
Wajahku merona. Memerah karena tingkah Delan yang mengejutkan.
Delan seperti sengaja menggodaku. Bibirnya tersungging menggambarkan kepuasan hatinya membuatku malu karena disoraki kesenangan para saudara, kerabat serta sahabat.
Hiks! Aku akan sangat bahagia jika ini bukan sandiwara, Delan! Tapi bisakah itu terjadi?
Pucat pias wajahku. Delan menurunkanku tepat di pintu kamar. Lalu...
Cup.
Bibirnya mengecup pipi kiriku tanpa izin. Nyaris aku lupa caranya bernafas dan semaput beberapa menit.
Hhh...
Delan tersenyum lebar. Membuat dadaku langsung berdebar. Sungguh aku tak tahu kalau ia bisa dengan sangat santainya 'bermain peran'.
Kami memasuki ruang kamar yang sangat indah dan luas. Dihiasi bunga hidup berwarna putih dengan tirai kelambu juga putih berpelat pita emas. Begitu memanjakan mataku.
Harum aroma bunga dan pengharum ruangan yang menyatu dengan dinginnya AC kamar menyejukkan indera penciumanku.
Benar-benar membuatku mengantuk. Terlebih ketika kurebahkan tubuh ini telungkup ke atas ranjang besar bersprei bahan saten berwarna putih dengan juga berpelat pita emas yang terkesan mewah.
Delan terkekeh.
"Buka dulu gaun ribetmu itu, Vio!" ujarnya pelan.
"Iya. Tapi aku mau rebahan dulu beberapa menit. Boleh ya?" jawabku lalu kuganti segera dengan kata tanya.
Delan tersenyum. Mengangguk pelan sambil membuka jas tuxedonya.
Aku hanya bisa memejamkan mataku, dengan jantung berdebar. Merasa bahwa pria yang kini menyandang status sebagai suamiku itu tengah melakukan sesuatu.
Delan membuka rompi tuxedo. Kemudian satu persatu melepas kancing kemejanya. Lalu celana panjangnya juga.
Kini tinggal kaos dalam dan celana boxernya yang tertinggal.
Ish! Ternoda mataku!" gumam hati kecilku gugup.
Sementara yang melakukan itu seolah tanpa rasa berdosa. Membuat hatiku resah.
Aku bangun dari rebahanku setelah merasa tubuh penatku agak lebih baik.
Sedikit kesusahan karena gaun pengantin ini beratnya melebihi tiga kilogram kantung terigu. Membuat Delan yang membuka pintu kamar ke arah balkon kecil menoleh padaku.
"Perlu bantuan?" tanyanya.
Agak malu dan risih tapi butuh, mau tak mau aku mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Delan berjalan kearahku. Membalikkan tubuhku perlahan dan tangannya bergerak membukakan resleting gaun.
Sreet...
"Sudah! Oiya, itu lemari yang warna pink itu semuanya adalah pakaian milikmu, Vi!"
"Pakaian milik...ku?" tanyaku butuh penegasan.
"Mama yang belikan semuanya. Buka saja! Carilah pakaian yang ingin kamu kenakan!"
Aku menurut. Kali ini aku yang lupa kalau resleting gaunku telah terbuka semua punggungnya. Dan...
Bruk.
Aku memekik kaget, gaunku jatuh ke lantai hingga selutut.
Kali ini Delan yang mengalihkan pandangannya ke luar. Terkejut juga ia melihat tubuhku yang setengah bug*l bagian atasnya.
"Dasar! Ish...!" katanya pelan dengan senyum kecut membuat wajahku makin merah bak kepiting rebus.
"Ga sengaja ish!"
"Mancing tuh!"
"Mancing apaan?"
Aku bersungut kesal mendapati gurauannya yang mengena' dihati.
Mataku terbelalak tak percaya.
Gaun-gaun tidur alias linger*e semua. Dengan aneka warna dan juga model.
"Ini,... gaun tidur semua?" tanyaku membuat Delan menoleh ke arahku.
"Mana kutahu, Vi! Mama yang atur dan taruh di situ. Beneran ga ada satu gaun lain di situ?"
"Ini... Lihat deh sendiri!"
Kami memeriksa bersama-sama. Mencari-cari pakaian yang pantas kukenakan pengganti gaun pengantin.
Sesekali nafas kami seolah berhenti menghirup udara, melirik model-model gaun tidur yang menggugah selera semua rata-rata.
"Ini baju haram semua!" gumam Delan membuatku menutup kedua mataku.
"Ini... lemari khusus baju tidur, Lan!" balasku lemas seketika.
"Coba lihat lemari putihku! Jangan-jangan pakaianku juga diatur Mama!" tutur Delan mengingatkan diri.
__ADS_1
Ia berjalan kesebelah lemari warna putih yang diklaim isinya adalah pakaian Delan semua.
"Aduh, Mama!" Delan menepuk dahinya. Merona wajahnya.
Benar-benar membuatku jadi terkikik tanpa sadar.
Rupanya ini adalah trik Mama Tasya. Karena lemarinya yang agak kecil dari lemari pink-ku isinya adalah underwe*r aneh berbagai motif.
Untunglah ada beberapa boxer yang agak besar meski warna dan gambar coraknya membuatku ingin tertawa ngakak.
Mama Tasya beneran penggemar anime Naruto dan Sasuke! Semua boxer Delan gambar anime kartun itu.
"Aku... boleh pinjam boxernya? Juga kaos oblong yang ada tangannya itu?" tanyaku minta izinnya.
Delan tertawa kecil sambil mengangguk.
Alhasil, aku lebih memilih pakaian tidur Delan ketimbang harus memakai pakaian tidurku yang mama Tasya sediakan.
Tetapi...
Kaos oblong Delan begitu tipis. Hingga br* dalemanku terpampang tembus pandang membuatku kikuk sendiri.
Berkali-kali kututupi dengan lenganku yang bersidekap. Namun tetap risih juga rasanya.
"Delan...!"
"Apa?" tanyanya.
"Boleh aku pinjam kaos singletmu juga?"
Delan yang akhirnya menelisik ke arahku ikut menunduk malu. Matanya ke arah gundukan dua dadaku yang terlihat samar.
Ia menarik satu tank topnya lagi. Dan memberikannya padaku tanpa menoleh.
"Makasih!" ucapku lega.
Kini aku memakai dua lapisan kaos Delan. Lalu berjalan ke luar balkon yang ternyata ada meja besar penuh toples cemilan juga bermacam buah serta minuman.
"Sini, kita di sini saja! Ga usah ke bawah!"
"Apa... Ga apa-apa kita ga turun? Masih banyak tamu juga keluarga kita."
"Biarin aja mereka yang handle!"
Lah? Delan? Segitu santuinya hidupnya!
Dan kami berdua hanya duduk-duduk santai di atas kursi anyaman yang tersedia di balkon sambil menikmati sajian ringan yang ada di meja besar.
__ADS_1
Bahkan Delan dengan tenangnya membuat kopi dari mesin penyeduh kopi otomatis yang tersedia di pojokan balkon.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...