang nyawa tuan " jelas Dave pelan, sontak membuat vyan tersentak setelah sekian lama sang adik mencari bukti bukti kejadian tahun silam dan pada akhirnya kini ia mengetahui dalang kejadian itu


" apakah kalian yakin Dave ?" tau ragu vyan


" Anda tidak mungkin meragukan kemampuan nona kami tuan muda " jelas Dave sopan, Remigio pun tak ingin banyak bertanya lagi ia cukup paham ini akan menjadi hal sulit untuk kedepannya


kini mereka menunggu di ruang operasi, hingga sudah satu jam dokter muda itu belum saja keluar dari ruangannya membuat Remigio dan yang lainnya menjadi cemas.


ponsel Dave berdering nyaring ia dihubungi oleh anak buah king yang menyelesaikan serta membersihkan bukti bahwa kubu Valera yang menyerang dikawasan hidden forest sudah aman agar tak mendapat masalah lain nya di kemudian hari, serta Greta pun sudah dijemput dan kini ia sedang berada di markas, Greta sudah mengetahui jika Valera tertembak sebisa mungkin bersikap tenang dan akan mengabari tuan ramius serta nyonya sofhia esok pagi dan vyan pun setuju akan usul itu.


CEKLEK


pintu ruang operasi telah terbuka dan menampilkan sesosok lelaki muda serta dua orang perawat yang membantu menangani Valera,


" bagaimana keadaan nya dok " tanya vyan dan Remigio serempak dokter muda itu hanya tersenyum simpul.


" kondisi nya baik, pelurunya pun sudah diambil dia akan sadar setelah obat bius nya habis, untung saja pelurunya kecil dan tidak merusak jaringan organ lainnya " jelas dokter itu, rasa khawatir yang meliputi hati vyan serta Remigio mulai memudar melihat wanita paling berharga dalam hidupnya baik baik saja, begitupun dengan Thomas dan Dave


Asnee dan anak buah lainnya yang terluka kini sudah ditangani dan di bantu oleh Greta sebisa mungkin ia tak menyangka jika kawasan hidden forest terdapat menara suar disana, Chaiden kini sudah menjadi penghuni baru ruang bawah tanah milik king tapi ia tak merasa ketakutan ataupun khawatir akan nasib nya nanti


keesokan harinya Greta pergi menuju rumah sakit bersama dengan nyonya ramius dan tuan Harson mereka sangat syok mendengar putrinya terkena tembakan dan kini sedang berada di ruang sakit tentu saja nyonya sofhia yang paling histeris.


kini mereka sudah menuju cell hospital dengan didampingi oleh para pengawalnya serta di dampingi oleh Greta menggunakan mobil lainnya yang mengekor dibelakang


suasana rumah sakit itu mendadak riuh tat kala kedatangan konglomerat kelas atas bersama sang istri disana, mereka berjalan tergesa gesa menuju ruang rawat milik Valera setelah Dave memberi tahu ruang yang di huni oleh nonanya


CEKLEK


" Vale, kenapa kau bisa seperti ini " cemas nyonya sofhia yang duduk di ranjang putrinya tapi Valera hanya terkekeh


" aku tidak apa apa mah, ini hanya luka kecil " ucap asal Valera membuat orang orang yang mendengar nya hanya geleng geleng kepalanya


" luka kecil bagaimana maksud mu ? kau tidak tau betapa khawatir nya kami, kakek mu meninggal kan kita karena mendapat luka tembak seperti mu " ucap khawatir tuan ramius, seketika Valera langsung terdiam dengan perkataan ayahnya tertembak ? bukankah kakek nya meninggal karena sakit. Tuan ramius yang sadar akan ucapan nya menjadi Diam seketika begitupun dengan vyan ia hanya memijit mijit pelipisnya


" tertembak ? " ucap Valera terjeda fikirannya menjadi banyak beribu pertanyaan, " bukankan kakek meninggal karena sakit ?" tanya heran Valera menatap kepada ayahnya, kini tuan ramius mendapat tatapan tajam dari istrinya,


" sudah jangan dengarkan papah mu, sekarang kau harus sembuh dulu " ucap nyonya sofhia dengan cepat ia takut putrinya bertanya lebih lanjut, Valera bukan orang bodoh yang bisa dibohongi ia tau ibunya sedang mencegah dirinya agar tak lebih banyak bertanya


" siapa yang melakukan ini padaku nak " ucap tuan ramius dengan lembut Valera hanya menatap dalam mata sang ayah


" bukan kah ini sudah biasa untukku, sudahlah aku ini banyak musuh di luar sana pah, " ucap Valera santai membuat tuan ramius mengerutkan dahinya


Remigio hanya tersenyum tipis mendengar jawaban kekasihnya itu, ia berfikir luka tembak ini sudah seperti makanan nya luar biasa sungguh luar biasa Remigio tidak menyesal memilih calon istri masa depan yang tangguh seperti Valera karena mengingat dirinya pun juga sama mempunyai banyak musuh diluar sana yang sedang mengintainya,


******


Amarah Thomas sudah berada di ubun Ubun tak kala melihat wajah tengil yang ditampilkan oleh Chaiden, menatap remeh Thomas yang sedang berada di hadapannya sekarang lalu tersenyum mengejek kemudian

__ADS_1


" orang seperti mu seharusnya mati, " ucap Thomas dengan penuh penekanan Chaiden hanya tertawa renyah seperti menikmati amarah Thomas sekarang


" tapi sayangnya aku masih hidup di dunia ini " ucap Chaiden dengan tenang " apa kau menyesalinya " lanjut Chaiden lagi dengan wajah polosnya membuat emosi Thomas semakin tidak terkontrol


BUGHHHHHH


BUGHHHHHH


Thomas memberikan pukulan asal yang sangat keras tepat di wajah Chaiden tapi lelaki itu hanya menyeringai lalu menjilati darah yang keluar dari sudut bibirnya, Thomas menatap dengan tatapan tajam kepada Chaiden


" tunggu lah kematian mu bajingan, " pekik Thomas dengan geram nya tapi Chaiden hanya tertawa terbahak bahak


" benarkah ? jika begitu aku menunggu nya " tantang Chaiden dengan nada sinis nya


" seharusnya kau yang mati bukan kakak ku, aku pastikan kematian mu lebih buruk dengan kematian yang kakak ku alami " geram Thomas dengan wajah memerahnya


" kematian itu pantas untuk kakak sialan mu karena dia telah merebut Diandra wanita ku dan kini aku tidak tahu dimana dia " pekik Chaiden dengan amarahnya Thomas hanya menyunggingkan senyumannya


" jadi karena seorang wanita? dasar pengecut lalu kenapa kau tidak melawan kakak ku secara jantan, kau memilih jalan pintas untuk melenyapkan nya. Apakah kau takut ? " ucap sinis Thomas


" diam kau bocah sialan, " pekik Chaiden yang tidak terima dengan perkataan Thomas


Thomas tertawa sarkas lalu meninggalkan Chaiden sendiri di ruang yang sangat minim penerangan, Thomas hanya menunggu waktunya ketika Chaiden mendapat perlakuan buruk dari nona nya


Chaiden menatap Thomas dengan tatapan tajamnya sampai Thomas menghilang dari pandangan nya, ia sangat ingin kabur dan kelautan dari tempat ini, tapi bagaimana caranya ?


sedangkan Thomas langsung bergegas membersihkan diri nya karena akan mengunjungi nona nya dirumah sakit dengan Dave.


*****


disisi lain Aldebaran tampak cemas karena tidak bisa menghubungi putranya Chaiden, sampai sampai Chaiton ikut membantu dalam mencari kembarannya itu


" ayah bagaimana mansion itu diserang " ucap panik Chaiton kepada ayahnya


" ayah pun tak tahu, mengapa itu bisa terjadi ! siapa yang melakukan itu, dan kini Chaiden menghilang bagai kan di telan bumi " ucap Aldebaran yang tak kalah panik, Chaiton hanya bisa memijit pelipisnya sedangkan sang ayah sedang sibuk menghubungi orang-orang nya untuk mencari keberadaan Chaiden.


saat Chaiton dan sang ayah sedang terlihat cemas dan memikirkan sesuatu suara seorang wanita terdengar disana


" ayah, kakak " ucap Bianca yang sedikit berteriak saat melihat raut wajah cemas dari kedua pria yang ada di hadapannya itu Bianca seketika mengerutkan dahinya lalu ikut mendudukan dirinya di sofa " kalian kenapa ?" tanya Bianca dengan polosnya


" kakak mu hilang " ucap Aldebaran singkat sontak membuat Bianca bingung


" hilang ? ayah tidak mungkin kakak hilang, ayah ini ada ada saja, " ucap Bianca dengan tak percaya


" Chaiden memang menghilang Bianca, mansion yang berada dikawasan hidden forest milik ayah di serang saat Chaiden berada disana " jelas Chaiton kepada Bianca sontak Bianca memekik keget karena tak percaya, kini ayahnya tampak bingung harus mencari putra sulungnya kemana, semua telekomunikasi yang menyangkut Chaiden tidak bisa terlacak SMA sekali


" lalu bagaimana ini, apa kalian hanya diam saja " ucap Bianca yang heran menatap ayah serta kakak nya yang hanya duduk santai dan berdiam diri di mansion

__ADS_1


" lebih baik kau diam Bianca " ucap Chaiton pasrah yang tidak tahan jika Bianca sudah berbicara, bianca seketika langsung diam sembari menatap wajah kedua pria itu, ia tak mau membuat kakak nya marah karena jika Chaiton sudah marah pasti semua barang di dekatnya akan terlempar dan hancur berkeping keping


Aldebaran sangat sibuk dengan ponsel yang di genggam nya sedari tadi, kata kata umpatan, makian, hinaan terlontar dari bibir bibir nya Chaiton hanya berdiam tanpa bersuara sedangkan Bianca lebih memilih pergi menuju kamar pribadinya ia tidak mau mendengar ayah nya yang berteriak teriak tidak jelas


__ADS_2