PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 101 PREDIKSI KAK JO JADI KENYATAAN


__ADS_3

Ternyata prediksi kak Jo menjadi kenyataan.


Para kuli tinta benar-benar mengejarku kemana pun aku pergi.


Berbekal alat perekam suara, kamera dan buku-buku catatan pertanyaan... mereka memburuku.


Aku yang terkejut setengah mati, berlindung di balik punggung sahabatku Ira Lupita.


"Maaf, mas-mas dan mbak-mbak! Teman saya ini telah resmi bercerai dari Herdilan Firlando, putra tunggal dari ibu Tasya Jessica. Jadi kini tidak ada lagi urusan dengan keluarga pemilik Production House Pesona Tasya itu. Jadi maaf, ya... tidak bisa membantu teman-teman pers!"


Ira mencoba mengklarifikasi karena aku gugup, cemas setengah mati diberondong banyak pertanyaan.


"Kami cuma minta jawaban sedikit dari mbak Viona. Sebagai mantan menantu ibu Tasya, apakah mengetahui kalau bapak Bambang Suherman adalah suami dari pemilik PH Pesona Tasya itu?"


Para wartawan itu tak patah semangat dalam mengejar berita. Ada saja yang mereka lakukan agar mendapatkan jawaban pasti yang bisa menaikkan rating gossip pekerjaan mereka.


"Aduh, maaf ya... itu bukan kapasitas saya untuk menjawab. Mohon maaf!"


Aku hanya bisa merapatkan kedua telapak tanganku. Menyatukan dan memberi pengertian dengan kalimat sopan.


Lalu berlari cepat menarik tangan Ira. Menjauh dari kerumunan.


"Hhh...!"


"Gila! Gue udah berasa artis tenar ya?! Ditanyain ini-itu sama wartawan!" Ira cekikikan sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Edun ya Ra! Hahaha... berasa jadi artis kita!" timpalku.

__ADS_1


Tujuan kami ke sebuah mall jadi kacau balau. Akhirnya aku dan Ira hanya bisa makan mie ayam di pinggiran pertokoan samping mall dengan masker dan kacamata sebagai pengecoh.


"Gini ya ternyata jadi orang terkenal!? Pusing mau cari privasi sampe kudu nyamar jadi orang lain segala!" celetuk Ira membuatku tertawa.


"Besok-besok kita bawa kaca mata hitam, payung sama topi kupluk ya Ra?" godaku dengan berbisik.


"Yaelah... Lo kira kita pawang ujan?!"


"Hahaha..."


Kami masih bisa tertawa bebas meskipun ada sepasang mata menatap kearah kami.


Dan...


"Hei! Kalian ini beneran makin akrab ya?"


Aku dan Ira kompak menoleh ke arah suara.



Masih dengan kekompakan tingkat tinggi, kami koor bersama.


"Duduk, Ka!" tuturku membuat Ira tersenyum menggodaku.


"Wow...'bu jen' sekarang berani ya, ngomong lebih dulu! Dulu-dulu selalu pasif, aku yang lebih gacor! Hihihi... aduh! Ish nyubit pula!"


"Bu Jen? Bu Jenderal?" tanya kak Firman tersenyum manis legit. Persis rasa kue lapis.

__ADS_1


"Bu Jendes maksudnya!" jawab Ira dengan berbisik.


Bug!


"Adauw!!! Hahaha maaf, Nona!"


Aku memukul bahu Ira. Ngeselin banget itu julukanku sekarang! Hiks...


"Jangan begitu, Ira! Status itu tidak boleh dijadikan bahan candaan, meski kamu sangat akrab dengan Viona! Hargai sahabatmu dengan baik!"


"Setuju, kak! Terima kasih atas pembelaannya!" ujarku membuat Ira mengangguk sambil tertawa malu.


"Iya. Maaf ya, Vi?! Candaku kebablasan!"


"Hei, Bro...! Lama kami cari-cari, ternyata kamu beneran selalu memepet mbak Viona ya!?"


Kami lagi-lagi menoleh ke arah datangnya suara. Kali ini di tambah kak Firman Setiawan.


"Maaf,... kalian siapa ya? Saya kurang mengenali kalian semua! Dan ada urusan apa sampai mencari-cari saya?" tanya Firman tegas.


Lima orang pemuda sekitar berumur dua puluhan ke atas dengan pakaian dan dandanan sedikit mencurigakan.


Terlebih telinga mereka yang ditindik dan dipakaikan aksesoris anting aneh. Dua orang lainnya malah seperti sengaja memamerkan otot lengan atasnya yang dipenuhi gambar bordiran jarum alias tatto.


Sepertinya mereka preman!


Aku dan Ira hanya diam. Mencoba menatap dengan keakuratan tajam. Siapa tahu pernah mengenal atau melihat kelima pemuda bergajul itu.

__ADS_1


Tapi... sepertinya tidak pernah. Juga tak merasa memiliki salah pada mereka.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2